Home > Aqidah > Puncak Cinta Ilahi

Puncak Cinta Ilahi

Puncak Cinta Ilahi

Cinta ilahi puncaknya dapat diraih oleh orang-orang yang mengorbankan harta dan nyawanya di jalan Allah swt secara shaffan (berbaris teratur). Bukan sebatas berkorban, melainkan berkorban secara benar, teratur, tertata, dan terorganisir secara rapi. Bukan hanya berkorban secara emosional tanpa ada manajemen yang baik, tetapi juga rasional menggunakan sistem leadership yang apik. Bukan juga malah mengorbankan jalan Allah swt demi keuntungan pribadi atau kepuasan duniawi.

Penegasan bahwa cinta Allah swt akan tercurah kepada orang-orang yang siap berkorban di jalan Allah swt secara shaffan tertuang dalam firman-Nya:

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِهِۦ صَفّٗا كَأَنَّهُم بُنۡيَٰنٞ مَّرۡصُوصٞ ٤

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (QS. as-Shaff [61] : 4).

Ayat di atas merupakan jawaban dari dua ayat sebelumnya:

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٢ كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٣

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan (QS. as-Shaff [61] : 2-3).

Maknanya, sebagaimana dijelaskan oleh shahabat Ibn ‘Abbas, bermula dari keinginan orang-orang beriman untuk ditunjukkan amal apa yang paling dicintai oleh Allah swt. Dia swt pun menegaskan bahwa amal tersebut adalah beriman dan berjihad di jalan-Nya. Ketika itu sebagian orang beriman merasa berat dan bahkan ada yang sampai enggan berjihad. Maka Allah swt menegur mereka dengan firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” Setelahnya Allah swt juga menegaskan: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Tafsir Ibn Katsir).

Ulama-ulama tafsir lainnya, sebagaimana dijelaskan al-Hafizh Ibn Katsir, menjelaskan bahwa ayat-ayat di atas ditujukan kepada orang-orang beriman yang ingin diberi izin untuk melawan orang-orang kafir yang menindas mereka. Ketika izin itu datang dan jihad fi sabilil-‘Llah pun diwajibkan, sebagian dari orang-orang beriman tersebut ada yang merasa berat dan enggan berjihad. Maka turunlah firman Allah swt dalam bagian awal surat as-Shaff di atas. Ayat-ayat tersebut semakna dengan ayat-ayat lainnya yang terdapat dalam surat Muhammad dan an-Nisa`:

وَيَقُولُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَوۡلَا نُزِّلَتۡ سُورَةٞۖ فَإِذَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ مُّحۡكَمَةٞ وَذُكِرَ فِيهَا ٱلۡقِتَالُ رَأَيۡتَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ يَنظُرُونَ إِلَيۡكَ نَظَرَ ٱلۡمَغۡشِيِّ عَلَيۡهِ مِنَ ٱلۡمَوۡتِۖ فَأَوۡلَىٰ لَهُمۡ ٢٠

Dan orang-orang yang beriman berkata: “Mengapa tiada diturunkan suatu surat?” Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka (QS. Muhammad [47] : 20).

أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ قِيلَ لَهُمۡ كُفُّوٓاْ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقِتَالُ إِذَا فَرِيقٞ مِّنۡهُمۡ يَخۡشَوۡنَ ٱلنَّاسَ كَخَشۡيَةِ ٱللَّهِ أَوۡ أَشَدَّ خَشۡيَةٗۚ وَقَالُواْ رَبَّنَا لِمَ كَتَبۡتَ عَلَيۡنَا ٱلۡقِتَالَ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنَآ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖۗ قُلۡ مَتَٰعُ ٱلدُّنۡيَا قَلِيلٞ وَٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّمَنِ ٱتَّقَىٰ وَلَا تُظۡلَمُونَ فَتِيلًا ٧٧ أَيۡنَمَا تَكُونُواْ يُدۡرِككُّمُ ٱلۡمَوۡتُ وَلَوۡ كُنتُمۡ فِي بُرُوجٖ مُّشَيَّدَةٖۗ

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat!” Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun. Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. an-Nisa` [4] : 77-78).

