Home > Ibadah > Sunnah Ba’da Adzan

Sunnah Ba’da Adzan

Sunnah Yang Terabaikan

Akibat dari seringnya muadzdzin melangsungkan iqamat sesudah adzan, maka sunnah-sunnah ba’da adzan terlupakan dan terabaikan. Padahal sunnah-sunnah ini diajarkan Nabi saw dalam hadits-haditsnya.

Sunnah pertama yang Nabi saw ajarkan sesudah dikumandangkan adzan adalah bershalawat kepada Nabi saw. Ini diamalkan sebelum membaca do’a ba’da adzan yang ma`tsur (ada riwayatnya dari Nabi saw), sebagaimana akan diuraikan di point berikutnya. Tuntunan untuk bershalawat kepada Nabi saw ini jelas Nabi saw sabdakan dalam hadits berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِىَّ ﷺ يَقُولُ إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

Dari ‘Abdullah ibn ‘Amr ibn al-‘Ash, bahwasanya ia mendengar Nabi saw bersabda: “Apabila kalian mendengar muadzdzin adzan maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan muadzdzin. Kemudian bershalawatlah untukku, karena siapa yang bershalawat untukku satu kali niscaya Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian mintakanlah untukku wasilah, karena dia merupakan satu tempat di surga yang tidak layak diberikan kecuali kepada seorang hamba yang istimewa, dan aku berharap akulah hamba itu. Maka siapa yang memintakan wasilah untukku ia pasti akan mendapatkan syafa’at.” (Shahih Muslim kitab as-shalat bab as-shalat ‘alan-Nabiy ba’dat-tasyahhud no. 875)

Dalam hadits di atas Nabi saw jelas menyebutkan tiga rukun terkait mendengar adzan ini: (1) Menjawab adzan sebagaimana bacaan muadzdzin—tentunya kecuali dua hayya ‘ala. (2) Membaca shalawat. (3) Memohonkan al-wasilah untuk Nabi saw. Artinya ada shalawat sebelum do’a-do’a ba’da adzan yang di antaranya memohonkan al-wasilah untuk Nabi saw.

Shalawat yang dimaksud hadits ini sama dengan do’a-do’a ba’da adzan berikutnya, tidak perlu dikumandangkan keras-keras apalagi sampai dilantunkan melalui pengeras suara, karena semua itu tidak ada contohnya dari Nabi saw dan para shahabat. Yang pertama kali mengadakan shalawat dilantunkan keras-keras setiap ba’da adzan adalah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi pada tahun 781 H (al-Fiqhul-Islami wa Adillatuhu 1 : 612). Artinya ini adalah bid’ah yang tidak Nabi saw ajarkan. Meski demikian, shalawatnya tetap sunnah. Yang bid’ah itu hanya dilantunkan dengan kerasnya, bahkan dengan menggunakan pengeras suara.

Terlebih Nabi saw menganjurkan agar waktu sesaat ba’da adzan ini digunakan untuk shalat (sebagaimana sudah dibahas dalam kajian sebelumnya). Maka alangkah tidak eloknya jika ada suara-suara keras yang akan mengganggu orang shalat, meski itu shalawat atau bahkan mengaji al-Qur`an. Nabi saw pernah mengingatkan dalam hadits:

عَنِ الْبَيَاضِي أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ خَرَجَ عَلَى النَّاسِ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَقَدْ عَلَتْ أَصْوَاتُهُمْ بِالْقِرَاءَةِ فَقَالَ إِنَّ الْمُصَلِّىَ يُنَاجِي رَبَّهُ  فَلْيَنْظُرْ ما يُنَاجِيهِ وَلاَ يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ على بَعْضٍ بِالْقُرْآنِ

Dari al-Bayadli, sesungguhnya Rasulullah saw keluar mendapatkan orang-orang yang sedang shalat dan suara mereka keras ketika membaca al-Qur`an. Beliau lalu bersabda: “Sesungguhnya orang yang shalat itu berarti sedang bermunajat dengan Rabbnya awj. Maka hendaklah ia memperhatikan bagaimana ia bermunajat dengan-Nya. Dan janganlah sebagian kalian mengeraskan bacaan al-Qur`an sampai mengganggu yang lain.” (Musnad Ahmad no. 19044. Al-Albani: Hadits shahih [as-Silsilah as-Shahihah no. 1603])

