Home > Ibadah > Teladan Shalat Generasi Salaf

Teladan Shalat Generasi Salaf

Teladan Shalat Generasi Salaf

Generasi salaf adalah generasi terbaik umat ini. Shahabat, tabi’in, dan tabi’ tabi’in dijamin langsung oleh Nabi saw sebagai generasi yang layak dijadikan teladan. Terutama dalam hal shalat dan ibadah-ibadah lainnya. Mereka semua adalah wujud nyata ajaran Nabi saw dalam kehidupan.

Jaminan Nabi saw atas keutamaan generasi salaf disampaikan dalam salah satu sabdanya:

خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ قَالَ عِمْرَانُ فَلَا أَدْرِي أَذَكَرَ بَعْدَ قَرْنِهِ قَرْنَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا ثُمَّ إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَشْهَدُونَ وَلَا يُسْتَشْهَدُونَ وَيَخُونُونَ وَلَا يُؤْتَمَنُونَ وَيَنْذُرُونَ وَلَا يَفُونَ وَيَظْهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ

Sebaik-baiknya umatku adalah generasiku (shahabat), lalu generasi sesudahnya (tabi’in), lalu generasi sesudahnya (tabi’ tabi’in)—‘Imran berkata: Aku tidak ingat apakah ia menyebutkan sesudah generasinya dua atau tiga—Kemudian akan ada sesudah kalian satu kaum yang bersaksi padahal mereka tidak diminta bersaksi (saksi-saksi palsu), berkhianat dan tidak bisa dipercaya, bernadzar rapi tidak memenuhinya, dan tampak di tengah-tengah mereka orang-orang yang gemuk (karena rakus dunia) (Shahih al-Bukhari kitab al-manaqib bab fadla`il ashhab an-nabiy no. 3650; Shahih Muslim kitab fadla`il as-shahabah bab fadllis-shahabah tsummal-ladzina yalunahum no. 6638).

Di antara generasi salaf tersebut, yang terbaik tentu Abu Bakar ra. Teladannya dalam shalat adalah kekhusyuannya sampai seringkali menangis dalam shalatnya. Ketika Nabi saw sakit dan memerintahkan keluarganya untuk meminta Abu Bakar ra menjadi imam menggantikan beliau, ‘Aisyah, istri Nabi saw yang juga putri Abu Bakar ra, mengatakan dengan jujur:

إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ رَقِيقٌ إِذَا قَرَأَ غَلَبَهُ الْبُكَاءُ

Sesungguhnya Abu Bakar itu orang yang lembut hatinya. Apabila ia membaca al-Qur`an pasti akan kalah oleh menangis (Shahih al-Bukhari kitab al-adzan bab ahlul-‘ilm wal-fadll ahaqqu bil-imamah no. 682).

Salah seorang cucunya, ‘Abdullah ibn az-Zubair, yang di zamannya menjadi Gubernur di Makkah, adalah di antara orang yang shalatnya sangat mirip dengan kakeknya, Abu Bakar ra. Sebagaimana diceritakan oleh Mujahid:

وَقَالَ مُجَاهِدٌ: كَانَ ابْنُ الزُّبَيْرِ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ، كَأَنَّهُ عُوْدٌ، وَحَدَّثَ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ  كَانَ كَذَلِكَ

Mujahid berkata: “‘Abdullah ibnuz-Zubair (cucu Abu Bakar, amir Makkah) apabila berdiri shalat seakan-akan ia sebatang pohon (saking kuatnya berdiri lama). Ia menceritakan bahwa Abu Bakar ra juga shalat demikian.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lamin-Nubala` 3 : 368).

Yang tidak pernah terlewatkan di setiap malamnya adalah shalat malam, yang saking hati-hatinya selalu beliau lakukan di awal malam karena khawatir terlambat bangun di akhir malam.

عَنْ أَبِى قَتَادَةَ أَنَّ النَّبِىَّ ﷺ قَالَ لأَبِى بَكْرٍ: مَتَى تُوتِرُ؟ قَالَ أُوتِرُ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ. وَقَالَ لِعُمَرَ: مَتَى تُوتِرُ. قَالَ آخِرَ اللَّيْلِ. فَقَالَ لأَبِى بَكْرٍ: أَخَذَ هَذَا بِالْحَزْمِ. وَقَالَ لِعُمَرَ: أَخَذَ هَذَا بِالْقُوَّةِ.

Dari Abu Qatadah, sesungguhnya Nabi saw bertanya kepada Abu Bakar: “Kapan kamu shalat witir?” Ia menjawab: “Aku witir awal malam.” Nabi saw bertanya kepada ‘Umar: “Kapan kamu shalat witir?” Ia menjawab: “Akhir malam” Beliau bersabda kepada Abu Bakar: “Orang ini sangat berhati-hati.” Dan bersabda kepada ‘Umar: “Orang ini sangat kuat.” (Sunan Abi Dawud kitab al-witr bab fil-witri qablan-naum no. 1436).

