Home > Aqidah > Tidak Selamat Natal

Tidak Selamat Natal

Tidak Selamat Natal

Tidak mungkin ada keselamatan pada aqidah selain Islam. Maka berbasa-basi mengucapkan selamat Natal selain sebuah kebohongan juga merupakan praktik mubadzir yang semestinya dijauhi. Islam sangat menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama, tetapi praktiknya bukan dengan membudayakan kebohongan dan kemunafiqan aqidah, melainkan cukup dengan memberikan hak kepada pemeluk agama selain Islam untuk hidup berdampingan dan menjalankan agamanya sesuai keyakinannya. Lakum dinukum wa liya din.

Dalam diskursus studi agama, “doktrin keselamatan” merupakan isu utama dalam setiap kajian dan penelitiannya. Disebabkan dasar penelitiannya adalah apa yang nyata (empiris) dan dapat dimengerti akal semata (logis), bukan wahyu, maka para pengkajinya menemui kebuntuan untuk menentukan mana di antara “doktrin keselamatan” itu yang paling valid dan ilmiah. Akhirnya mereka mengembangkan doktrin semuanya benar (pluralisme). Yang lebih ekstrem lagi mengembangkan doktrin semuanya salah (ateisme).

Doktrin utama pluralisme adalah meyakini kebenaran agama sendiri seraya terbuka hati untuk menerima kemungkinan adanya kebenaran pada agama lain. Doktrin ini dianggap sebagai teologi baru abad 20 yang akan menjadi solusi dari problem hubungan antar umat beragama agar tidak saling mengklaim paling benar sendiri. Akan tetapi doktrin ini ditolak oleh semua agama, karena nyatanya telah menjadi agama baru tersendiri yang menyalahkan semua agama yang telah ada, dimana masing-masing agama pasti meyakini hanya agamanya sajalah yang benar dan yang selainnya adalah sesat. Jadinya pluralisme ini malah menghancurkan agama-agama yang ada, tidak jauh berbeda dengan ateisme. Pluralisme bermaksud menjadi wasit di antara para pemain agama, tetapi nyatanya ia menjadi ikut bermain di antara para pemain yang sudah bermain (uraian filsafat pluralisme bisa dirujuk pada buku penulis, Menangkal Virus Islam Liberal).

Maka bisa dipastikan para penganjur pluralisme adalah orang-orang yang bukan pemeluk agama aslinya, melainkan sekedar orang-orang yang hanya menjadi penumpang pada satu agama yang dipilihnya (munafiq). Para pemeluk agama aslinya yang itu diwakili oleh para pemuka agama dan lembaga-lembaga keagamaan resminya sudah pasti menolak pluralisme. Maka dari itu sangat tepat jika Islam cukup mengajarkan toleransi sebagaimana diajarkan dalam surat al-Kafirun, yakni tetap meyakini kebenaran hanya ada pada agama Islam dan menghargai pemeluk agama lain untuk hidup berdampingan dengan menjalankan agama mereka sendiri. Tanpa perlu ada kebohongan turut meyakini kebenaran agama mereka. Lakum dinukum wa liya din.

Tidak diragukan lagi budaya dan fatwa bolehnya mengucapkan Selamat Natal adalah bagian dari pluralisme atau kemunafiqan dalam beragama Islam. Ketika jelas tidak mungkin ada keselamatan pada aqidah selain Islam, mengapa harus memaksakan dirri untuk mengucapkan selamat Natal? Atau memaksakan pendapat bahwa selamat Natal bagian dari toleransi keagamaan, padahal nyata-nyata bertentangan dengan QS. Al-Kafirun?

فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ  فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ  فَأَنَّى تُصْرَفُونَ٣٢

Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? (QS. Yunus [10] : 32).

Ayat lainnya menegaskan dengan jelas:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ٤٢

Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah [2] : 42)

Jika yang haq itu adalah Allah swt tidak beranak dan Nabi ‘Isa (Yesus) bukan anak Allah, maka jangan pernah disembunyikan di balik ucapan ‘selamat Natal’. Jika yang bathil itu adalah keyakinan Yesus sebagai anak Allah swt, maka jangan pernah dicampurkan dengan ‘selamat’, karena sudah pasti celaka di neraka. Bahkan jika tidak ada malaikat yang bertasbih, langit dan bumi pun sudah dipastikan hancur gara-gara ada ucapan selamat Natal tersebut.

