Home > Ibadah > Shalat Malam sebagai Solusi

Shalat Malam sebagai Solusi

Shalat Malam sebagai Solusi

Al-Qur`an menyoroti shalat malam secara khusus sebagai bagian dari solusi kehidupan. Ketika kesulitan hidup menghimpit dada sampai terasa sesak dan problematikanya membuat pusing pikiran sampai tujuh keliling, maka shalat malam bisa menjadi solusi mujarab yang menenangkan hati dan menguatkan jiwa. Dengan shalat malam yang dirutinkan, jiwa dididik untuk berani menghadapi kesulitan hidup tanpa keluh kesah, tetapi dengan tawakkal dan sabar.

Nabi saw sendiri sering disorot oleh Allah swt sebagai sesosok manusia biasa yang adakalanya tertekan jiwanya dalam menghadapi problematika hidup. Meski tentu tekanan batin yang hinggap di diri Nabi saw tersebut bukan karena tidak tawakkal kepada taqdir, melainkan karena beratnya tugas dakwah yang beliau emban.

فَلَعَلَّكَ بَٰخِعٞ نَّفۡسَكَ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِمۡ إِن لَّمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ أَسَفًا ٦

Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Qur’an) (QS. al-Kahfi [18] : 6).

لَعَلَّكَ بَٰخِعٞ نَّفۡسَكَ أَلَّا يَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ ٣

Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman (QS. asy-Syu’ara [26] : 3).

Salah satu sebabnya karena Nabi saw sering mengalami teror dari musuh-musuh Islam. Maka Allah swt pun menuntunnya untuk menghadapi teror-teror tersebut dengan kuat, yakni dengan shalat, khususnya shalat malam.

وَإِن كَادُواْ لَيَسۡتَفِزُّونَكَ مِنَ ٱلۡأَرۡضِ لِيُخۡرِجُوكَ مِنۡهَاۖ وَإِذٗا لَّا يَلۡبَثُونَ خِلَٰفَكَ إِلَّا قَلِيلٗا ٧٦ سُنَّةَ مَن قَدۡ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ مِن رُّسُلِنَاۖ وَلَا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحۡوِيلًا ٧٧ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمۡسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيۡلِ وَقُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِۖ إِنَّ قُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِ كَانَ مَشۡهُودٗا ٧٨ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَةٗ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامٗا مَّحۡمُودٗا ٧٩

Dan Sesungguhnya benar-benar mereka hampir membuatmu gelisah di negeri (Makkah) untuk mengusirmu daripadanya dan kalau terjadi demikian, niscaya sepeninggalmu mereka tidak tinggal, melainkan sebentar saja. (kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap Rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perubahan bagi ketetapan Kami itu. Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji (QS. al-Isra` [17] : 76-79).

Dalam ayat di atas, Allah swt menuntun Nabinya saw untuk menghadapi teror pengusiran dari Makkah dengan shalat wajib dan shalat malam.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ ١  قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا ٢  نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا ٣  أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا ٤ إِنَّا سَنُلۡقِي عَلَيۡكَ قَوۡلٗا ثَقِيلًا ٥  إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيۡلِ هِيَ أَشَدُّ وَطۡ‍ٔٗا وَأَقۡوَمُ قِيلًا ٦ إِنَّ لَكَ فِي ٱلنَّهَارِ سَبۡحٗا طَوِيلٗا ٧  وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلۡ إِلَيۡهِ تَبۡتِيلٗا ٨ رَّبُّ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَٱتَّخِذۡهُ وَكِيلٗا ٩ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَٱهۡجُرۡهُمۡ هَجۡرٗا جَمِيلٗا ١٠

Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (Dia-lah) Tuhan timur dan barat, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai Pelindung. Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik (QS. al-Muzzammil [73] : 1-10).

Ayat-ayat di atas menuntun Nabi saw untuk menghadapi teror penghinaan dan hujatan dari orang kafir dengan menjadikan Allah swt sebagai wakil. Caranya dengan shalat malam, membaca al-Qur`an dengan tartil, dan berdzikir dengan tekun.

Dalam konteks yang sama, maka umat Nabi Muhammad saw pun dituntut untuk melakukan hal yang serupa. Hadapi setiap persoalan hidup dengan sabar. Agar sabar kuat maka perkuat dengan shalat malam. Sebab kesulitan tidak akan ada selamanya. Jika dihadapi dengan sabar dan ibadah, maka justru setiap kesulitan itu akan diganti dengan dua kemudahan sebagai gantinya. Allah swt mengingatkan:

 فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا ٥ إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا ٦  فَإِذَا فَرَغۡتَ فَٱنصَبۡ ٧  وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرۡغَب ٨

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap (QS. al-Insyirah [94] : 5-8).

Ayat di atas menggunakan isim ma’rifah (beralif lam) untuk kesulitan/al-‘usr dan isim nakirah (tidak beralif lam, tapi tanwin) untuk kemudahan/yusran. Dalam bahasa Arab ini berarti bahwa satu kesulitan yang sama akan dibalas dengan dua kemudahan yang berbeda. Syaratnya fa idza faraghta fa-nshab dan ila rabbika fa-rghab. Imam Ibn Katsir menjelaskan:

وَقَوْلُهُ: {فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ} أَيْ: إِذَا فَرغت مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا وَأَشْغَالِهَا وَقَطَعْتَ عَلَائِقَهَا، فَانْصَبْ فِي الْعِبَادَةِ، وَقُمْ إِلَيْهَا نَشِيطًا فَارِغَ الْبَالِ، وَأَخْلِصْ لِرَبِّكَ النِّيَّةَ وَالرَّغْبَةَ

Firman Allah: {Maka apabila kamu telah selesai kerjakanlah dengan sungguh-sungguh yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap} maksudnya: Apabila kamu telah selesai dari kesibukan dunia, maka bersungguh-sungguhlah dalam ibadah, kerjakanlah dengan bersemangat, ikhlashkanlah niat dan pengharapan kepada Rabbmu.

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ: إِذَا فَرَغْتَ مِنَ الْفَرَائِضِ فَانْصَبْ فِي قِيَامِ اللَّيْلِ

Dari Ibn Mas’ud: Apabila kamu selesai melaksanakan yang wajib, maka bersemangatlah dalam shalat malam (Tafsir Ibn Katsir).

Shalat malam mempunyai khasiat tersendiri karena dalam shalat ini seorang hamba berdialog secara lebih dekat dengan Rabb. Nabi saw mengingatkan:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kita turun ke langit terendah (dari tujuh langit) setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berkata: “Siapa yang ingin berdo’a kepada-Ku, lalu Aku pasti mengabulkannya? Siapa yang ingin meminta kepada-Ku lalu Aku pasti memberinya? Siapa yang ingin beristighfar kepada-Ku, lalu Aku pasti mengampuninya?” (Shahih al-Bukhari kitab at-tahajjud bab ad-du’a fis-shalat min akhiril-lail no. 1145).