Untuk ‘Umar ibn al-Khaththab, hadits di atas juga menggambarkan konsistensinya dalam shalat malam yang selalu beliau lakukan di akhir malam. Maka dari itu ketika beliau berijtihad untuk menyelenggarakan shalat tarawih berjama’ah dalam satu imam di masjid Madinah, beliau sendiri tidak ikut shalat tarawih tersebut, karena beliau lebih memilih shalat di akhir malam. Saat itu ‘Umar menjelaskan:

وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي يَقُومُونَ يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ 

‘Umar berkata: “Orang-orang yang tidur itu lebih baik daripada orang yang shalat sekarang –karena hendak mengerjakannya akhir malam-.” Tetapi waktu itu orang-orang shalat di awal malam.” (Shahih al-Bukhari kitab shalat tarawih bab fadlli man qama ramadlan no. 1906. Pernyataan ‘Umar ini diriwayatkan oleh ‘Abdurrahman ibn ‘Abdil-Qari).

Sementara ‘Utsman ibn ‘Affan, disebutkan oleh Ibn ‘Umar adalah seseorang yang Allah swt puji dalam QS. az-Zumar [39] : 9. Sebagaimana ditulis oleh Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya:

عن يَحْيَى البكَّاء أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ قَرَأَ: {أَمْ مَنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ} قَالَ ابْنُ عُمَرَ: ذَاكَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّان

Dari Yahya al-Bakka, ia mendengar Ibn ‘Umar membaca ayat: {Ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?}. Ibn ‘Umar berkata: Itu adalah ‘Utsman ibn ‘Afffan ra.

Al-Hafizh Ibn Katsir dalam hal ini menjelaskan:

وَإِنَّمَا قَالَ ابْنُ عُمَرَ ذَلِكَ؛ لِكَثْرَةِ صَلَاةِ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عُثْمَانَ بِاللَّيْلِ وَقِرَاءَتِهِ، حَتَّى إِنَّهُ رُبَّمَا قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي رَكْعَةٍ، كَمَا رَوَى ذَلِكَ أَبُو عُبَيْدَةَ عَنْهُ t

Ibn ‘Umar menyatakan demikian karena Amirul-Mu`minin ‘Utsman sering shalat malam, sampai ia membaca hampir satu al-Qur`an dalam satu raka’at, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaidah ra.

Shahabat Ibn ‘Umar sendiri yang memuji ‘Utsman ra seperti di atas, tentu bukan berarti beliau sendiri tidak melakukannya. Sebagaimana diceritakan oleh Muhammad ibn Zaid:

عن مُحَمَّدِ بنِ زَيْدٍ: كَانَ ابْنُ عُمَرَ لَهُ مِهْرَاسٌ فِيْهِ مَاءٌ، فَيُصَلِّي فِيْهِ مَا قُدِّرَ لَهُ، ثُمَّ يَصِيْرُ إِلَى الفِرَاشِ، فَيُغْفِي إِغْفَاءةَ الطَّائِرِ، ثُمَّ يَقُومُ، فَيَتَوضَّأُ وَيُصَلِّي، يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي اللَّيْلِ dأَرْبَعَ مَرَّاتٍ أَوْ خَمْسَةً

Dari Muhammad ibn Zaid: “Ibn ‘Umar mempunyai wadah air yang besar. Beliau shalat malam sekemampuan beliau. Kemudian beliau naik tempat tidurnya dan tertidur sejenak seperti tertidurnya burung. Kemudian beliau bangun, wudlu dan shalat lagi. Beliau berbuat seperti itu empat sampai lima kali dalam satu malam.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lamin-Nubala` 3 : 215).

Shahabat lain yang ditemukan riwayat tentang shalatnya adalah ‘Adiy ibn Hatim dan Tamim ad-Dari. ‘Adiy selalu merindukan datangnya waktu shalat dan Tamim selalu kuat shalat malam dengan waktu yang cukup lama.

قَالَ ابْنُ عُيَيْنَةَ: حُدِّثْتُ عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ عَدِيٍّ، قَالَ: مَا دَخَلَ وَقْتُ صَلاَةٍ حَتَّى أَشْتَاقَ إِلَيْهَا

Ibn ‘Uyainah berkata: Aku mendapatkan berita dari as-Sya’bi dari ‘Adi, bahwa ia berkkata: “Tidak datang waktu shalat sampai aku merindukannya.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lamin-Nubala` 3 : 164).