Sementara Muqatil ibn Hayyan, seorang mufassir dari generasi tabi’ tabi’in yang sezaman dengan tabi’in menjelaskan bahwa ayat ini merupakan teguran kepada orang-orang beriman yang lari dari musuh pada perang Uhud—ketika mendapatkan serangan balik dari orang kafir dan beredar isu bohong bahwa Nabi saw sudah meninggal. Padahal sebelumnya orang-orang beriman itu selalu mendiskusikan amal apa yang paling dicintai Allah swt dan Dia swt pun menegaskan bahwa itu adalah berjihad di jalan-Nya. Maka dari itu turunlah ayat 2-4 surat as-Shaff di atas (Tafsir Ibn Katsir).

Mufassir lainnya, sebagaimana dikutip oleh Ibn Katsir, menjelaskan bahwa ayat ini ditujukan kepada orang-orang munafiq yang mengatakan sudah ikut berperang, padahal tidak. Mereka mengatakan sudah membunuh musuh, padahal tidak. Atau juga orang-orang munafiq yang berjanji akan membantu kaum muslimin dalam jihad, tetapi mereka tidak membantu sama sekali. Kepada merekalah ayat ini ditujukan.

Penjelasan dari para mufassir di atas, meski ada perbedaan, tidak ada yang bertentangan, malah justru saling menguatkan. Sepanjang makna dari ayat umum, meski ada sebab-sebab yang khusus, maka makna yang diberlakukan tetap makna yang umum. Demikian kaidah tafsir yang disepakati para ulama. Dari uraian tafsir di atas bisa diambil beberapa point penting:

Pertama, ikrar keimanan belum sepenuhnya benar jika belum sepenuhnya teruji. Ujian iman yang paling puncak adalah jihad fi sabilil-‘Llah. Jihad makna syar’inya perang melawan musuh Allah. Hari ini perang tersebut bisa berbentuk perang senjata, perang pemikiran, perang media, perang ekonomi, perang budaya, dan sebagainya. Perang jenis apapun yang harus dilakukan, maka harus dilakukan, meski itu harus dengan mengangkat senjata dan dengan nyawa sebagai taruhannya. Dalam surat Muhammad, Allah swt mengingatkan:

وَلَنَبۡلُوَنَّكُمۡ حَتَّىٰ نَعۡلَمَ ٱلۡمُجَٰهِدِينَ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَنَبۡلُوَاْ أَخۡبَارَكُمۡ ٣١

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu (QS. Muhammad [47] : 31).

Kedua, keimanan yang benar termanifestasikan pada semangat yang tinggi untuk meraih cinta ilahi. Bukan hanya melalui amal yang biasa-biasa saja, melainkan berusaha mencapai amal luar biasa yang di sana cinta ilahi berada. Amal yang luar biasa itu puncaknya ada pada jihad fi sabilil-‘Llah. Maka seseorang yang beragama hanya sebatas mencapai keshalihan personal dan keluarga, belum sempurna imannya, selama ia tidak peduli dengan keshalihan sosial yang selalu terganggu oleh musuh-musuh Allah swt.

Ketiga, wujud iman sempurna yang termanifestasikan dalam jihad fi sabilil-‘Llah itu juga harus termanifestasikan secara benar dengan shaffan; teratur, tertata, terorganisir secara rapi, berdasar pada manajemen yang baik dan sistem leadership yang apik. Tanpa shaffan, jihad fi sabilil-‘Llah hanya menjadi isapan jempol semata.

Keempat, jihad fi sabilil-‘Llah seringkali melenceng menjadi “mengorbankan jalan Allah” untuk kepentingan pribadi dan prestise duniawi. Ikut aktif jihad di masjid, madrasah, ormas atau parpol Islam, tujuan sampingannya agar bisa hidup dari sana. Seringkali aktivitas tersebut dijadikan ajang menjalankan perusahaan “proposalindo”; mencari untung dari proposal-proposal yang diedarkan. Jika ini yang terjadi, bukannya cinta yang diraih, tetapi murka yang didapat. Mengaku berjihad, faktanya menumpang hidup. Mengaku berkorban, faktanya malah mengorbankan.

Wal-‘Llahul-Musta’an.