Home > Ibadah Umum > Qadla atau Fidyah untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Qadla atau Fidyah untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Dalam khazanah fiqih diketahui bahwa para ulama secara umum terbagi pada tiga pendapat antara yang mewajibkan qadla saja, fidyah saja, dan qadla dan fidyah sekaligus. Kesemua pendapat tersebut harus diakui sebagai hasil ijtihad yang haram divonis sesat. Yang menganut metode tarjih (memilih yang paling kuat) pasti akan memilih pendapat yang paling kuat menurut madzhab pilihannya. Yang menganut metode ihtiyath (kehati-hatian) pasti akan memilih pendapat yang menurutnya lebih selamat. Sementara yang menganut metode taisir (memilih yang paling mudah) pasti akan memilih pendapat yang menurutnya lebih memudahkan sebagaimana sudah jadi spirit syari’at Islam.

Fiqih qadla dan fidyah berawal dari firman Allah swt dalam QS. al-Baqarah [2] : 184 yang menyebutkan ketentuan keduanya dalam ayat tersebut:

2.Al-Baqarah : 184

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. al-Baqarah [2] : 184).

Dalam ayat di atas disebutkan “orang sakit dan dalam perjalanan” jika ia berbuka maka harus qadla; mengganti shaum pada hari yang lain di luar Ramadlan. Yang kedua “orang yang yuthiqunahu; berat menjalankannya” jika ia berbuka maka harus fidyah yaitu memberi makan seorang miskin.

Terdapat diskusi di kalangan para ulama tafsir terkait naskh (pengguguran) ayat tentang fidyah. Sebab pada praktiknya sebagaimana dijelaskan dalam hadits Mu’adz ibn Jabal, Salamah ibn al-Akwa’, Ibn ‘Umar, Ibn Mas’ud, dan ‘Aisyah, yang dimaksud orang yuthiqunahu itu adalah orang sehat tetapi ia merasa berat shaum, maka ia boleh tidak shaum asalkan membayar fidyah. Setelah turun ayat berikutnya: “Siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain,” maka ketentuan fidyah bagi orang sehat ini dihapus, sementara qadla bagi orang yang sakit dan safar tetap ada. Orang sehat meski bagaimanapun harus memaksakan diri shaum.

Akan tetapi Ibn ‘Abbas—para ulama menyebutnya hanya beliau seorang—menyatakan bahwa ayat fidyah tidak di-naskh secara total. Ayat di atas tetap berlaku, tetapi bagi kakek-kakek atau nenek-nenek yang sudah tidak bisa shaum dan tidak mungkin juga qadla, maka ia harus membayar fidyah. Al-Hafizh Ibn Katsir sendiri memilih pendapat Ibn ‘Abbas yang ini. Lafazh yuthiqunahu yang berarti asal “mereka mampu” jadi dimaknai dengan yatajasysyamunahu; mereka berat menjalankannya (Tafsir Ibn Katsir).

Sampai tema “orang tua renta” memang tidak ditemukan ikhtilaf yang berarti tentang ketentuan fidyah bagi mereka, sebab ulama jumhur yang menilai ayat fidyah di atas di-mansukh (gugur) juga berpendapat demikian berdasarkan atsar-atsar dari para shahabat. Hanya ketika memasuki tema “ibu hamil dan menyusui”, al-Hafizh Ibn Katsir misalnya menulis:

وَمِمَّا يَلْتَحِقُ بِهَذَا الْمَعْنَى: الْحَامِلُ وَالْمُرْضِعُ، إِذَا خَافَتَا عَلَى أَنْفُسِهِمَا أَوْ وَلَدَيْهِمَا، فَفِيهِمَا خِلَافٌ كَثِيرٌ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ، فَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ: يُفْطِرَانِ وَيَفْدِيَانِ وَيَقْضِيَانِ. وَقِيلَ: يَفْدِيَانِ فَقَطْ، وَلَا قَضَاءَ. وَقِيلَ: يَجِبُ الْقَضَاءُ بِلَا فِدْيَةٍ. وَقِيلَ: يُفْطِرَانِ، وَلَا فِدْيَةَ وَلَا قَضَاءَ. وَقَدْ بَسَطْنَا هَذِهِ الْمَسْأَلَةَ مُسْتَقْصَاةً فِي كِتَابِ الصِّيَامِ الذِي أَفْرَدْنَاهُ 

Yang semakna dengan ini (orang tua renta) adalah ibu hamil dan menyusui apabila mereka takut atas diri mereka sendiri atau atas anak mereka. Dalam hal ini ada perselisihan yang banyak di antara para ulama. (1) Di antara mereka ada yang berpendapat harus berbuka, fidyah, dan qadla. (2) Ada juga yang berpendapat fidyah saja tanpa qadla. (3) Ada juga yang berpendapat wajib qadla tanpa fidyah. (4) Ada juga yang berpendapat harus berbuka tetapi tidak ada fidyah atau qadla. Kami sudah menguraikan masalah ini secara lengkap dalam Kitab as-Shiyam yang kami tulis secara khusus (Tafsir Ibn Katsir).

