Home > Ibadah > Sunnah Shaum 9 Hari Dzulhijjah

Sunnah Shaum 9 Hari Dzulhijjah

Sunnah Shaum 9 Hari Dzulhijjah

Sunnah Shaum 9 Hari Dzulhijjah – Ada hadits yang menyatakan Nabi saw selalu mengerjakannya (itsbat); ada hadits yang menyatakan Nabi saw tidak pernah mengerjakannya (nafi); dan ada juga hadits yang secara umum menganjurkan memperbanyak amal shalih di 10 hari Dzulhijjah. Bagaimana para ulama menyimpulkan hukum dari hadits-hadits yang beragam tersebut?

Hadits yang menyatakan Nabi saw selalu mengerjakan shaum sembilan hari pertama Dzulhijjah, disampaikan oleh salah seorang istri Nabi saw sebagai berikut:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ

“Rasulullah saw shaum pada sembilan hari pertama Dzulhijjah, hari ‘Asyura (10 Muharram), tiga hari dari setiap bulan (tanggal 13, 14, 15), Senin pertama dari setiap bulan, dan hari Kamis (Musnad Ahmad bab hadits ba’dli azwajin-Nabi saw no. 22334, 27376 dan bab hadits Hafshah ummil-mu`minin no. 26468; Sunan Abi Dawud kitab as-shaum bab fi shaumil-‘asyr no. 2439; Sunan an-Nasa`i kitab as-shiyam bab shaumin-Nabi saw no. 2372 dan bab kaifa yashumu tsalatsah ayyam min kulli syahr no. 2417; as-Sunanul-Kubra kitab as-shiyam bab al-‘amalus-shalih fil-‘asyr min Dzilhijjah no. 8393. Para ulama menilai hadits ini shahih)

Sementara hadits yang menyatakan Nabi saw tidak pernah shaum sembilan hari pertama Dzulhijjah, disampaikan oleh ‘Aisyah sebagai berikut:

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَائِمًا الْعَشْرَ قَطُّ

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw shaum sekalipun pada 10 hari pertama Dzulhijjah.” (Musnad Ahmad musnad as-Shiddiqah ‘Aisyah bintis-Shiddiq no. 24147, 24926; Shahih Muslim kitab al-i’tikaf bab shaum ‘asyri Dzilhijjah no. 2846, 2847; Sunan Abi Dawud kitab as-shaum bab fi fithril-‘asyr no. 2441; Sunan at-Tirmidzi kitab as-shaum bab shiyamil-‘asyr no. 756).

Adapun hadits yang secara umum menganjurkan memperbanyak amal shalih pada 10 hari pertama Dzulhijjah adalah hadits Ibn ‘Abbas, yakni sebagai berikut:

   عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ.

Dari Ibn ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada hari dimana amal shalih padanya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini,” yakni 10 hari pertama Dzulhijjah.” Para shahabat bertanya: “Tidak juga dari jihad fi sabilillah?” Beliau menjawab: “Jihad fi sabilillah juga tidak, kecuali seseorang yang keluar dengan diri dan hartanya lalu ia tidak kembali dengan satu pun dari keduanya.” (Sunan Abi Dawud kitab as-shaum bab fi shaumil-‘asyr no. 2440; Shahih al-Bukhari kitab abwab al-‘idain bab fadllil-‘amal fi ayyamit-tasyriq no. 969).

Dalam menyimpulkan hukum dari hadits-hadits di atas, Imam an-Nawawi menjelaskan:

