Home > Kontemporer > Tradisi Kafir Halloween

Tradisi Kafir Halloween

Tradisi Kafir Halloween

Globalisasi tidak bisa ditutup-tutupi menjadikan sebagian besar generasi muda latah dengan segala sesuatu yang sifatnya mengglobal, meski itu yang berbentuk ritual kafir sekalipun seperti halloween. Tak bisa dibendung, semua media seperti google pun turut menyambutnya dengan ikon logo khas halloween. Mall-mall dan tempat-tempat umum lainnya juga turut memasyarakatkan kelumrahan peringatan “hari raya arwah” ini.

Sebagaimana dijelaskan oleh ensiklopedia bebas Wikipedia, halloween atau hallowe’en adalah kependekan dari all hallows’ evening yang berarti malam para kudus. Malam ini disebut juga allhalloween,  all hallows’ eve, atau all saints’ eve.  Bermula dari tradisi Kristen Barat yang meyakini keberadaan tiga hari istimewa; 31 Oktober sebagai all hallows’ eve (malam para kudus), 1 November all hallows’ day (hari para kudus), dan 2 November all souls’ day (hari semua jiwa). Malam dan hari para kudus (31 Oktober dan 1 November) didedikasikan untuk mengenang orang yang telah meninggal dari kalangan para kudus atau santo/santa (saintshallows), yakni mereka yang diyakini pasti masuk surga, sementara hari semua jiwa (2 November) didedikasikan untuk mengenang semua arwah umat beriman meski belum mencapai derajat kudus.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan saat halloween meliputi trick or treat (penyamaran dengan kostum seram), menghadiri pesta kostum halloween, mendekorasi, mengukir labu menjadi Jack-o’-lantern (labu simbol halloween), menyalakan api unggun besar, penenungan (praktik tenung, teluh, ilmu hitam), bermain lelucon praktis, mengunjungi atraksi berhantu, menceritakan dongeng menakutkan, dan menonton film horor.

Semua itu dilakukan karena asumsi bahwa arwah-arwah orang yang meninggal itu gentayangan di dunia sebelum hari halloween. Hari halloween itu sendiri diyakini sebagai masa terakhir peralihan dari alam dunia ke alam lain. Hari halloween diyakini sebagai hari terakhir bagi arwah-arwah untuk melakukan pembalasan kepada orang-orang yang dianggap pernah melakukan dosa. Maka dari itu untuk menyamarkan diri dari kejaran arwah-arwah itu lahirlah tradisi penyamaran dengan kostum seram. Di beberapa daerah lainnya penyamaran itu dilakukan dengan mengenakan kostum-kostum santo. Di samping itu api-api dinyalakan untuk memandu arwah-arwah ini dalam perjalanan mereka dan memalingkan mereka agar tidak menghantui kaum Kristen yang lurus.

Di Perancis, beberapa keluarga Kristen pada malam all hallows’ eve berdo’a di samping makam orang-orang yang mereka cintai dan meletakkan pinggan-pinggan berisi susu untuk mereka. Di Italia, beberapa keluarga meninggalkan suatu hidangan makanan besar untuk hantu kerabat mereka yang meninggal dunia, sebelum keluarga tersebut berangkat menuju ibadah gereja. Di Spanyol, pada malam halloween dibuat kue pastri istimewa yang dikenal sebagai “tulang belulang sang suci” dan menaruhnya pada makam-makam di halaman gereja. Tradisi tersebut masih terus berlanjut hingga saat ini. Imam Kristen di desa-desa kecil Spanyol juga membunyikan lonceng gereja untuk mengingatkan umat agar mengenang mereka yang telah meninggal.

Di Polandia, umat beragama dari sejak dahulu diajarkan untuk berdo’a dengan lantang ketika berjalan melintasi hutan agar jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dunia dapat merasa terhibur.  Di Irlandia dan di kalangan imigran di Kanada ada kebiasaan Kristen menjadikan halloween sebagai hari tanpa daging dan dengan panekuk atau callcannon sebagai ganti sajian makanan. Di Meksiko, pada saat halloween anak-anak membuat suatu altar kecil untuk mengundang angelitos (roh anak-anak yang telah meninggal dunia) agar datang kembali untuk suatu kunjungan. Di Finlandia, banyak sekali orang yang mengunjungi pemakaman saat halloween untuk menyalakan lilin do’a di sana, sehingga fenomena ini disebut sebagai valomeri atau lautan cahaya.

Gereja Kristen secara tradisi merayakan halloween dengan vigili, dimana umat mempersiapkan diri mereka dengan do’a dan puasa untuk hari raya 1 November. Ibadah gereja ini dikenal sebagai vigili para kudus (vigil of all hallows atau vigil of all saints). Setelah ibadah tersebut, seringkali dilanjutkan dengan hiburan dan pesta, serta kunjungan ke pekuburan atau pemakaman—di mana bunga dan lilin biasa ditempatkan—dalam persiapan untuk hari para kudus.