Sampai hari ini tidak diketahui wujud dari Kitab as-Shiyam yang ditulis Ibn Katsir tersebut. Dalam berbagai biografi tentang beliau, memang ada ditulis bahwa salah satu kitab yang pernah beliau tulis adalah Kitab as-Shiyam, hanya ditaqdirkan kitabnya tidak sampai pada generasi berikutnya, hanya ada di zamannya saja. Wal-‘Llahu a’lam.

Imam al-Bukhari dalam kitab Shahihnya kitab Tafsir al-Qur`an bab firman Allah swt surat al-Baqarah ayat 184 menjelaskan:

وَقَالَ عَطَاءٌ يُفْطِرُ مِنْ الْمَرَضِ كُلِّهِ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى. وَقَالَ الْحَسَنُ وَإِبْرَاهِيمُ فِي الْمُرْضِعِ أَوْ الْحَامِلِ إِذَا خَافَتَا عَلَى أَنْفُسِهِمَا أَوْ وَلَدِهِمَا تُفْطِرَانِ ثُمَّ تَقْضِيَانِ. وَأَمَّا الشَّيْخُ الْكَبِيرُ إِذَا لَمْ يُطِقْ الصِّيَامَ فَقَدْ أَطْعَمَ أَنَسٌ بَعْدَ مَا كَبِرَ عَامًا أَوْ عَامَيْنِ كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِينًا خُبْزًا وَلَحْمًا وَأَفْطَرَ قِرَاءَةُ الْعَامَّةِ {يُطِيقُونَهُ} وَهْوَ أَكْثَرُ

‘Atha` (tabi’in, w. 114 H) berkata: Boleh berbuka dari semua jenis penyakit, sebagaimana difirmankan Allah ta’ala. Al-Hasan (al-Bashri, tabi’in, w. 110 H) dan Ibrahim (an-Nakha’i, tabi’in, w. 196 H) berkata tentang ibu menyusui atau hamil apabila mereka takut atas diri mereka sendiri atau atas anak mereka: Mereka berbuka kemudian mengqadla. Adapun orang tua renta apabila tidak mampu shaum, maka Anas ketika ia sudah tua renta sekitar satu tahun atau dua tahun memberi makan setiap harinya kepada seorang miskin sekerat roti dan daging dan ia berbuka. Bacaan mayoritas itu yuthiqunahu dan itu yang paling banyak (Shahih al-Bukhari bab qaulihi ayyaman ma’dudat…).

Imam al-Bukhari bermaksud menjelaskan fiqih dari ayat 184 surat al-Baqarah. Menurut beliau, merujuk pendapat ‘Atha`, berbuka dari sakit itu boleh dari sakit apa saja karena al-Qur`an sendiri tidak menentukannya secara spesifik. Al-Hafizh Ibn Hajar dalam hal ini menambahkan, jumhur ulama sendiri membatasinya pada sakit yang membolehkan tayammum meski sedang ada air, yakni sakit yang tidak memungkinkan shaum.

Kemudian untuk ibu hamil dan menyusui yang tidak shaum, Imam al-Bukhari memilih pendapat harus qadla saja. Ini didasarkan pada pertimbangan bahwa ibu hamil dan menyusui itu halangan shaumnya tidak selamanya seperti orang tua renta yang tidak mungkin qadla. Ibu hamil dan menyusui masih bisa qadla. Beliau tidak memilih pendapat harus ditambah fidyah, karena sebagaimana ditegaskannya dalam bab mata yuqdla qadla Ramadlan, Allah swt tidak menyebutkan keharusan ith’am (memberi makan) bagi mereka yang baru bisa mengqadlanya lewat dari satu tahun, melainkan hanya qadla saja; fa i’ddatun min ayyamin ukhar. Ibu hamil dan menyusui sebagaimana diketahui baru mungkin qadla setelah fase kritis hamil dan menyusuinya selesai dan biasanya setelah lewat satu tahun atau datang Ramadlan berikutnya. Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul-Bari menyatakan bahwa pendapat Imam al-Bukhari tersebut tepat jika dasarnya al-Qur`an saja. Akan tetapi sudah jelas banyak atsar shahih dari shahabat yang mengharuskan juga fidyah di samping qadla bagi yang baru bisa qadla lepas tahun.

