Home > Kontemporer > Taubat dan Wudlu Penangkal Virus Corona

Taubat dan Wudlu Penangkal Virus Corona

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Taushiyah terkait merebaknya virus corona di Indonesia. Taushiyah yang dikeluarkan tanggal 3 Februari 2020 tersebut menekankan pentingnya taubat dan wudlu yang baik dalam menangkal virus corona.

Dalam mengawali taushiyahnya, MUI menyatakan: “Setelah mencermati kondisi aktual saat ini terkait penyebaran virus Corona di beberapa negara dan sudah terdeteksinya penyebaran virus tersebut di Indonesia, maka Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia menyerukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Mengajak semua elemen bangsa, khususnya yang beragama Islam, untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT agar terhindar dari musibah ini, dengan memperbanyak taubat, memohon ampun kepada Allah ‘Azza wa Jalla, meninggalkan perilaku dzalim, memperbanyak sedekah, dan meninggalkan permusuhan, karena virus Corona ini bisa jadi merupakan peringatan dari Allah SWT agar umat Islam semakin mendekatkan diri kepada-Nya.
  2. Mengajak umat Islam untuk melakukan qunut nazilah (berdo’a untuk menangkal turunnya malapetaka) di setiap shalat fardlu.
  3. Mengajak umat Islam agar memperbanyak wudlu sesuai tata caranya secara benar dan sempurna, khususnya saat mencuci kedua tangan (ghaslul-kaffain) agar melakukannya lebih ekstra dengan memakai sabun agar diyakini lebih bersih, saat berkumur (tamadhmudh) dan saat membersihkan hidung (istinsyaq). Karena sesuai keterangan para ahli kesehatan, cara-cara tersebut diyakini dapat menangkal penularan virus Corona.
  4. Menghimbau kepada semua elemen bangsa untuk tetap tenang, bersatu, mengedepankan sikap saling membantu, menghindarkan perilaku saling berbantahan dan saling menyalahkan, serta tidak menyebarkan berita atau informasi yang belum diketahui kebenarannya (hoax), dan bersama-sama melakukan segala upaya untuk menangkal dan meminimalkan potensi penyebaran virus Corona tersebut.
  5. Meminta kepada umat Islam agar berpegang teguh kepada pola hidup yang islami, dimulai dengan makanan, minuman, pakaian dan muamalah demi meraih ridha Allah SWT sesuai perintah agama: “Wahai manusia, makanlah apa yang kami ciptakan di bumi dari segala yang halal yang tidak Kami haramkan dan yang baik-baik.” (QS. al-Baqarah : 168).

 

Urgensi Taubat

Taushiyah MUI yang menghimbau umat untuk bertaubat sungguh tepat karena setiap penyakit dan musibah penyebab awalnya adalah dosa. Penyakit dan musibah itu sendiri adalah siksa dari Allah swt atas dosa-dosa manusia. Hanya kalimat pernyataan MUI: “bisa jadi merupakan peringatan dari Allah SWT…” dirasa kurang tepat, sebab bukan hanya “bisa jadi” melainkan “pasti” peringatan dari Allah swt. al-Qur`an mengingatkan:

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖ  ٣٠

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu (QS. as-Syura [42] : 30).

Ayat semakna difirmankan Allah swt dalam QS. Ali ‘Imran [3] : 165, an-Nisa` [4] : 62, 79, al-Qashash [28] : 47, dan ar-Rum [30] : 41.

Kaitan taubat itu sendiri dengan keselamatan dijelaskan dalam berbagai ayat, di antaranya dalam seruan Nabi Muhammad saw berikut ini:

وَأَنِ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِ يُمَتِّعۡكُم مَّتَٰعًا حَسَنًا إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى وَيُؤۡتِ كُلَّ ذِي فَضۡلٖ فَضۡلَهُۥۖ وَإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٖ كَبِيرٍ  ٣

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat (QS. Hud [11] : 3).

Dalam surat Hud [11] ayat 52, melalui dakwah Nabi Hud as, Allah swt menjanjikan hujan yang akan turun deras dan menambah kekuatan jika istighfar dan taubat diamalkan oleh satu umat. Hal yang sama difirmankan Allah swt dalam dakwah Nabi Nuh as kepada umatnya dalam surat Nuh [71] : 11-12 yang menjanjikan pula akan menambah banyak harta dan anak-anak, mnyuburkan kebun, dan mengalirkan sungai yang deras.

