Home > Ibadah Umum > Tuntunan Praktis Tadabbur al-Qur`an

Tuntunan Praktis Tadabbur al-Qur`an

Masih banyak kaum muslimin yang tidak menyadari bahwa al-Qur`an tidak cukup dibaca, dihafal, dan dikaji ilmunya semata, tetapi harus sampai tadabbur. Membaca, menghafal, dan mengkaji ilmu al-Qur`an hanya perantara untuk mampu tadabbur al-Qur`an. Jangan sampai berhenti di membaca, menghafal, dan mengkajinya saja dengan mengabaikan tadabbur.

Tadabbur asal katanya adalah dubur; ujung sesuatu. Maksudnya: “Merenungkan akibatnya dan kesudahan perkaranya” (al-Biqa’i, Nazhmud-Durar fi Tanasubil-Ayat was-Suwar). Sementara Wahbah az-Zuhaili menjelaskan: “Ta`ammul  ma’anihi wat-tabasshur bi ma fihi; merenungkan maknanya dan menghayati kandungannya.” (Tafsir al-Munir QS. 4 : 82). Al-Hafizh Ibn Katsir dalam muqaddimah Tafsirnya juga ketika menafsirkan ayat 82 surat an-Nisa dan ayat 24 surat Muhammad menjelaskan bahwa tadabbur adalah tafahhum; memperdalam pemahaman al-Qur`an. Semua penjelasan di atas mengarah pada satu makna bahwa tadabbur al-Qur`an adalah merenungkan makna dan hikmah yang terkandung dalam setiap ayat al-Qur`an. Bedanya dengan tafsir hanya tertuju pada penjelasannya saja, sementara tadabbur sampai menghayati sisi terdalam dari setiap ayat al-Qur`an. Jika tafsir menjelaskan apa maksud ayat, maka tadabbur menyingkap apa pelajaran, hikmah, dan rahasia di balik setiap ayat. Tafsir yang sampai menjelaskan sisi terdalam al-Qur`an berarti tafsir yang sampai pada tadabbur, sebab banyak juga yang mengkaji tafsir tetapi tidak sampai pada tadabbur.

Kewajiban tadabbur al-Qur`an difirmankan Allah swt dalam empat ayat, yaitu:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَۚ وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَيۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ ٱخۡتِلَٰفٗا كَثِيرٗا 

Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur`an? Kalau kiranya al-Qur`an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya (QS. an-Nisa` [4] : 82).

أَفَلَمۡ يَدَّبَّرُواْ ٱلۡقَوۡلَ أَمۡ جَآءَهُم مَّا لَمۡ يَأۡتِ ءَابَآءَهُمُ ٱلۡأَوَّلِينَ 

Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau bukankah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu (al-Qur`an)? (QS. al-Mu`minun [23] : 68)

كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ 

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran (QS. Shad [38] : 29).

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ أَمۡ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقۡفَالُهَآ 

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur`an ataukah hati mereka terkunci? (QS. Muhammad [47] : 24)

Dalam ayat pertama tadabbur wajib diamalkan sampai menyadari bahwa al-Qur`an kitab istimewa yang saling melengkapi dan menguatkan ayat-ayatnya. Tanpa tadabbur sulit untuk dirasakan kehadiran al-Qur`an sebagai wahyu Allah swt, malah akan banyak salah memahami ayat-ayatnya karena menganggapnya banyak kontradiksi.

Ayat kedua menyitir sikap abai dari tadabbur sebagai akhlaq orang-orang kafir, padahal al-Qur`an adalah anugerah agung yang orang-orang tua mereka tidak mendapatkan anugerah teragung tersebut. Artinya untuk merasakan keagungan, keistimewaan, dan kehebatan al-Qur`an harus dengan tadabbur.

Ayat ketiga menyebutkan bahwa tadabbur merupakan akhlaq orang-orang yang memiliki hati dan pikiran yang jernih. Orang yang malas tadabbur pertanda hati dan pikirannya kotor dan sempit.

Sementara ayat keempat mengancam dengan keras bahwa siapa saja yang tidak tadabbur al-Qur`an berarti hatinya telah dikunci mati. Orang yang dikunci mati itu artinya orang kafir. Orang yang tidak tadabbur sama dengan orang kafir. Ayat ini juga menunjukkan bahwa tadabbur fokusnya lebih ke penghayatan oleh hati.

Dari penjelasan ayat-ayat di atas bisa diketahui bahwa tadabbur al-Qur`an praktik nyatanya bisa mencakup beberapa amal sekaligus, yaitu: (1) Merenungkan dan menghayati makna ayat-ayat al-Qur`an, (2) menyentuhkan pada hati sehingga melahirkan khusyu’, (3) memenuhi tuntunan dan tuntutan ayat al-Qur`an, (4) menggali hukum dan hikmah dari setiap ayat al-Qur`an.

