Home > Konsultasi Islam > Keluarga > Pernikahan Melalui Internet

Pernikahan Melalui Internet

Bismillah, Ustadz bagaimana hukumnya pernikahan melalui internet?

Jika yang dimaksud adalah pernikahan yang sesuai syari’at; terpenuhi rukun dan syaratnya, ada wali dan saksi-saksinya, hanya dilaksanakan dari jarak jauh dan untuk hari ini bisa melalui internet, maka hukumnya halal dan pernikahannya sah. Akan tetapi jika yang dimaksud adalah seperti yang sempat ramai tahun 2017 silam tentang “nikah sirri online” yang menyerupai praktik perzinaan online atau jual beli keperawanan perempuan (human trafficking) maka tentu hukumnya haram.

Pernikahan jarak jauh pernah diamalkan oleh Nabi Muhammad saw ketika beliau menikahi Ramlah binti Abi Sufyan atau yang dikenal dengan panggilan Ummu Habibah. Nabi Muhammad saw saat itu berada di Madinah sementara Ummu Habibah sedang hijrah di Habasyah/Ethiopia bersama rombongan Ja’far ibn Abi Thalib. Pernikahannya terjadi pada tahun 6/7 H. Nabi saw diwakili oleh Raja Habasyah/Najasyi dan maharnya pun diwakilkan pemberiannya oleh Najasyi sebesar 4.000 dirham/400 dinar (lk Rp. 1,26 miliar—dirham di zaman Nabi saw 10 kali lipat dinar. 4.000 dirham = 400 dinar. 1 dinar = 4,5 gram. Jika harga emas Rp. 700.000,- maka 400 dinar lk Rp. 1,26 miliar). Sementara wali nikah dari keluarga Ummu Habibah diwakili oleh Khalid ibn Sa’id ibn al-‘Ash yang merupakan saudara sepupunya. Dalam praktik akad nikahnya, Najasyi berkata:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ رَسولَ اللهِ ﷺ كَتَبَ إِلَيَّ أَنْ أُزَوِّجَهُ أُمَّ حَبِيْبَةَ فَأَجَبْتُ، وَقَدْ أَصْدَقْتُهَا عَنْهُ أَرْبَعَمِائَةِ دِيْنَارٍ

Amma ba’du. Sungguh Rasulullah saw menulis surat kepadaku agar aku menikahkan beliau kepada Ummu Habibah, maka aku pun memenuhi permintannya. Dan aku berikan mas kawin atas nama beliau sebanyak 400 dinar.

Selanjutnya Khalid ibn Sa’id ibn al-‘Ash berkata:

قَدْ أَجَبْتُ إِلَى مَا دَعَا إِلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ وَزَوَّجْتُهُ أُمَّ حَبِيْبَةَ

Sungguh aku terima apa yang dimohonkan oleh Rasulullah saw dan aku menikahkan beliau kepada Ummu Habibah (al-Hafizh Ibn Hajar dalam al-Ishabah fi Tamyizis-Shahabah, jilid 8, hlm. 140-141).

al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan juga, Ummu Habibah semula hijrah ke Habasyah bersama suami pertamanya, ‘Ubaidullah ibn Jahsy, sampai melahirkan Habibah di Habasyah. Tetapi kemudian Ibn Jahsy murtad dan mati di Habasyah dalam keadaan kafir (al-Ishabah fi Tamyizis-Shahabah 8 : 140-141). Ummu Habibah ra menjelaskan pernikahannya sebagai berikut:

عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ، أَنَّهَا كَانَتْ تَحْتَ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ جَحْشٍ، وَكَانَ أَتَى النَّجَاشِيَّ فَمَاتَ، وَإِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ تَزَوَّجَ أُمَّ حَبِيبَةَ وَإِنَّهَا بِأَرْضِ الْحَبَشَةِ، زَوَّجَهَا إِيَّاهُ النَّجَاشِيُّ وَمَهَرَهَا أَرْبَعَةَ آلَافٍ، ثُمَّ جَهَّزَهَا مِنْ عِنْدِهِ، وَبَعَثَ بِهَا إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ مَعَ شُرَحْبِيلَ ابْنِ حَسَنَةَ، وَجِهَازُهَا كُلُّهُ مِنْ عِنْدِ النَّجَاشِيِّ، وَلَمْ يُرْسِلْ إِلَيْهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ بِشَيْءٍ

Dari Ummu Habibah, bahwasanya ia pernah menjadi istri ‘Ubaidullah ibn Jahsy. Ia (suaminya) ikut hijrah ke Najasyi, tetapi kemudian meninggal di sana. Kemudian sungguh Rasulullah saw menikahi Ummu Habibah ketika ia masih di Habasyah. Yang menikahkannya kepada Rasulullah saw adalah Najasyi dan ia memberi mahar 4.000 dirham. Kemudian Najasyi mempersiapkan Ummu Habibah olehnya sendiri. Kemudian mengirimkan Ummu Habibah kepada Rasulullah saw dengan dikawal oleh Syurahbil ibn Hasanah. Semua perlengkapannya berasal dari Najasyi, Rasulullah saw tidak mengirimkan sedikit pun untuk itu (Musnad Ahmad bab wa min hadits Ummi Habibah no. 27408).

Dengan demikian, pernikahan jarak jauh baik itu melalui surat dan kemudian diwakilkan, ataupun langsung melalui video streaming, teleconference, atau panggilan video, semuanya boleh dilakukan, sepanjang rukun dan syarat nikah dipenuhi sebagaimana dituntun oleh syari’at. wal-‘Llahu a’lam.