Home > Kontemporer > Saba` Hancur Karena Tidak Syukur

Saba` Hancur Karena Tidak Syukur

Saba` Hancur Karena Tidak Syukur

Dari sekian banyak kaum terdahulu yang dikisahkan al-Qur`an, Saba` adalah salah satunya. Mereka disebutkan sebagai kaum yang semula hidup dengan sejahtera. Semua prasyarat untuk hidup makmurnya sebuah bangsa, mereka miliki. Akan tetapi karena mereka tidak bersyukur, semua kemakmuran itu pun berakhir dengan kehancuran. Sebuah pelajaran penting bagi bangsa Indonesia yang telah 70 tahun lebih menikmati kemerdekaannya; apakah mereka mengikuti jalan syukur ataukah kufur?

Al-Hafizh Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya mengutip berbagai riwayat yang menurutnya saling menguatkan terkait penjelasan Rasulullah saw tentang siapa Saba`. Disebutkan bahwa Saba` adalah salah seorang tokoh bangsa Arab yang melahirkan 10 bangsa; enam di Yaman dan empat di Syam. Enam bangsa di Yaman adalah Madzhij, Kindah, Azd, Asy’ariyyun, Anmar, dan Himyar. Sementara empat bangsa di Syam adalah Lakhm, Judzam, ‘Amilah, dan Ghassan. Dari mereka lahir bangsa Khuza’ah yang tinggal di Makkah mengikuti Isma’il dan ibunya ‘alaihimas-salam, termasuk Aus dan Khazraj yang tinggal di Madinah. Nama asli Saba`, menurut beberapa ahli tarikh, adalah ‘Abd Syams ibn Yasyjub ibn Ya’rub ibn Qahthan. Ia termasuk bangsa Arab ‘Aribah yang menghuni tanah Arab sebelum kedatangan Nabi Ibrahim as. Dinamai dengan Saba` karena ia adalah orang Arab pertama yang saba`; membuat pakaian dari kulit binatang.

Di masa Nabi Sulaiman as (sekitar 1000 tahun sebelum masehi) yang berkuasa di Syam (Palestina, Libanon, Suriah), Saba` telah menjadi sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang Ratu bernama Balqis. Disebutkan oleh al-Qur`an bahwa mereka mempunyai kerajaan yang besar dan istana megah—meski tidak sebesar dan semegah kerajaan Nabi Sulaiman as—dan menyembah matahari. Sebelum pasukan Nabi Sulaiman as pergi hendak menaklukkan Saba`, Ratu Balqis datang menyerahkan diri ke istana Nabi Sulaiman as. Setelah itu ia pun beragama Islam mengikuti ajaran Nabi Sulaiman as (rujuk QS. an-Naml [27] : 22-44).

Merujuk berbagai sumber, Quraish Shihab menjelaskan dalam Tafsir al-Mishbah vol. 10 hlm. 589-595 bahwa bangsa Saba` berlokasi tidak jauh dari kota Shan’a di Yaman Selatan. Kerajaan Saba` berdiri pada abad ke-8 SM. Pengaruh kekuasaannya mencakup Ethiopia. Salah satu negeri yang terkenal ketika itu adalah Ma’rib dengan bendungannya yang sangat besar, terletak antara Shan’a dan Hadlramaut. Berkat bendungan ini kawasan seluas 300 mil persegi yang kering dan tandus dapat berubah menjadi lahan subur dan produktif.

Menurut Ibn ‘Asyur, sejarahwan al-Hasan al-Hamdani yang hidup pada abad ke-4 H pernah melihat reruntuhan bendungan itu. Menurutnya, bendungan tersebut memiliki dinding sepanjang 800 hasta, lebarnya 150 hasta, dan tingginya sekitar belasan hasta (sehasta antara 50-70 cm). Penjelajah Prancis, Arnold (1883 M), juga menemukan puing-puing bendungan itu.

Dalam al-Qur`an, Saba` dijadikan salah satu nama surat. Ayat-ayat yang menjelaskannya terdapat dalam ayat 15-21 dari surat tersebut. Penempatannya sesudah ayat-ayat tentang keluarga Nabi Dawud dan Sulaiman ‘alaihimus-salam yang disebutkan selalu mengamalkan syukur, menurut al-Hafizh Ibn Katsir, menjadi sebuah isyarat yang jelas akan kondisi yang berlawanan dengannya yakni kaum Saba` yang tidak pandai bersyukur. Sebagaimana dinyatakan al-Qur`an sendiri, kitab ini adalah kitab yang matsani (QS. az-Zumar [39] : 23). Salah satu penafsirannya, sebagaimana dijelaskan Sufyan ibn ‘Uyainah, adalah ayat-ayat yang ditempatkan oleh Allah swt selalu berpasangan. Di antaranya setelah Allah swt menjelaskan model orang-orang yang bersyukur, Allah swt melanjutkannya dengan menjelaskan model orang-orang yang tidak bersyukur (rujuk Tafsir Ibn Katsir ayat terkait). Model orang-orang yang bersyukur adalah keluarga Dawud ‘alaihimus-salam yang disebutkan dalam ayat 10-14, sementara model orang-orang yang tidak bersyukur adalah kaum Saba`.

