Akhlaq

Penyebab Hati Susah Tadabbur

Penyebab Hati Susah Tadabbur

Tadabbur al-Qur`an kuncinya ada di hati. Membaca al-Qur`an dengan hati. Menghafal al-Qur`an dengan hati. Mendalami ilmu al-Qur`an dengan hati. Tetapi masalahnya seringkali hati susah untuk dihadirkan dalam tadabbur al-Qur`an. Apa penyebabnya?

Kunci tadabbur al-Qur`an yang terletak di hati, ditegaskan oleh Allah swt dalam firman-Nya:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ أَمۡ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقۡفَالُهَآ 

Maka apakah mereka tidak tadabbur al-Qur`an ataukah hati mereka terkunci? (QS. Muhammad [47] : 24)

Ada beberapa sebab hati terkunci sehingga mati rasa ketika berinteraksi dengan al-Qur`an. Yang paling utama adalah hati yang masih lebih mencintai dunia dibanding akhirat. Sifat malas, abai dari penghayatan, acuh tak acuh dengan peringatan al-Qur`an, itu semuanya datang dari hati yang masih terlalu antusias pada hiburan duniawi atau bernafsu pada kekayaan, jabatan, dan prestise. Obat dari virus gila dunia ini adalah kesadaran tingkat tinggi bahwa dunia hanya sementara; kesenangan duniawi hanya menipu karena tidak pernah memuaskan melainkan selalu menuntut lebih dan melelahkan; yang terbaik itu adalah akhirat karena lebih kekal, abadi, sekaligus lebih menenteramkan; dunia itu sudah ada jatahnya dari Allah swt maka tinggal berusaha sewajarnya tanpa mengorbankan akhirat, disertai tawakkal sehingga tidak ada nafsu berlebih.

Allah swt mengingatkan dalam surat an-Nahl tentang penyebab orang-orang dikunci mati hatinya karena kecintaan dunia yang terlampau besar:

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ ٱسۡتَحَبُّواْ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا عَلَى ٱلۡأٓخِرَةِ وَأَنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡكَٰفِرِينَ  ١٠٧ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ طَبَعَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ وَسَمۡعِهِمۡ وَأَبۡصَٰرِهِمۡۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡغَٰفِلُونَ  ١٠٨ لَا جَرَمَ أَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ  ١٠٩

Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai. Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi (QS. an-Nahl [16] : 107-109).

Dalam surat al-Jatsiyah, Allah swt menyebut orang-orang yang dikunci mati hatinya tersebut karena hawa nafsu yang terlampau tinggi:

أَفَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلۡمٖ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمۡعِهِۦ وَقَلۡبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةٗ فَمَن يَهۡدِيهِ مِنۢ بَعۡدِ ٱللَّهِۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ  ٢٣

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS. al-Jatsiyah [45] : 23)

Dampak hati yang dikunci mati sebagaimana ditegaskan ayat di atas adalah lalai. Akibatnya mau diingatkan ataupun tidak diingatkan sama saja tidak ada pengaruhnya. Membaca al-Qur`an apalagi tidak membaca, sama saja tidak ada dampaknya pada hati. Hadir di ibadah jum’atan apalagi tidak, sama saja tidak ada pengaruhnya pada hati. Sawa`un ‘alaihim a andzartahum am lam tundzirhum la yu`minun (QS. al-Baqarah [2] : 7). Bahkan kalaupun hadir di majelis ta’lim hatinya tetap tidak bisa terbuka menerima siraman al-Qur`an, malah berani memperolok-oloknya.

وَمِنۡهُم مَّن يَسۡتَمِعُ إِلَيۡكَ حَتَّىٰٓ إِذَا خَرَجُواْ مِنۡ عِندِكَ قَالُواْ لِلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ مَاذَا قَالَ ءَانِفًاۚ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ طَبَعَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ وَٱتَّبَعُوٓاْ أَهۡوَآءَهُمۡ  ١٦

Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu orang-orang berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): “Apakah yang dikatakannya tadi?” Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka (QS. Muhammad [47] : 16).

