Home > Ibadah > Tuntunan Sunnah Shalat Hari Raya

Tuntunan Sunnah Shalat Hari Raya

Sunnah shalat hari raya itu bukan di masjid, tetapi di mushalla (tempat shalat) yang terbuka dan luas, meski tidak haram dilaksanakan di masjid. Sunnahnya berangkat dengan berjalan kaki, sambil bertakbir, mengambil jalan yang berbeda untuk pergi dan pulangnya, dan dianjurkan tidak makan dahulu sebelum shalat ‘Idul-Adlha. Tidak ada shalat sunat sebelum dan sesudahnya di mushalla, tetapi ketika pulang dianjurkan shalat dua raka’at. Di sela-sela takbir shalat yang tujuh kali di raka’at pertama dan lima kali di raka’at kedua, dibaca shalawat untuk Nabi saw.

Hadits-hadits yang menjelaskan shalat hari raya semuanya tidak ada yang menyebutkan bahwa Nabi saw shalat di masjid, tetapi di mushalla. Mushalla yang dimaksud adalah lapang terbuka yang sudah dikenal di daerah Bathhan, jaraknya dari masjid sekitar 1.000 hasta (+ 750 m). Demikian al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan dalam Fathul-Bari bab al-khuruj ilal-mushalla bi ghairi minbar. Salah satu hikmahnya adalah agar bisa menampung jama’ah yang banyak dan memperlihatkan da’wah kaum muslimin. Maka dari itu, perempuan-perempuan yang haidl sekalipun tetap diperintahkan datang ke mushalla, tetapi tentunya tidak duduk di tengah-tengah shaf shalat, melainkan menjauhinya agar tidak memotong shaf shalat, atau setidaknya duduk di pinggir/ujung shaf.

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ الْحُيَّضَ يَوْمَ الْعِيدَيْنِ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَيَشْهَدْنَ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَدَعْوَتَهُمْ وَيَعْتَزِلُ الْحُيَّضُ عَنْ مُصَلَّاهُنَّ قَالَتْ امْرَأَةٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لَيْسَ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ لِتُلْبِسْهَا صَاحِبَتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

Dari Ummu ‘Athiyyah, ia berkata: Kami diperintah mengeluarkan wanita yang sedang haidl dan yang jarang keluar rumah pada dua hari ‘Id (‘Idul-Fithri dan ‘Idul-Adlha) untuk menyaksikan jama’ah dan da’wah kaum muslimin. Tetapi wanita yang haidl memisahkan diri dari tempat shalat. Seorang wanita ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami tidak punya jilbab?” Jawab Nabi saw: “Kerabat/tetangganya hendaklah meminjamkan jilbabnya.” (Shahih al-Bukhari baba wujubis-shalat fits-tsiyab no. 351)

Sebelum shalat ‘Idul-Adlha tidak dianjurkan makan terlebih dahulu, sementara sebelum ‘Idul-Fithri dianjurkan makan terlebih dahulu. Ini didasarkan pada amal Nabi saw:

عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ ﷺ لَا يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ وَلَا يَطْعَمُ يَوْمَ الْأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّيَ

Dari Buraidah, ia berkata: Nabi saw tidak keluar pada hari ‘Idul-Fithri sehingga makan terlebih dahulu. Dan tidak makan pada hari ‘Idul-Adlha sehingga selesai shalat (Sunan at-Tirmidzi bab al-akl yaumal-fithr qablal-khuruj no. 542).

Para ulama sepakat menganjurkan shalat ‘Idul-Adlha dilaksanakan lebih pagi daripada shalat ‘Idul-Fithri demi keleluasaan pelaksanaan penyembelihan dan agar tidak terlalu lama menahan lapar (Naiul-Authar 2 : 587). Hadits yang menerangkan shalat ‘Idul-Adlha dilaksanakan lebih pagi daripada ‘Idul-Fithri memang dla’if (Irwa`ul-Ghalil hadits no. 633, at-Talkhishul-Habir hadits no. 685). Akan tetapi tidak ditemukan penentangan dari para ulama untuk mengawalkan shalat ‘Idul-Adlha didasarkan pertimbangan di atas.

Dianjurkan berangkat shalat ‘Id dengan berjalan kaki dan membedakan jalan untuk pergi dan pulangnya.

عَنْ عَلِيٍّ  قَالَ: مِنَ السُّنَّةِ أَنْ تَخْرُجَ إِلَى العِيدِ مَاشِيًا

Dari ‘Ali ra, ia berkata: “Termasuk sunnah, anda keluar menuju ‘id dengan berjalan kaki.” (Sunan at-Tirmidzi bab fil-masyyi yaumal-‘id no. 530. Imam at-Tirmidzi dan Ibn Hajar menilai hadits ini hasan).

Imam at-Tirmidzi menjelaskan fiqh hadits di atas:

وَالعَمَلُ عَلَى هَذَا الحَدِيثِ عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ العِلْمِ: يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يَخْرُجَ الرَّجُلُ إِلَى العِيدِ مَاشِيًا وَأَنْ لَا يَرْكَبَ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

Amal berdasar pada hadits ini menurut mayoritas ulama: Mereka menganjurkan seseorang keluar menuju ‘id dengan berjalan kaki dan agar tidak berkendara kecuali jika ada udzur (Sunan at-Tirmidzi bab fil-masyyi yaumal-‘id no. 530).