            بَاب صَوْمِ عَشْرِ ذِي الْحِجَّة ) فِيهِ قَوْلُ عَائِشَةُ : (مَا رَأَيْتُ رَسُول الله صَائِمًا فِي الْعَشْر قَطُّ ) وَفِي رِوَايَة :(لَمْ يَصُمْ الْعَشْر)قَالَ الْعُلَمَاء: هَذَا الْحَدِيث مِمَّا يُوهِم كَرَاهَة صَوْم الْعَشَرَة، وَالْمُرَاد بِالْعَشْرِ هُنَا: الْأَيَّام التِّسْعَة مِنْ أَوَّل ذِي الْحِجَّة. قَالُوا: وَهَذَا مِمَّا يُتَأَوَّل فَلَيْسَ فِي صَوْم هَذِهِ التِّسْعَة كَرَاهَة، بَلْ هِيَ مُسْتَحَبَّة اِسْتِحْبَابًا شَدِيدًا لَا سِيَّمَا التَّاسِع مِنْهَا، وَهُوَ يَوْم عَرَفَة، وَقَدْ سَبَقَتْ الْأَحَادِيث فِي فَضْله. وَثَبَتَ فِي صَحِيح الْبُخَارِيّ أَنَّ رَسُول اللَّه قَالَ: “مَا مِنْ أَيَّام الْعَمَل الصَّالِح فِيهَا أَفْضَل مِنْهُ فِي هَذِهِ” يَعْنِي: الْعَشْر الْأَوَائِل مِنْ ذِي الْحِجَّة. فَيَتَأَوَّل قَوْلهَا: لَمْ يَصُمْ الْعَشْر، أَنَّهُ لَمْ يَصُمْهُ لِعَارِضِ مَرَضٍ أَوْ سَفَرٍ أَوْ غَيْرهمَا، أَوْ أَنَّهَا لَمْ تَرَهُ صَائِمًا فِيهِ، وَلَا يَلْزَم عَنْ ذَلِكَ عَدَم صِيَامه فِي نَفْس الْأَمْر. وَيَدُلّ عَلَى هَذَا التَّأْوِيل حَدِيث هُنَيْدَة بْن خَالِد عَنْ اِمْرَأَته عَنْ بَعْض أَزْوَاج النَّبِيّ قَالَتْ: كَانَ رَسُول اللَّه يَصُوم تِسْع ذِي الْحِجَّة، وَيَوْم عَاشُورَاء، وَثَلَاثَة أَيَّام مِنْ كُلّ شَهْر: الِاثْنَيْنِ مِنْ الشَّهْر وَالْخَمِيس وَرَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَهَذَا لَفْظه وَأَحْمَد وَالنَّسَائِيُّ وَفِي رِوَايَتهمَا وَخَمِيسَيْنِ. وَاَللَّه أَعْلَم

(Bab shaum 10 hari Dzulhijjah) Di dalamnya ada pernyataan ‘Aisyah: (Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw shaum sekalipun pada 10 hari pertama Dzulhijjah). Dalam riwayat lain: (Beliau tidak shaum pada 10 hari pertama Dzulhijjah). Para ulama berkata: Hadits ini di antara yang mengindikasikan bahwa shaum 10 hari pertama Dzulhijjah hukumnya makruh. Yang dimaksud ‘al-‘asyr’ di sini tentu adalah sembilan hari pertama Dzulhijjah.

Para ulama menjelaskan: Hadits ini termasuk hadits yang harus dita`wilkan, sebab tidak ada makruh dalam shaum sembilan hari ini. Justru kedudukannya mustahab (dianjurkan) sekali. Terlebih shaum pada hari ke-9 yakni hari ‘Arafah. Hadits-hadits yang menjelaskan keutamaannya sudah dibahas.

Faktanya ada riwayat dalam Shahih al-Bukhari bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada hari dimana amal shalih padanya lebih baik daripada amal shalih pada hari-hari ini.” Yakni: 10 hari pertama Dzulhijjah.

Maka pernyataan ‘Aisyah bahwa Nabi saw tidak shaum pada 10 hari pertama Dzulhijjah harus dita`wil bahwa itu disebabkan ada halangan sakit, safar, atau lainnya. Atau bahwa ‘Aisyah sebatas tidak melihat beliau shaum, dan bukan berarti beliau tidak shaum pada saat itu.

Di antara dalil yang menguatkan ta`wil seperti ini adalah hadits Hunaidah ibn Khalid, dari istrinya, dari salah seorang istri Nabi saw, ia berkata: “Rasulullah saw shaum pada sembilan hari pertama Dzulhijjah, hari ‘Asyura (10 Muharram), tiga hari dari setiap bulan (tanggal 13, 14, 15), Senin pertama dari setiap bulan, dan hari Kamis.” Riwayat Abu Dawud dan seperti ini redaksinya. Sementara dalam riwayat Ahmad dan an-Nasa`i redaksi bagian akhirnya: “Dua kamis (kamis pertama dan kedua [didasarkan pada matan riwayat lain dalam Sunan an-Nasa`i]—pen).” Wal-‘Llahu a’lam.

Imam al-‘Azhim Abadi dalam ‘Aunul-Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud, Imam al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul-Ahwadzi Syarah Sunan at-Tirmidzi, dan Imam as-Syaukani dalam Nailul-Authar kemudian mengutip pendapat Imam an-Nawawi di atas dalam kitab mereka.

Sementara itu, al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul-Bari memberikan penjelasan tambahan:

وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى فَضْلِ صِيَامِ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ لِانْدِرَاجِ الصَّوْمِ فِي الْعَمَلِ وَاسْتَشْكَلَ بِتَحْرِيمِ الصَّوْمِ يَوْمَ الْعِيدِ وَأُجِيبَ بِأَنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى الْغَالِبِ. وَلَا يَرُدُّ عَلَى ذَلِكَ مَا رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَغَيْرُهُ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا رَأَيْتُ رَسُولَاللَّهِ صَائِمًا الْعَشْرَ قَطُّ لِاحْتِمَالِ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ لِكَوْنِهِ كَانَ يَتْرُكُ الْعَمَلَ وَهُوَ يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَهُ خَشْيَةَ أَنْ يُفْرَضَ عَلَى أُمَّتِهِ كَمَا رَوَاهُ الصَّحِيحَانِ مِنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ أَيْضًا

