Home > Akhlaq > Saatnya Membuktikan Sabar

Saatnya Membuktikan Sabar

Tidak ada seorang pun yang tidak mengenal sabar. Semua orang mudah untuk mengatakannya dan menasihatkannya, tetapi sungguh susah mengamalkannya. Di masa pandemi Covid-19 ini contohnya. Hampir tidak ada seorang pun yang tidak terdampak ekonominya meski ia seorang pengusaha sekalipun. Kegelisahan dan ketakutan seringkali menyelinap begitu saja ke dalam hati tanpa disadari. Sebuah pertanda yang jelas bahwa sabar belum bersemayam di jiwa dan tertanam dalam hati.

Sabar sebagaimana dijelaskan ar-Raghib dalam kitab Mu’jamnya adalah al-imsak fi dlaiq; bertahan dalam kesempitan/kesusahan. Wujudnya bisa bermacam-macam. Dalam musibah disebut sabar; ketika berhadapan dengan musuh wujudnya adalah keberanian; dalam hal berbicara wujudnya diam; dan dalam menghadapi larangan Allah wujudnya ‘iffah/menahan diri.

Definisi yang paling sempurna untuk sabar menurut al-Hafizh Ibn Hajar adalah:

حَبْسُ النَّفْسِ عَنِ الْمَكْرُوْهِ وَعَقْدُ اللِّسَانِ عَنِ الشَّكْوَى وَالْمُكَابَدَةُ فِي تَحَمُّلِهِ وَانْتِظَارِ الْفَرَجِ

Menahan diri dari hal yang dibenci, mengikat lisan dari mengeluh, siap bersusah payah ketika menanggungnya dan menunggu kelapangan tiba (Fathul-Bari bab as-shabr ‘an maharimil-‘Llah).

Menahan diri dari yang dibenci salah satunya menangis karena bersedih atas musibah yang menimpa. Shahabat Anas ibn Malik ra menceritakan:

مَرَّ النَّبِيُّ ﷺ بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي قَالَتْ إِلَيْكَ عَنِّي فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِي وَلَمْ تَعْرِفْهُ فَقِيلَ لَهَا إِنَّهُ النَّبِيُّ ﷺ فَأَتَتْ بَابَ النَّبِيِّ ﷺ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ لَمْ أَعْرِفْكَ فَقَالَ إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى

Nabi saw pernah lewat pada seorang perempuan yang sedang menangis di atas kuburan. Beliau lalu bersabda: “Bertaqwalah kamu kepada Allah dan bersabarlah.” Perempuan itu langsung menimpali: “Menjauhlah kamu! Kamu tidak merasakan musibah seperti aku.” Perempuan itu tidak mengetahui bahwa yang berbicara itu Nabi saw. Setelah dikatakan kepadanya bahwa itu Nabi saw, ia langsung datang menemuinya. Ketika tiba di pintu rumah Nabi saw, ia tidak menemukan para penjaga, maka ia langsung masuk dan berkata: “Aku tadi tidak tahu bahwa itu engkau.” Maka Nabi saw bersabda: “Sabar itu ketika kejadian yang awal.” (Shahih al-Bukhari kitab al-jana`iz bab ziyaratil-qubur no. 1283).

Artinya perempuan itu sudah dikategorikan tidak sabar karena menangisi keluarganya yang meninggal di atas pusaranya. Kalaupun kemudian ia berhasil menghentikan tangisannya, tetap saja tidak dikategorikan sabar, karena Nabi saw mengajarkan semestinya dari sejak awal kejadian ia menahan tangisannya.