Sementara itu shahabat Jabir menjelaskan:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

Dari Jabir ibn ‘Abdillah, ia berkata: “Nabi saw pada hari ‘Id selalu membedakan jalan (pergi dan pulang).” (Shahih al-Bukhari bab man khalafa at-thariq idza raja’a yaumal-‘id no. 986)

Sepanjang perjalanan disunnahkan melantunkan takbir, tentunya dengan suara nyaring, bukan di dalam hati.

عن عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كَانَ يُكَبِّرُ يَوْمَ الْفِطْرِ مِنْ حِينِ يَخْرُجُ مِنْ بَيْتِهِ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى

Dari ‘Abdullah ibn ‘Umar: “Sungguh Rasulullah saw bertakbir pada hari ‘Idul Fithri dari sejak keluar rumah sampai datang tempat shalat ‘Id.” (al-Mustadrak no. 1055)

Hadits ini statusnya dla’if sebagai hadits dari Nabi saw. Yang mahfuzh (berkualitas shahihnya) sebenarnya hanya amal shahabat Ibn ‘Umar. Jadi tetap bisa diamalkan, sebab amaliah shahabat menunjukkan seperti itulah Nabi saw mengajarkan. Terlebih ‘Ali dan shahabat lainnya juga mengamalkan hal serupa (al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra 3 : 279; Ibnul-Mulqan, al-Badrul-Munir no. 1914) Maka dari itu, Imam al-Hakim menyatakan:

وَهَذِهِ سُنَّةٌ تُدَاوِلُهَا أَئِمَّةُ اَهْلِ الحَدِيْثِ وَصَحَّتْ بِهِ الرِّوَايَةُ عَنْ  عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ وَغَيْرِهِ مِنَ الصَّحَابَةِ.

Ini (takbiran dari sejak keluar rumah menuju tempat shalat ‘Id) adalah sunnah yang dilestarikan oleh para ulama ahlul-hadits, dan shahih riwayat dari ‘Abdullah ibn ‘Umar dan shahabat lainnya (al-Mustadrak no. 1055).

Setelah tiba di mushalla, tidak ada shalat sebelum dan sesudahnya, kecuali ketika pulang ke rumah, dianjurkan shalat dua raka’at.

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ صَلَّى يَوْمَ الْعِيدِ رَكْعَتَيْنِ, لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا. أَخْرَجَهُ السَّبْعَةُ

Dari Ibn ‘Abbas: “Sungguh Nabi saw shalat ‘Id dua raka’at dengan tidak shalat sebelum dan sesudahnya.” (Tujuh Imam meriwayatkannya. Bulughul-Maram bab shalatil-‘idain no. 515).

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَا يُصَلِّي قَبْلَ الْعِيدِ شَيْئًا, فَإِذَا رَجَعَ إِلَى مَنْزِلِهِ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ. رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ

Dari Abu Sa’id, ia berkata: “Rasulullah saw tidak shalat apapun sebelum ‘Id. Tetapi apabila pulang ke rumahnya beliau shalat dua raka’at.” (Ibn Majah meriwayatkannya dengan sanad hasan. Bulughul-Maram bab shalatil-‘idain no. 517).

Al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan bahwa dua hadits di atas harus dijama’ (dikompromikan), berarti tidak ada shalat sesudahnya itu di mushalla, tetapi ketika pulang ke rumah dianjurkan shalat dua raka’at (at-Talkhishul-Habir kitab shalatil-‘iadain no. 687). Tidak perlu dipertanyakan namanya shalat apa, sebab sunnah itu yang penting diamalkan seperti Rasul saw mengamalkan. Hanya yang jelas dari hadits di atas kedudukannya adalah sebagai shalat ba’da ‘Id. Penulis belum berhasil menemukan penjelasan ulama yang menyebutkan bahwa itu bukan shalat ba’da ‘Id.

Sementara terkait shalawat di sela-sela takbir shalat ‘Id dijelaskan oleh al-Hafizh Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya terkait ayat shalawat QS. al-Ahzab [33] : 56. Mengutip riwayat shahih dari Isma’il al-Qadli (199-281 H) seorang ulama madzhab Maliki penulis kitab Fadllus-Shalat ‘alan-Nabiy yang bersumber dari shahabat Ibn Mas’ud, Abu Musa, dan Hudzaifah. Syaikh al-Albani menilainya shahih dalam Tahqiq Fadllus-Shalat ‘alan-Nabiy (rujuk buku Menuju Islam Kaffah 3, hlm. 116). Terkait hal ini, Ibnul-Qayyim al-Jauziyyah dalam Jala`ul-Afham menjelaskan:

وَفِيْهِ حَمْدُ اللهِ وَالصَّلاَةُ عَلَى رَسُوْلِهِ بَيْنَ التَّكْبِيْرَاتِ، وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ… وَأَخَذَ بِهِ أَحْمَدُ وَالشَّافِعِيُّ فِي اسْتِحْبَابِ الذِّكْرِ بَيْنَ التَّكْبِيْرَاتِ

“Dan padanya jadi dalil dibaca hamdalah dan shalawat untuk Rasul-Nya di antara takbir-takbir (shalat ‘id), dan itu madzhab as-Syafi’i dan Ahmad… Imam Ahmad dan as-Syafi’i juga menjadikan dalil dengannya dalam hal dianjurkan dzikir di antara takbir-takbir (shalat ‘id).” (Jala`ul-Afham, hlm. 334)

Wal-‘Llahu a’lam.