Home > Zakat, Infaq dan Shadaqah > Teladan Shadaqah di Masa Sulit

Teladan Shadaqah di Masa Sulit

Teladan Shadaqah di Masa Sulit

Ramadlan dan ‘Idul-Fithri usai, tidak berarti usai pula ibadah berbagi kebahagiaan kepada masyarakat tidak mampu. Terlebih saat ini masyarakat masih mengalami masa-masa sulit akibat pandemi Covid-19 yang belum menunjukkan tanda akan segera usai. Meski zakat mal sudah ditunaikan, zakat fithri pun sudah disalurkan, shadaqah dan infaq lainnya tidak boleh terhenti. Bahkan meski diri sendiri terdampak juga oleh masa sulit ini. Sepanjang masih ada harta yang tersisa, orang bertaqwa tidak akan pensiun shadaqah, sebab baginya shadaqah dan infaq selalu bisa diamalkan baik dalam keadaan sarra (senang) atau dlarra (susah).

Salah satu wujud taqwa dalam ibadah harta adalah kemampuan untuk selalu berinfaq, baik dalam keadaan sarra (senang) atau dlarra (susah). Al-Qur`an memaklumatkannya dalam salah satu ayatnya:

وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ  ١٣٣ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ

…(surga seluas langit dan bumi) disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, …(QS. Ali ‘Imran [3] : 133-134).

Salah satu cara mengamalkannya adalah sebagaimana himbauan Nabi saw kepada para shahabat berikut ini. Kejadiannya diceritakan oleh Jarir ra:

عَنْ جَرِيرٍ قَالَ كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِى صَدْرِ النَّهَارِ قَالَ فَجَاءَهُ قَوْمٌ حُفَاةٌ عُرَاةٌ مُجْتَابِى النِّمَارِ أَوِ الْعَبَاءِ مُتَقَلِّدِى السُّيُوفِ عَامَّتُهُمْ مِنْ مُضَرَ بَلْ كُلُّهُمْ مِنْ مُضَرَ فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ لِمَا رَأَى بِهِمْ مِنَ الْفَاقَةِ

Dari Jarir ra, ia berkata: Ketika kami bersama Rasulullah saw di tengah hari tiba-tiba datang satu kaum yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian layak, baju mereka compang-camping, sambil membawa pedang. Mayoritasnya bahkan mungkin seluruhnya dari Mudlar (dizhalimi oleh kaum Mudlar yang terkenal kejahatannya sebagai begal). Maka wajah Rasulullah saw pun berkerut saking ibanya atas kesengsaraan yang dialami oleh mereka.

فَدَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ فَأَمَرَ بِلاَلاً فَأَذَّنَ وَأَقَامَ فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ (يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِى خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ) إِلَى آخِرِ الآيَةِ (إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا) وَالآيَةَ الَّتِى فِى الْحَشْرِ (اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ) تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ مِنْ دِرْهَمِهِ مِنْ ثَوْبِهِ مِنْ صَاعِ بُرِّهِ مِنْ صَاعِ تَمْرِهِ حَتَّى قَالَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ.

Beliau kemudian masuk, lalu keluar kembali, dan memerintah Bilal untuk adzan dan iqamat. Beliau kemudian shalat. Setelah itu berkhutbah dan membacakan ayat: “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. an-Nisa` [4] : 1) dan ayat yang ada dalam surat al-Hasyr: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Hasyr [59] : 18). “Hendaklah masing-masing orang shadaqah dari dinarnya, dirhamnya, bajunya, sha’ gandumnya, sha’ kurmanya,” hingga beliau mengatakan: “meski sebelah biji kurma.”