Shalawat yang dimaksud karena tidak dijelaskan rincian bacaannya, maka dipahami shalawat dalam makna yang umum. Bisa cukup dengan membaca Allahumma shalli ‘ala Muhammad, atau shalawat yang lebih panjang sebagaimana Nabi saw ajarkan pada duduk tahiyyat di dalam shalat.

Kedua, do’a-do’a yang ma`tsur, di antaranya:

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Siapa yang mengucapkan: (ALLAHUMMA…WA’ADTAHU; Ya Allah, Rabb seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan ditegakkan ini, berilah Muhammad al-wasilah dan keutamaan. Dan bangkitkanlah ia kelak dalam satu tempat yang terpuji sebagaimana telah Engkau janjikan) ketika selesai mendengar adzan, maka halal baginya syafaatku pada hari kiamat (Shahih al-Bukhari bab ad-du’a ‘indan-nida` no. 614).

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا. غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ

Siapa yang mengucapkan: (ASYHADU…BIL-ISLAM DINAN; Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, Yang Esa, tidak ada satu pun sekutu bagi-Nya, dan sungguh Muhammad hamba-Nya dan Rasul-Nya. Aku ridla Allah sebagai Rabb, Muhammad sebagai Rasul dan Islam sebagai agama) ketika selesai mendengar adzan, maka dosanya akan diampuni (Shahih Muslim bab istihbabil-qaul mitsla qaulil-muadzdzin no. 877)

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ عَلَّمَنِى رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنْ أَقُولَ عِنْدَ أَذَانِ الْمَغْرِبِ اَللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا إِقْبَالُ لَيْلِكَ وَإِدْبَارُ نَهَارِكَ وَأَصْوَاتُ دُعَاتِكَ فَاغْفِرْ لِى

Dari Ummu Salamah ia berkata: Rasulullah saw mengajariku untuk membaca do’a sesudah adzan Maghrib: “ALLAHUMMA…FA-GHFIRLI; Ya Allah sungguh ini adalah awal malam-Mu dan akhir siang-Mu dan suara-suara penyeru-Mu, maka ampunilah aku.” (Sunan Abi Dawud bab ma qayulu ‘inda adzanil-maghrib no. 530)

Ketiga, do’a-do’a lain secara umum meski tidak ma`tsur. Sesuai dengan anjuran Nabi saw:

اَلدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ

Do’a yang tidak akan ditolak itu adalah di antara adzan dan iqamat (Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a fi annad-du’a la yuraddu bainal-adzan wal-iqamah no. 212; Sunan Abi Dawud bab ma ja`a fid-du’a bainal-adzan wal-iqamah no. 521).

Maka dari itu, al-Hafizh Ibn Hajar menekankan istihbab (dianjurkan)-nya shalat sunat sesudah adzan. Beliau sependapat dengan Imam al-Bukhari yang menganjurkan adanya jarak jeda antara adzan dan iqamat seukuran shalat dua raka’at dan tidak perlu berlama-lama mengingat pentingnya juga shalat di awal waktu. Apalagi jika hadits-hadits dla’if yang banyak hendak dijadikan penguatnya juga. Sebab banyak riwayat yang mengajarkan agar jarak antara adzan dan iqamat itu seukuran orang yang makan selesai dari makannya (Fathul-Bari bab kam bainal-adzan wal-iqamah dan Bulughul-Maram bab al-adzan no. 212). Di antara yang berijtihad seperti ini adalah ulama-ulama madzhab Syafi’i dan disetujui pula oleh Wahbah az-Zuhaili dalam al-Fiqhul-Islami wa Adillatuhu 1 : 605-606 dengan menyebutkannya sebagai sunnah seputar adzan.

Wal-‘Llahu a’lam