Langkah-langkah mengamalkan tadabbur al-Qur`an adalah dengan memperlakukan al-Qur`an sebagaimana adanya secara sempurna sebagaimana dituntunkan oleh syari’at, yaitu:

Pertama, menyadari misi al-Qur`an sebagai kitab tadabbur, bukan sebatas kitab bacaan. Ibnul-Qayyim al-Jauziyyah dalam hal ini menegaskan:

أَنْزَلَ اللَّهُ الْقُرْآنَ لِيَتَدَبَّرَ وَيَتَفَكَّرَ فِيهِ وَيعْمَلَ بِهِ لَا لِمُجَرَّدِ تِلَاوَتِهِ مَعَ اْلإِعْرَاضِ عَنْهُ

Allah menurunkan al-Qur`an untuk ditadabburi, ditafakkuri, dan diamalkan, bukan hanya dibaca lalu diabaikan (Miftah Daris-Sa’adah, hlm. 215).

Setiap orang dituntut untuk tidak mencukupkan diri pada membaca saja, melainkan harus sampai pada tadabbur. Membaca al-Qur`an hanya tahapan awal saja, sebab tadabbur tidak mungkin diamalkan jika membaca al-Qur`annya masih salah. Kesadaran ini menuntut setiap orang untuk belajar al-Qur`an sampai pada tafsirnya. Setiap pengajar al-Qur`an dituntut untuk mengajar tafsir al-Qur`an sampai tadabburnya yang sampai menyentuh hati dan menggerakkan amal. Setiap pembelajar al-Qur`an juga harus mempelajari al-Qur`an sampai bisa menyentuh hati dan menggerakkan amalnya. Jika belum sampai ke sana, maka terus gali dari pengajar tafsir al-Qur`an bagaimana agar maksud ayat al-Qur`an sampai menyentuh hati dan menggerakkan amal.

Kedua, membaca al-Qur`an dengan tartil (perlahan) dan taghanni (memakai irama). Perintah tartil difirmankan Allah swt dalam QS. al-Muzzammil [73] : 4-5, yakni diamalkan dalam shalat malam dengan membaca perlahan, bukan membaca cepat. Dalam kitab shahihnya Imam Muslim menyebutkan bahwa tartil itu ijtinabul-hadzdz; tidak membaca dengan cepat (Shahih Muslim bab tartilil-qira`ah wa-jtinabil-hadzdz). Tercakup di dalamnya membaca al-Qur`an secara sempurna tajwidnya, karena tidak termasuk tartil jika membaca al-Qur`an masih jauh dari tuntunan tajwidnya. Allah swt memerintahkan agar tartil diamalkan dalam shalat malam karena sebagaimana dijelaskan dalam ayat 6-7-nya bacaan di waktu malam lebih mudah dihayati, sementara di waktu siang terlalu banyak kesibukan duniawi sehingga lebih susah menghayati: “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).

Sementara taghanni dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam Riyadlus-Shalihin yuhassinu shautahu; membaguskan suaranya, yakni memakai irama dan nada, tidak membaca datar seperti membaca prosa atau berita. Hadits Nabi saw yang memerintahkan taghanni adalah:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

Bukan dari golongan kami orang yang tidak mengiramakan al-Qur`an (Shahih al-Bukhari no. 7527).

Ketiga, selalu memfokuskan perhatian dan menyimak ketika mendengar lantunan ayat al-Qur`an, sebagaimana dititahkan Allah swt:

وَإِذَا قُرِئَ ٱلۡقُرۡءَانُ فَٱسۡتَمِعُواْ لَهُۥ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ 

Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat (QS. al-A’raf [7] : 204).

Imam as-Syaukani menjelaskan terkait ayat di atas: “Perintah menyimak ini agar manusia bisa mengambil manfaat dan menghayati hikmah dan maslahat yang dikandungnya.” (Fathul-Qadir 2 : 280).

Ayat di atas itu sendiri yang wajibnya adalah ketika mendengarkan bacaan al-Qur`an dalam shalat. Sementara di luar shalat tidak sampai wajib, meski tentu sangat dianjurkan juga. Artinya setiap orang dituntut untuk membaca al-Qur`an sendiri dalam shalat malam sampai menggerakkan hati, dan termasuk ketika menjadi makmum dalam shalat berjama’ah wajib atau sunat seperti tarawih dan shalat ‘id dengan penghayatan penuh. Di luar shalat berlaku hal yang sama, membaca dan menyimak al-Qur`an selalu dengan penghayatan hati. Setiap muslim dituntut untuk menikmati bacaan al-Qur`an setelah mampu menghayati kandungan maknanya melalui tafsir.

Inilah praktik nyata tadabbur yang menuntut pengamalan sempurna dari setiap muslim terkait al-Qur`annya; membacanya atau menyimak bacaan dengan sepenuh hati seraya memahami kandungan-kandungan makna di balik setiap ayat-ayatnya. Tidak berhenti pada mengkaji semata tanpa ada praktik tartil dalam shalat sendiri atau istima’ (menyimak dengan perhatian penuh) dalam shalat berjama’ah, termasuk di luar shalat. Pekerjaan yang besar dan berat tentunya bagi yang belajar al-Qur`annya masih tahap awal atau asal-asalan. Maka dari itu jangan berpuas diri dalam belajar al-Qur`an apalagi asal-asalan. Seriuskan dan perkuat kesabarannya agar tadabbur al-Qur`an bisa diamalkan. Wal-‘Llahul-Musta’an.