Home > Ibadah > Target Taqwa Shaum Ramadlan

Target Taqwa Shaum Ramadlan

Target Taqwa Shaum Ramadlan

Setiap orang, apapun profesinya, hampir selalu punya target yang harus dicapai dalam kehidupannya; target punya penghasilan sekian, peningkatan laba sekian, target punya rumah, mobil, tabungan, dan sebagainya. Hanya orang putus asa yang tidak pernah punya target dalam hidupnya. Hal yang sama sebenarnya berlaku juga dalam ibadah. Allah swt memerintahkan setiap hamba-Nya untuk memiliki target. Shaum Ramadlan misalnya harus mencapai target taqwa. Hanya orang putus asa saja yang kemudian tidak memiliki target apapun dari shaum Ramadlan yang dijalankannya.

Taqwa itu sendiri adalah puncak iman dan islam seorang hamba yang tidak bisa dicapai sekaligus, harus bertahap. Maka dari itu, shaum Ramadlan diwajibkan berulang setiap tahun. Selain untuk menyegarkan kembali ketaqwaan orang-orang yang sudah bertaqwa, shaum Ramadlan sangat penting untuk selalu meningkatkan ketaqwaan orang-orang yang belum sempurna taqwanya.

Tinggal bergantung pada target taqwa yang ditetapkan oleh masing-masing individunya. Shaum Ramadlan tahun ini, misalkan, target apa saja yang harus dicapai dari taqwa? Jika dibiarkan mengalir tanpa target, itu artinya seseorang akan shaum tanpa disertai niat iman dan ihtisab (menargetkan memperoleh pahala dari Allah). Padahal ini yang akan menentukan diterima dan tidaknya shaum Ramadlan seorang muslim.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa yang shaum Ramadlan karena iman dan mengharap ridla Allah, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu (Shahih al-Bukhari kitab al-iman bab shaum Ramadlan ihtisaban minal-iman no. 38).

Target taqwa yang harus ditentukan dari sekarang adalah yang disebutkan dalam berbagai ayat al-Qur`an berikut ini. Jika mampu targetkan semuanya. Jika belum mampu, targetkan sebagiannya di setiap tahunnya. Tahun sekarang yang mana, lalu tahun depan yang mana, dan demikian seterusnya.

Pertama, ahli shaum; tentunya mencakup wajib dan sunat. Target ini jelas difirmankan Allah swt dalam QS. al-Baqarah [2] : 183. Maksudnya, orang yang bertaqwa tidak jauh dari amalan shaum. Terlebih dalam al-Qur`an sendiri Allah swt sering menyinggung amal shaum ini sebagai amal utama. Dalam QS. At-Taubah [9] : 112 dan at-Tahrim [66] : 5, Allah swt menyebutkan sa`ihun/sa`ihat sebagai amal mulia lelaki dan wanita yang shalih. Ibn ‘Abbas dan ‘Aisyah menjelaskan bahwa lafazh sa`ihun/sa`ihat dalam al-Qur`an, maknanya shaum (Tafsir Ibn Katsir). Demikian halnya dalam QS. al-Ahzab [33] : 35 yang menyebutkan sha`imin dan sha`imat.

Kedua, ahli shalat malam yang dikenal dengan nama shalat Tahajjud, atau pada bulan Ramadlan sering disebut Tarawih. Allah swt berfirman bahwa orang yang bertaqwa itu rajin bangun di waktu malam untuk shalat dan di waktu sahurnya mereka sibuk beristighfar:

إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِي جَنَّٰتٖ وَعُيُونٍ ءَاخِذِينَ مَآ ءَاتَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَبۡلَ ذَٰلِكَ مُحۡسِنِينَ كَانُواْ قَلِيلٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِ مَا يَهۡجَعُونَ وَبِٱلۡأَسۡحَارِ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam (karena dipakai shalat);  Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah (QS. adz-Dzariyat [51] : 15-18. Ayat semakna terdapat juga dalam QS. Ali ‘Imran [3] : 15-17).

