Home > Ibadah > Shaum Bulan Haram

Shaum Bulan Haram

Shaum Bulan Haram

Shaum Bulan Haram – Para ulama menilai shahih hadits anjuran memperbanyak shaum di bulan-bulan haram; Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Artinya termasuk dianjurkan memperbanyak shaum sunat di bulan Haram.

Ulama hadits yang menyebutkan istilah “shaum bulan haram” dalam kitabnya di antaranya adalah Imam Abu Dawud, Ibn Majah dan al-Baihaqi. Imam Abu Dawud menulis satu bab khusus dalam kitab Sunannya: bab fi shaum asyhuril-hurum; bab shaum pada bulan-bulan haram. Imam Ibn Majah dalam kitab Sunannya dengan judul: bab shiyam asyhuril-hurum; bab shaum pada bulan-bulan haram. Sementara Imam al-Baihaqi dalam kitab as-Sunanul-Kubra dengan judul: fadllis-shaum fi asyhuril-hurum; keutamaan shaum pada bulan-bulan haram.

Syaikh as-Sayyid as-Sabiq dalam kitabnya Fiqhus-Sunnah menyatakan bahwa shaum pada bulan-bulan Haram dianjurkan (mustahab). Ia menulis:

صَوْمُ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ

اَلْأَشْهُرُ الْحُرُمُ ذُوْ الْقَعْدَةِ وَذُوْ الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمِ وَرَجَبَ وَيُسْتَحَبُّ الْإِكْثَارُ مِنَ الصِّيَامِ فِيْهَا.

فَعَنْ رَجُلٍ مِنْ بَاهِلَةَ أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ فقال: يا رسولَ اللهِ أَنَا الرَّجُلُ الَّذِى جِئْتُكَ عَامَ الأَوَّلِ. قَالَ فَمَا غَيَّرَكَ وَقَدْ كُنْتَ حَسَنَ الْهَيْئَةِ. قَالَ مَا أَكَلْتُ طَعَامًا إِلاَّ بِلَيْلٍ مُنْذُ فَارَقْتُكَ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ لِمَ عَذَّبْتَ نَفْسَكَ. ثُمَّ قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمًا مِنْ كُلِّ شَهْرٍ. قَالَ زِدْنِى فَإِنَّ بِى قُوَّةً. قَالَ صُمْ يَوْمَيْنِ. قَالَ زِدْنِى. قَالَ: صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ. وَقَالَ بِأَصَابِعِهِ الثَّلاَثَةِ فَضَمَّهَا ثُمَّ أَرْسَلَهَا.

رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُدَ وَابْنُ مَاجَهْ وَالْبَيْهَقِيُّ بِسَنَدٍ جَيِّدٍ.

Shaum Bulan-bulan Haram

Bulan-bulan Haram adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Dianjurkan memperbanyak shaum padanya.

Dari seorang lelaki orang Bahilah bahwasanya ia datang kepada Nabi saw dan berkata: “Wahai Rasulullah, saya adalah lelaki yang datang kepadamu pada tahun lalu.” Beliau bertanya: “Apa yang telah mengubahmu, padahal dulu badan kamu terlihat gagah?” Ia menjawab: “Aku tidak makan selain malam hari semenjak pertemuan terakhir denganmu.” Rasulullah saw bertanya: “Mengapa kamu menyiksa dirimu? Shaumlah shaum sabar (Ramadlan), dan satu hari dari setiap bulan.” Ia berkata: “Mohon tambah lagi untukku, saya masih kuat.” Beliau menjawab: “Shaumlah dua hari (dari setiap bulan).” (dalam riwayat Abu Dawud dan al-Baihaqi Nabi saw menganjurkannya juga ‘shaum tiga hari setiap bulan’—pen). Ia berkata lagi: “Mohon tambah lagi untukku, saya masih kuat.” Beliau menjawab: “Shaumlah pada bulan haram, lalu berhentilah. Shaumlah pada bulan haram, lalu berhentilah. Shaumlah pada bulan haram, lalu berhentilah. Shaumlah.” sambil berisyarat dengan melipatkan tiga jarinya lalu melepaskannya lagi (maksudnya; shaum tiga hari, lalu buka tiga hari, shaum lagi tiga hari lalu buka lagi tiga hari—‘Aunul-Ma’bud).