قَالَ فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا بَلْ قَدْ عَجَزَتْ – قَالَ – ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ حَتَّى رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَثِيَابٍ حَتَّى رَأَيْتُ وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يَتَهَلَّلُ كَأَنَّهُ مُذْهَبَةٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

Lalu ada seorang Anshar membawa sekarung makanan. Tangannya hampir tidak kuat memikulnya, bahkan memang sungguh ia tidak kuat membawanya. Setelah itu berturut-turutlah orang lain bershadaqah, sehingga aku melihat dua tumpukan besar makanan dan pakaian. Aku melihat wajah Rasulullah saw kemudian cerah kembali seakan-akan sebuah wadah perak yang dihiasi emas. Maka Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang memberi satu contoh yang baik dalam Islam, maka ia akan mendapatkan pahalanya ditambah pahala dari orang-orang yang mengamalkannya sesudahnya tanpa berkurang pahala mereka sedikit pun. Dan siapa yang memberi satu contoh yang jelek dalam Islam, maka ia akan mendapatkan dosanya ditambah dosa dari orang-orang yang mengamalkannya sesudahnya tanpa berkurang dosa mereka sedikit pun.” (Shahih Muslim bab al-hatsts ‘alas-shadaqah no. 2398).

Himbauan Nabi saw dalam hadits di atas yang harus diperhatikan dalam hal shadaqah di masa sulit seperti saat ini adalah:

تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ مِنْ دِرْهَمِهِ مِنْ ثَوْبِهِ مِنْ صَاعِ بُرِّهِ مِنْ صَاعِ تَمْرِهِ حَتَّى قَالَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

Hendaklah masing-masing orang shadaqah dari dinarnya, dirhamnya, bajunya, sha’ gandumnya, sha’ kurmanya,” hingga beliau mengatakan: “meski sebelah biji kurma.”

Jadi silahkan keluarkan apa yang masih dimiliki; uang, baju, makanan, atau bahkan kalau hanya punya sebelah biji kurma—bukan satu bijinya, tetapi setengahnya—silahkan shadaqahkan. Yang masih punya uang jutaan, ratusan ribu, ribuan, bahkan yang hanya tinggal ratusan, silahkan shadaqahkan, jika memang masih tersisa taqwa dalam hati kepada Allah swt. Yang sudah tidak memiliki uang, tetapi masih memiliki pakaian atau makanan sisa, silahkan juga shadaqahkan. Ini semua sebagai wujud taqwa kepada Allah swt sebagaimana Nabi saw singgung dalam dua ayat yang beliau baca di awal khutbahnya di atas. Para shahabat yang notabene orang-orang bertaqwa kemudian langsung bershadaqah sesuai kemampuan masing-masing tanpa ditunda-tunda.

Dalam kejadian yang lain, sebagaimana diriwayatkan Abu Mas’ud al-Anshari kesigapan shahabat dalam shadaqah diceritakan sebagai berikut:

لَمَّا نَزَلَتْ آيَةُ الصَّدَقَةِ كُنَّا نُحَامِلُ فَجَاءَ رَجُلٌ فَتَصَدَّقَ بِشَيْءٍ كَثِيرٍ فَقَالُوا مُرَائِي وَجَاءَ رَجُلٌ فَتَصَدَّقَ بِصَاعٍ فَقَالُوا إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنْ صَاعِ هَذَا فَنَزَلَتْ {الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ} الْآيَةَ

Ketika turun ayat yang memerintahkan shadaqah, kami (para shahabat) sengaja menjadi buruh panggul (agar bisa shadaqah). Maka ada seorang shahabat yang shadaqah dengan barang yang banyak, tetapi orang-orang munafiq malah berkomentar: “Orang ini riya.” Lalu ada juga shahabat lain yang shadaqah dengan satu sha’ (+ 3 liter/2,5 kg), tetapi orang-orang munafiq malah berkomentar: “Sungguh Allah tidak butuh dari satu sha’ ini.” Sehingga turunlah ayat: (Orang-orang munafiq) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya…” (Shahih al-Bukhari kitab az-zakat bab ittaqun-nar wa lau bi syiqqi tamratin awil-qalil minas-shadaqah no. 1415).

Demikianlah teladan shadaqah dari para shahabat, terlepas dari apakah mereka sedang mengalami kesulitan ekonomi ataupun yang sedang dilapangkan rizkinya, semuanya selalu tergerak untuk bershadaqah. Bahkan meski mereka dicibir oleh orang-orang munafiq sekalipun.

