Ayaatillah

Wisata Gerhana atau Shalat Gerhana?

Wisata Gerhana atau Shalat Gerhana?

9 Maret 2016, insya Allah akan terjadi Gerhana Matahari Total di wilayah Indonesia, sebagai satu-satunya wilayah di dunia yang akan mengalami Gerhana Matahari Total. Kementerian Pariwisata telah mencanangkannya sebagai hari wisata gerhana. Demikian halnya dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Akan tetapi Kementerian Agama menghimbau semua kantor perwakilannya untuk menginstruksikan penyuluhnya mengadakan dan membimbing pelaksanaan shalat gerhana, melibatkan semua ormas Islam dan DKM. Pilih mana; wisata gerhana atau shalat gerhana?

Di tengah-tengah gecarnya arus informasi seperti saat ini, umat Islam benar-benar diuji keimanannya dalam menyikapi Gerhana Matahari Total (GMT) yang akan terjadi pada pagi hari 9 Maret 2016 dan bertepatan dengan hari libur nasional. Dari sejak sebulan yang lalu arus pemberitaan tentang akan adanya GMT sudah ramai menghiasi media-media nasional dan lokal; hadir dalam setiap genggaman tangan atau mendatangi setiap rumah. Akan tetapi semua pemberitaan tersebut mengarahkan audiensnya untuk menikmati GMT sebagai tontonan fenomena alam yang langka. Dianjurkanlah untuk membeli teleskop, kaca mata khusus, dan alat-alat lainnya, hanya untuk sekedar “menonton” keajaiban alam di balik GMT. Sementara tuntunan Nabi saw untuk menyikapi GMT sebagai ayat-ayat Allah swt yang patut direnungkan melalui dzikir, takbir, istighfar dan shalat, nyaris tidak ada atau bahkan tidak ada sama sekali.

Kementerian Agama RI melalui Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam pada tanggal 16 Februari 2016 sudah mengeluarkan “Seruan Shalat Gerhana”. Tetapi yang seperti ini rupanya tidak menarik di mata para jurnalis media sehingga tidak dinilai layak untuk diberitakan di media-media mereka. Dalam seruannya yang ditujukan kepada Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama se-Indonesia, Kementerian Agama mengingatkan:

Berdasarkan kajian syar’i, fenomena gerhana merupakan bukti keagungan dan kebesaran Allah swt sehingga jika terjadi gerhana disunahkan umat Islam untuk melakukan Shalat Gerhana, memperbanyak istighfar dan bersedekah, dengan ini kami mohon perhatian hal-hal sebagai berikut:

  1. Menurut data astronomis pada hari Rabu tanggal 9 Maret 2016 bertepatan dengan tanggal 29 Jumadil Ula di seluruh wilayah Indonesia akan terjadi Gerhana Matahari Total (GMT).
  2. Agar Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi menginstruksikan kepada Kepala Bidang Urusan Agama Islam/Kepala Bidang Bimas Islam/Pembimbing Syariah, Kepala Kementerian Agama Kabupaten/Kota, dan Kepala KUA, untuk bersama para ulama, para pimpinan ormas Islam, imam masjid, aparatur pemerintah daerah dan masyarakat melaksanakan shalat gerhana matahari (kusuf al syams) di wilayahnya masing-masing.

 

Persatuan Islam (Persis), sebagai ormas Islam yang dari sejak awal selalu paling depan menghimbau umat Islam untuk melaksanakan sunnah, khususnya sunnah shalat gerhana matahari atau bulan, juga sudah mengeluarkan Surat Edaran dari sejak tanggal 10 Februari 2016. Dalam Surat Edarannya, Pimpinan Pusat Persatuan Islam menyatakan bahwa GMT akan terjadi di wilayah Palembang, Tanjung Pandan, Muko-muko, Palangkaraya, Palu, Balikpapan dan Ternate. Sementara wilayah lainnya hanya akan mengalami Gerhana Matahari Sebagian (GMS) dengan persentase gerhana yang menutupi cahaya matahari antara 80-90%. Termasuk di antaranya Bandung dan sekitarnya yang akan mengalami GMS mulai jam 06.19, puncak gerhana jam 07.21 dan akhir gerhana jam 08.32. Maka dari itu PP. Persis menghimbau:

Sehubungan dengan kejadian Gerhana Matahari Total tersebut di atas, kami anjurkan kepada seluruh jamaah dan simpatisan Persatuan Islam serta kaum muslimin untuk melaksanakan Shalat Gerhana pada waktunya. Untuk keseragaman pelaksanaan Shalat Gerhana dimaksud, untuk daerah Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan sekitarnya, kami atur sebagai berikut:

Mulai Takbir      : Pukul 07.00 wib

Shalat Gerhana   : Pukul 07.30 wib

Dilanjutkan dengan khutbah, pengumpulan dan pembagian shadaqah.

