Home > Akhlaq > Rahasia di Balik Tawakkal

Rahasia di Balik Tawakkal

Rahasia di Balik Tawakkal

Tawakkal merupakan salah satu sebab datangnya cinta Allah swt untuk hamba-Nya. Dengan tawakkal, Allah swt akan senantiasa memenuhi kebutuhan hamba-Nya. Apa yang dibutuhkan dan diharapkan, akan senantiasa terpenuhi akibat cinta Allah swt sudah tercurah kepadanya. Sebab memang tawakkal mendorong seorang hamba untuk hanya menjadikan Allah swt sebagai satu-satunya yang dibutuhkan dan diharapkan. Tidak ada lagi yang selain-Nya.

Tawakkal artinya i’timad; menyandarkan, mempercayakan (al-Mufradat fi Gharibil-Qur`an ar-Raghib, hlm. 882). Perintah tawakkal yang selalu ditujukan kepada Allah swt terkait dengan asma Allah swt al-Wakil; Yang Maha Dipercaya/Dijadikan Sandaran. Al-Qur`an sendiri menegaskan bahwa hanya satu wakil, Dialah Allah swt, tidak mungkin ada yang selain-Nya:

وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلًا

Cukuplah Allah menjadi Wakil (QS. an-Nisa` [4] : 81)

حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَكِيلُ

Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Wakil (QS. Ali ‘Imran [3] : 173).

Bahkan Nabi Muhammad saw sebagai manusia teristimewa pun tidak mungkin mampu menjadi wakil:

ۚ قُل لَّسۡتُ عَلَيۡكُم بِوَكِيلٖ

Katakanlah: “Aku ini bukanlah orang yang diserahi mengurus urusanmu/wakilmu” (QS. al-An’am [6] : 66).

وَمَآ أَنتَ عَلَيۡهِم بِوَكِيلٖ

Dan kamu sekali-kali bukanlah wakil bagi mereka  (QS. al-An’am [6] : 107).

Hanya Allah swt satu-satunya Wakil sebab hanya milik-Nya lah semua yang ada di alam semesta ini. Hanya ada dalam kekuasaan-Nya pula semua yang terjadi di alam semesta ini, termasuk semua yang menimpa diri setiap insan. Tak ada satu pun orang yang mampu memiliki, mengatur dan mengendalikan semua yang ada di langit dan bumi melainkan Allah swt semata. Maka sudah seyogianya jika tawakkal hanya ditujukan kepada-Nya, sebab hanya Dia al-Wakil, mustahil selain-Nya.

Kewajiban tawakkal tidak perlu dikonfrontasikan dengan kewajiban berusaha; apakah berarti berusaha tidak wajib? Apakah berarti tawakkal menjadikan seseorang tidak perlu berusaha? Sebab berusaha wajib, tawakkal pun wajib. Kedua-duanya wajib diamalkan; berusaha seraya tetap tawakkal, tawakkal seraya tetap berusaha. Dalam al-Qur`an sendiri, perintah tawakkal selalu ditempatkan sesudah perintah berusaha/bekerja. Misalnya dalam QS. Ali ‘Imran [3] : 159 seperti dikutip di atas, sesudah perintah musyawarah; QS. an-Nisa` [4] : 81 sesudah perintah berpaling dari orang munafiq; QS. al-Ma`idah [5] : 11 dan 23 sesudah perintah berperang dan bertaqwa; QS. al-A’raf [7] : 89 sesudah sikap istiqamah dalam agama Islam; QS. al-Anfal [8] : 49 sesudah istiqamah dalam perang; dan QS. al-Anfal [8] : 69 sesudah perintah merespon perdamaian. Artinya dalam tawakkal ada usaha, dalam usaha pun ada tawakkal.

Penegasan betapa Allah swt mencintai hamba-hamba-Nya yang bertawakkal ada dalam salah satu firman-Nya di surat Ali ‘Imran:

فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (QS. Ali ‘Imran [3] : 159).

