Home > Ibadah > Takhrij Hadits Berdo’a Sambil Mengangkat Tangan

Takhrij Hadits Berdo’a Sambil Mengangkat Tangan

Takhrij-Hadits-Berdo’a-Sambil-Mengangkat-Tangan

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

(1580) وعن سلمان  قال: قال رسول الله ﷺ : إنَّ رَبَّكُمْ حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحِي مِنْ عَبْدِهِ إذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا. أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ إلَّا النَّسَائِيّ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ

(بلوغ المرام للحافظ بن حجر)

1580- Dari Salman ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Rabb kalian Maha Pemalu dan Mulia. Ia merasa malu dari hamba-Nya jika ia (berdo’a) mengangkat tangan kepada-Nya dengan mengembalikannya dalam keadaan kosong.” Empat Imam meriwayatkannya, kecuali an-Nasa`i. Al-Hakim menilainya shahih

(al-Hafizh Ibn Hajar, Bulughul-Maram)

 

Sebagaimana terbaca dari kutipan di atas, al-Hafizh Ibn Hajar sama sekali tidak menilai dla’if atas hadits Salman. Beliau malah setuju dengan penilaian shahih dari Imam al-Hakim. Lebih tegasnya lagi dalam Fathul-Bari beliau menjelaskan:

وَقَدْ أَخْرَجَ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيّ وَحَسَّنَهُ وَغَيْرهمَا مِنْ حَدِيث سَلْمَان رَفَعَهُ ” إِنَّ رَبّكُمْ حَيِيّ كَرِيم يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْده إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدّهُمَا صِفْرًا ” بِكَسْرِ الْمُهْمَلَة وَسُكُون الْفَاء أَيْ خَالِيَة وَسَنَده جَيِّد

Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan yang lainnya meriwayatkan, dan at-Tirmidzi menilainya hasan, dari hadits Salman yang ia marfu’kan: “Sesungguhnya Rabb kalian Maha Pemalu dan Mulia. Ia merasa malu dari hamba-Nya jika ia (berdo’a) mengangkat tangan kepada-Nya dengan mengembalikannya dalam keadaan kosong” –dengan mengkasrah yang tidak bertitik (shad) dan mensukun fa (yakni shifr) maknanya kosong, dan sanadnya baik.[1]

Sebelum menulis pernyataan di atas, al-Hafizh menyatakan bahwa berdo’a sambil mengangkat tangan itu disyari’atkan. Ia mengawali syarahnya dengan menyatakan bahwa hadits Abu Musa dan Ibn ‘Umar yang ditulis oleh al-Bukhari dalam bab raf’il-aidi fid-du’a (mengangkat tangan ketika berdo’a) itu adalah shahih dan tidak boleh dipertentangkan dengan hadits Anas yang menyatakan bahwa ia hanya melihat Nabi saw berdo’a sambil mengangkat tangan itu ketika istisqa saja. Hadits Anas yang ini memang shahih, hadits Abu Musa juga shahih. Maka keduanya harus dikompromikan (thariqatul-jam’i), yakni bahwa yang dimaksud Anas adalah mengangkat tangan dengan cara yang khusus.

Hadits Abu Musa dan Ibn ‘Umar yang dimaksud adalah:

وَقَالَ أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ دَعَا النَّبِيُّ ﷺ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ وَرَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ

Abu Musa al-Asy’ari berkata: “Nabi saw berdo’a dengan mengangkat tangannya. Aku melihat putih kedua ketiak beliau.”[2]

 

وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ رَفَعَ النَّبِيُّ ﷺ يَدَيْهِ وَقَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَيْكَ مِمَّا صَنَعَ خَالِدٌ

Ibn ‘Umar berkata: “Nabi saw mengangkat tangannya dan berdo’a: Ya Allah sungguh aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang diperbuat Khalid.”[3]

 

Sementara itu, hadits Anas yang dimaksud adalah:

لَمْ يَكُنْ النَّبِيّ ﷺ يَرْفَع يَدَيْهِ فِي شَيْء مِنْ دُعَائِهِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاء

