Infaq dan Shadaqah

Shadaqah Atas Nama Orang Yang Sudah Meninggal Dunia

Shadaqah Atas Nama Orang Yang Sudah Meninggal Dunia

Bismillah, Ustadz izin bertanya. Apakah boleh bershadaqah atas nama orangtua yang sudah meninggal? 0896-6225-xxxx

Imam Muslim menuliskan dua bab dengan redaksi yang mirip dalam kitab Shahihnya tentang shadaqah atas nama yang sudah meninggal dunia; satu di kitab zakat dan satu lagi di kitab wasiat, yakni bab wushul tsawabis-shadaqah ‘anil-mayyit ilahi; sampainya pahala shadaqah atas nama yang meninggal kepadanya. Ini menunjukkan bahwa yang anda tanyakan itu berarti boleh, meski tidak sampai wajib. Kesimpulan fiqih seperti ini sudah ditegaskan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya. Seandainya ada yang tidak setuju, tetap tidak bisa membatalkan ijtihad ulama sekelas Imam Muslim. Bahkan ini sebagaimana diuraikan di bawah sudah jadi fiqih ulama jumhur. Hadits yang dijadikan hujjahnya:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ ﷺ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأُرَاهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ تَصَدَّقْ عَنْهَا

Dari ‘Aisyah ra, ada seorang lelaki datang kepada Nabi saw dan bertanya:  “Sesungguhnya ibuku meninggal tiba-tiba, dan aku yakin seandainya ia sempat berkata (berwasiat) ia pasti akan bershadaqah. Apakah boleh aku bershadaqah atas nama dia?” Nabi saw menjawab: “Ya silahkan bershadaqah atas nama dia.” (Shahih al-Bukhari bab ma yustahabbu liman tuwuffiya fuja`atan an yatashaddaqu ‘anhu wa qadla`in-nuzhur ‘anil-mayyit no. 2760; Shahih Muslim bab wushul tsawabis-shadaqah ‘anil-mayyit ilahi no. 2373, 4307, 4308).

Terakit hadits ini Imam an-Nawawi menjelaskan:

        وَفِي هَذَا الْحَدِيث: أَنَّ الصَّدَقَةَ عَنِ الْمَيِّتِ تَنْفَعُ الْمَيِّتَ وَيَصِلُهُ ثَوَابُهَا، وَهُوَ كَذَلِكَ بِإِجْمَاعِ الْعُلَمَاء، وَكَذَا أَجْمَعُوا عَلَى وُصُول الدُّعَاء وَقَضَاء الدِّين بِالنُّصُوصِ الْوَارِدَة فِي الْجَمِيع، وَيَصِحّ الْحَجّ عَنْ الْمَيِّت إِذَا كَانَ حَجّ الْإِسْلَام وَكَذَا إِذَا وَصَى بِحَجِّ التَّطَوُّع عَلَى الْأَصَحّ عِنْدنَا، وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاء فِي الصَّوَاب إِذَا مَاتَ وَعَلَيْهِ صَوْم، فَالرَّاجِح جَوَازه عَنْهُ لِلْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَة فِيهِ. وَالْمَشْهُور فِي مَذْهَبنَا أَنَّ قِرَاءَة الْقُرْآن لَا يَصِلُهُ ثَوَابُهَا، وَقَالَ جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابنَا: يَصِلُهُ ثَوَابهَا، وَبِهِ قَالَ أَحْمَد بْن حَنْبَل. وَأَمَّا الصَّلَاة وَسَائِر الطَّاعَات فَلَا تَصِلُهُ عِنْدنَا وَلَا عِنْد الْجُمْهُور، وَقَالَ أَحْمَد: يَصِلُهُ ثَوَاب الْجَمِيع كَالْحَجِّ

Dalam hadits ini: Shadaqah atas nama mayit bermanfaat baginya dan akan sampai kepadanya pahalanya. Hal demikian berdasarkan ijma’ (kesepakatan) ulama. Demikian juga ulama ijma’ akan sampainya do’a dan melunasi utang berdasarkan nash-nash yang ada dalam semua kasusnya. Haji atas nama mayit juga sah jika itu haji Islam (wajib), demikian juga jika ia wasiat haji sunat berdasarkan pendapat yang paling shahih di madzhab kami (Syafi’i). Para ulama berbeda pendapat dalam hal mana yang paling tepat apabila yang meninggal mempunyai utang shaum. Maka yang kuat adalah boleh dishaumkan untuk mayit berdasarkan hadits-hadits yang shahih. Yang masyhur dalam madzhab kami bacaan al-Qur`an tidak akan sampai kepada mayit pahalanya. Sementara sekelompok ulama madzhab kami ada yang berpendapat akan sampai pahalanya, dan itu juga pendapat Ahmad ibn Hanbal. Adapun shalat dan semua amal ibadah lainnya maka tidak akan sampai kepada mayit, menurut madzhab kami dan jumhur. Sementara Ahmad berkata: Akan sampai pahala semua ibadah kepada mayit seperti haji (Syarah an-Nawawi Shahih Muslim bab wushul tsawabis-shadaqah ‘anil-mayyit ilahi).

وَفِي هَذَا الْحَدِيث جَوَاز الصَّدَقَة عَنْ الْمَيِّت وَاسْتِحْبَابهَا، وَأَنَّ ثَوَابهَا يَصِلهُ وَيَنْفَعهُ، وَيَنْفَع الْمُتَصَدِّق أَيْضًا، وَهَذَا كُلّه أَجْمَعَ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ، … وَهَذِهِ الْأَحَادِيث مُخَصِّصَة لِعُمُومِ قَوْله تَعَالَى: {وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

Dalam hadits ini: Diperbolehkan shadaqah atas nama mayit dan dianjurkan. Pahalanya akan sampai kepadanya dan bermanfaat, demikian juga bermanfaat untuk yang bershadaqahnya. Ini semuanya disepakati oleh kaum muslimin… Hadits-hadits ini mengecualikan firman Allah ta’ala: {dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya—QS. 53 : 39} (Syarah an-Nawawi Shahih Muslim bab wushul tsawabis-shadaqat ilal-mayyit).

Maksud Imam an-Nawawi, jangan dipertentangkan antara sabda Nabi saw dengan ayat al-Qur`an, karena Nabi saw mustahil menentang al-Qur`an. Seharusnya maksud ayat al-Qur`an dikompromikan dengan sabda Nabi saw. Jadi maksud ayat tersebut tidak berlaku dalam hal-hal yang Nabi saw kecualikan seperti shadaqah, do’a, dan melunasi utang. Wal-‘Llahu a’lam