Dan ini (hadits Ibn ‘Abbas di atas—pen) dijadikan dalil keutamaan shaum pada 10 hari pertama Dzulhijjah, karena shaum termasuk kategori amal. Ada yang menganggap rancu dengan haramnya shaum pada hari ‘Id, tetapi jawabannya hadits ini harus dipahami dalam makna yang sudah umum (maksudnya sudah umum dipahami bahwa shaum pada hari ‘Id haram, dan sudah umum dipahami bahwa maksud ’10 hari pertama Dzulhijjah’ dalam konteks shaum adalah sembilan hari pertama Dzulhijjah—pen). Amal shaum tersebut tidak terbantahkan dengan hadits riwayat Abu Dawud dan lainnya dari ‘Aisyah, dimana ia berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw shaum sekalipun pada 10 hari tersebut.” Sebab mungkin itu didasarkan pada kebiasaannya meninggalkan satu amal yang beliau sendiri ingin mengamalkannya karena takut diwajibkan kepada umatnya, sebagaimana diriwayatkan oleh dua kitab Shahih dari hadits ‘Aisyah juga (Fathul-Bari bab fadllil-‘amal fi ayyamit-tasyriq).

Hadits ‘Aisyah yang dimaksud al-Hafizh Ibn Hajar dalam kutipan di atas adalah yang menyatakan bahwa jika Nabi saw meninggalkan satu amal padahal beliau menganjurkannya itu karena khawatir amal tersebut menjadi wajib. Hadits yang dimaksud terkait shalat Dluha yang tidak Nabi saw rutinkan, lalu sengaja dirutinkan oleh ‘Aisyah, karena kekhawatiran Nabi saw sudah tidak ada lagi:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ إِنْ كَانَ رَسُولُ اللهِ لَيَدَعُ الْعَمَلَ وَهُوَ يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ خَشْيَةَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ النَّاسُ فَيُفْرَضَ عَلَيْهِمْ وَمَا سَبَّحَ رَسُولُ اللهِ سُبْحَةَ الضُّحَى قَطُّ وَإِنِّي لَأُسَبِّحُهَا

Dari ‘Aisyah ra, ia berkata: “Sungguh Rasulullah saw meninggalkan satu amal yang beliau ingin mengamalkannya itu karena takut diamalkan oleh orang-orang banyak lalu diwajibkan kepada mereka. Rasulullah saw tidak pernah merutinkan shalat Dluha sekalipun, tetapi aku sendiri merutinkannya.” (Shahih al-Bukhari kitab at-tahajjud bab tahridlin-Nabiy saw ‘ala qiyamil-lail no. 1128).

Dalam hal ini pula, jumhur ulama—sebagaimana dikemukakan al-Hafizh Ibn Hajar—lebih menganjurkan shalat Tarawih berjama’ah di masjid pada satu imam—sebagaimana halnya ijtihad ‘Umar ibn al-Khaththab—meski Nabi saw tidak merutinkan berjama’ah di masjid setiap malam. Nabi saw tidak merutinkannya sebab takut kalau berjama’ah itu dijadikan syarat wajib shalat malam. Karena ketakutan ‘diwajibkan’ itu sudah tidak mungkin ada lagi, maka jumhur ulama menyatakan shalat berjama’ah Tarawih lebih baik daripada munfarid (Fathul-Bari bab fadlli man qama Ramadlan).

Penjelasan dari para ulama pensyarah hadits di atas menginformasikan adanya ijma’ (kebulatan pendapat) bahwa hadits itsbat harus dijadikan pegangan, bukan hadits nafi. Pernyataan ‘Aisyah tidak melihat Nabi saw shaum atau yang agak meyakinkan bahwa menurutnya Nabi saw tidak pernah shaum, tidak berarti bahwa Nabi saw tidak pernah shaum. Hanya sebatas sepengetahuan ‘Aisyah saja, Nabi saw tidak shaum pada hari-hari itu. Tetapi sepengetahuan istri-istrinya yang lain Nabi saw justru biasa shaum pada sembilan hari pertama Dzulhijjah. Terlebih Nabi saw sendiri menganjurkan untuk memperbanyak amal shalih pada 10 hari pertama Dzulhijjah. Atau mungkin Nabi saw sengaja tidak mengamalkannya meski beliau menganjurkannya karena takut dijadikan wajib bagi umatnya. Ketika ketakutan ‘diwajibkan’ itu sudah tidak mungkin ada lagi sesudah wafat Nabi saw, maka berarti shaum sembilan hari pertama Dzulhijjah dianjurkan untuk diamalkan. Wal-‘Llahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.