Home > Meraih Cinta Ilahi > Syafa’at Nabi saw untuk Ashhabul-A’raf (Bagian Keenam)

Syafa’at Nabi saw untuk Ashhabul-A’raf (Bagian Keenam)

Ashhabul-A’raf adalah mereka yang menghuni al-A’raf; sebuah tempat tinggi semacam benteng yang menjadi pemisah antara surga dan neraka. Mereka yang menempati tempat ini adalah orang yang amal kebaikannya sebanding dengan amal kejelekannya, sehingga impas dan tidak menyisakan pahala kebaikan ataupun kejelekan. Semula mereka ditangguhkan keputusan masuk surga dan nerakanya, sampai kemudian Nabi Muhammad saw memohonkan syafa’at untuk mereka dan akhirnya mereka dimasukkan ke surga.

Al-A’raf adalah bentuk jama’ dari ‘urf yang akar katanya ‘arafa-ya’rifu-ma’rifah; mengetahui atau mengenal. Makna dari al-A’raf itu sendiri adalah sebuah tempat yang tinggi. Setiap tempat yang menjulang tinggi, orang Arab menamainya ‘urf dan bentuk jama’nya a’raf. Disebut demikian karena orang yang naik ke a’raf bisa mengenali banyak orang dengan jelas (Tafsir at-Thabari surat al-A’raf [7] : 46).

Tempat yang dimaksud dengan al-A’raf itu dijelaskan dalam QS. al-A’raf [7] : 46-49 sebagai berikut:

وَبَيۡنَهُمَا حِجَابٞۚ وَعَلَى ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٞ يَعۡرِفُونَ كُلَّۢا بِسِيمَىٰهُمۡۚ وَنَادَوۡاْ أَصۡحَٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۚ لَمۡ يَدۡخُلُوهَا وَهُمۡ يَطۡمَعُونَ  ٤٦

Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A`raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: “Salam `alaikum“. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).

۞وَإِذَا صُرِفَتۡ أَبۡصَٰرُهُمۡ تِلۡقَآءَ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُواْ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ  ٤٧

Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zhalim itu“.

وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٗا يَعۡرِفُونَهُم بِسِيمَىٰهُمۡ قَالُواْ مَآ أَغۡنَىٰ عَنكُمۡ جَمۡعُكُمۡ وَمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ  ٤٨

Dan orang-orang yang di atas A`raf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu“.

أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقۡسَمۡتُمۡ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحۡمَةٍۚ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡكُمۡ وَلَآ أَنتُمۡ تَحۡزَنُونَ  ٤٩

(Allah bertanya kepada penghuni neraka): “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka (penghuni A’raf) tidak akan mendapat rahmat Allah?” (Kepada penghuni A’raf itu dikatakan): “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.” (QS. al-A’raf [7] : 46-49).

Dari ayat-ayat di atas diketahui sebab penamaan al-A’raf karena sebagai tempat yang memungkinkan penghuninya “mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka”. Pada ayat 46 juga disebutkan kedudukan al-A’raf sebagai “hijab” antara surga dan neraka. Jadi tempat ini adalah tempat yang tinggi dan merupakan pemisah antara surga dan neraka. Shahabat Ibn ‘Abbas ra menjelaskan bahwa al-A’raf ini adalah sur (dinding) yang dijelaskan dalam surat al-Hadid berikut:

يَوۡمَ يَقُولُ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتُ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱنظُرُونَا نَقۡتَبِسۡ مِن نُّورِكُمۡ قِيلَ ٱرۡجِعُواْ وَرَآءَكُمۡ فَٱلۡتَمِسُواْ نُورٗاۖ فَضُرِبَ بَيۡنَهُم بِسُورٖ لَّهُۥ بَابُۢ بَاطِنُهُۥ فِيهِ ٱلرَّحۡمَةُ وَظَٰهِرُهُۥ مِن قِبَلِهِ ٱلۡعَذَابُ  ١٣

Pada hari ketika orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa (QS. al-Hadid [57] : 13).

Mereka yang menempati al-A’raf ini adalah orang-orang yang seimbang amal kebaikan dan amal kejelekannya sehingga impas, tidak tersisa kebaikan sedikit pun demikian juga kejelekan, sebab amal kebaikan akan dihitung sebagai penghapus amal kejelekan (QS. Hud [11] : 114). Jika sama banyaknya, berarti akan impas tiada yang tersisa. Dimasukkan ke surga tidak mungkin karena tidak ada amal kebaikannya, dan dimasukkan ke neraka pun tidak mungkin karena tidak ada amal kejelekannya. Al-Hafizh Ibn Hajar dalam hal ini menegaskan:

وَقَدْ تَقَدَّمَ قَرِيبًا أَنَّ أَرْجَحَ الْأَقْوَالِ فِي أَصْحَاب الْأَعْرَاف أَنَّهُمْ قَوْم اِسْتَوَتْ حَسَنَاتُهُمْ وَسَيِّئَاتُهُمْ

Sungguh telah dibahas tidak jauh dari ini (dalam bab al-qishash yaumal-qiyamah) bahwa pendapat yang paling kuat tentang penghuni al-A’raf adalah orang-orang yang seimbang amal baik mereka dengan amal jeleknya (Fathul-Bari bab shifatil-jannah wan-nar).

