Home > Akhlaq > Para Kekasih Nabi saw Bagian ke-3

Para Kekasih Nabi saw Bagian ke-3

Para Kekasih Nabi saw Bagian ke-3

(Bagian Ketiga: Shalat Witir sebelum Tidur)

Selain diberi wasiat untuk merutinkan shaum sunat minimal tiga hari setiap bulan dan dua raka’at shalat Dluha, para kekasih Nabi saw; Abu Hurairah, Abu Dzar, dan Abud-Darda`, juga diberi wasiat untuk shalat witir sebelum tidur. Apakah itu berarti witir boleh diawalkan dalam rangkaian shalat tahajjud? Apakah itu juga berarti witir di awal malam lebih utama daripada di akhir malam?

Shalat witir adalah shalat dengan raka’at ganjil sebagai pelengkap shalat malam (qiyamul-lail/shalat tahajjud). Shalat malam selalu Nabi saw perintahkan untuk dilengkapi dengan witir. Sementara witir saja tanpa shalat malam yang genap diperbolehkan jika memang waktunya terbatas.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلاً جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ وَهُوَ يَخْطُبُ فَقَالَ كَيْفَ صَلَاةُ اللَّيْلِ فَقَالَ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ تُوتِرُ لَكَ مَا قَدْ صَلَّيْتَ

Dari Ibn ‘Umar, sesungguhnya seseorang datang kepada Nabi saw ketika beliau khutbah. Ia bertanya: “Bagaimana shalat malam itu?” Beliau menjawab: “Dua raka’at, dua raka’at. Jika kamu takut shubuh maka witirlah satu raka’at yang akan mewitirkan untukmu shalat yang sudah kamu kerjakan.” (Shahih al-Bukhari kitab al-witr bab ma ja`a fil-witr no. 990; Shahih Muslim kitab shalatil-musafirin bab shalatul-lail matsna matsna no. 1782)

Hadits ini dikategorikan oleh para ulama sebagai satu-satunya hadits yang paling otoritatif dalam menjelaskan shalat malam, sebab merupakan sabda Nabi saw langsung, bukan sebagaimana umumnya hadits-hadits tentang shalat malam yang merupakan laporan shahabat atas pengamalan shalat malam Nabi saw. Di samping itu kedudukannya sebagai jawaban dari pertanyaan juga menjadikannya sebagai hadits yang paling otoritatif, sehingga Imam Malik sampai menilainya hashr (jadi satu-satunya dalil yang harus dijadikan pegangan dalam hal cara melaksanakan shalat malam tanpa ada alternatif lainnya). Meski demikian, al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan bahwa jumhur ulama memahaminya sebagai afdlal (yang lebih utama) dibanding hadits-hadits lainnya, sebab ada juga hadits lain yang shahih yang menjelaskan praktik shalat malam Rasul saw dengan sedikit perbedaan (Fathul-Bari bab ma ja`a fil-witr). Dalam hadits di atas diketahui dengan jelas bahwa shalat malam itu terdiri dari raka’at yang genap dan ganjil. Dan sabda Nabi saw: “mewitirkan untukmu shalat yang sudah kamu kerjakan”, menunjukkan bahwa shalat malam itu harus dilengkapi dengan witir.

Witir satu raka’at yang disebutkan Nabi saw di atas bukan satu-satunya cara, mengingat Nabi saw juga pernah bersabda:

الْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ

Witir itu haq (yang harus dipenuhi) oleh setiap muslim. Siapa yang mau witir lima raka’at, silahkan. Yang mau witir tiga raka’at, silahkan. Yang mau witir satu raka’at, silahkan (Sunan Abi Dawud bab kam al-witr no. 1422; Sunan an-Nasa`i bab kaifal-witr bi tsalats no. 1710-1713; Sunan Ibn Majah bab ma ja`a fil-witr bi tsalats no. 1190).

Cara witir lima raka’at itu tentu dengan lima raka’at langsung dengan salam di akhir. Jika dilaksanakan 2-3, berarti yang dihitung witirnya 3. Atau jika 2-2-1, berarti yang dihitung witirnya 1. ‘Aisyah ra pernah menjelaskan:

كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْسٍ لاَ يَجْلِسُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ فِى آخِرِهَا

Rasulullah saw pernah shalat malam tiga belas raka’at dan witirnya lima raka’at. Beliau tidak duduk (tasyahhud) pada satu raka’at pun kecuali pada raka’at terakhirnya (Shahih Muslim bab shalatul-lail wa ‘ada raka’atin-Nabi saw no. 1754).

Hadits Ibn ‘Umar di atas juga menunjukkan perintah Nabi saw untuk menempatkan witir di akhir shalat malam. Dalam kesempatan lain, masih dari Ibn ‘Umar, Nabi saw memerintahkan:

اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا

Jadikanlah akhir shalat malam kalian witir (Shahih al-Bukhari bab li yaj’al akhira shalatihi witran no. 998).