Nabi saw tidak pernah mengangkat tangannya dalam satu pun kesempatan berdo’anya selain dalam istisqa.[4]

 

Selanjutnya al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul-Bari menuliskan 12 hadits yang menjelaskan Nabi saw pernah berdo’a sambil mengangkat tangan di 12 kesempatan. Setelah itu al-Hafizh menguatkan argumentasinya dengan hadits Salman, yang sebagaimana dinyatakannya dalam kutipan di atas, kedudukannya hasan dan sanadnya jayyid. [5]

Penilaian dla’if atas hadits di atas—sepengetahuan penulis—hanya dikemukakan oleh Dewan Hisbah Persatuan Islam. Dalam Sidang Dewan Hisbah pada 1-2 Agustus 2009, Dewan Hisbah menyatakan bahwa hadits-hadits yang secara umum menganjurkan berdo’a sambil mengangkat tangan kedudukannya dla’if dan kedla’ifan masing-masing hadits itu tidak dapat menguatkan satu sama lainnya, bahkan dalam ke-dla’îf-annya itu beberapa hadits isinya saling bertentangan. Karena itu hadits-hadits tersebut tidak dapat dijadikan sebagai landasan umum disyari’atkannya mengangkat tangan ketika berdo’a.[6] Maka dari itu Dewan Hisbah mengambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Berdo’a dan kaifiyyatnya adalah ta’abbudi.
  2. Mengangkat kedua tangan waktu berdo’a pada kondisi, situasi, dan tempat tertentu disyari’atkan.
  3. Berdo’a sambil mengangkat kedua tangan pada kondisi, situasi, dan tempat tertentu yang tidak ada keterangan yang shahih adalah bid’ah.[7]

Hadits Salman di awal yang merupakan hadits pokok seputar masalah ini dinilai oleh Dewan Hisbah sebagai berikut:

عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ. رَوَاهُ التِّرْمِذِيُ

Dari Salman al Farisiy dari Nabi Saw. bahwa beliau bersabda,’Sesungguhnya Allah memiliki sifat Maha Pemalu Mahamulia, Ia akan teramat merasa malu apabila seseorang (berdoa) dengan mengangkat kedua tanganya lalu dikembalikan keduanya dalam keadaan hampa”.

H.r. At Tirmidzi, Sunan at Tirmidzi, V : 520, Al Hakim, al Mustadrak, I : 497,  Al Bazar, Musnad al Bazar, VI : 478, Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, II : 119 & 120, Al Baihaqi, as Sunanul Kubra, II : 211, Abu Daud, Sunan Abu Daud, I : 334, As Syihab, Musnad as Syihab, II : 165, Al Haitsami, Mawariduzh Zhamaan, I : 596, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, IV : 282, Ahmad, Musnad al Imam Ahmad, XXXIX : 120, At Thabrani, al Mu’jamul Kabir, VI : 314, Al Bagowi, Syarhus Sunnah, V : 185, Al Khatib, Tarikhul Bagdad, VIII : 317.

Sanad hadis ini dhaif. Seluruh jalur periwayatannya bertumpu kepada tiga orang rawi yang dhaif, yaitu Ja’far bin Maimun, Sulaiman At Taimi, dan Abu al Mu’alla. Ketiga rawi ini sama-sama menerima dari Abu Usman an Nahdi dari Salman al Farisi dari Nabi Saw.

  1. Ja’far bin Maimun. Ia adalah Ja’far bin Maimun at Tamimi Abu Ali. Ada yang mengatakan juga Abu al ‘Awam al Anmathi. Abdullah bin Ahmad mengatakan dari Ayahnya,’Ia tidak kuat dalam urusan hadis”. Abbas ad Duwari mengatakan dari Yahya bin Ma’in,’Laisa bidzaka. Dalam kesempatan lain ia mengatakan,’Shalihul Hadis, dan kesempatan lain pula ia mengatakan,’Ia tidak kuat”. Menurut Abu Hatim,’Shalih” An Nasai mengatakan,’Ia rawi yang tidak kuat”. Ad Daraquthni mengatakan,’Yu’tabaru bihi”. Al Bukhari mengatakan,’Laisa bis syaiin”. Dan Ibnu Hajar mengatakan,’Ia rawi yang jujur tetapi banyak salah”. Tahdzibul Kamal, V : 114-115.
  2. Sulaiman At Taimi. Ia adalah Sulaiman bin Tharkhan at Taimiy, Abu al Mu’tamir al Bashri. Wafat Th. 143 H.