Hadits ini tidak perlu dipertentangkan dengan Nabi saw yang menangis ketika menjenguk cucunya yang meninggal dunia, sebab Nabi saw sendiri menjelaskan:

أَلَا تَسْمَعُونَ إِنَّ اللهَ لَا يُعَذِّبُ بِدَمْعِ الْعَيْنِ وَلَا بِحُزْنِ الْقَلْبِ وَلَكِنْ يُعَذِّبُ بِهَذَا وَأَشَارَ إِلَى لِسَانِهِ أَوْ يَرْحَمُ وَإِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ

Perhatikanlah! Sungguh Allah tidak akan menyiksa dengan sebab tetesan air mata dan sedihnya hati. Tetapi Dia akan menyiksa dengan sebab ini—sambil menunjuk lisannya—atau merahmati. Dan sungguh orang yang meninggal itu akan disiksa dengan sebab tangisan keluarganya atasnya (Shahih al-Bukhari bab al-buka` ‘indal-maridl no. 1304; Shahih Muslim bab al-buka` ‘alal-mayyit no. 2176).

Imam al-Bukhari sendiri menuliskan atsar dari ‘Umar ibn al-Khaththab terkait kewafatan Khalid ibn al-Walid yang saat itu ditangisi oleh kerabat perempuannya. Seseorang mengusulkan kepada ‘Umar agar melarang kerabat perempuannya menangisi kewafatan Khalid. Tetapi ‘Umar menjawab:

دَعْهُنَّ يَبْكِينَ عَلَى أَبِي سُلَيْمَانَ مَا لَمْ يَكُنْ نَقْعٌ أَوْ لَقْلَقَةٌ

Biarkan mereka menangisi Abu Sulaiman (Khalid) selama tidak ada yang menaburkan tanah ke kepala mereka (tradisi Jahiliyyah—pen) atau menangis dengan suara (Shahih al-Bukhari bab ma yukrahu minan-niyahah ‘alal-mayyit).

Termasuk dalam hal yang dibenci juga menceburkan diri ke dalam praktik-praktik haram seperti orang yang tidak sabar dengan kemiskinan sehingga ia menempuh jalan riba karena ingin segera kaya. Maka dari itu Imam al-Bukhari menyebutkan dalam salah satu tarjamah di kitab Shahihnya: Bab as-shabr ‘an maharimil-‘Llah; sabar menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah.

Hal kedua yang harus dibuktikan dalam sabar adalah tidak ada mengeluh sama sekali. Jika al-Hafizh Ibn Hajar di atas menyebutkan “mengikat” lisan, maka dalam konteks zaman ini termasuk juga “mengikat” jari dari mengetik kata atau membuat status yang menunjukkan keluhan atas musibah yang dihadapi. Jika itu dilakukan, meski spontan tanpa disadari, maka berarti sabar belum menjadi amal diri.

Dalam hadits Sa’ad ibn Abi Waqqash ra yang terkenal, ketika ia sakit parah di Makkah dan akan ditinggal pulang oleh Nabi saw dan rombongan, ia mengadu kepada Rasul saw bahwa ia takut menjadi murtad dari hijrahnya seandainya ia meninggal di Makkah. Aturan syari’atnya, shahabat yang hijrah dari Makkah ke Madinah haram pulang kembali dan tinggal di Makkah. Amal demikian dikategorikan murtad hijrah. Tetapi Rasul saw menjawab bahwa Sa’ad tidak akan dikategorikan murtad hijrah karena memang tidak disengaja. Pada saat itu kemudian Rasulullah saw menyinggung Sa’ad ibn Khaulah dan menyayangkannya karena ia wafat di Makkah. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ia menjenguk ibunya ke Makkah lalu ternyata jatuh sakit dan meninggal dunia di Makkah. Sa’ad ibn Abi Waqqash menceritakan bahwa saat itu Rasul saw yartsi; memperlihatkan kesedihan atas Sa’ad ibn Khaulah (Shahih al-Bukhari kitab al-jana`iz bab ritsa`in-Nabiy saw Sa’d ibn Khaulah no. 1295). Akan tetapi yartsi/ritsa` yang dilakukan Rasul saw itu bukan karena kesedihan atas diri sendiri, melainkan sebatas menyayangkan musibah yang menimpa orang lain, dalam hal ini Sa’ad ibn Khaulah ra. Adapun sikap mengeluh dan memperlihatkan kesedihan atas musibah yang menimpa diri sendiri, maka ini dikategorikan tidak sabar. Semestinya seperti yang dikatakan Nabi Ya’qub as: Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf [12] : 86).