Shahabat yang disebutkan bershadaqah satu sha’ dalam hadits pertama di atas, menurut al-Hafizh Ibn Hajar, disebutkan dalam riwayat lain bernama Abu ‘Aqil. Ia mendapatkan upah satu sha’ setelah menjadi buruh menimba air dari sumur. Itu ia lakukan demi bisa bershadaqah sesuai anjuran Allah dan Rasul-Nya. Sementara shahabat yang bershadaqah dengan barang yang banyak dalam hadits di atas, menurut Ibn Hajar adalah ‘Abdurrahman ibn ‘Auf, seorang shahabat yang dikenal ahli dagang. Ia datang membawa shadaqah senilai 8.000 dinar/uang keping emas—sekitar Rp. 25 miliar (Fathul-Bari).

Abu Bakar dan ‘Umar ibn al-Khaththab ra juga memberikan teladan shadaqah yang tanpa mengenal kelapangan atau keluasan rizki, melainkan tetap bershadaqah maksimal sekemampuan diri. Diriwayatkan oleh ‘Umar ibn al-Khaththab sendiri:

 

أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ يَوْمًا أَنْ نَتَصَدَّقَ فَوَافَقَ ذَلِكَ مَالاً عِنْدِى فَقُلْتُ الْيَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَا أَبْقَيْتَ لأَهْلِكَ. قُلْتُ مِثْلَهُ. قَالَ وَأَتَى أَبُو بَكْرٍ  بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ مَا أَبْقَيْتَ لأَهْلِكَ. قَالَ أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللهَ وَرَسُولَهُ. قُلْتُ لاَ أُسَابِقُكَ إِلَى شَىْءٍ أَبَدًا

Rasulullah saw memerintahkan kami shadaqah pada suatu hari. Kebetulan perintah tersebut bertepatan dengan keadaanku yang sedang memiliki harta lebih. Aku berkata: “Hari ini aku akan melampaui Abu Bakar. Jika pada suatu hari aku bisa melampauinya, maka inilah mungkin saatnya. Aku datang membawa setengah hartaku.” Rasulullah saw bertanya: “Apa yang kamu sisakan untuk keluargamu?” Aku jawab: “Sebanyak yang dishadaqahkan ini.” Tidak lama ternyata Abu Bakar datang membawa shadaqah semua hartanya. Rasulullah saw bertanya kepadanya: “Apa yang kamu sisakan untuk keluargamu?” Ia menjawab: “Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.” Aku berkata: “Aku tidak akan berlomba-lomba lagi denganmu dalam hal amal apapun selama-lamanya.” (Sunan Abi Dawud bab fir-rukhshah fi dzalik no. 1680; Sunan at-Tirmidzi bab manaqib Abi Bakar no. 3675. Imam at-Tirmidz: Hadits hasan).

Tergambar jelas kesiapan shadaqah Abu Bakar yang sampai menshadaqahkan semua hartanya. Atau ‘Umar yang menshadaqahkan setengah hartanya. Shahabat lainnya tidak jauh berbeda. Ada Abu Thalhah yang menshadaqahkan kebunnya untuk keluarga besarnya. Atau Sa’ad ibn Abu Waqqash yang menshadaqahkan sepertiga hartanya, meski sebenarnya ia juga mampu bershadaqah 2/3 hartanya hanya saja dianjurkan oleh Nabi saw cukup 1/3 saja.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ  يَقُولُ كَانَ أَبُو طَلْحَةَ أَكْثَرَ الْأَنْصَارِ بِالْمَدِينَةِ مَالًا مِنْ نَخْلٍ وَكَانَ أَحَبُّ أَمْوَالِهِ إِلَيْهِ بَيْرُحَاءَ وَكَانَتْ مُسْتَقْبِلَةَ الْمَسْجِدِ وَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَدْخُلُهَا وَيَشْرَبُ مِنْ مَاءٍ فِيهَا طَيِّبٍ قَالَ أَنَسٌ فَلَمَّا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ {لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ} قَامَ أَبُو طَلْحَةَ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ {لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ} وَإِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِي إِلَيَّ بَيْرُحَاءَ وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلَّهِ أَرْجُو بِرَّهَا وَذُخْرَهَا عِنْدَ اللَّهِ فَضَعْهَا يَا رَسُولَ اللهِ حَيْثُ أَرَاكَ اللهُ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بَخٍ ذَلِكَ مَالٌ رَابِحٌ ذَلِكَ مَالٌ رَابِحٌ وَقَدْ سَمِعْتُ مَا قُلْتَ وَإِنِّي أَرَى أَنْ تَجْعَلَهَا فِي الْأَقْرَبِينَ فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ أَفْعَلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَسَمَهَا أَبُو طَلْحَةَ فِي أَقَارِبِهِ وَبَنِي عَمِّهِ