Potongan ayat ini sendiri terkait dengan musyawarah dalam konteks jihad, yakni cara menghadapi musuh akan dilakukan seperti apa? Dalam hal tersebut Nabi saw diperintahkan untuk bermusyawarah dengan para shahabat. Jika sudah diambil keputusan yang sekiranya lebih tepat dan tekad sudah bulat untuk mengambil keputusan tersebut, maka bertawakkallah (Tafsir Ibn Katsir).

Bersikap tawakkal sesudah bulat tekad mengambil satu keputusan tersebut sangat penting, mengingat Allah swt sendiri menyatakan:

إِن يَنصُرۡكُمُ ٱللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمۡۖ وَإِن يَخۡذُلۡكُمۡ فَمَن ذَا ٱلَّذِي يَنصُرُكُم مِّنۢ بَعۡدِهِۦۗ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ

Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu. Jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS. Ali ‘Imran [3] : 160).

Artinya tetap akan ada dua kemungkinan; bisa jadi Allah memberikan pertolongan atau tidak memberi pertolongan atas keputusan yang telah diambil. Mana saja yang kemudian terjadi, tetap saja hanya tawakkal solusinya. Sebab jika pertolongan datang, maka pasti itu datangnya dari Allah swt. Dan jika pertolongan tidak ada, siapa lagi yang akan bisa memberi pertolongan selain Allah? Maka dari itu tetap saja tawakkal menjadi satu-satunya solusi dalam setiap menghadapi konsekuensi keputusan yang telah diambil.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari yang dijalani, prinsip tawakkal ini akan mudah menjumpai lahannya. Baik sehat atau sakit, tetap tawakkal yang dijalani. Sehat berarti anugerah dari Allah swt yang harus disyukuri, sementara sakit berarti cobaan dari Allah swt yang harus disikapi dengan sabar. Meski tubuh sedang sakit, bukan berarti kemudian hati ‘mendemdam’ kepada Allah swt, sebab ia sadar sepenuhnya, siapa lagi yang dapat memberikan kesembuhan selain Allah swt?

Menghadapi rizki yang pasti selalu fluktuatif, tawakkal menjadi solusinya juga. Ketika rizki datang, itu pasti datangnya dari Allah swt. Ketika rizki belum datang, siapa lagi yang bisa mendatangkan rizki selain Allah swt? Maka mustahil seorang muslim kemudian bergantung kepada selain Allah swt dengan mempercayai perdukunan dan hal-hal klenik lainnya. Mustahil juga seorang muslim yang selalu berharap rizki kemudian abai dari ibadah. Baik ketika rizki datang atau belum datang, ibadahnya akan tetap istiqamah sebagai bukti ia hanya bertawakkal kepada Allah swt.

Hidup adakalanya dipuji dan dihormati orang, adakalanya juga dihina dan direndahkan orang. Tawakkal dalam hal ini pasti menjadi satu-satunya solusi. Ketika orang-orang memuji dan menghormati, hanya hamdalah yang terucap, sebab memang hanya Allah swt yang layak mendapatkan pujian, bukan manusia. Semua pujian dan penghormatan yang diterima bersumber dari kehendak Allah swt, maka seyogianya jika dipasrahkan kembali kepada Allah swt. Sementara ketika orang-orang menghina dan merendahkan, siapa lagi yang bisa membalikkan hati mereka untuk menghormati selain Allah swt? Jadinya hinaan dan cacian yang diterima pun dipasrahkan dan dipercayakan kepada Allah swt. Tugas diri ini hanya beramal sebaik mungkin, sementara cacian dan penghinaan biarlah menjadi “tugas” Allah swt semata yang hanya Dia sendiri yang bisa membereskannya.

Semua ini sudah ditegaskan Allah swt dalam firman-Nya:

وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا

Dan siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu (QS. at-Thalaq [65] : 3).

Seseorang yang bertawakkal dengan sendirinya akan menjadikan Allah swt sebagai satu-satunya standar kepuasan. Apapun yang terjadi, yang penting Allah swt puas dengan tawakkal dirinya kepada-Nya. Kebutuhan yang dibutuhkan dalam hidupnya pun menjadi hanya satu; Allah swt. Maka ketika ia tawakkal, kebutuhannya otomatis terpenuhi. Wal-‘Llahu a’lam wa Ni’mal-Wakil.