Home > Aqidah > Taqwa Paripurna

Taqwa Paripurna

Taqwa Paripurna

Ketaqwaan itu bertingkat-tingkat, sebab Allah berfirman: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertaqwa.” Artinya, ada taqwa yang sampai tingkatan paling bertaqwa, ada pula yang taqwa yang tidak sampai paling bertaqwa; sebatas pertengahan atau minimal. Bagaimanakah wujud taqwa yang sampai tingkatan paling bertaqwa?

Titel taqwa yang paling bertaqwa atau taqwa paripurna dan paling sempurna disebutkan dalam al-Qur`an surat al-Hujurat sebagai berikut:

إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa (QS. Al-Hujurat [49] : 13).

Rincian karakteristiknya dijelaskan Allah swt pada ayat-ayat sebelumnya, yaitu: Pertama, selalu siap untuk ishlah (berdamai atau mendamaikan) ketika konflik terjadi. Artinya, orang yang bertaqwa bukan berarti orang yang terbebas dari konflik dengan sesamanya, melainkan orang yang ketika konflik terjadi ia siap untuk ishlah, baik itu ia sendiri yang ishlah ataupun meng-ishlah-kan orang lain yang sedang konflik. Ini disebutkan Allah swt dalam firman-Nya:

وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱقۡتَتَلُواْ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَهُمَاۖ فَإِنۢ بَغَتۡ إِحۡدَىٰهُمَا عَلَى ٱلۡأُخۡرَىٰ فَقَٰتِلُواْ ٱلَّتِي تَبۡغِي حَتَّىٰ تَفِيٓءَ إِلَىٰٓ أَمۡرِ ٱللَّهِۚ فَإِن فَآءَتۡ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَهُمَا بِٱلۡعَدۡلِ وَأَقۡسِطُوٓاْۖ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ

Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu`min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mu`min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (QS. Al-Hujurat [49] : 9-10).

Kedua, selalu siap untuk menjauhi sumber-sumber konflik dan ketidakrukunan di antara sesama orang beriman, yaitu: (1) merendahkan orang lain, (2) menghina, (3) memanggil dengan panggilan yang jelek, (4) banyak berprasangka buruk, (5) tajassus atau mencari-cari kesalahan orang lain, dan (6) ghibah; membicarakan kejelekan orang lain. Bunyi lengkap firman Allah swt yang menyoroti karakter yang ini adalah:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٞ مِّن قَوۡمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُواْ خَيۡرٗا مِّنۡهُمۡ وَلَا نِسَآءٞ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيۡرٗا مِّنۡهُنَّۖ وَلَا تَلۡمِزُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَلَا تَنَابَزُواْ بِٱلۡأَلۡقَٰبِۖ بِئۡسَ ٱلِٱسۡمُ ٱلۡفُسُوقُ بَعۡدَ ٱلۡإِيمَٰنِۚ وَمَن لَّمۡ يَتُبۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim (QS. Al-Hujurat [49] : 11).

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَ لَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (QS. Al-Hujurat [49] : 12).

Ketiga, siap mengolah perbedaan di antara sesama menjadi sebuah kesepahaman (ta’aruf). Allah swt berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Al-Hujurat [49] : 13).

Jika semua karakter ini tidak dimiliki, yang ada malah sebaliknya; rentan konflik, berselisih, perbedaan tidak dijadikan modal untuk sinergi malah semakin memperuncing ketidaksepahaman, maka berarti orang tersebut belum sampai pada derajat taqwa paripurna.

Maka dari itu Nabi saw dalam hadits mengingatkan, hakikat ketaqwaan bukan terletak pada shalat, zakat, shaum dan ibadah-ibadah lainnya. Hakikat ketaqwaan itu terletak pada hati. Shalat, zakat, shaum dan ibadah-ibadah lainnya bagian dari ketaqwaan, tetapi itu belum paripurna. Taqwa menjadi paripurna jika shalat, zakat, shaum dan ibadah-ibadah lainnya mengantarkan diri pada taqwa hati. Wujud konkritnya, hati yang siap ukhuwwah; bersaudara dengan muslim lain siapapun itu, tanpa ada hasud, benci, dan zhalim.

لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا. الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ. التَّقْوَى هَا هُنَا. وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

Janganlah kalian saling dengki, saling menipu dalam harga barang jualan, saling membenci, saling membelakangi, dan jangan pula sebagian dari kalian menjual di atas penjualan sebagiannya lagi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu saudara muslim lainnya, jangan pernah menganiayanya, menelantarkannya, dan menghinanya. Taqwa itu di sini, taqwa itu di sini, taqwa itu di sini—kata Abu Hurairah: Beliau sambil menunjuk dadanya tiga kali—Cukuplah seorang muslim merasa berdosa ketika menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya itu haram; darahnya, hartanya, dan kehormatannya (Shahih Muslim kitab al-birr was-shilah wal-adab bab tahrim zhulil-muslim no. 6706).