Home > Konsultasi Islam > Ibadah Umum > Pengumuman Sebelum Khutbah Jum’at

Pengumuman Sebelum Khutbah Jum’at

Pengumuman-Sebelum-Khutbah-Jum’at

Bismillah, bagaimana hukumnya mengumandangkan pengumuman sebelum khutbah Jum’at? 08522050xxxx

Larangan yang bentuknya langsung disabdakan Nabi saw, belum pernah kami temukan. Yang ada juga larangan dari Nabi saw untuk tahalluq; duduk melingkar atau membuat halaqah (riungan) sebelum shalat Jum’at. Adapun dalilnya:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ نَهَى عَنِ التَّحَلُّقِ قَبْلَ الصَّلاَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ

Dari ‘Abdullah ibn ‘Amr: “Sungguh Rasulullah saw melarang tahalluq sebelu shalat pada hari Jum’at.” (Sunan Abi Dawud bab at-tahalluq yaumal-Jumu’ah qablas-shalat no. 1081. Al-Albani: Hadits hasan).

Dalam kitab ‘Aunul-Ma’bud syarah Sunan Abu Dawud, Imam al-‘Azhim Abadi menjelaskan:

التَّحَلُّق : الْحَلْقَة وَالِاجْتِمَاع لِلْعِلْمِ وَالْمُذَاكَرَة

Tahalluq: Riungan dan kumpulan untuk kajian ilmu dan dzikir.

Imam al-‘Azhim Abadi kemudian mengutip penjelasan dari Imam al-Khaththabi sebagai berikut:

قَالَ الْخَطَّابِيُّ: إِنَّمَا كَرِهَ الِاجْتِمَاع قَبْل الصَّلَاة لِلْعِلْمِ وَالْمُذَاكَرَة، وَأَمَرَ أَنْ يَشْتَغِل بِالصَّلَاةِ وَيُنْصِت لِلْخُطْبَةِ وَالذِّكْر فَإِذَا فَرَغَ مِنْهَا كَانَ الِاجْتِمَاع وَالتَّحَلُّق بَعْد ذَلِكَ

Al-Khaththabi menjelaskan: “Sungguh beliau membenci berkumpul sebelum shalat Jum’at untuk kajian ilmu dan dzikir karena beliau memerintah untuk menyibukkan diri dengan shalat, menyimak khutbah dan berdzikir. Jika shalat telah selesai maka kumpulan dan riungannya boleh diadakan sesudah itu.

Memang ada ulama, seperti at-Thahawi, yang menyatakan boleh tahalluq asalkan tidak mengganggu shaf jama’ah Jum’atan. Akan tetapi pendapat ini dibantah oleh al-‘Azhim Abadi dengan menegaskan bahwa jumhur ulama sepakat untuk mengamalkan hadits di atas tanpa terkecuali, mengingat Nabi saw telah memerintahkan jama’ah Jum’atan untuk datang pada awal waktu, memenuhi shaf yang paling depan terdahulu, duduk berbaris ke samping (bershaf) dan merapatkan barisannya tersebut. Jika ada tahalluq, otomatis akan mengacaukan perintah Nabi saw tersebut.

Terlepas dari perdebatan apakah pengumuman dari DKM sebelum khutbah dan shalat Jum’at termasuk tahalluq yang dilarang atau bukan, hemat kami sebaiknya pengumuman seperti itu disampaikan setelah shalat Jum’at atau lewat selebaran, agar jama’ah Jum’at bisa fokus mengamalkan perintah Nabi saw untuk menyibukkan diri dengan shalat sunat intizhar sampai imam/khatib naik mimbar. Wal-Lahu a’lam.