Home > Akhlaq > Sabar dan Shalat sebagai Solusi

Sabar dan Shalat sebagai Solusi

Sabar dan Shalat sebagai Solusi

Lika-liku kehidupan tidak pernah sepi dari tragedi. Ia selalu rentan dengan cobaan dan ujian. Pilihannya hanya dua; terbawa larut dalam kesedihan dan kegetiran, ataukah tetap kuat bertahan dan kemudian bangkit. Allah swt sudah menegaskan bahwa solusi dari semua problematika itu adalah sabar dan shalat. Bukan sebatas kuat bertahan dengan sabar, tetapi harus benar-benar kuat disertakan dengan shalat.

Ajaran untuk bertahan dalam kesulitan dan bangkit menuju kesuksesan selalu diajarkan oleh semua “orang bijak” di dunia ini; apapun agamanya, bahkan yang tidak beragama sekalipun. Akan tetapi kekuatan mereka dalam bertahan tetap goyah karena tidak dilandasi keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan akan dibalas dengan pahala yang baik sesudah mati. Bahkan mereka sendiri terjebak dalam keraguan yang tiada akhir tentang perkara ghaib yang akan mereka jemput sesudah mati. Mereka tidak pernah yakin sepenuh hati karena tidak memiliki keyakinan yang benar kepada Sang Mahamutlak. Sebaik-baiknya ajaran mereka dalam pandangan manusia tetap rusak dan busuk dalam fakta yang sebenarnya. Al-Qur`an menyebutnya kalimah khabitsah (kalimat/ajaran yang buruk):

وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٖ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ ٱجۡتُثَّتۡ مِن فَوۡقِ ٱلۡأَرۡضِ مَا لَهَا مِن قَرَارٖ ٢٦

Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun (QS. Ibrahim [14] : 26).

Kondisinya jelas berbeda dengan ajaran Islam yang selalu dilandasi keyakinan yang kuat akan Sang Mahamutlak, Allah ‘azza wa jalla. Perkara ghaib sesudah mati tidak pernah menjadi misteri yang membingunkan, melainkan sebuah kepastian yang serba nyata (‘ilmal-yaqin). Maka semua ajarannya benar-benar kokoh dan tidak rapuh. Berbeda terbalik dengan ajaran yang busuk, Allah swt memberikan perumpamaan:

ۡ تَرَ كَيۡفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا كَلِمَةٗ طَيِّبَةٗ كَشَجَرَةٖ طَيِّبَةٍ أَصۡلُهَا ثَابِتٞ وَفَرۡعُهَا فِي ٱلسَّمَآءِ ٢٤ تُؤۡتِيٓ أُكُلَهَا كُلَّ حِينِۢ بِإِذۡنِ رَبِّهَاۗ وَيَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ ٢٥

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat (QS. Ibrahim [14] : 24-25).

Maka dari itu ajaran Islam untuk bertahan dan bangkit berbeda jauh dengan ajaran non-Islam. Allah swt menegaskan:

وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰشِعِينَ ٤٥

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk (QS. al-Baqarah [2] : 45).

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٣

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. al-Baqarah [2] : 153).

Melalui dua ayat di atas, Allah swt mengajarkan agar sabar dan shalat dijadikan solusi dalam menghadapi setiap problem kehidupan. Sabar, sebagaimana dijelaskan oleh ‘Allamah ar-Raghib al-Ashfahani adalah al-imsak fi dlaiq; bertahan ketika susah. Artinya pertolongan Allah swt itu ada dalam sikap seseorang yang tetap bertahan dengan kuat; sekuat-kuatnya dipaksakan agar tetap mampu bertahan meski dalam kondisi yang sangat susah untuk bertahan. Bukan malah membiarkan diri terbawa larut dalam kegetiran dan keterpurukan. Sebab “Allah akan selalu menyertai orang-orang yang sabar”. Allah akan segera menolong orang-orang yang sabar menerima taqdirnya. Allah akan membalas dengan yang terbaik bagi orang-orang yang sabar, bahkan dengan balasan yang ia sendiri tidak pernah menduganya.

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ ١٠

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dilebihkan balasan mereka tanpa batas (QS. az-Zumar [39] : 10).