Ahmad, Abu Dawud, Ibn Majah dan al-Baihaqi meriwayatkannya dengan sanad yang bagus.

Hadits di atas dinilai dla’if oleh Syaikh al-Albani (dalam Dla’if Abi Dawud) dan Syu’aib al-Arnauth (dalam Ta’liq Sunan Abi Dawud). Kedua syaikh tersebut sama-sama menilai bahwa lelaki orang Bahili tersebut majhul (tidak dikenal). Demikian juga yang meriwayatkan dari orang Bahili tersebut, yakni Mujibah, sama berstatus majhul. Disebutkan dalam sanadnya orang Bahili itu ayah atau paman dari Mujibah. Mujibah itu sendiri diperselisihkan apakah seorang lelaki atau perempuan. Dalam sanad Abu Dawud dan al-Baihaqi disebutkan bahwa ia perempuan, sementara dalam sanad Ibn Majah disebutkan bahwa ia lelaki.

Akan tetapi menurut al-Hafizh Ibn Hajar, yang benar adalah Mujibah orang Bahili itu seorang perempuan dari shahabat, berdasarkan riwayat dari Sa’id ibn Manshur yang tegas menyebutkan: ‘ajuzun min qaumiha; seorang nenek dari kaumnya/Bahilah. Adapun keraguan apakah ia menerima dari ayah atau pamannya, yang tepat adalah ayahnya, berdasarkan riwayat Abu Dawud dan Ibn Majah. Namanya ‘Abdullah ibn al-Harits. Meski demikian, baik itu ayah atau pamannya, kedua-duanya adalah shahabat yang tinggal di Bashrah (al-Ishabah fi Tamyizis-Shahabah no. 10500; Taqribut-Tahdzib no. 6491; Tahdzibut-Tahdzib no. 79). Atau dengan kata lain, lelaki orang Bahili yang datang kepada Nabi saw di atas adalah seorang shahabat dari Bashrah, bernama ‘Abdullah ibn al-Harits, ayah dari Mujibah.

Profil dari Mujibah dan ayahnya sebagai dua orang shahabat dinyatakan juga oleh al-Baghawi dalam Mu’jam as-Shahabah no. 1720; Ibn Qani’ dalam Mu’jam as-Shahabah no. 845, Ibnul-Atsir dalam Usudul-Ghabah fi Ma’rifatis-Shahabah no. 2859, 6213, dan 6394, Ibn Sa’ad dalam at-Thabaqatul-Kubra, dan Abu Nu’aim dalam Ma’rifatus-Shahabah no. 7097.

Dalam kitabnya yang lain, Lisanul-Mizan, al-Hafizh Ibn Hajar menyatakan bahwa Muijbah ini adalah termasuk rawi yang diperselisihkan tetapi perselisihan itu tanpa hujjah (min man tukullima fihi bi la hujjah). Maka dari itu, meski ia diperselisihkan, yang tepat adalah menilainya tsiqah (mukhtalafun fihi, wal-‘amal ‘ala tautsiqihi).

Hemat penulis, setelah jelas bahwa Mujibah dan ayahnya atau pamannya, mereka semua adalah para shahabat, maka tidak ada keraguan lagi bahwa mereka adalah orang-orang yang layak dijadikan rujukan dalam hadits. Sebab semua shahabat dipastikan adil (as-shahabah kulluhum ‘udul). Maka dari itu perselisihan seputar siapa Mujibah dan ayahnya, tidak menjadi masalah, sebab perselisihan di antara orang-orang yang tsiqat tidak akan mencederai hadits. Jadi apakah Mujibah itu perempuan atau lelaki; apakah ia menerima dari ayah atau pamannya, semuanya itu tidak jadi masalah, karena yang manapun dari mereka, semuanya adalah shahabat. Dan shahabat pasti adilnya.

Terlebih dengan melihat rawi-rawi di bawahnya sesudah Mujibah, baik dalam riwayat Abu Dawud, Ibn Majah, atau al-Baihaqi. Sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh al-Albani sendiri, semuanya rawi tsiqat yang dirujuk oleh Imam Muslim (rijal Muslim). Imam Abu Dawud dan al-Baihaqi sendiri sebagai kritikus hadits yang sering menjelaskan kritiknya atas satu hadits dalam kitab Sunan mereka, jelas-jelas tidak memberikan kritikan terhadap hadits di atas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.