Home > Ibadah > Seputar Fadlilah Surat al-Kahfi

Seputar Fadlilah Surat al-Kahfi

Para-Kekasih-Nabi-saw-Bagian-ke-3

Cukup banyak pertanyaan tentang fadlilah/keutamaan membaca surat al-Kahfi setiap malam Jum’at. Beberapa hadits dla’if ada yang menegaskannya. Tetapi ada juga hadits-hadits shahih yang turut menjelaskannya. Bagaimana umat Islam semestinya mengamalkan hadits-hadits fadlilah tersebut.

Para ulama secara umum membagi hadits dla’if pada dua derajat. Pertama, hadits dla’if disebabkan rawi yang meriwayatkan diragukan kredibilitasnya atau ada mata rantai sanad yang terputus, dan kedua, hadits dla’if disebabkan rawi yang meriwayatkan dipastikan berdusta dan munkarnya.

Untuk kategori yang kedua—biasa disebut hadits maudlu’ dan munkar—para ulama sepakat atas keharaman mengamalkannya. Sementara untuk kategori yang pertama, sebagian ulama mengharamkannya, seperti Imam al-Bukhari, Muslim, Yahya ibn Ma’in, dan Ibn Hazm; sebagian lainnya membolehkan dengan syarat yang ketat, seperti Imam an-Nawawi dan Ibn Hajar al-‘Asqalani. Syarat ketat yang dimaksud adalah: (1) Hanya untuk kategori fadla`ilul-a’mal (amal-amal yang sunat). (2) Harus menginduk pada dalil pokok yang umum. (3) Harus mengamalkannya dengan niat ihtiyath (hati-hati) bisa jadi benar sunnah Nabi saw, tetapi tidak boleh tsubut (meyakini benar dari Nabi saw) agar tidak kemudian berdusta atas nama Nabi saw jika ternyata faktanya Nabi saw memang tidak pernah menyabdakan hadits dla’if tersebut (an-Nawawi, al-Adzkar; Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, Ushulul-Hadits; Nuruddin ‘Itr, Manhajun-Naqd fi ‘Ulumil-Hadits).

Tulisan di bawah ini memilih madzhab Imam al-Bukhari dengan dasar sabda Nabi saw:

فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَ عِرْضِهِ وَ مَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ

Maka barang siapa yang berlindung dari perkara yang syubhat, sesungguhnya ia telah menjaga kesucian agamanya dan kehormatannya, dan barang siapa yang kena pada perkara yang syubhat, maka ia telah kena pada perkara yang haram (Shahih al-Bukhari kitab al-iman bab fadli man istabra`a li dinihi no. 52).

دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ

Tinggalkan yang meragukanmu menuju yang tidak meragukanmu (Sunan at-Tirmidzi kitab shifat al-qiyamah bab i’qilha wa tawakkal no. 2518).

Hadits dla’if statusnya pasti syubhat, maka harus ditinggalkan demi memastikan kesucian diri dan agama. Berani mendekati syubhat pasti akan tertarik tanpa sadar pada yang haram. Bersikap longgar pada hadits dla’if akan menyebabkan seseorang mudah mensunnahkan yang bukan sunnah. Syarat ketat yang dirumuskan Imam an-Nawawi dan Ibn Hajar al-‘Asqalani pun pada faktanya sering diabaikan oleh para pengikutnya. Di sini terlihat fakta pengamal syubhat tertarik tanpa sadar pada yang haram.

Hadits dl’aif statusnya juga meragukan, sementara hadits shahih statusnya tidak meragukan. Maka Nabi saw mengajarkan untuk meninggalkan hadits dla’if yang meragukan dan memilih hadits shahih yang pasti tidak meragukan.

Meski demikian tulisan ini tidak berani memvonis bid’ah pada fadla`ilul-a’mal yang didasarkan pada hadits dla’if dan menginduk pada dalil pokok yang shahih. Sebab pada prinsipnya fadla`iul-a’mal itu boleh diamalkan meski tidak ada satu hadits dla’if pun, sepanjang ada dalil pokoknya yang shahih. Sementara itu bid’ah berlaku bagi setiap amal yang tidak ada dasar dalil shahihnya sama sekali. Sebagai contoh, seseorang yang di setiap wirid ba’da shalat wajib berdo’a Rabbi hab li minas-shalihin; ya Allah berilah aku keturunan yang shalih. Ini termasuk fadla`ilul-a’mal. Tidak ditemukan satu hadits shahih pun yang mengajarkan dan mencontohkan do’a ini di setiap wirid ba’da shalat wajib. Akan tetapi ada banyak dalil pokok yang menganjurkan berdo’a dengan doa apapun di setiap wirid ba’da shalat wajib, termasuk dalil yang menganjurkan agar berdo’a itu berkelanjutan dan tidak isti’jal (menuntut segera diijabah, jika tidak diijabah do’a pun tidak dipanjatkan lagi). Meski tentunya tetap keliru mengamalkan fadla`ilul-a’mal yang didasarkan pada hadits dla’if karena nanti akan disalahfahami sebagai sunnah.

