Home > Meraih Cinta Ilahi > Ragam Syafa’at Nabi saw (Bagian Kedua)

Ragam Syafa’at Nabi saw (Bagian Kedua)

Syafa’at (pertolongan) Nabi saw yang pertama akan diberikan kepada kaum mukminin pada saat dikumpulkan di mauqif atau mahsyar (tempat dikumpulkannya semua umat manusia pada hari kebangkitan). Saat itu adalah saat-saat yang sangat genting dan menyiksa umat manusia. Sebuah alam baru yang deritanya sungguh sangat terasa oleh manusia, sehingga mereka merintih mencari syafa’at. Mulai dari Nabi Adam as sampai Nabi ‘Isa as mereka mohonkan syafa’atnya, tetapi semuanya angkat tangan, karena hanya seorang Nabi saw yang pantas mengembannya, dialah Nabi Muhammad shallal-‘Llah ‘alaihi wa sallam.

Mauqif (tempat berdiri dan menunggu) atau mahsyar (tempat berkumpul) adalah tempat dikumpulkannya semua umat manusia pada hari kebangkitan. Mauqif atau mahsyar itu adalah sebuah daratan luas berwarna putih yang berbeda dengan bumi yang sudah dihancurkan sebelumnya. Tidak ada daratan yang lebih tinggi dari yang lainnya satu pun (QS. Ibrahim [14] : 48 dan Shahih al-Bukhari bab yaqbidul-‘Llahul-ardl yaumal-qiyamah no. 6521). Manusia yang dibangkitkan saat itu semuanya dalam keadaan tidak berpakaian dan beralas kaki, tetapi kemudian dipakaikan pakaian dan yang pertama adalah Nabi Ibrahim as (QS. al-Anbiya` [21] : 104 dan Shahih al-Bukhari bab kaifal-hasyr no. 6526). Di daratan ini semua manusia dikumpulkan dari yang paling awal sampai yang paling akhir (QS. al-Waqi’ah [56] : 49-50). Pada saat itu matahari yang diciptakan baru lagi oleh Allah swt setelah dihancurkan pada waktu kiamat (QS. Ibrahim [14] : 48) dan didekatkan kepada manusia sehingga mereka berkeringat. Banyaknya keringat tersebut seukuran banyaknya dosa yang telah dilakukan. Hadits Ibn ‘Umar ra menjelaskan sabda Nabi saw sebagai berikut:

يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ} حَتَّى يَغِيبَ أَحَدُهُمْ فِي رَشْحِهِ إِلَى أَنْصَافِ أُذُنَيْهِ

“Pada hari manusia berdiri menghadap Rabbul-‘alamin [hari kebangkitan]—QS. al-Muthaffifin [83] : 6” ada salah seorang dari mereka menghilang dalam keringatnya yang tingginya sampai pertengahan telinganya (Shahih al-Bukhari bab yauma yaqumun-nas li Rabbil-‘alamin no. 4938).

Sementara itu hadits al-Miqdad ibn al-Aswad menerangkan:

تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِى الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا. قَالَ وَأَشَارَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِيَدِهِ إِلَى فِيهِ

“Matahari didekatkan pada hari kiamat dari makhluk sampai jarak sekitar 1 mil. Maka manusia berkeringat seukuran amal mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai mata kakinya. Ada juga yang sampai lututnya. Ada juga yang sampai pinggangnya. Dan ada juga yang sampai keringat itu benar-benar menenggelamkan mereka.” Al-Miqdad berkata: “Rasul saw sambil berisyarat dengan tangannya ke mulutnya.” (Shahih Muslim bab shifat yaumil-qiyamah no. 7385).

Hadits Abu Hurairah ra memberikan penjelasan tambahan:

إِنَّ الْعَرَقَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيَذْهَبُ فِى الأَرْضِ سَبْعِينَ بَاعًا وَإِنَّهُ لَيَبْلُغُ إِلَى أَفْوَاهِ النَّاسِ أَوْ إِلَى آذَانِهِمْ

Sesungguhnya keringat (seseorang) itu pada hari kiamat benar-benar akan mengaliri bumi sampai 70 depa (depa: sepanjang dua tangan) dan sungguh keringat itu akan sampai mulut manusia atau telinga mereka (Shahih Muslim bab shifat yaumil-qiyamah no. 7384).

