Home > Akhlaq > Sepercik Uswah dari Jokowi dan Prabowo

Sepercik Uswah dari Jokowi dan Prabowo

Sepercik Uswah dari Jokowi dan Prabowo

Kedua tokoh yang “berkonflik” hebat dalam Pilpres 2014 ini telah memberikan uswah (teladan) bahwa permusuhan dan kebencian yang dipelihara tidak akan membawa dampak baik bagi siapa pun selain untuk ego nafsunya dan setan yang menjadi musuhnya. Kebesaran hati untuk memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain seperti ini telah lama hilang dari negeri ini, bahkan dari tokoh-tokoh muslim sekalipun.

Kita sama sekali tidak berhak untuk menduga-duga motif di balik ishlah (damai) kedua tokoh tersebut dengan penuh “kecurigaan”. Termasuk memberikan penilaian bahwa rukunnya kembali dua tokoh itu hanya kamuflase (sandiwara) semata. Urusan yang ada di balik hati Jokowi dan Prabowo mutlak hanya wewenang Allah swt saja, manusia tidak akan pernah punya wewenang sedikit pun untuk mendahului penilaian Allah swt sebelum hari kiamat tiba. Satu yang pasti—terlepas dari apakah kemudian terbukti benar atau tidak—menduga-duga dengan penuh curiga hukumnya dosa: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. al-Hujurat [49] : 12)

Hal terpenting dari peristiwa itu adalah Jokowi dan Prabowo sudah memberikan uswah betapa kebencian dan permusuhan tidak layak diabadikan kecuali dengan setan sang sumber permusuhan itu sendiri. Kebencian yang diabadikan hanya akan merusak kehidupan itu sendiri, meski sang ego berkata itu menguntungkan dirinya. Permusuhan hanya akan mengorbankan kepentingan bersama, meski sang nafsu berkata itu menyenangkan hatinya. Sebab nurani akan selalu berbisik bahwa memaafkan itu membahagiakan, meski seringkali ia tidak didengar sehingga banyak yang menjadi tidak terdengar.

Setiap muslim sudah pasti harus mengetuk nuraninya ketika melihat rukunnya kembali Jokowi dan Prabowo. Itu jelas merupakan dambaan hatinya dan sangat membahagiakan. Meski nafsu para pendukung Prabowo akan selalu berkata: Jokowi tidak bisa dimaafkan; ataupun sebaliknya, meski ego para pendukung Jokowi akan selalu berkata: Prabowo harus dicampakkan. Di sini maka nurani berarti telah difungsikan kembali dengan mematikan ego dan nafsu. Di sinilah kebahagiaan yang sebenarnya akan terasa.

Ini penting untuk menjadi renungan setiap muslim, sebab tidak jarang pribadi-pribadi yang mengaku muslim dan selalu mengatasnamakan Islam di berbagai kesempatannya, terjebak pada kebencian di antara sesama, senang memilih permusuhan ketika hati tersakiti, dan mengharamkan dirinya untuk memaafkan pihak yang diklaimnya salah. Ini semua mudah kita temukan di masjid, madrasah, pesantren, yayasan, sekolah, perguruan tinggi, lembaga sosial, lingkup kehidupan bermasyarakat RT/RW, ormas-ormas, jama’ah-jama’ah majelis ta’lim, antar organisasi dakwah, sampai partai politik, yang semuanya dilabeli Islam. Sehingga seolah-olah “keislaman” tidak lebih mulia dibanding “kenegarawanan”. Jokowi dan Prabowo saja atas nama “kepentingan negara/kenegarawanan” mampu memaafkan, tetapi kenapa umat Islam atas nama “kepentingan Islam/keislaman” tidak kunjung bisa saling memaafkan.

Padahal rumus sederhananya, mana ada orang yang luput dari dosa? Mana ada orang yang akan berhenti berbuat dosa? Lalu jika itu faktanya, haruskah selalu dihadapi dengan kebencian dan permusuhan? Bukankah memaafkan satu-satunya cara yang lebih membahagiakan? Persoalan dosa setiap manusia biar hukum di dunia yang akan menindaknya atau hukuman Allah swt di akhirat yang akan menebasnya. Tetapi hati jangan ikut menghukumi. Hati harus selalu berusaha untuk memaklumi dan berusaha sekuat tenaga untuk mengampuni. Inilah ciri orang bertaqwa yang sudah sampai pada puncak kemurnian hati.

وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

(orang yang bertaqwa itu adalah) … dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS. Ali ‘Imran [3] : 134)

وَإِذَا مَا غَضِبُواْ هُمۡ يَغۡفِرُونَ …. وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ ٱلۡبَغۡيُ هُمۡ يَنتَصِرُونَ وَجَزَٰٓؤُاْ سَيِّئَةٖ سَيِّئَةٞ مِّثۡلُهَاۖ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ … وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ

(Orang-orang yang beriman itu adalah) …dan apabila mereka marah mereka memberi maaf… Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim… Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan (QS. asy-Syura [42] : 37-43).

وَإِنۡ عَاقَبۡتُمۡ فَعَاقِبُواْ بِمِثۡلِ مَا عُوقِبۡتُم بِهِۦۖ وَلَئِن صَبَرۡتُمۡ لَهُوَ خَيۡرٞ لِّلصَّٰبِرِينَ وَٱصۡبِرۡ وَمَا صَبۡرُكَ إِلَّا بِٱللَّهِۚ وَلَا تَحۡزَنۡ عَلَيۡهِمۡ وَلَا تَكُ فِي ضَيۡقٖ مِّمَّا يَمۡكُرُونَ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحۡسِنُونَ

Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan (QS. an-Nahl [16] : 126-128).

خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh (QS. al-A’raf [7] : 199).

Kemampuan memaafkan dan melupakan dendam masa lalu merupakan cermin dari iman yang bersemayam di dalam dada. Ini juga merupakan cermin dari dijunjung tingginya nilai-nilai al-Qur`an dalam kehidupannya, bukan nafsu dan ego sektoral. Itu pulalah yang Nabi saw tanamkan dari sejak awal kedatangannya ke Madinah. Menanamkan benih-benih iman dan nilai-nilai al-Qur`an sehingga mampu melunakkan hati para penganutnya dan mereka pun terbebas dari konflik abadi. Maka terbukti umat Islam yang dibangun Nabi saw mampu menjadi umat yang besar karena dimulai dari kebesaran hati untuk bisa memaafkan. Ketiadaan syarat ini tidak mungkin menjadikan umat besar, karena selamanya akan tersibukkan oleh konflik-konflik sektoral.

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ

Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk (QS. Ali ‘Imran [3] : 103).