عَنْ مَسْرُوْقٍ، قَالَ لِي رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ: هَذَا مُقَامُ أَخِيْكَ تَمِيْمٍ الدَّارِيِّ، صَلَّى لَيْلَةً حَتَّى أَصْبَحَ، أَوْ كَادَ، يَقْرَأُ آيَةً يُرَدِّدُهَا، وَيَبْكِي : {أَمْ حَسِبَ الَّذِيْنَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُم كَالذِيْن آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ}

Dari Masruq: Seorang lelaki dari Makkah berkata kepadaku: “Inilah tempat saudaramu Tamim ad-Dari shalat malam sampai shubuh atau menjelang shubuh. Ia membaca satu ayat diulang-ulang sambil menangis: {Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shaleh,…} (Adz-Dzahabi, Siyar A’lamin-Nubala` 2 : 445. QS. al-Jatsiyah [45] : 21).

Dari kalangan tabi’in, bisa disebut nama Sa’id ibn al-Musayyab dan ‘Amr ibn Dinar. Sa’id terkenal dengan konsistensinya mengikuti shalat berjama’ah selalu di awal waktu dan selalu di shaf pertama, sementara ‘Amr ibn Dinar dikenal dalam kemampuannya memanage waktu malamnya untuk ibadah, memperdalam ilmu dan istirahat.

وَقَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ: مَا فَاتَتْنِي التَّكْبِيرَةُ الْأُولَى مُنْذُ خَمْسِينَ سَنَةً وَمَا نَظَرْتُ فِي قَفَا رَجُلٍ فِي الصَّلَاةِ مُنْذُ خَمْسِينَ سَنَةً

Sa’id ibn al-Musayyab berkata: “Aku tidak pernah lagi tertinggal dari takbir pertama sejak 50 tahun yang lalu, dan aku tidak pernah melihat punuk seseorang pun ketika shalat sejak 50 tahun yang lalu.” (Hilyatul-Auliya 2 : 163).

عَنْ سُفْيَانَ، قَالَ:كَانَ عَمْرُو بنُ دِيْنَارٍ جَزَّأَ اللَّيْلَ ثَلاَثَةَ أَجزَاءٍ: ثُلُثاً يَنَامُ، وَثُلُثاً يُدَرِّسُ حَدِيْثَه، وَثُلُثاً يُصَلِّي

Dari Sufyan ibn ‘Uyainah, ia berkata: ‘Amr ibn Dinar membagi malam menjadi tiga bagian: Sepertiga untuk tidur, sepertiga untuk mengkaji hadits, dan sepertiga untuk shalat (Adz-Dzahabi, Siyar A’lamin-Nubala` 5 : 302).

Teladan ‘Amr ibn Dinar ini diikuti oleh Imam as-Syafi’i. Sebagaimana diceritakan oleh salah seorang muridnya, ar-Rabi’ ibn Sulaiman:

قَالَ الرَّبِيْعُ بنُ سُلَيْمَانَ: كَانَ الشَّافِعِيُّ قَدْ جَزَّأَ اللَّيْلَ: فَثُلُثُهُ الأَوَّلُ يَكْتُبُ، وَالثَّانِي يُصَلِّي، وَالثَّالِثُ يَنَامُ

Ar-Rabi’ ibn Sulaiman berkkata: as-Syafi’i membagi malam menjadi tiga bagian: Sepertiga pertama untuk menulis, sepertiga kedua untuk shalat, dan sepertiga ketiga untuk tidur (Adz-Dzahabi, Siyar A’lamin-Nubala` 10 : 35).

Teladan menghidupkan malam dengan shalat dan bahkan dengan target mengkhatamkan al-Qur`an dalam shalat malam tersebut, diteladankan juga oleh Imam al-Bukhari:

قَالَ مُقْسِمُ بْنُ سَعْدٍ: كَانَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ الْبُخَارِيُّ يَقْرَأُ فِي السَّحْرِ مَا بَيْنَ النِّصْفِ إِلَى الثُّلُثِ مِنَ الْقُرْآنِ فَيَخْتِمُ عِنْدَ السَّحَرِ فِي كُلِّ ثَلاَثِ لَيَالٍ

Muqsim ibn Sa’ad berkata: Muhammad ibn Isma’il al-Bukhari membaca al-Qur`an di waktu sahur antara setengah sampai sepertiga al-Qur`an. Beliau khatam di waktu sahur di setiap tiga malam (Hadyus-Sari Muqaddimah Fathul-Bari, hlm. 645).

Pertanyaannya sekarang, apakah kita sebagai generasi khalaf akan mengikuti teladan mereka ataukah seperti yang disebutkan ayat berikut ini:

فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ أَضَاعُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُواْ ٱلشَّهَوَٰتِۖ فَسَوۡفَ يَلۡقَوۡنَ غَيًّا ٥٩

Maka datanglah sesudah mereka, generasi pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan (QS. Maryam [19] : 59).

Na’udzubil-‘Llah min dzalik.