Imam an-Nawawi dengan mengutip penjelasan al-Qadli menerangkan bahwa keringat yang keluar itu menggambarkan bagaimana gentingnya keadaan hari kebangkitan, ditambah matahari sangat dekat, dan orang-orang saling berdesakan (Syarah Shahih Muslim).

Pada saat inilah syafa’at Nabi saw yang pertama diminta oleh umat manusia dan Nabi saw pun diberi izin untuk memberikan syafa’at tersebut. Dalam hadits Anas yang panjang tentang kiamat, Nabi saw menjelaskan:

يَجْمَعُ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ فَيَقُولُونَ لَوْ اسْتَشْفَعْنَا إِلَى رَبِّنَا حَتَّى يُرِيحَنَا مِنْ مَكَانِنَا هَذَا فَيَأْتُونَ آدَمَ فَيَقُولُونَ يَا آدَمُ أَمَا تَرَى النَّاسَ خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ وَأَسْجَدَ لَكَ مَلَائِكَتَهُ وَعَلَّمَكَ أَسْمَاءَ كُلِّ شَيْءٍ اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّنَا حَتَّى يُرِيحَنَا مِنْ مَكَانِنَا هَذَا فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكَ…

Allah mengumpulkan kaum mukminin pada hari kiamat seperti itu. Mereka lalu berkata: “Seandainya kita bisa mencari syafa’at untuk disampaikan kepada Rabb kita sehingga Dia menenangkan kita dari tempat kita saat ini.” Mereka lalu mendatangi Adam dan berkata: “Wahai Adam, tidakkah anda melihat orang-orang saat ini. Allah telah menciptakan anda dengan tangan-Nya, memerintahkan malaikat sujud kepada anda, dan mengajari anda nama-nama segala sesuatu, maka berilah syafa’at bagi kami untuk diajukan kepada Rabb kami sehingga Dia menenangkan kami di tempat kami ini.” Tetapi Adam menjawab: “Aku tidak pantas untuk hal itu…” (Shahih al-Bukhari bab qaulil-‘Llah ta’ala lima khalaqtu bi yadayya no. 7410).

Dalam hadits Abu Hurairah ra dijelaskan:

أَنَا سَيِّدُ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَهَلْ تَدْرُونَ مِمَّ ذَلِكَ يَجْمَعُ اللَّهُ النَّاسَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ يُسْمِعُهُمْ الدَّاعِي وَيَنْفُذُهُمْ الْبَصَرُ وَتَدْنُو الشَّمْسُ فَيَبْلُغُ النَّاسَ مِنْ الْغَمِّ وَالْكَرْبِ مَا لَا يُطِيقُونَ وَلَا يَحْتَمِلُونَ فَيَقُولُ النَّاسُ أَلَا تَرَوْنَ مَا قَدْ بَلَغَكُمْ أَلَا تَنْظُرُونَ مَنْ يَشْفَعُ لَكُمْ إِلَى رَبِّكُمْ فَيَقُولُ بَعْضُ النَّاسِ لِبَعْضٍ عَلَيْكُمْ بِآدَمَ…

Saya adalah tuannya umat manusia pada hari kiamat. Tahukah kalian mengapa demikian? Allah akan mengumpulkan manusia dari yang paling awal sampai yang paling akhir di sebuah daratan yang seorang penyeru bisa terdengar seruannya oleh manusia dan penglihatan bisa sampai melihat mereka semuanya. Matahari saat itu mendekat sehingga manusia merasa kesusahan dan derita yang tidak sanggup mereka pikul. Orang-orang lalu berkata: “Tidakkah kalian perhatikan apa yang sudah kalian rasakan? Tidakkah kalian pikirkan siapa yang bisa memberi syafa’at untuk kalian agar disampaikan kepada Rabb kalian?” Sebagian mereka ada yang menjawab: “Kalian harus mendatangi Adam…” (Shahih al-Bukhari bab dzurriyyata man hamalna ma’a Nuh no. 4712).