Bukan berarti shalat lima waktunya abai, melainkan tentu lebih bagus lagi. Sebab jika yang sunat bagus, otomatis yang wajibnya juga sudah bagus. Allah swt sendiri menyebutkan di bagian awal surat al-Baqarah bahwa orang bertaqwa itu mampu yuqimunas-shalat (mendirikan shalat). Maksudnya sebagaimana dijelaskan Ibn ‘Abbas: “Menyempurnakan ruku’ dan sujudnya (gerakan shalat), bacaan al-Qur`annya, dan khusyu’nya.” Qatadah menambahkan: “Menjaga shalat di setiap awal waktunya.” (Tafsir Ibn Katsir)

Ketiga, rutin mengeluarkan zakat, infaq, dan shadaqah. Ini disebutkan Allah swt dalam kelanjutan ayat 3 surat al-Baqarah: wa mimma razaqnahum yunfiqun; selalu bisa infaq dari berapapun yang Kami rizkikan kepada mereka. Atau difirmankan Allah swt dalam ayat lain:

إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِي جَنَّٰتٖ وَعُيُونٍ … وَفِيٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ حَقّٞ لِّلسَّآئِلِ وَٱلۡمَحۡرُومِ

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, … Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian (QS. adz-Dzariyat [51] : 15 dan 19).

Keempat, selalu lekat dengan do’a dan dzikir, sebagaimana firman Allah swt:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ إِذَا مَسَّهُمۡ طَٰٓئِفٞ مِّنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ تَذَكَّرُواْ فَإِذَا هُم مُّبۡصِرُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya (QS Al-A’raf [7] : 201).

Kelima, selalu dekat dengan al-Qur`an dan menjadikannya sebagai hudan (petunjuk hidup).

ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ لَا رَيۡبَۛ فِيهِۛ هُدٗى لِّلۡمُتَّقِينَ

Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS. al-Baqarah [2] : 2).

Keenam, selalu hidup rukun dengan sesama. Dalam QS. al-Hujurat [49] : 9-13, ketika Allah swt menyinggung orang yang paling bertaqwa, di sana Allah swt menjelaskan bahwa kriterianya adalah senantiasa menjaga ukhuwwah (persaudaraan) dan selalu siap untuk ishlah (berdamai) ketika konflik terjadi. Kriteria lainnya adalah selalu siap untuk menjauhi sumber-sumber konflik dan ketidakrukunan, yaitu: (1) merendahkan orang lain, (2) menghina, (3) memanggil dengan panggilan yang jelek, (4) banyak berrprasangka, (5) tajassus atau mencari-cari kesalahan orang lain, dan (6) ghibah.

Semua targetan taqwa di atas bisa dicapai dengan shaum Ramadlan. Tentunya shaum Ramadlan yang dari sejak awal sudah ditargetkan untuk meraih taqwa, dan itu pasti yang dilandasi niat iman dan ihtisab. Kalaupun belum bisa seluruhnya, pasti bisa sebagiannya. Jika tidak bisa meskipun sedikit, itu berarti shaum Ramadlan yang dijalankan hanya berujung celaka. Seperti disabdakan Nabi saw:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ شَهْرُ رَمَضَانَ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

Jatuh ke tanah hidung seseorang (rugi, celaka). Masuk kepadanya bulan Ramadlan, tetapi ketika selesai ia tidak diampuni dosanya (Sunan at-Tirmidzi no. 3545; Shahih Ibn Hibban no. 908; Shahih Ibn Khuzaimah no. 1888; Musnad Ahmad no. 7444).

Betapa tidak, dalam shaum Ramadlan setiap muslim jelas dididik untuk merutinkan shaum. Dididik pula untuk tidak susah bangun dan makan sahur. Secara otomatis dididik pula untuk selalu bangun di waktu sahur yang disebutkan Allah swt di atas sebagai waktu yang tepat untuk shalat malam dan istighfar. Shaum Ramadlan juga mendidik umat untuk selalu disiplin shalat, khususnya shalat malam; rela menyisihkan harta untuk shadaqah dan zakat fithri; dan selalu dekat dengan do’a dan dzikir, khususnya dengan al-Qur`an. Shaum Ramadlan juga mendidik diri untuk selalu bisa mengendalikan emosi, menjauhi marah, mudah tersinggung, menjauhi kata-kata kotor dan sikap kasar. Ini semua cerminan taqwa, sehingga tepat jika Allah swt menyebut shaum Ramadlan dengan la’allakum tattaqun; agar kalian bertaqwa.

Tinggal PR-nya, apakah setiap muslim selalu menetapkan target-target taqwa di atas, ataukah mengabaikannya sama sekali? Jika selalu abai, bukankah itu pertanda orang yang putus asa? Adakah orang yang putus asa berbahagia? Jangankan di akhirat, di dunia pun ia akan selalu dihinggapi kesengsaraan. Maka dari itu, tetapkan target taqwa dari sejak sekarang. Murnikan niat shaum Ramadlan dengan iman dan ihtisab, agar shaum Ramadlan tidak menjadi sia-sia atau celaka.

Wal-‘Llahul-Musta’an.