 

Urgensi Wudlu

Himbauan MUI untuk memperbaiki dan memperbanyak wudlu juga tepat karena memang wudlu mengajarkan umat untuk senantiasa hidup bersih dan membersihkan anggota-anggota badan yang rentan terpapar virus minimal sehari lima kali. Lebih banyak tentu lebih baik lagi, sebagaimana Nabi saw anjurkan dalam berbagai hadits tentang memnjaga wudlu dan Nabi saw kukuhkan ketika beliau memuji Bilal ra atas amalnya yang selalu menjaga wudlu, yakni segera berwudlu ketika bathal, sehingga ia dipastikan masuk surga.

لا يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلا مُؤْمِنٌ

Tidak ada yang menjaga wudlu melainkan orang yang beriman (Musnad Ahmad bab wa min hadits Tsauban no. 22433).

قَالَ بِلَالٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَذَّنْتُ قَطُّ إِلَّا صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ، وَمَا أَصَابَنِي حَدَثٌ قَطُّ إِلَّا تَوَضَّأْتُ عِنْدَهَا وَرَأَيْتُ أَنَّ لِلَّهِ عَلَيَّ رَكْعَتَيْنِ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : بِهِمَا

Bilal berkata: “Wahai Rasulullah, tidaklah aku adzan sekalipun kecuali aku shalat dua raka’at (sesudah adzan), dan tidaklah kena hadats padaku sekalipun kecuali aku berwudlu langsung dan aku menilai bahwa Allah punya hak dua raka’at yang harus aku tunaikan.” Rasulullah saw menjawab: “Berarti karena dua amal tersebut (shalat syukrul-wudlu dan shalat ba’da adzan/qabla shalat wajib).” (Sunan at-Tirmidzi abwab al-manaqib bab manaqib ‘Umar ibn al-Khaththab no. 3689)

 

Saling Membantu, bukan Memanfaatkan Kesempatan

Pemerintah sudah mengeluarkan peringatan keras bahwa siapa saja yang mengambil untung tidak wajar dalam keadaan genting akan langsung dipidanakan. Menaikkan barang-barang yang dibutuhkan secara tidak wajar saat ada krisis merupakan perbuatan dosa. Nabi saw sudah mengingatkannya dalam hadits.

لَا يَحْتَكِرُ إِلَّا خَاطِئٌ

Tidak ada yang menimbun melainkan ia berdosa (Shahih Muslim kitab al-musaqah bab tahrimul-ihtikar fil-aqwat no. 3013).

مَنْ احْتَكَرَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ طَعَامًا ضَرَبَهُ اللهُ بِالْجُذَامِ وَالْإِفْلَاسِ

Siapa yang menimbun makanan orang-orang muslim, Allah pasti akan menimpakan kepadanya penyakit yang parah dan kebangkrutan (Sunan Ibn Majah kitab at-tijarat bab al-hukrah wal-jalb no. 2146).

Sepantasnya semua orang saling membantu ketika orang lain kesusahan, bukan malah memanfaatkan kesempatan mengambil untung dalam kesempitan orang lain.

 

Pola Hidup Islami

Virus Corona jenis baru disinyalir muncul dari kebiasaan orang-orang Cina mengonsumsi makanan hewan-hewan liar, yang Nabi saw haramkan dalam hadits, bahkan seharusnya dibunuh, bukan dikonsumsi. Al-Qur`an dalam hal ini sudah memberikan batasan bahwa makanan apapun yang thayyib maka itu adalah halal. Tetapi jika thayyib berarti hukumnya haram.

وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ

Dan ia (Muhammad) menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk (QS. Al-A’raf [7] : 157).

Islam juga mengajarkan agar makan dan minum tidak berlebihan. Pola hidup boros, rakus, mewah, dan hedonis, adalah sumber segala penyakit sebagaimana sering dikemukakan para ahli kesehatan dewasa ini. Islam sudah tegas mengajarkan dalam al-Qur`an agar pola hidup yang israf (berlebihan) ini dihindari.

وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ  ٣١

Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan  (QS. al-A’raf [7] : 31).

Na’udzu bil-‘Llah min dzalik