Al-Hafizh Ibn Katsir menjelaskan sama dalam Tafsir Ibn Katsir:

وَاخْتَلَفَتْ عِبَارَاتُ الْمُفَسِّرِينَ فِي أَصْحَابِ الْأَعْرَافِ مَنْ هُمْ، وَكُلُّهَا قَرِيبَةٌ تَرْجِعُ إِلَى مَعْنًى وَاحِدٍ، وَهُوَ أَنَّهُمْ قَوْمٌ اسْتَوَتْ حَسَنَاتُهُمْ وَسَيِّئَاتُهُمْ. نَصَّ عَلَيْهِ حُذَيْفَةُ، وَابْنُ عَبَّاسٍ، وَابْنُ مَسْعُودٍ، وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ، رَحِمَهُمُ اللَّهُ

Berbeda-beda penjelasan ulama tafsir tentang Ashhabul-A’raf siapakah mereka? Tetapi semuanya berdekatan dan merujuk pada satu makna yang sama, yakni mereka yang seimbang amal kebaikan dan amal kejelekannya. Yang menegaskan demikian adalah Hudzaifah, Ibn ‘Abbas, Ibn Mas’ud, dan yang lainnya bukan hanya seorang dari salaf dan khalaf. Semoga Allah merahmati mereka semuanya (Tafsir Ibn Katsir surat al-A’raf [7] : 49).

Berdasarkan ayat 49 surat al-A’raf di atas diketahui bahwa pada akhirnya Ashhabul-A’raf ini akan masuk surga. Ini sebagaimana dijelaskan oleh riwayat berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: قَالَ اللَّهُ لِأَهْلِ التَّكَبُّرِ وَالْأَمْوَالِ: {أَهَؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ} يَعْنِي أَصْحَابَ الْأَعْرَافِ، {ادْخُلُوا الْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ

Dari Ibn ‘Abbas: Allah berfirman kepada orang-orang takabbur dan kaya: “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka  tidak akan mendapat rahmat Allah?” yakni penghuni al-A’raf. (Kepada penghuni al-A’raf itu dikatakan): “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.” (Tafsir at-Thabari surat al-A’raf [7] : 49).

Proses masuknya Ashhabul-A’raf ke dalam surga itu sendiri adalah melalui syafa’at Nabi Muhammad saw. Ini didasarkan pada riwayat at-Thabari yang dinilai kuat oleh al-Hafizh Ibn Katsir sebagai berikut:

قَالَ حُذَيْفَةُ: أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ قَوْمٌ تَكَافَأَتْ أَعْمَالُهُمْ فَقَصُرَتْ بِهِمْ حَسَنَاتُهُمْ عَنِ الْجَنَّةِ، وَقَصُرَتْ بِهِمْ سَيِّئَاتُهُمْ عَنِ النَّارِ، فَجَعَلُوا عَلَى الْأَعْرَافِ يَعْرِفُونَ النَّاسَ بِسِيمَاهُمْ. فَلَمَّا قُضِيَ بَيْنَ الْعِبَادِ، أُذِنَ لَهُمْ فِي طَلَبِ الشَّفَاعَةِ، فَأَتَوْا آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ…

Hudzaifah berkata: “Ashhabul-A’raf adalah sekelompok orang yang setara amal-amal mereka. Amal kebaikan mereka habis sehingga tidak bisa masuk surga, dan amal kejelekan mereka juga habis sehingga tidak bisa masuk neraka. Mereka kemudian menempati al-A’raf dimana mereka bisa mengenali orang-orang selain mereka dari tanda-tandanya. Ketika sudah diputuskan (balasan amal) di antara hamba-hamba, mereka (Ashhabul-A’raf) diberi izin untuk mencari syafa’at. Mereka pun kemudian mendatangi Adam…” (kelanjutannya sama seperti hadits-hadits syafa’at sebelumnya yang bertahap dari Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, ‘Isa, dan berakhir sampai Nabi Muhammad saw, lalu kemudian Nabi Muhammad saw memberikan syafa’at kepada mereka—pen) (Tafsir at-Thabari surat al-A’raf [7] : 49).

Inilah syafa’at Nabi saw yang kesekian kalinya untuk umatnya. Jelas benar jasa besar Nabi Muhammad saw untuk umatnya, bahkan ketika kelak sudah final balasan amal. Berbagai jenis orang diselamatkannya melalui syafa’atnya. Maka jangan pernah lagi menomorduakan Nabi saw hanya karena selalu kalah oleh kesibukan duniawi. Semua yang dimiliki di dunia tiada yang dapat menolong manusia kelak di akhirat. Hanya Nabi seorang, Nabi Muhammad shallal-‘Llahu ‘alaihi wa sallam.