Imam al-Bukhari juga dalam penjelasannya di atas tampak tidak membedakan antara ibu hamil dan menyusui yang takut atas dirinya sendiri (maksudnya ibu hamilnya yang sakit) dan yang takut atas anaknya (maksudnya ibunya sehat tetapi khawatir janin tidak sehat atau bayinya terbukti sakit meski ibunya tetap sehat). Imam al-Bukhari tampaknya cukup menilai dari aspek tidak shaumnya saja, maka gantinya adalah qadla, jika yang bersangkutan masih mampu shaum.

Fidyah dalam fiqih Imam al-Bukhari berlaku bagi mereka yang sama sekali sudah tidak mampu shaum, yakni orangtua renta. Dalilnya adalah atsar dari Anas di atas. Atsar Anas yang dikutip Imam al-Bukhari tersebut juga menunjukkan bahwa ukuran fidyah itu makanan yang biasa dimakan lengkap dengan lauk pauknya. Jika diuangkan sekitar Rp. 25.000,-. Tentunya atsar di atas tidak membatasi harus berwujud makanan yang sudah dimasak dengan lauk pauknya, melainkan hanya salah satu contoh saja. Dengan merujuk pada makna umum tha’am miskin maka memberikan makanan pokok seperti zakat fithri pun berarti diperbolehkan.

Akan tetapi Al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan, pernyataan al-Hasan al-Bashri yang menyatakan harus qadla saja, itu yang jalurnya dari Qatadah. Sementara yang jalurnya dari Yunus ibn Humaid, al-Hasan menyatakan bahwa qadla itu bagi ibu hamil dan menyusui yang takut atas dirinya. Jika ia takut atas anaknya, maka bukan qadla, tetapi ith’am (fidyah). Menutup penjelasan tentang fiqih ini Ibn Hajar menyatakan:

وَاخْتُلِفَ فِي الْحَامِل وَالْمُرْضِع وَمَنْ أَفْطَرَ لِكِبَرِ ثُمَّ قَوِيَ عَلَى الْقَضَاء بَعْد فَقَالَ الشَّافِعِيّ وَأَحْمَد: يَقْضُونَ وَيُطْعِمُونَ، وَقَالَ الْأَوْزَاعِيُّ وَالْكُوفِيُّونَ: لَا إِطْعَام

Ada ikhtilaf (perbedaan pendapat) dalam hal ibu hamil dan menyusui juga orang yang tidak shaum karena sudah tua tetapi kemudian ia mampu qadla setelah Ramadlan. Imam as-Syafi’i dan Ahmad menyatakan harus qadla dan memberi makan (fidyah). Sementara al-Auza’i dan ulama-ulama Kufah menyatakan tidak ada memberi makan (hanya qadla saja).

Diketahui dari penjelasan di atas, bahwa jumhur ulama menyepakati adanya qadla bagi ibu hamil dan menyusui yang tidak shaum. Hanya terkait apakah harus ditambah fidyah, tidak ada kesepakatan. 

Dalam kitab al-Majmu’ (salah satu kitab fiqih pokok madzhab Syafi’i), Imam as-Syirazi dan an-Nawawi menjelaskan bahwa ibu hamil dan menyusui dibedakan antara yang takut atas dirinya sendiri dan yang takut atas anaknya, karena memang beda dalilnya. Jika ibu takut atas dirinya (yakni ibunya sakit) maka statusnya sama dengan orang sakit, ia hanya wajib qadla saja. Akan tetapi jika ibu takut atas janin/bayinya, maka status ibu itu bukan sebagai orang sakit, melainkan sebagai yuthiqunahu menurut fiqih Ibn ‘Abbas, dan Ibn ‘Abbas ra menyatakan harus fidyah. Qadlanya untuk mengganti shaum yang tidak diamalkan pada bulan Ramadlan, sementara fidyahnya karena ibu tersebut masuk kategori yuthiqunahu (al-Majmu’ Syarhul-Muhadzdzhab kitab as-shiyam 6 : 267).