Hal ketiga yang harus dibuktikan dalam sabar adalah kesiapan hidup susah dan menderita sampai datangnya pertolongan Allah swt. Sikap ini hanya bisa dijalankan oleh orang-orang yang yakin bahwa pertolongan Allah swt pasti ada, hanya memang sunnatul-‘Llah-nya harus melalui penderitaan terlebih dahulu. Terlalu banyak ayat al-Qur`an yang menjelaskan bahwa Allah swt pasti akan memberikan penderitaan kepada setiap orang, meski itu para Nabi as dan pengikutnya sekalipun (QS. 2 : 214); penderitaan itu untuk menguji siapa yang benar dalam imannya dan siapa yang sebenarnya munafiq (QS. 29 : 2-3, 10-11); orang-orang yang mampu bertahan dalam penderitaan, baik itu berupa khauf (takut kematian), kemiskinan, krisis ekonomi, dan banyak orang di sekitarnya yang meninggal dunia, maka itulah orang-orang yang sabar dan layak berbahagia selepas ia melewati penderitaannya tersebut (QS. 2 : 155).

Dalam hal ini Imam al-Bukhari menuliskan hadits berikut:

عن أَبي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ أُنَاسًا مِنْ الْأَنْصَارِ سَأَلُوا رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَلَمْ يَسْأَلْهُ أَحَدٌ مِنْهُمْ إِلَّا أَعْطَاهُ حَتَّى نَفِدَ مَا عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُمْ حِينَ نَفِدَ كُلُّ شَيْءٍ أَنْفَقَ بِيَدَيْهِ مَا يَكُنْ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ لَا أَدَّخِرْهُ عَنْكُمْ وَإِنَّهُ مَنْ يَسْتَعِفَّ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ وَلَنْ تُعْطَوْا عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra: Ada beberapa orang Anshar yang meminta kepada Rasulullah saw. Tidak ada seorang pun dari mereka yang meminta melainkan beliau memberinya. Bahkan sampai habis apa yang ada pada beliau. Waktu itu beliau bersabda kepada mereka: “Harta yang ada padaku tidak mungkin aku sisakan dari kalian. Hanya siapa yang menahan diri, pasti Allah menjadikannya mampu bertahan. Siapa yang bersabar, pasti Allah akan memberinya kesabaran. Dan siapa yang mencukupkan diri, pasti Allah memberinya kecukupan. Dan tidaklah kalian diberi satu pemberian yang lebih baik dan lebih besar daripada kesabaran.” (Shahih al-Bukhari bab as-shabr ‘an maharimil-‘Llah no. 6470)

Hadits ini mengajarkan kepada siapa pun yang sedang mengalami kesempitan untuk bertahan, sebab itulah satu-satunya yang terbaik untuk dilakukan ketika hidup dalam kesusahan. Dalam hadits ‘Abdullah ibn ‘Abbas ra, Nabi saw memberi nasihat:

وَاعْلَمْ أَنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيرًا وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Ketahuilah dalam kesabaran atas hal yang engkau benci terdapat banyak kebaikan, bahwa pertolongan itu datang setelah kesabaran, kelapangan itu datang setelah kesempitan, dan kemudahan itu datang setelah kesulitan (Musnad Ahmad bab hadits Ibn ‘Abbas no. 2804).

Secara khusus nasihat dalam hadits Abu Sa’id di atas Nabi saw tujukan kepada orang yang tidak mendapatkan pemberian. Ini tentu lebih menyakitkan; sudah ia hidup susah, tidak ada juga yang memberi. Namun tidak ada lagi yang terbaik untuk diamalkan selain sabar. ‘Umar ibn al-Khaththab ra menyatakan:

وَجَدْنَا خَيْرَ عَيْشِنَا بِالصَّبْر

Kami (para shahabat) merasakan bahwa sebaik-baiknya kehidupan kami adalah sabar (Shahih al-Bukhari bab as-shabr ‘an maharimil-‘Llah).

Wal-‘Llahul-Musta’an.