Dua hadits Ibn ‘Umar di atas tidak menunjukkan bahwa witir harus selalu di akhir malam, sebab faktanya Nabi saw pernah melaksanakannya di pertengahan shalat malam atau pernah sesudah witirnya beliau shalat dua raka’at sambil duduk. Dalil-dalil yang terakhir ini menurut Imam an-Nawawi menunjukkan bolehnya tidak menjadikan witir sebagai bagian akhir shalat malam. Perintah Nabi saw dalam hadits Ibn ‘Umar pun harus dipahami sebagai perintah afdlaliyyah. Artinya lebih utama witir itu di akhir malam, dan memang mayoritas hadits tentang shalat malam Rasulullah saw menginformasikan pelaksanaan witir di akhir malam.

Hadits yang menginformasikan bahwa Nabi saw pernah witir di pertengahan shalat malam disampaikan oleh Ibn ‘Abbas ra:

فَصَلَّى النَّبِيُّ ﷺ الْعِشَاءَ ثُمَّ جَاءَ إِلَى مَنْزِلِهِ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ نَامَ ثُمَّ قَامَ ثُمَّ قَالَ نَامَ الْغُلَيِّمُ أَوْ كَلِمَةً تُشْبِهُهَا ثُمَّ قَامَ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ فَصَلَّى خَمْسَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ

Nabi saw shalat ‘Isya, kemudian pulang ke rumahnya lalu shalat 4 raka’at. Kemudian beliau tidur lalu bangun (tengah malam) dan berkata: “Anak kecil (Ibn ‘Abbas) telah tidur.” Atau kata-kata yang seperti itu (mengira Ibn ‘Abbas tidur, padahal tidak). Kemudian beliau shalat dan aku pun shalat di sebelah kirinya. Tetapi beliau menarikku ke sebelah kanannya. Beliau lalu shalat 5 raka’at, kemudian shalat 2 raka’at (Shahih al-Bukhari bab as-samar fil-‘ilm no. 117).

‘Aisyah ra juga pernah menginfomasikan:

كَانَ يُصَلِّى ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى ثَمَانَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ يُوتِرُ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَرَكَعَ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالإِقَامَةِ مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ

Beliau shalat 13 raka’at, yaitu beliau shalat 8 raka’at, kemudian witir, kemudian shalat dua raka’at sambil duduk. Apabila beliau akan ruku’ beliau berdiri lalu ruku’. Kemudian beliau shalat dua raka’at antara adzan dan iqamat shalat shubuh (Shahih Muslim bab shalatul-lail wa ‘ada raka’atin-Nabi saw no. 1758).

Wasiat Nabi saw kepada Abu Hurairah, Abu Dzar, dan Abud-Darda` di atas juga menunjukkan bahwa witir bisa diawalkan. Tentunya tidak berarti bahwa itu juga lebih utama dirutinkan. Berbeda dengan shaum tiga hari setiap bulan dan shalat dluha yang memang dianjurkan untuk dirutinkan karena tidak ada dalil yang menyanggahnya. Khusus shalat witir di awal malam ini ada dalil yang menunjukkan sebaliknya, sehingga sebaiknya tidak dirutinkan. Witirnya memang harus dirutinkan (sunnah muakkadah; sunat yang sangat ditekankan), tetapi di awal malamnya tidak harus. Dalam hadits Jabir ra, Nabi saw menjelaskan bahwa shalat witir di awal malam itu diperuntukkan bagi mereka yang takut tidak bangun di akhir malam. Bagi yang sanggup bangun di akhir malam, maka shalat di akhir malam lebih utama:

مَنْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ فَإِنَّ صَلاَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ

Siapa yang takut tidak bisa bangun akhir malam, witirlah pada awal malam. Siapa yang yakin mampu bangun akhir malam, maka witirlah akhir malam, karena sungguh akhir malam itu disaksikan, dan itu lebih utama (Shahih Muslim kitab shalatil-musafirin bab man khafa alla yaquma akhiral-lail no. 1802).

Maka dari itu, wasiat Nabi saw kepada tiga orang shahabat di atas tentunya terkait kekhawatiran Nabi saw bahwa mereka tidak mampu shalat di akhir malam. Mungkin karena para kekasih Nabi saw itu orang-orang yang selalu bekerja atau belajar keras di waktu siang dan awal malamnya, sehingga Nabi saw menganjurkan kepada ketiganya untuk shalat witir di awal malam.

