Home > Akhlaq > Sabar Pemantik Cinta Ilahi

Sabar Pemantik Cinta Ilahi

Sabar Pemantik Cinta Ilahi

Amal lain yang harus diwujudkan oleh setiap orang yang mendambakan kedekatan dengan Allah swt dan ijabah do’a dari-Nya di setiap saat adalah sabar. Uniknya, lima ayat yang menyebutkan cinta Allah swt bagi orang yang sabar itu, kelima-limanya menyebutkan sabar dalam jihad. Bukan sabar ketika sakit atau ditimpa musibah, melainkan sabar ketika berjuang menegakkan agama Islam.

Lima ayat yang dimaksud, yang menyebutkan langsung dengan tegas ‘mencintai orang-orang yang sabar’ hanya ada satu ayat. Empat sisanya hanya menyebutkan ‘bersama orang-orang yang sabar’. Meski demikian, ‘kebersamaan’ tersebut jelas menunjukkan cinta dan perhatian sebagaimana disebutkan dalam “hadits wali Allah” bahwa siapa yang dicintai oleh-Nya akan selalu ditemani dan diijabah do’a-do’anya. Kelima ayat yang dimaksud adalah:

وَكَأَيِّن مِّن نَّبِيّٖ قَٰتَلَ مَعَهُۥ رِبِّيُّونَ كَثِيرٞ فَمَا وَهَنُواْ لِمَآ أَصَابَهُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَمَا ضَعُفُواْ وَمَا ٱسۡتَكَانُواْۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٤٦

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar (QS. Ali ‘Imran [3] : 146).

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٣ وَلَا تَقُولُواْ لِمَن يُقۡتَلُ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمۡوَٰتُۢۚ بَلۡ أَحۡيَآءٞ وَلَٰكِن لَّا تَشۡعُرُونَ ١٥٤

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya (QS. al-Baqarah [2] : 153-154).

قَالَ ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَٰقُواْ ٱللَّهِ كَم مِّن فِئَةٖ قَلِيلَةٍ غَلَبَتۡ فِئَةٗ كَثِيرَةَۢ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ٢٤٩

Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah [2] : 249).

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا لَقِيتُمۡ فِئَةٗ فَٱثۡبُتُواْ وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٤٥ وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَٰزَعُواْ فَتَفۡشَلُواْ وَتَذۡهَبَ رِيحُكُمۡۖ وَٱصۡبِرُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ٤٦

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS. al-Anfal [8] : 45-46).

ٱلۡـَٰٔنَ خَفَّفَ ٱللَّهُ عَنكُمۡ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمۡ ضَعۡفٗاۚ فَإِن يَكُن مِّنكُم مِّاْئَةٞ صَابِرَةٞ يَغۡلِبُواْ مِاْئَتَيۡنِۚ وَإِن يَكُن مِّنكُمۡ أَلۡفٞ يَغۡلِبُوٓاْ أَلۡفَيۡنِ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ٦٦

Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar (QS. al-Anfal [8] : 66).

Tampak jelas, semua ayat di atas berbicara dalam konteks jihad; perang fi sabilillah, perjuangan untuk menegakkan agama Allah, dan menyebarkan da’wah Islam. Kesabaran mutlak dimiliki karena dalam perang selalu ada kalahnya; dalam perjuangan selalu ada gagalnya; dalam dakwah selalu banyak hinaan, cacian, fitnah, konflik, bahkan pengkhianatan dari yang semula dianggap teman. Dalam menegakkan agama Allah swt seringkali yang jadi musuh dan pengganggu adalah keluarga sendiri atau kesibukan bisnis duniawi. Nabi saw saja sampai sempat merasa ingin bunuh diri saking beratnya cobaan dan hujatan yang ia terima dalam jihad dan dakwahnya, meski itu mustahil terjadi.

فَلَعَلَّكَ بَٰخِعٞ نَّفۡسَكَ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِمۡ إِن لَّمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ أَسَفًا ٦

Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Qur’an) (QS. al-Kahfi [18] : 6. Ayat semakna juga ada dalam QS. as-Syu’ara [26] : 3).

Jika tidak disertai kesabaran, jihad dan dakwah pasti akan ditinggalkan dan tidak akan dijadikan pilihan jalan hidup. Maka siapa saja orangnya yang memilih jalan jihad dan dakwah sudah pasti akan merasakan beratnya cobaan dan hinaan. Tidak ada lagi pilihan selain harus bersabar menjalaninya, bukan malah meninggalkannya. Dalam hal ini, Allah swt juga sudah mengingatkan:

أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَعۡلَمِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ مِنكُمۡ وَيَعۡلَمَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٤٢

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar (QS. Ali ‘Imran [3] : 142).

وَلَنَبۡلُوَنَّكُمۡ حَتَّىٰ نَعۡلَمَ ٱلۡمُجَٰهِدِينَ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَنَبۡلُوَاْ أَخۡبَارَكُمۡ ٣١

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu (QS. Muhammad [47] : 31).

Dalam QS. al-Baqarah [2] : 177 disebutkan bahwa sabar dalam jihad (hinal-ba`si) merupakan sabar level ketiga di atas sabar menghadapi sakit/cobaan dari diri sendiri (ba`sa) dan musibah/cobaan dari luar (dlarra`). Artinya, jika seseorang masih belum mampu menguatkan diri dalam menghadapi penyakitnya atau musibah yang menimpa dirinya, ia masih sangat jauh dari mendapatkan cinta Allah swt. Demikian halnya orang yang sudah mampu sabar dalam menghadapi penyakitnya atau musibah yang menimpa dirinya, tetapi ia belum terjun ke dalam dunia dakwah/jihad sehingga belum merasakan sakitnya dihina dan gagal dalam dakwah/jihad, ia pun masih jauh dari mendapatkan cinta ilahi.

Cinta ilahi hanya layak diberikan kepada orang yang benar-benar teruji keimanannya. Orang yang masih hanya bergelut dengan kesibukan diri dan keluarganya, ibaratnya masih berjalan di tepian pantai atau sungai. Selama belum masuk ke tengah, ia tidak akan merasakan dahsyatnya gelombang ombak atau derasnya air sungai. Orang yang hidup di jalan jihad dan dakwah adalah orang-orang yang sudah masuk ke tengah derasnya air sungai atau ke tengah-tengah ombak lautan. Di sana akan terlihat benar siapa yang kuat bertahan atau malah yang terpental kembali ke pinggiran. Siap atau tidak siap, kita semua harus siap masuk ke tengah gelombang ombak atau ke tengah aliran sungai tersebut. Atau kita ucapkan selamat tinggal pada cinta ilahi dan jangan pernah lagi mendambakannya.

Wal-‘iyadzu bil-‘Llah