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا٨٨ لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا٨٩ تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا٩٠ أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا٩١ وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا٩٢ إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا٩٣

Dan mereka berkata: “Tuhan yang Maha Pemurah mempunyai anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit runtuh karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung hancur, karena mereka menyatakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak. Padahal tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mempunyai anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba (QS. Maryam [19] : 88-93).

تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْ فَوْقِهِنَّ  وَالْمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الْأَرْضِ  أَلَا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ٥

Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Tuhan) dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhannya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. As-Syura [42] : 5).

Dalam sebuah hadits qudsi, Nabi saw menjelaskan bahwa klaim Allah swt mempunyai anak merupakan penghinaan besar kepada Allah swt, yang dosanya tentu lebih besar daripada menghina kepada manusia. Allah swt telah dihina karena Dia dianggap sama dengan makhluk yang membutuhkan istri dan anak, padahal Dialah satu-satunya Yang tidak sama dengan siapa dan apapun.

قَالَ اللَّهُ كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَزَعَمَ أَنِّي لَا أَقْدِرُ أَنْ أُعِيدَهُ كَمَا كَانَ وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ لِي وَلَدٌ فَسُبْحَانِي أَنْ أَتَّخِذَ صَاحِبَةً أَوْ وَلَدًا

Allah menyatakan, Anak Adam telah mendustakan-Ku padahal tidak layak ia berbuat demikian. Anak Adam juga telah menghinaku, padahal tidak layak ia berbuat demikian. Adapun pendustaannya kepada-Ku adalah keyakinannya bahwasanya Aku tidak mampu menghidupkannya kembali (sesudah matinya) sebagaimana semula. Dan penghinaannya kepada-Ku adalah pernyataannya bahwa Aku punya anak. Padahal Mahasuci Aku. Aku tidak membutuhkan istri dan anak (Shahih al-Bukhari bab wa qalu-ttakhadzal-‘Llahu waladan no. 4482).

Dalam sanad lain, diriwayatkan bahwa Allah swt menyatakan:

وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ أَنْ يَقُولَ اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا وَأَنَا الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ أَلِدْ وَلَمْ أُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لِي كُفُؤًا أَحَدٌ

Sementara penghinaannya kepada-Ku adalah pernyataannya bahwa Allah punya anak. Padahal Akulah as-Shamad (tempat bergantungnya semua makhluk, bukan Allah swt yang bergantung pada anak dan istri). Aku tidak melahirkan/mempunyai anak, juga tidak dilahirkan. Tidak ada satu pun yang serupa dengan-Ku (Shahih al-Bukhari bab qauluhu Allahus-Shamad no. 4975)

Mengucapkan Selamat Natal, dengan demikian sama halnya dengan mengucapkan “Selamat Allah, Anda mempunyai anak” atau “Selamat pemeluk Kristen, Allah sudah memilih Nabi kalian sebagai anak-Nya”. Sebuah pernyataan yang sungguh menghina dan merendahkan Allah swt. Sebuah pernyataan yang mendatangkan murka Allah swt sehingga alam semesta pun hampir saja runtuh.

Jangankan menyandingkannya dengan kata “Natal”, mengucapkan selamatnya saja pun tidak boleh, karena orang-orang kafir pasti menjadi penghuni neraka kekal selama-lamanya, tidak akan ada celah keselamatan sedikit pun.

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِى طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ

Janganlah kalian memulai mengucapkan salam kepada Yahudi dan Kristen. Jika kalian bertemu salah seorang di antara mereka pada satu jalan, seretlah mereka pada tempat yang sempit (Shahih Muslim kitab as-salam bab an-nahy ‘an ibtida`i ahlil-kitab bis-salam no. 5789).

Hadits ini juga menjadi ajaran bahwa orang Islam dan orang kafir tidak bisa disamakan dalam hal tempat di jalan ataupun lainnya. Orang Islam harus selalu yang paling depan dan menempati tempat yang utama. Maka memberikan penghormatan berlebih kepada orang kafir dengan turut berbahagia dan mengucapkan selamat pada momen hari besar agama mereka jelas sebuah kesesatan yang melanggar tuntunan hadits di atas.

Wal-‘iyadzu bil-‘Llah.