Ia seorang ahli hadis sebagaimana dikatakan oleh Ali bin Al Madini. Al Bukhari mengatakan dari Ali bin Al Madini, ‘Ia memiliki dua ratus hadis”. Abdullah bin Ahmad mengatakan dari ayahnya,’Ia rawi yang tsiqat dan periwayatannya yang diterima dari Abu Usman lebih aku sukai dari pada periwayatan Ashim al Ahwal. Dan menurut Al Mizi, ia rawi Jama’ah (Al Bukhari, Muslim, Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad). Tahdzibul Kamal XII : 5-12.

Dalam Thabaqatul Mudallisin, I : 33 dan Tahdzibut Tahdzib, Ibnu Ma’in dan An Nasai menyatakan bahwa Sulaiman At Taimi mudallis. Kaidah ulumul hadis menyatakan bahwa seorang rawi mudallis apabila meriwayatkan dengan bentuk ‘an (dari), maka periwayatannya itu munqathi (terputus) dan tertolak. Lihat Manhajun Naqd, : 384.

Dengan demikian, periwayatan Sulaiman At Taimi dari Abu Usman dalam masalah ini tertolak karena dalam periwayatannya menggunakan lafal atau bentuk ‘an.

  1. Abu Al Mu’alla.

Dalam kitab rijal-rijal hadis, kami dapati rawi bernama Abu Al Mu’alla yang menerima dari Abu Usman An Nahdi itu ada dua orang. 1. Ja’far bin Maimun. Al Mugni fid Du’afa, I : 135. 2. Yahya bin Maimun ad Dlabbayyu. Tahdzibul Kamal, XXXII : 15-17. Seandainya yang dimaksud dalam periwayatan Abu Abdullah al Mahamili, dalam kitabnya Amaliyul Mahamiliy, 1: 380, dan Al Bagowi, Syarhus Sunnah, V : 185, itu Ja’far bin Maimun, rawi ini dhaif. Tetapi jika yang dimaksud Yahya bin Maimun, ia seorang rawi yang tsiqat tetapi mudalis. Lihat Tahdzibul Kamal, XXXII : 15-17.

Dengan tidak adanya kejelasan siapa yang dimaksud, maka periwayatan Al Mahamili dan Al Bagawi tidak dapat dijadikan hujjah sama sekali. Sebab dalam periwayatan keduannya hanya di sebut Abu Al Mu’alla.

 

Tautsiqul-Hadits Salman

Untuk mengetahui lebih jauh data sanad seputar hadits di atas, berikut disajikan sanad dan matan hadits yang meriwayatkan hadits di atas. Data sementara dibatasi pada sanad yang melalui tiga rawi dari Abu ‘Utsman an-Nahdi, dari Salman, yakni (1) Ja’far ibn Maimun, (2) Sulaiman at-Taimi, (3) Abul-Mu’alla:

سنن أبي داود ت الأرنؤوط (2/ 609)

 حدَّثنا مُؤَمِّلُ بنُ الفضل الحرانيُّ، حدَّثنا عيسى – يعني ابن يونس – حدَّثنا جعفرٌ – يعني ابنَ ميمون صاحبَ الأنماط – حدثني أبو عثمان عن سلمان قال: قال رسولُ الله – صلَّى الله عليه وسلم -: “إنَّ ربكُم حَييٌ كريمٌ يستحيي مِنْ عبدِه إذا رَفعَ يَدَيهِ إليه أن يَرُدهما صِفْراَ”

 

سنن الترمذي ت شاكر (5/ 556)