Allah swt menjelaskan:

لَقَدۡ كَانَ لِسَبَإٖ فِي مَسۡكَنِهِمۡ ءَايَةٞۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٖ وَشِمَالٖۖ كُلُواْ مِن رِّزۡقِ رَبِّكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لَهُۥۚ بَلۡدَةٞ طَيِّبَةٞ وَرَبٌّ غَفُورٞ  ١٥ فَأَعۡرَضُواْ فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ سَيۡلَ ٱلۡعَرِمِ وَبَدَّلۡنَٰهُم بِجَنَّتَيۡهِمۡ جَنَّتَيۡنِ ذَوَاتَيۡ أُكُلٍ خَمۡطٖ وَأَثۡلٖ وَشَيۡءٖ مِّن سِدۡرٖ قَلِيلٖ  ١٦ ذَٰلِكَ جَزَيۡنَٰهُم بِمَا كَفَرُواْۖ وَهَلۡ نُجَٰزِيٓ إِلَّا ٱلۡكَفُورَ  ١٧ وَجَعَلۡنَا بَيۡنَهُمۡ وَبَيۡنَ ٱلۡقُرَى ٱلَّتِي بَٰرَكۡنَا فِيهَا قُرٗى ظَٰهِرَةٗ وَقَدَّرۡنَا فِيهَا ٱلسَّيۡرَۖ سِيرُواْ فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّامًا ءَامِنِينَ  ١٨ فَقَالُواْ رَبَّنَا بَٰعِدۡ بَيۡنَ أَسۡفَارِنَا وَظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ فَجَعَلۡنَٰهُمۡ أَحَادِيثَ وَمَزَّقۡنَٰهُمۡ كُلَّ مُمَزَّقٍۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّكُلِّ صَبَّارٖ شَكُورٖ  ١٩

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”.

Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.

Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka (kufur nikmat). Dan Kami tidak menjatuhkan adzab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.

Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman.

Maka mereka berkata: “Ya Tuhan kami jauhkanlah jarak perjalanan kami”, dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur (QS. Saba` [34] : 15-19).

Berdasarkan ayat-ayat di atas diketahui bahwa bangsa Saba` memenuhi prasyarat untuk menjadi baldah thayyibah; negeri sejahtera. Perkebunan dan pertanian ditopang oleh perairan yang cukup dari bendungan-bendungan besar. Ini memastikan berjalannya panen di sepanjang tahun. Berarti mereka bebas dari krisis pangan dan buah-buahan, juga dari krisis air. Mereka tidak akan merasakan kekeringan dan paceklik. Maka tidak heran jika hampir di semua negeri saat ini pemerintahnya memprioritaskan pembangunan bendungan di berbagai pelosok daerahnya untuk memastikan amannya pasokan air dan stok pangan. Al-Hafizh Ibn Katsir bahkan mengutip cerita bangsa Arab yang menggambarkan saking suburnya negeri Saba` sampai-sampai jika ada seseorang berjalan di negeri itu sambil membawa keranjang di atasnya maka keranjangnya itu akan penuh dengan sendirinya dari buah-buahan yang berjatuhan. Meski terkesan dilebih-lebihkan, setidaknya ini menggambarkan pengetahuan bangsa Arab sendiri akan makmurnya negeri Saba`.

Negeri Saba` menjadi baldah thayyibah juga karena ditunjang oleh jalur transportasi yang aman dan lancar. Ini jelas akan melancarkan arus perdagangan dari dan menuju negeri tersebut. Maka dari itu juga hampir semua pemerintah di masing-masing negara memprioritaskan pembangunan jalur transportasi darat ini untuk memperlancar ekonomi. Tidak hanya membangunnya, tetapi juga memastikan agar di jalur transportasi tersebut tidak banyak pungli (pungutan liar) atau gangguan dari para penyamun, sebab itu akan sangat mengganggu kelancaran perdagangan.

Di samping itu, bangsa Saba` juga bertetangga dengan banyak negeri di sekitarnya yang bisa memperkuat ekonomi perdagangannya. Negeri-negeri sekitar itu otomatis menjadi “pasar” hasil bumi mereka. Meski mereka hidup di daerah yang sebagian besarnya gersang, tetapi di masa kejayaannya, daerah-daerah tersebut memiliki penduduk tetap di sepanjang jalur selatan ke utara sampai negeri Syam. Ini mudah dimengerti karena di masa Ratu Balqis—yang menurut Ibn Katsir kemudian menjadi istri Nabi Sulaiman as—sudah terjalin kerja sama yang erat antara kerajaan Nabi Sulaiman as di Syam dan kerajaaan Saba` di Yaman. Guna menghidupkan perekonomian di sepanjang jalur itu, maka dibangunlah negeri-negeri yang berpenghuni tetap.

Itu semua dirasakan bangsa Saba` ketika Rabbun Ghafur; Allah mengampuni mereka, karena mengamalkan titah Allah swt: “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya.” Akan tetapi bangsa Saba` malah enggan syukur, melainkan kufur (nikmat). Mereka jauh dari ibadah kepada Allah swt sebagaimana pendahulunya; Ratu Balqis dan kaumnya yang mengikuti langkah syukur Nabi Sulaiman as dan keluarga Dawud. Mereka pun mempraktikkan ekonomi yang rakus, ingin mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya, dan enggan berbagi peran ekonomi dengan negeri sekitarnya. Akibatnya mereka hancur. Menurut sejarah itu dimulai dengan bendungan yang hancur, kebun-kebun dan pertanian juga otomatis musnah, jalan-jalan raya dan negara-negara tetangga juga menjadi hanya menyisakan cerita. Itulah akhir dari sebuah bangsa yang makmur dan kini sudah hancur akibat memilih kufur dan enggan syukur. Sungguh benar maklumat dari Nabi Musa as kepada kaumnya:

َإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ  ٧

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim [14] : 7).