 

Hadits Dla’if seputar al-Kahfi

Di antara hadits-hadits dla’if yang menjelaskan fadlilah surat al-Kahfi adalah:

مَنْ قَرَأَ ثَلاَثَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ

Siapa yang membaca tiga ayat pertama surat al-Kahfi, akan terlindung dari fitnah Dajjal.

Hadits riwayat at-Tirmidzi ini statusnya syadz (bertentangan dengan yang lebih kuat), sebab riwayat lain yang lebih kuat menyebutkan 10 ayat, bukan tiga ayat. Kemungkinan kekeliruan berasal dari Syu’bah (as-Silsilah ad-Dla’ifah no. 1336).

 مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَهُوَ مَعْصُوْمٌ إِلَى ثَمَانِيَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ فِتْنَةٍ تَكُوْنُ فَإِنْ خَرَجَ الدَّجَّالُ عُصِمَ مِنْهُ

Siapa yang membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at, maka ia akan dilindungi selama delapan hari, dari setiap fitnah yang akan terjadi. Bahkan jika Dajjal keluar pun, ia akan terlindung dari kejahatannya.

Syaikh al-Albani menjelaskan bahwa hadits ini dituliskan oleh ad-Dliya dalam kitab al-Ahadits al-Mukhtarah 1 : 155. Tetapi dalam sanadnya ada rawi bernama ‘Abdullah ibn Mush’ab yang namanya tidak dikenal oleh seorang ulama hadits pun sebagai rawi. Di samping itu ada rawi bernama Ibrahim al-Makhrami yang divonis oleh ad-Daraquthni hadits-haditsnya bathil. Meski demikian ada hadits shahih terkait tema ini tanpa menyebutkan “selama delapan hari” (as-Silsilah ad-Dla’ifah no. 2013).

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِسُوْرَةٍ مَلَأَتْ عَظْمَتُهَا مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلِقَارِئِهَا مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَرَأَهَا غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى وَزِيَادَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ؟ قاَلُوا : بَلَى قال: سُوْرَةُ الْكَهْفِ

“Maukah kalian aku beritahukan satu surat yang keagungannya memenuhi antara langit dan bumi. Bagi yang menghafalnya juga akan mendapatkan pahala seperti itu. Bagi yang membacanya akan diampuni dosa di antara hari itu dan Jum’at berikutnya ditambah tiga hari?” Shahabat menjawab: “Tentu.” Nabi saw bersabda: “Surat al-Kahfi.”

Hadits riwayat ad-Dailami ini berstatus dla’if jiddan; dla’if sekali disebabkan ada rawi bernama Hisyam al-Makhzumi. Menurut Ibn Hibban, ia selalu meriwayatkan hadits yang la ashla lahu; tidak ada dasarnya, dari Hisyam ibn ‘Urwah (as-Silsilah ad-Dla’ifah no. 2482).

سُوْرَةُ الْكَهْفِ تُدْعَى فِي التَّوْرَاةِ الْحَائِلَةُ؛ تَحُوْلُ بَيْنَ قَارِئِهَا وَبَيْنَ النَّارِ

Surat al-Kahfi itu disebut dalam Taurat dengan nama al-Ha`ilah (pemisah) yang akan memisahkan orang yang menghafalnya dari neraka.

Hadits riwayat al-Baihaqi ini statusnya dla’if jiddan karena ada rawi bernama Sulaiman ibn Mirqa’. Ia divonis oleh al-‘Uqaili sebagai munkarul-hadits. Juga ada Muhammad ibn ‘Abdirrahman al-Jad’ani yang dinilai matrukul-hadits (rawi pendusta) oleh al-Hafizh Ibn Hajar (as-Silsilah ad-Dla’ifah no. 3001).

 

Hadits Shahih seputar al-Kahfi

Sementara hadits shahih yang menerangkan fadlilah surat al-Kahfi adalah:

مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ

Siapa yang hafal 10 ayat pertama surat al-Kahfi, maka ia akan terlindung dari fitnah Dajjal (Shahih Muslim kitab shalat al-musafirin bab fadlli surat al-Kahfi no. 1919).

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنْ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ

Siapa yang membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at, Allah akan meneranginya dengan cahaya di antara dua Jum’at tersebut.

Al-Hafizh Ibn Hajar dalam at-Talkhishul-Habir kitab al-jumu’ah menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan al-Hakim dari Abu Sa’id. Sementara riwayat ad-Darami dan Sa’id ibn Manshur mauquf dari Abu Sa’id, bukan sabda Nabi saw langsung. Ada juga riwayat lain dari Ibn ‘Umar dan terdapat dalam Tafsir Ibn Marduwaih.

