Meraih Cinta Ilahi

Target Taqwa Shaum Ramadlan – Masuk Surga Sekeluarga

Target Taqwa Shaum Ramadlan - Masuk Surga Sekeluarga

Orang yang bertaqwa disebutkan oleh al-Qur`an sebagai orang yang masuk surga sekeluarga. Pertanda bahwa mereka sangat peduli dengan keberagamaan keluarga mereka. Tidak bersikap minimalis yang penting diri sendiri sudah benar dalam beragama, tetapi selalu bersikap maksimalis; semua anggota keluarganya harus benar juga beragamanya. Shaum Ramadlan menyediakan fasilitas untuk memaksimalkan keluarga dalam beragama. Tapi, sudahkah fasilitas tersebut dimaksimalkan?

Dalam surat at-Thur [52] Allah swt menyebutkan dengan jelas bahwa orang yang bertaqwa dan akan menghuni surga yang penuh dengan kenikmatan itu adalah orang-orang beriman beserta anak keturunan mereka, sehingga semuanya dimasukkan ke durga.

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِاِيْمَانٍ اَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ اَلَتْنٰهُمْ مِّنْ عَمَلِهِمْ مِّنْ شَيْءٍۗ كُلُّ امْرِئٍ ۢبِمَا كَسَبَ رَهِيْنٌ ٢١

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya (QS. at-Thur [52] : 21).

Gambaran yang sama Allah swt sebutkan juga dalam ayat yang lain:

جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ ٢٣

(yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shaleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya (QS. ar-Ra’d [13] : 23).

رَبَّنَا وَاَدْخِلْهُمْ جَنّٰتِ عَدْنِ ِۨالَّتِيْ وَعَدْتَّهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ ۗاِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُۙ ٨

(Malaikat senantiasa berdo’a) Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shaleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. Ghafir [40] : 8).

اِنَّ اَصْحٰبَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِيْ شُغُلٍ فٰكِهُوْنَ ۚ ٥٥ هُمْ وَاَزْوَاجُهُمْ فِيْ ظِلٰلٍ عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ مُتَّكِـُٔوْنَ ۚ  ٥٦

Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan (QS. Yasin [36] : 55-56).

اُدْخُلُوا الْجَنَّةَ اَنْتُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُوْنَ ٧٠

Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan istri-istri/kerabat/teman kamu digembirakan (QS. az-Zukhruf [43] : 70).

Kunci dari itu semua adalah sebagaimana difirmankan oleh Allah swt dalam kelanjutan ayat dalam surat ar-Ra’d di atas:

 وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ ٢٣ سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِۗ  ٢٤

Sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Kesejahteraan tercurah atas kalian karena kesabaran kalian”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu (QS. ar-Ra’d [13] : 23-24).

Hal yang sama tergambar dari jalan kehidupan hamba-hamba pilihan Allah; ‘ibadur-Rahman:

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا ٧٤ اُولٰۤىِٕكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوْا وَيُلَقَّوْنَ فِيْهَا تَحِيَّةً وَّسَلٰمًا ۙ ٧٥

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya (QS. al-Furqan [25] : 74-75).

Ya, sabar, itulah kuncinya. Sabar yang arti asalnya “bertahan”, dalam konteks melaksanakan perintah artinya tetap bertahan menjaga keluarga dari neraka (QS. at-Tahrim [66] : 6). Menjaga keluarga untuk selalu disiplin dalam shalat, zakat, shaum, menjaga aurat, mengkaji al-Qur`an, dan selalu dekat dengan masjid. Meski susahnya bukan main, tetap saja bertahan mendorong mereka untuk selalu mengamalkannya. Do’a pun tidak lupa selalu dipanjatkan guna menguatkan kesabaran tersebut (QS. al-Furqan [25] : 74; al-Ahqaf [46] : 15). Bukan malah berhenti, putus asa, dan kemudian berdalih tawakkal dengan salah kaprah.

Sabar ini pulalah yang menjadi identitas utama orang bertaqwa dalam mendidik keluarganya sebagaimana difirmankan Allah swt:

وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى ١٣٢

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu atasnya (mengerjakan dan memerintahkannya). Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa (QS. Thaha [20] : 132).

Jangan pernah berdalih dengan keluarga Nabi Nuh dan Luth ‘alaihimus-salam. Sebab Nabi Nuh dan Luth tetap berusaha menjaga keluarganya dari neraka sampai akhir hayatnya. Tidak berhenti lalu bersikap pasrah pada taqdir dengan salah kaprah. Buktinya, al-Qur`an selalu menyebutkan bahwa yang diselamatkan dari siksa oleh Allah swt bukan hanya Nabi Nuh dan Luthnya saja, tetapi juga dengan keluarganya, hanya memang dikecualikan istri-istri mereka.

وَنُوْحًا اِذْ نَادٰى مِنْ قَبْلُ فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ فَنَجَّيْنٰهُ وَاَهْلَهٗ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيْمِ ۚ ٧٦

Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar (QS. al-Anbiya` [21] : 76).

Ketika Allah swt memerintahkan mengangkut orang-orang ke dalam perahu, titah-Nya kepada Nabi Nuh as:

قُلْنَا احْمِلْ فِيْهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَاَهْلَكَ اِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ اٰمَنَ ۗ

“Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.” (QS. Hud [11] : 40. Ayat semakna terdapat juga dalam QS. al-Mu`minun [23] : 27)

Sementara keluarga Nabi Luth disebutkan oleh al-Qur`an:

فَاَنْجَيْنٰهُ وَاَهْلَهٗٓ اِلَّا امْرَاَتَهٗ كَانَتْ مِنَ الْغٰبِرِيْنَ ٨٣

Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan) (QS. al-A’raf [7] : 83. Ayat semakna terdapat dalam QS. an-Naml [27] : 57 dan al-‘Ankabut [29] : 32).

Artinya kedua Nabi tersebut sudah berusaha maksimal untuk menshalihkan keluarganya, hanya memang istri mereka dan seorang anak Nabi Nuh as saja yang ditaqdirkan tetap dalam kekufuran. Jadi meski ada yang menempuh jalan kekufuran, kedua Nabi tersebut tetap memaksimalkan usaha agar anggota keluarga sisanya bisa diselamatkan.

Shaum Ramadlan yang dijalani selama satu bulan menyediakan fasilitas untuk memaksimalkan keluarga dalam ibadah. Pada waktu sahur dan berbuka ada kebersamaan. Demikian halnya dalam shalat Tarawih. Ketiganya bertepatan dengan tiga waktu shalat yang selalu diabaikan oleh keluarga; shubuh, maghrib dan ‘isya. Belum lagi moment tadarus al-Qur`an yang merupakan saat tepat untuk mendorong keluarga dekat dengan al-Qur`an. Ditambah zakat fithri yang merupakan moment untuk menggiatkan keluarga dalam zakat, infaq dan shadaqah, sehingga keluarga tidak lagi menjadi penghalang utama dari ibadah mengeluarkan harta. Sudahkah semuanya dimaksimalkan untuk menggiatkan keluarga ibadah? Jika belum, masih ada waktu tersisa, tinggal maksimalkan lagi. Sayang jika shalih hanya sendirian, sementara keluarga diabaikan. Hanya ketaqwaan semu dan palsu jadinya yang diperoleh dari shaum Ramadlan jika keluarga tidak menjadi prioritas untuk digerakkan beribadah. Na’udzu bil-‘Llah min dzalik.