 

Pilihannya kembali kepada umat Islam sendiri, apakah akan mengikuti tuntunan Nabi saw yang telah dihimbaukan oleh para ulama-umara seperti di atas, ataukah mengikuti ajakan media-media yang tidak berpihak pada agama, melainkan berpihak pada pariwisata yang menganjurkan GMT dijadikan tontonan. Padahal menonton GMT cukup beresiko merusak mata. Menonton GMT/GMS juga hanya memuaskan nafsu semata, artinya tidak akan benar-benar puas, hanya dipuas-puas. Padahal dengan semakin canggihnya teknologi informasi, peristiwa GMT tersebut bisa disaksikan nanti di media-media berbagi video yang pasti akan sangat banyak dan mudah ditemukan. Jadi sebenarnya tidak harus sampai mengorbankan tuntunan Nabi saw dalam menafakkuri GMT melalui shalat, dzikir, takbir, istighfar dan shadaqah.

Nabi saw sudah menegaskan dalam khutbah gerhananya bahwa matahari dan bulan yang mengalami gerhana merupakan bukti kekuasaan Allah swt:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua bukti di antara bukti-bukti kekuasaan Allah. Keduanya tidak akan gerhana karena kematian seseorang atau kelahiran seseorang. Jika kalian melihat gerhana tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bershadaqahlah (Shahih al-Bukhari bab as-shadaqah fil-kusuf no. 1044).

Dalam al-Qur`an dijelaskan, salah satu buktinya adalah bahwa matahari dan bulan itu beredar di garis orbitnya masing-masing secara tetap, sehingga bisa diketahui oleh sains kapan terjadi gerhana, salah satunya tanggal 9 Maret mendatang. Tidak mungkin ada seorang manusia pun yang mengaku mampu mengatur peredaran matahari, bumi, dan bulan tersebut. Bahkan tidak ada satu pun Tuhan yang diakui oleh manusia selain Allah yang juga mengaku mengatur peredaran matahari, bumi dan bulan, sebab mereka hanya Tuhan-tuhan palsu yang pastinya serba tidak tahu.

وَٱلشَّمۡسُ تَجۡرِى لِمُسۡتَقَرٍّ۬ لَّهَا‌ۚ ذَٲلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡعَلِيمِ (٣٨) وَٱلۡقَمَرَ قَدَّرۡنَـٰهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَٱلۡعُرۡجُونِ ٱلۡقَدِيمِ (٣٩) لَا ٱلشَّمۡسُ يَنۢبَغِى لَهَآ أَن تُدۡرِكَ ٱلۡقَمَرَ وَلَا ٱلَّيۡلُ سَابِقُ ٱلنَّہَارِ‌ۚ وَكُلٌّ۬ فِى فَلَكٍ۬ يَسۡبَحُونَ (٤٠)

Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS. Yasin [36] : 38-40).

Artinya, bukan hanya ketika gerhana, ketika tidak gerhana pun, matahari dan bulan itu termasuk ayat-ayat Allah swt di alam semesta (ayat kauniyyah). Namun lebih khusus lagi ketika gerhana, perhatian terhadap ayat-ayat Allah tersebut harus lebih ditingkatkan dengan ibadah-ibadah khusus yakni takbir, do’a, shalat, dan shadaqah. Di riwayat lain, instruksi khusus Nabi saw dalam menyikapi gerhana tersebut adalah:

فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَقُومُوا فَصَلُّوا

Jika kalian melihat keduanya gerhana maka berdirilah dan shalatlah (Shahih al-Bukhari bab as-shalat fi kusufis-syams no. 1041)

فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلَاةِ

Jika kalian melihat keduanya gerhana maka bersegeralah shalat (Shahih al-Bukhari bab hal yaqulu kasafatis-syams au khasafat no. 1047)

لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ

Keduanya tidak akan gerhana karena mati dan lahirnya seseorang, tetapi Allah menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengan gerhana tersebut (Shahih al-Bukhari bab qaulin-Nabi saw yukhawwiful-‘Llah no. 1048)

فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ

Jika kalian melihat gerhana maka berdzikirlah kepada Allah (Shahih al-Bukhari bab shalatil-kusuf jama’ah no. 1052)

فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِيَ

Jika kalian melihat keduanya gerhana maka berdo’alah dan shalatlah sampai terang kembali (Shahih al-Bukhari bab ad-du’a fil-kusuf no. 1060)

Jika perintah-perintah Nabi saw yang banyak itu kemudian diabaikan hanya karena ingin menonton gerhana, bukankah itu termasuk yang diancam oleh Allah swt:

وَڪَأَيِّن مِّنۡ ءَايَةٍ۬ فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ يَمُرُّونَ عَلَيۡہَا وَهُمۡ عَنۡہَا مُعۡرِضُونَ (١٠٥) وَمَا يُؤۡمِنُ أَڪۡثَرُهُم بِٱللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشۡرِكُونَ (١٠٦) أَفَأَمِنُوٓاْ أَن تَأۡتِيَہُمۡ غَـٰشِيَةٌ۬ مِّنۡ عَذَابِ ٱللَّهِ أَوۡ تَأۡتِيَہُمُ ٱلسَّاعَةُ بَغۡتَةً۬ وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ (١٠٧)

Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya. Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan kiamat kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya? (QS. Yusuf [12] : 105-107)

Wal-‘iyadzu bil-‘Llah

 

Peta Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 M