Dari Anas ibn Malik ra, ia berkata: Abu Thalhah adalah orang Anshar yang paling luas kebun kurmanya di Madinah. Kebun yang paling disukainya adalah Bairuha yang letaknya di depan masjid. Rasulullah saw sering masuk ke sana dan minum air segar di sana. Ketika turun ayat ini: Kalian tidak akan pernah sampai pada kebaikan sehingga kalian menginfaqkan apa yang kalian cintai. Abu Thalhah menemui Rasulullah saw dan berkata: “Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala berfirman: Kalian tidak akan pernah sampai pada kebaikan sehingga kalian menginfaqkan apa yang kalian cintai. Sungguh harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairuha. Aku shadaqahkan karena Allah dengan berharap kebaikannya dan keabadiaannya di sisi Allah. Silahkan bagikan oleh anda wahai Rasulullah sesuai yang Allah tunjukkan kepada anda.” Rasul saw bersabda: “Wow, itu harta yang sangat banyak, harta yang sangat banyak. Aku telah dengar apa yang kamu katakan. Aku putuskan sebaiknya kamu bagikan saja kepada kerabatmu.” Abu Thalhah berkata: “Aku laksanakan wahai Rasulullah.” Abu Thalhah pun membagikannya kepada kerabatnya dan anak-anak pamannya (Shahih al-Bukhari kitab az-zakat bab az-zakat ‘alal-aqarib no. 1461).

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ  قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَعُودُنِي عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ مِنْ وَجَعٍ اشْتَدَّ بِي فَقُلْتُ إِنِّي قَدْ بَلَغَ بِي مِنْ الْوَجَعِ وَأَنَا ذُو مَالٍ وَلَا يَرِثُنِي إِلَّا ابْنَةٌ أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي قَالَ لَا فَقُلْتُ بِالشَّطْرِ فَقَالَ لَا ثُمَّ قَالَ الثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَبِيرٌ أَوْ كَثِيرٌ إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ وَإِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ بِهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ

Dari Sa’ad ibn Abi Waqqash—semoga Allah meridlainya—ia berkata: Rasulullah—shalawat dan salam senantiasa tercurah untuknya—menjengukku pada tahun haji wada’ karena penyakit parah yang menyerangku. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh aku telah terserang penyakit sebagaimana anda lihat. Harta saya banyak tetapi ahli warisku hanya seorang anak perempuan. Apakah aku boleh bershadaqah dengan 2/3 hartaku?” Beliau menjawab: “Tidak boleh.” Aku bertanya lagi: “Kalau setengahnya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Jangan.” Aku bertanya lagi: “Bagaimana kalau sepertiganya?” Beliau menjawab: “Ya sepertiga, dan sepertiga itu banyak. Sungguh kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin dan meminta-minta kepada orang lain. Sungguh tidaklah kamu memberi nafkah dengan niat mengharap keridlaan Allah kecuali kamu akan mendapatkan pahala atasnya, sampai apa yang kamu suapkan ke mulut istrimu.” (Shahih al-Bukhari kitab al-jana`iz bab ritsa`in-Nabiy saw Sa’d ibn Khaulah no. 1295; kitab manaqib al-Anshar bab qaulin-Nabi saw Allahumma amdli li ashhabi hijratahum no. 3936, bab hajjatil-wada’ no. 4409; kitab ad-da’awat bab ad-du’a bi raf’il-waba` wal-waja’ no. 6373; Shahih Muslim kitab al-washiyyah bab al-washiyyah bits-tsuluts no. 4296).

Semua teladan di atas meniscayakan satu prinsip bahwa shadaqah dan infaq tidak boleh berhenti meski di masa sulit sekalipun, sebab masih banyak orang yang lebih sulit kehidupannya dan mereka sangat membutuhkan uluran tangan orang yang bertaqwa.

Wal-‘Llahul-Muwaffiq