Untuk semakin menguatkan kesabaran tersebut, maka shalat harus ditempuh sebagai solusi berikutnya, sehingga solusi yang ditempuh tidak timpang sebelah. Inilah yang membedakan ajaran Islam dengan non-Islam. Shalat selalu disandingkan dengan sabar sebagai isti’anah (cara memperoleh pertolongan). Praktiknya seperti dijelaskan dalam dalil-dalil berikut ini:

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: كَانَ النَّبِىُّ ﷺ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى.

Hudzaifah berkata: “Nabi saw apabila ada satu urusan yang memberatkannya, beliau selalu shalat (Sunan Abi Dawud bab waqti qiyamin-Nabi saw minal-lail no. 1321. Al-Albani: Hadits shahih).

 

قَالَ حُذَيْفَةُ: رَجَعْتُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ لَيْلَةَ الْأَحْزَابِ وَهُوَ مُشْتَمِلٌ فِي شَمْلَةٍ يُصَلِّي

Hudzaifah berkata: “Aku pulang menemui Nabi saw pada malam perang al-Ahzab. Beliau sedang shalat sambil memakai mantel.” (Tafsir Ibn Katsir dari riwayat al-Marwazi (kitab: Ta’zhim Qadris-Shalat). Ahmad Syakir: Sanad shahih).

قال عَلِيٌّ: لَقَدْ رَأَيْتُنَا لَيْلَةَ بَدْرٍ وَمَا فِينَا إِلاَّ نَائِمٌ غَيْرَ رَسُولِ اللهِ ﷺ يُصَلِّي وَيَدْعُو حَتَّى أَصْبَحَ

‘Ali berkata: “Pada malam perang Badar, saya melihat tidak ada seorang pun dari kami melainkan tertidur, kecuali Rasulullah saw, beliau shalat dan berdo’a sampai shubuh.” (Tafsir Ibn Katsir dari riwayat al-Marwazi (kitab: Ta’zhim Qadris-Shalat). Ahmad Syakir: Sanad shahih).

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ نُعي إِلَيْهِ أَخُوهُ قُثَم وَهُوَ فِي سَفَرٍ فَاسْتَرْجَعَ، ثُمَّ تنحَّى عَنِ الطَّرِيقِ، فَأَنَاخَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ أَطَالَ فِيهِمَا الْجُلُوسَ، ثُمَّ قَامَ يَمْشِي إِلَى رَاحِلَتِهِ وَهُوَ يَقُولُ: {وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ}

Dari ‘Abdurrahman, bahwasanya Ibn ‘Abbas diberitahu kematian saudaranya, Qutsam, ketika ia dalam perjalanan. Ibn ‘Abbas lalu istirja’ (mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un), kemudian menjauh dari jalan, memarkirkan untanya, lalu shalat dua raka’at dengan memanjangkan duduk. Beliau kemudian berdiri dan melanjutkan lagi perjalanan naik unta sambil membaca: wa-sta’inu bis-shabri was-shalah, wa innaha la kabiratun illa ‘alal-khasyi’in (Tafsir at-Thabari.  Ahmad Syakir: Sanad shahih).

Dalil-dalil di atas menuntun agar di setiap masalah yang menimpa selalu dihadapi dengan sabar dan shalat. Shalat yang dimaksud bisa shalat malam ataupun shalat khusus untuk isti’anah sebagaimana dilakukan Nabi saw dan Ibn ‘Abbas, sebanyak dua raka’at.

Firman Allah swt: “wa innaha” dalam QS. al-Baqarah [2] : 45, menurut Ibn Katsir bisa kembali pada ‘shalat”, bisa juga kembali pada ‘jumlah ayat’ secara keseluruhan. Intinya, sabar dan shalat yang selalu dijadikan solusi ketika masalah menimpa hanya ringan diamalkan oleh orang-orang yang khusyu’. Orang yang masih berat atau bahkan tidak pernah mengamalkannya berarti masih jauh dari titel “khusyu’”; mantap ketundukannya kepada Allah swt, serta dalam rasa takut dan harapnya kepada-Nya. Wal-‘Llahul-Musta’an.