Tidak adanya penilaian dla’if dari Ibn Hajar menunjukkan bahwa beliau memang tidak mendla’ifkan hadits ini. Al-Baihaqi meriwayatkannya dalam as-Sunanul-Kubra bab ma yu`maru bihi fi lailatil-jumu’ah wa yaumiha no. 5996; al-Hakim meriwayatkannya dalam al-Mustadrak bab tafsir surat al-Kahfi no. 3349; dan ad-Darami meriwayatkannya dalam kitab Sunannya bab fi fadlli surat al-Kahfi no. 3407. Syaikh al-Albani sendiri dalam Irwa`ul-Ghalil no. 626 menilai hadits ini shahih. Meski ada rawi bernama Nu’aim yang dinilai dzu manakir; memiliki riwayat munkar, tetapi ia tidak sendiri. Ada rawi-rawi lain yang meriwayatkan hadits yang sama. Meskipun ada yang menilai bahwa yang shahihnya yang mauquf, tetapi tidak masalah sebab pernyataan shahabat (riwayat mauquf) selama shahih, bisa dijadikan rujukan. Terlebih masalah ini pasti bukan ijtihad shahabat. Tidak mungkin shahabat mengatakan hadits ini jika tidak bersumber dari Nabi saw.

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ كَانَ رَجُلٌ يَقْرَأُ سُورَةَ الْكَهْفِ وَإِلَى جَانِبِهِ حِصَانٌ مَرْبُوطٌ بِشَطَنَيْنِ فَتَغَشَّتْهُ سَحَابَةٌ فَجَعَلَتْ تَدْنُو وَتَدْنُو وَجَعَلَ فَرَسُهُ يَنْفِرُ فَلَمَّا أَصْبَحَ أَتَى النَّبِيَّ r فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ

Dari al-Bara ibn ‘Azib, ia berkata: Ada seorang shahabat membaca surat al-Kahfi. Di dekatnya ada seekor kuda yang diikat dengan dua tali panjang. Lalu turun awan yang tebal. Awan itu terus mendekat dan mendekat, sehingga kuda itu pun lari. Keesokan harinya ia datang menemui Nabi saw dan menceritakannya. Nabi saw bersabda: “Itu adalah sakinah (arti asal: ketenteraman) yang turun karena bacaan al-Qur`an.” (Shahih al-Bukhari kitab fadla`il al-Qur`an bab fadlli surat al-Kahfi no. 5011)

Menurut al-Hafizh Ibn Hajar, lelaki yang dimaksud oleh al-Bara` itu kemungkinan besar adalah Usaid ibn Hudlair yang haditsnya dituliskan oleh Imam al-Bukhari pada kitab yang sama bab nuzulis-sakinah wal-mala`ikah ‘inda qira`atil-Qur`an no. 5018, atau mungkin shahabat Tsabit ibn Qais. Kesimpulan ini didasarkan pada data bahwa hanya dua shahabat itu yang mengalami kejadian seperti yang diceritakan al-Bara`. Hanya, baik Usaid atau Tsabit, keduanya disebutkan membaca surat al-Baqarah. Menurut al-Hafizh, bisa jadi yang dibaca oleh kedua shahabat itu surat al-Baqarah dan al-Kahfi. Atau mungkin juga ini terjadi di dua waktu yang berbeda. Yang jelas, baik riwayat surat al-Kahfi atau al-Baqarah, kedua-duanya shahih. Disebutkan dalam berbagai riwayatnya bahwa Usaid membacanya ketika shalat malam. Kuda itu bergerak tiada henti, sampai terlepas dan kabur, disebabkan melihat malaikat di balik awan. Itupun sesudah keesokan harinya Nabi saw menjelaskan kepada Usaid, Tsabit dan diketahui al-Bara`. Sampai Nabi saw sabdakan, jika terus dibaca sampai shubuh pasti malaikat yang turun itu akan terlihat oleh manusia. Sehingga para ulama menyimpulkan bahwa sakinah itu wujudnya bisa ketenteraman dalam hati, bisa juga berupa awan yang menaungi dan turun ke bumi sehingga melahirkan suasana yang sejuk, bahkan bisa juga disertai malaikat. Untuk konteks awan dan malaikat ini tidak semua shahabat, bahkan Nabi saw sekalipun, yang mengalaminya. Jadi hanya dalam waktu-waktu tertentu yang dikehendaki Allah swt.

Hanya yang jelas ini menunjukkan fadlilah surat al-Kahfi dan al-Baqarah ketika dibaca dalam shalat malam, malam apapun itu. Untuk hadits Abu Sa’id di atas yang khusus menyebut surat al-Kahfi memang disebutkan hari Jum’at; bisa malamnya, pagi, siang atau sore hari Jum’atnya. Bisa dalam shalat atau di luar shalat.

Tentunya jangan kemudian amal membaca al-Qur`an hanya terfokus pada surat al-Kahfi saja. Sebab banyak dalil lain yang menjelaskan fadlilah surat-surat lainnya dan semua surat al-Qur`an secara keseluruhannya. Wal-‘Llahu a’lam.