Dalam surat al-A’raf, Allah swt menyamakan orang-orang yang hatinya terkunci ini seperti anjing, yang tidak ada bedanya apakah dihalau atau dibiarkan tetap saja menjulurkan lidahnya. Padahal ayat-ayat Allah swt sudah menghampiri orang tersebut, tetapi hawa nafsu yang terlampau tinggi menjadikannya seperti anjing.

 وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ ٱلَّذِيٓ ءَاتَيۡنَٰهُ ءَايَٰتِنَا فَٱنسَلَخَ مِنۡهَا فَأَتۡبَعَهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَكَانَ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ  ١٧٥ وَلَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنَٰهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُۥٓ أَخۡلَدَ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُۚ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلۡكَلۡبِ إِن تَحۡمِلۡ عَلَيۡهِ يَلۡهَثۡ أَوۡ تَتۡرُكۡهُ يَلۡهَثۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِاٰيٰتِنَاۚ فَٱقۡصُصِ ٱلۡقَصَصَ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ  ١٧٦

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir (QS. al-A’raf [7] : 175-176).

Obat dari virus hati ini adalah batasi dengan ketat dari memandang dan berangan-angan hal-hal duniawi dan sadari sepenuhnya bahwa akhirat lebih baik dan kekal, sehingga ini yang harus dijadikan target utama dalam kehidupan.

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيۡنَيۡكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعۡنَا بِهِۦٓ أَزۡوَٰجٗا مِّنۡهُمۡ زَهۡرَةَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا لِنَفۡتِنَهُمۡ فِيهِۚ وَرِزۡقُ رَبِّكَ خَيۡرٞ وَأَبۡقَىٰ  ١٣١

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal (QS. Thaha [20] : 131).

Langkah selanjutnya sebagaimana difirmankan dalam ayat selanjutnya adalah tingkatkan kualitas shalat diri dan keluarga sekaligus menguatkan sabar dalam menjalaninya. Hal ini penting untuk semakin menguatkan hubungan hati dengan Allah swt, karena hanya dengan dzikir kepada Allah swt hati bisa merasa tenteram.

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ  ٢٨

(Orang-orang yang kembali kepada Allah itu adalah) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram (QS. ar-Ra’d [13] : 28)

Langkah lainnya adalah tinggalkan atau kurangi secara drastis hiburan-hiburan yang sifatnya sandiwara atau bohong-bohongan karena akan menyebabkan hati lalai. Akibatnya hati akan selalu lalai dari menghayati ayat-ayat Allah swt dan nyaris tidak bisa khusyu’.

وَٱلَّذِينَ لَا يَشۡهَدُونَ ٱلزُّورَ وَإِذَا مَرُّواْ بِٱللَّغۡوِ مَرُّواْ كِرَامٗا  ٧٢ وَٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُواْ بِاٰيٰتِ رَبِّهِمۡ لَمۡ يَخِرُّواْ عَلَيۡهَا صُمّٗا وَعُمۡيَانٗا  ٧٣

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu (atau menyaksikan hal-hal yang palsu), dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta (QS. al-Furqan [25] : 72-73)

Dipertentangkannya antara laghwu dan dzikir merupakan ajaran syari’at bahwa orang-orang yang tidak akan abai dari dzikir adalah mereka yang berhasil melepaskan diri dari hal-hal yang penuh kepalsuan dan tidak berfaidah. Ajaran ini dipertegas lagi dalam QS. Luqman [31] : 6-7 yang mempertentangkan perkataan yang melalaikan (lagu/dongeng/humor/film) dengan ayat-ayat Allah swt. Atau dalam QS. Yasin [36] : 69 yang mempertentangkan antara al-Qur`an dan sya’ir. Demikian juga dalam QS. as-Syu’ara [26] bagian akhir yang memperlawankan antara al-Qur`an dengan karya-karya sya’ir (prosa, puisi, atau lagu). Semua ayat di atas menuntut komitmen yang serius dari setiap muslim untuk banyak menghindar dari hiburan yang melalaikan sehingga bisa fokus menghayati peringatan-peringatan Allah swt. Wal-‘Llahu a’lam