 حدثنا محمد بن بشار قال: حدثنا ابن أبي عدي، قال: أخبرنا جعفر بن ميمون، صاحب الأنماط عن أبي عثمان النهدي، عن سلمان الفارسي، عن النبي صلى الله عليه وسلم، قال: «إن الله حيي كريم يستحيي إذا رفع الرجل إليه يديه أن يردهما صفرا خائبتين»: هذا حديث حسن غريب ورواه بعضهم ولم يرفعه

 

 

سنن ابن ماجه ت الأرنؤوط (5/ 33)

حدثنا أبو بشر بكر بن خلف، حدثنا ابن أبي عدي، عن جعفر ابن ميمون، عن أبي عثمان عن سلمان، عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: “إن ربكم حيي كريم، يستحيي من عبده أن يرفع إليه يديه، فيردهما صفرا” أو قال: “خائبتين”

 

مسند أحمد ط الرسالة (39/ 119)

حدثنا يزيد، أخبرنا سليمان التيمي، عن أبي عثمان، عن سلمان، قال: ” إن الله ليستحي أن يبسط العبد إليه يديه يسأله فيهما خيرا، فيردهما خائبتين

 

شرح السنة للبغوي (5/ 185)

حدثنا السيد أبو القاسم علي بن موسى الموسوي، نا أبو بكر أحمد بن محمد العباس، في المسجد الجامع ببلخ، أنا أبو إسحاق المستملي، أنا أبو بكر أحمد بن محمد بن سهل القاضي، نا أبو حاتم محمد بن إدريس الحنظلي، نا الأنصاري، حدثني أبو المعلى، نا أبو عثمان النهدي، قال: سمعت سلمان الفارسي، يقول: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إن الله حيي كريم، إذا رفع العبد إليه يديه يستحيي أن يردهما صفرا حتى يضع فيهما خيرا».

 

Biodata Rawi Yang Dipermasalahkan

Terkait tiga rawi yang dipermasalahkan di atas, berikut biodata dari masing-masingnya:

الاسم : جعفر بن ميمون التميمى أبو على و يقال أبو العوام الأنماطى بياع الأنماط

الطبقة :  6  : من الذين عاصروا صغارالتابعين

روى له :  ر د ت س ق  ( البخاري في جزء القراءة خلف الإمام – أبو داود – الترمذي – النسائي – ابن ماجه )

رتبته عند ابن حجر :  صدوق يخطىء

رتبته عند الذهبي :  قال أحمد : ليس بالقوى

الاسم : سليمان بن طرخان التيمى أبو المعتمر البصرى (نزل فى التيم فنسب إليهم)

المولد :  46 هـ

الطبقة :  4  : طبقة تلى الوسطى من التابعين

الوفاة :  143 هـ

روى له :  خ م د ت س ق  ( البخاري – مسلم – أبو داود – الترمذي – النسائي – ابن ماجه )

رتبته عند ابن حجر :  ثقة

رتبته عند الذهبي :  أحد السادة

الاسم : يحيى بن ميمون الضبى أبو المعلى العطار الكوفى ( مشهور بكنيته 

الطبقة :  6  : من الذين عاصروا صغارالتابعين

الوفاة :  132 هـ

روى له :  خت س ق  ( البخاري تعليقا – النسائي – ابن ماجه 

رتبته عند ابن حجر :  ثقة

رتبته عند الذهبي :  ثقة

 

Berdasarkan data di atas tampak jelas bahwa yang bermasalah dari tiga rawi yang dipermasalahkan ternyata hanya Ja’far ibn Maimun saja, itu pun tidak dengan jarh (penilaian cacat) yang parah, melainkan shaduq yukhthi`u. Shaduq menunjukkan ‘adalah (integritas kepribadian) yang teruji, sementara yukhthi`u hanya sedikit bermasalah dalam hal ketelitian atau hafalan, tetapi tidak sampai rusak. Rawi seperti ini bisa dijadikan mutabi’at (penyerta/penguat) untuk rawi lainnya. Faktanya, Ja’far ibn Maimun ini jadi mutabi’ untuk dua rawi yang tsiqat, yakni Sulaiman at-Taimi dan Abul-Mu’alla. Jadi sangat keliru kalau hadits Salman di atas dinilai dla’if.