Ibn Qudamah dalam al-Mughni (salah satu kitab fiqih pokok madzhab Hanbali) juga menjelaskan sama. Harus dibedakan antara ibu hamil-menyusui yang sakit dan yang tidak sakit tetapi khawatir janinnya sakit atau bayinya jelas sakit, karena perbedaan dalil sebagaimana dijelaskan Imam an-Nawawi di atas. Perihal atsar Ibn ‘Abbas yang disinggung oleh Imam an-Nawawi di atas, Ibn Qudamah menambahkan bahwa Ibn ‘Abbas, ditambah Ibn ‘Umar, menyatakan fidyah tersebut murni hanya fidyah saja tanpa qadla, sebab dalam al-Qur`an juga yang yuthiqunahu hanya disebutkan fidyah saja. Akan tetapi Imam Ahmad tidak mengambil pendapat Ibn ‘Umar dan Ibn ‘Abbas dalam hal tidak ada qadla tersebut, mengingat ibu hamil dan menyusui masih kuat qadla. Orang yang tidak shaum Ramadlan lalu ada kemampuan untuk qadla, maka ia tetap wajib qadla (al-Mughni kitab as-shiyam mas`alah 2080).

Atsar Ibn ‘Abbas dan Ibn ‘Umar yang dimaksud Ibn Qudamah di atas adalah:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: وَثَبِتَ لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ وَالْعَجُوزِ الْكَبِيرَةِ إِذَا كَانَا لَا يُطِيقَانِ الصَّوْمَ, وَالْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ إِذَا خَافَتَا أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

Dari Ibn ‘Abbas ra, ia berkata: “Dan telah tetap bagi kakek-kakek dan nenek-nenek yang sudah tua renta apabila mereka tidak mampu shaum, demikian juga ibu hamil dan menyusui apabila takut, untuk berbuka dan memberi makan seorang miskin, yang dihitung dari setiap harinya.” (as-Sunanul-Kubra al-Baihaqi bab al-hamil wal-murdli’ idza khafata ‘ala waladaihima no. 8077).

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: إِذَا خَافَتِ الْحَامِلُ عَلَى نَفْسِهَا، وَالْمُرْضِعُ عَلَى وَلَدِهَا فِي رَمَضَانَ، قَالَ: يُفْطِرَانِ وَيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا، وَلاَ يَقْضِيَانِ صَوْمًا.

Dari Ibn ‘Abbas ra, tentang seorang ibu hamil yang takut atas dirinya dan ibu menyusui yang takut atas anaknya di bulan Ramadlan, ia berkata: “Keduanya boleh berbuka dan memberi makan seorang miskin dari setiap harinya dan tidak perlu mengqadla shaum.” (Tafsir at-Thabari surat al-Baqarah [2] : 184 no. 2758).

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّ امْرَأَتَهَ سَأَلَتْهُ وَهِيَ حُبْلَى فَقَالَ:  أَفْطِرِي وَأَطْعِمِي عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَلَا تَقْضِي

Dari Ibn ‘Umar ra, sesungguhnya istrinya bertanya kepadanya ketika ia hamil, lalu ia menjawab: “Berbukalah dan berikanlah makanan kepada orang miskin dari setiap harinya dan tidak perlu qadla.” (Sunan ad-Daraquthni bab thulu’is-syams ba’dal-ifthar no. 2388).

Dari uraian di atas diketahui bahwa jumhur ulama sepakat ibu hamil dan menyusui yang tidak shaum Ramadlan harus qadla, sebab shaum yang ditinggalkan gantinya pasti qadla jika faktanya yang bersangkutan masih mampu shaum. Imam as-Syafi’i dan Ahmad menambahkan juga harus fidyah jika ibu hamil dan menyusui itu tidak shaum karena takut atas anaknya sementara ibunya sendiri sehat, sebab yang seperti ini masuk kategori yuthiqunahu yang gantinya fidyah, di samping qadla akibat tidak shaumnya. Keharusan fidyah ini di madzhab Syafi’i juga semakin kuat jika faktanya qadla baru bisa dilaksanakan setelah datang Ramadlan berikutnya. Pendapat yang berbeda dikemukakan oleh Ibn ‘Abbas dan Ibn ‘Umar ra, keduanya memahami bahwa ibu hamil dan menyusui hanya wajib fidyah dan tidak perlu qadla.

Bagi yang memilih tarjih dari aspek mayoritas ulama tentu keharusan qadla bagi ibu hamil dan menyusui itu jadi pilihan. Bagi yang memilih ihtiyath tentu akan lebih selamat juga dengan fidyah, jika ibu yang bersangkutan sehat tetapi ia khawatir janin/bayinya sakit. Tetapi tidak dapat disalahkan juga yang memilih pendapat Ibn ‘Abbas dan Ibn ‘Umar yang hanya mengharuskan fidyah tanpa qadla, mengingat keduanya shahabat yang bisa dijadikan rujukan hukum. Yang terakhir ini pasti jadi pegangan yang memilih taisir (lebih mudah). Wal-‘Llahu A’lam.