Seiring sekularisasi di belahan dunia Kristen sejak abad modern, tradisi halloween di Kristen Barat pun terkena dampaknya. Perayaan halloween tinggal tersisa simbol-simbol perayaannya saja, sementara nilai-nilai keyakinan di balik halloween tergerus oleh nilai-nilai sekular yang memang memestikan ketidakpercayaan terhadap semua hal yang berbau sakral, baik itu agama atau mitos. Meski demikian tidak berarti bahwa halloween ini jadi nihil sama sekali dari nilai agama atau mitos. Tetap saja ada meski tidak disadari, karena memang asal-muasalnya dari sana. Tidak serta merta karena hanya menjadikannya sebagai perayaan keramaian semata dan tidak meyakini sebagaimana keyakinan kaum Kristen, halloween menjadi halal karena tidak ada sangkut pautnya dengan aqidah. Tetap saja tersangkut paut aqidah, karena buktinya dirayakan dengan semua aksesoris yang berbau keseraman. Jika memang tidak ada kaitannya dengan keyakinan, mengapa tidak dihilangkan dan dijauhi sama sekali?

Nabi saw sendiri sudah memberikan tuntunan bahwa bentuk perayaan apapun yang menyerupai tradisi orang-orang kafir, baik itu dengan meyakini sama dengan keyakinan mereka ataupun tanpa meyakininya, tetap saja dikategorikan bagian dari mereka:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Siapa yang menyerupai satu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka (Sunan Abi Dawud kitab al-libas bab fi labsis-syuhrah no. 4033. Al-Hafizh Ibn Hajar dan al-Albani menilai hadits ini hasan).

Shahabat ‘Abdullah ibn ‘Amr pernah berfatwa:

مَنْ بَنَى بِأَرْضِ الْمُشْرِكِينَ وَصَنَعَ نَيْرُوزَهُمْ وَمِهْرَجَانَهمْ وَتَشَبَّهَ بِهِمْ حَتَّى يَمُوت حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْم الْقِيَامَة

Siapa yang membangun rumah di negeri orang-orang musyrik, turut terlibat dalam perayaan Nairuz dan Mihrajan mereka, dan bertasyabbuh (menyerupai tradisi) dengan mereka sampai ia meninggal, maka kelak akan dikumpulkan bersama mereka pada hari kiamat (‘Aunul-Ma’bud kitab al-libas bab fi labsis-syuhrah).

Hari Nairuz dan Mihrajan adalah dua perayaan Jahiliyyah. Hari Nairuz adalah hari pertama dalam perhitungan tahun bangsa Arab yang diukurkan ketika matahari berada pada pada titik bintang haml/aries. Sementara hari Mihrajan adalah hari pertengahan tahun, tepatnya ketika matahari berada pada titik bintang mizan/gemini di awal musim semi, pertengahan antara musim dingin dan panas (‘Aunul-Ma’bud bab shalatil-‘idain). Keduanya dirayakan oleh orang-orang Madinah ketika Nabi saw hijrah ke sana. Terlepas dari masih ada atau tidaknya keyakinan terkait Nairuz dan Mihrajan tersebut, Nabi saw tetap memerintahkan umat Islam untuk meninggalkannya:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ: مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ. قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : إِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ

Dari Anas, ia berkata: Ketika Rasulullah saw datang ke Madinah, penduduknya mempunyai dua hari yang biasa dirayakan (Nairuz dan Mihrajan). Tanya Rasul saw: “Ada apa dengan dua hari itu?” Mereka menjawab: “Kami sudah biasa merayakannya sejak zaman jahiliyyah.” Sabda Rasul saw: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari tersebut dengan dua hari yang lebih baik, yaitu hari Adlha dan hari Fithri.” (Sunan Abi Dawud kitab as-shalat bab shalat al-‘idain no. 1136 dan Sunan an-Nasa`i kitab shalat al-‘idain no. 1567).

Ruh orang yang meninggal mustahil gentayangan. Mereka terpenjara di alam kubur tanpa bisa ke mana-mana. Turut merayakan halloween meski dengan dalih keramaian saja sama dengan mengakui bahwa ada banyak arwah menyeramkan di dunia ini. Sebuah keyakinan yang sesat, meski klaimnya “tidak meyakini”.

Penyebutan halloween sebagai “tradisi kafir” dalam tulisan ini, demikian juga sabda Nabi saw “bagian dari mereka (orang kafir—pen)” dan pernyataan Ibn ‘Amr “dikumpulkan bersama mereka (orang musyrik—pen) pada hari kiamat” tidak berarti mengkafirkan orang-orang Islam yang merayakan halloween. Pernyataan-pernyataan di atas sebatas menunjukkan dosa besar karena mencederai aqidah. Tidak sampai kafir, tetapi tetap dosa besar. Bukan dosa kecil, jadi jangan menganggapnya remeh. Wal-‘Llahu a’lam.