Keraguan Abul-Mu’alla sebagai Yahya ibn Maimun ataukah Ja’far ibn Maimun, tidak perlu ada, sebab Ja’far ibn Maimun kunyah-nya bukan Abul-Mu’alla. Terlebih dalam sanad-sanad yang ada disebutkan jelas namanya, Ja’far. Jadi yang tepat itu adalah Yahya ibn Maimun. Ia seorang rawi yang tsiqat.

Kedudukan Sulaiman at-Taimi yang dipersoalkan sebagai rawi yang mudallis dan meriwayatkan dengan shighah ‘an tidak semestinya ada, karena kaidah periwayatan dari rawi mudallis dengan shighah ‘an dipersoalkan itu kalau rawinya tidak tsiqat. Atau jika hendak menggunakan thabaqah mudallis sebagaimana disusun al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani, kaidah tentang ditolaknya riwayat bershighah ‘an dari rawi mudallis itu jika rawi mudallis tersebut berada pada martabah ke-3 atau ke-4. Sementara jika rawi itu ada pada martabah ke-1 atau ke-2, meski riwayatnya bershighah ‘an tidak menjadikan riwayatnya tertolak. Faktanya adalah Sualiman at-Taimi ini dimasukkan dalam thabaqah ke-2 oleh al-Hafizh Ibn Hajar sebab memang statusnya sebagai rawi yang tsiqat. Menurut al-Hafizh rawi mudallis yang dimasukkan dalam martabah ke-2 ini adalah rawi yang diduga melakukan tadlîs tetapi para imam hadits meriwayatkan haditsnya dalam kitab shahih karena mempertimbangkan keimamannya dalam hadits dan sedikit tadlîs-nya jika dibandingkan dengan periwayatannya. Jadi seharusnya sanad Sulaiman at-Taimi dinilai sebagai sanad yang shahih.

Kesimpulannya, hadits Salman di atas shahih karena diriwayatkan dari jalur periwayatan rawi-rawi yang shahih. Kekhawatiran akan status Ja’far ibn Maimun yang tidak tsiqat hilang dengan fakta bahwa ia masih rawi yang shaduq dan dikuatkan oleh Sulaiman at-Taimi dan Abul-Mu’alla Yahya ibn Maimun.

Jadi mengangkat tangan dalam berdo’a dianjurkan meski tidak sampai sunnah mu`akkadah, mengingat Nabi saw tidak selalu berdo’a dengan mengangkat tangannya.

 

والله أعلم بالصواب

سبحان الله بحمده سبحان الله العظيم

 

[1] Fathul-Bari kitab ad-da’awat bab raf’il-aidi fid-du’a.

[2] Shahih al-Bukhari kitab al-manaqib bab shifatin-Nabi saw no. 3565.

[3] Shahih al-Bukhari kitab al-manaqib bab ba’tsin-Nabi saw Khalid ibn al-Walid ila Bani Jadzimah no. 4339.

Kesalahan Khalid yang dimaksud adalah membunuh kaum Bani Jadzi`mah padahal mereka sudah masuk Islam dengan berikrar: Shaba`na; kami telah masuk agama klasik yang Tuhannya Allah. Khalid mengira bahwa itu bukan ikrar masuk Islam. Sementara Ibn ‘Umar meyakini bahwa itu adalah ikrar sudah masuk Islam, sehingga ia tidak membunuh tawanannya sampai dilaporkan kepada Rasulullah saw. Setelah dilaporkan maka Rasulullah saw berdo’a seperti dikutip di atas.

[4] Shahih al-Bukhari kitab al-manaqib bab shifatin-Nabi saw no. 3565.

[5] Fathul-Bari kitab ad-da’awat bab raf’il-aidi fid-du’a.

[6] Uus Muhammad Ruhiat, Mengangkat Tangan Ketika Berdo’a, makalah pada Sidang Dewan Hisbah Persatuan Islam 1-2 Agustus 2009 M.

[7] Majalah RISALAH, No. 6 Th. 47 September 2009