Dalam kelanjutan hadits tersebut dijelaskan bahwa Adam merasa tidak layak karena pernah melanggar larangan Allah swt memakan buah dari pohon yang terlarang. Nabi Nuh as pun merasa tidak layak karena pernah meminta sesuatu tanpa ilmu, yakni memohon agar anaknya yang kafir diselamatkan sesudah ia ditenggelamkan oleh Allah swt (QS. Hud [11] : 45-47). Nabi Ibrahim as yang diminta berikutnya juga angkat tangan karena ia pernah berkata bohong tiga kali; mengatakan bahwa bintang, bulan, dan matahari adalah Tuhanku ketika hendak mengecoh para penyembahnya (QS. al-An’am [6] : 76-78), mengaku bahwa yang menghancurkan patung-patung adalah patung yang paling besar meski sebenarnya adalah Ibrahim as (QS. al-Anbiya` [21] : 63), dan pernah menipu umatnya sebelum menghancurkan patung-patung dengan mengatakan “saya sakit” (QS. as-Shaffat [37] : 89). Nabi Musa as yang dimintai syafa’at juga menolak karena ia pernah membunuh meski tidak disengaja (QS. al-Qashash [28] : 15). Demikian halnya Nabi ‘Isa as yang merasa tidak layak karena sudah disembah oleh umatnya (Sunan at-Tirmidzi bab wa min surah Bani Isra`il no. 3148). Ia pun menyarankan bahwa Nabi Muhammad saw lebih pantas untuk mengajukan syafa’at karena beliau tidak pernah salah baik sebelum jadi Nabi saw atau sesudahnya (Shahih al-Bukhari bab qaulil-‘Llah ta’ala wujuhun yaumaidzin nadlirah no. 7440).

Nabi ‘Isa as kemudian mendatangi Nabi saw yang sedang berdiri di muka shirath (jalan menuju surga) dan berkata:

هَذِهِ الْأَنْبِيَاءُ قَدْ جَاءَتْكَ يَا مُحَمَّدُ يَسْأَلُونَ وَيَدْعُونَ اللهَ، أَنْ يُفَرِّقَ بَيْنَ جَمْعِ الْأُمَمِ، إِلَى حَيْثُ يَشَاءُ اللهُ، لِغَمِّ مَا هُمْ فِيهِ فَالْخَلْقُ مُلْجَمُونَ فِي الْعَرَقِ

“Ini para Nabi datang kepadamu hai Muhammad, mereka ingin memohon dan berdo’a kepada Allah agar Dia memecahkan kerumunan umat manusia pada hal yang dikehendaki Allah, karena kesusahan yang sedang mereka rasakan. Umat manusia sedang ditenggelamkan dalam keringat.” (Musnad Ahmad bab musnad Anas ibn Malik no. 12824)

Permohonan syafa’at pada saat itu sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits di atas baru sebatas ingin lepas dari kesulitan di mauqif/mahsyar, dan Nabi saw mengabulkan permohonan mereka. Dalam riwayat Ibn Hibban disebutkan lebih jelas lagi saking sudah tidak kuat dengan derita yang dirasa saat itu:

إِنَّ الْكَافِرَ لَيُلْجِمُهُ الْعَرَقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَقُولُ: أَرِحْنِي وَلَوْ إِلَى النَّارِ

Sungguh seorang kafir akan tenggelam oleh keringatnya pada hari kiamat sampai ia berkata: “Istirahatkanlah aku sejenak meski sampai masuk ke neraka.” (Shahih Ibn Hibban dzikr al-ikhbar ‘an washfi thalabil-kafirir-rahah no. 7335. Al-Hafizh menjadikannya hujjah dalam Fathul-Bari bab shifatil-jannah wan-nar).

Sesudah didatangi oleh Nabi ‘Isa as, Nabi Muhammad saw kemudian bersabda: “Ana shahibukum; saya akan mengambil tugas ini dari kalian.” (Mushannaf Ibn Abi Syaibah bab ma a’thal-‘Llah ta’ala Muhammad saw no. 31675)

Bersambung, in sya`a-‘Llah…