Dalam hal ini tidak perlu jadi kebingungan apakah anjuran witir di awal malam itu lengkap dengan shalat malam yang genapnya, ataukah witirnya saja lalu yang genapnya diakhirkan. Kedua-duanya tidak ada larangan dan tidak ada dalil yang mengharuskan salah satunya. Jadi kedua-duanya dibolehkan. Semua raka’at shalat malam (11 raka’at) dilaksanakan di awal malam sebagaimana tarawih, diperbolehkan; demikian juga witir saja dahulu, lalu raka’at genapnya diakhirkan, ini juga diperbolehkan. Sebab witir bukan penutup mutlak dari shalat malam, sehingga ketika witir sudah dilaksanakan bukan berarti shalat malam harus selesai. Tetap boleh diamalkan di akhir malam meski witirnya di awal malam. Al-Hafizh Ibn Hajar menuliskan atsar Ibn ‘Umar dalam Fathul-Bari sebagai berikut:

عَنْ اِبْن عُمَر أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ : أَمَّا أَنَا فَأُصَلِّي مَثْنَى، فَإِذَا اِنْصَرَفْت رَكَعْت رَكْعَة وَاحِدَة . فَقِيلَ : أَرَأَيْت إِنْ أَوْتَرْت قَبْل أَنْ أَنَام ثُمَّ قُمْت مِنْ اللَّيْل فَشَفَعْت حَتَّى أُصْبِح؟ قَالَ : لَيْسَ بِذَلِكَ بَأْس

Dari Ibn ‘Umar, bahwasanya ia ditanya tentang itu (witir). Ia menjelaskan: “Adapun saya, maka saya shalat dua raka’at dua raka’at. Jika saya akan mengakhiri, maka saya shalat satu raka’at.” Ia ditanya lagi: “Bagaimana jika saya witir sebelum tidur lalu shalat malam yang genapnya (sesudah tidur) sampai shubuh?” Ibn ‘Umar menjawab: “Tidak apa-apa.” (Fathul-Bari bab ma ja`a fil-witr)

Shahabat Abu Hurairah sendiri mengamalkan sebagai berikut:

إِذَا صَلَّيْتُ الْعِشَاءَ صَلَّيْتُ بَعْدَهَا خَمْسَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ أَنَامُ، فَإِنْ قُمْتُ مِنَ اللَّيْلِ صَلَّيْتُ مَثْنَى مَثْنَى، فَإِنْ أَصْبَحْتُ أَصْبَحْتُ عَلَى وِتْرٍ

Jika saya shalat ‘isya maka saya shalat witir sesudahnya lima raka’at. Kemudian saya tidur. Jika saya sempat bangun di akhir malam, saya shalat dua raka’at dua raka’at. Jika saya bangun pas waktu shubuh, saya bangun dalam keadaan sudah witir (as-Sunanul-Kubra al-Baihaqi kitab shalatil-musafirin bab man qala la yanqudlul-qa`im minal-lail witrahu no. 4847).

Dalam konteks fiqih witir di awal malam ini dikenal istilah naqdlul-witir; membatalkan witir. ‘Ali ra menjelaskan maksud “membatalkan witir” itu adalah shalat satu raka’at sesudah bangun tidur di tengah/akhir malam untuk menggenapkan witir awal malam, lalu shalat malam, lalu witir lagi di akhirnya. Shahabat yang mempraktikkan “pembatalan witir” ini adalah ‘Ali ibn Abi Thalib dan Ibn ‘Umar (as-Sunanul-Kubra al-Baihaqi kitab shalatil-musafirin bab man qala la yanqudlul-qa`im minal-lail witrahu no. 4845 dan 4850).

Sa’id ibn al-Musayyib menjelaskan:

كَانَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ يُوتِرُ أَوَّلَ اللَّيْلِ، فَإِذَا قَامَ نَقَضَ وِتْرَهُ، ثُمَّ صَلَّى ثُمَّ أَوْتَرَ آخِرَ صَلَاتِهِ أَوَاخِرَ اللَّيْلِ، وَكَانَ عُمَرُ يُوتِرُ آخِرَ اللَّيْلِ، وَكَانَ خَيْرًا مِنِّي وَمِنْهُمَا أَبُو بَكْرٍ يُوتِرُ أَوَّلَ اللَّيْلِ وَيَشْفَعُ آخِرَهُ يُرِيدُ بِذَلِكَ يُصَلِّي مَثْنَى مَثْنَى، وَلَا يَنْقُضُ وِتْرَهُ

‘Abdullah ibn ‘Umar witir di awal malam. Apabila beliau bangun (shalat malam) beliau membatalkan witirnya, lalu shalat malam, lalu witir di akhir shalat di akhir malam. Sementara ‘Umar witir di akhir malam saja. Dan yang lebih baik dariku dan mereka berdua adalah Abu Bakar. Beliau witir di awal malam, kemudian melaksanakan raka’at yang genap di akhir malam, yakni shalat dua raka’at-dua raka’at tanpa membatalkan witirnya (as-Sunanul-Kubra al-Baihaqi kitab shalatil-musafirin bab man qala la yanqudlul-qa`im minal-lail witrahu no. 4845).

Akan tetapi praktik naqdlul-witir ditentang oleh ‘Aisyah, Ibn ‘Abbas, dan ‘A`idz ibn ‘Amr. Imam as-Syafi’i juga menentangnya (as-Sunanul-Kubra al-Baihaqi kitab shalatil-musafirin bab man qala la yanqudlul-qa`im minal-lail witrahu). Al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan, karena memang bertentangan dengan hadits yang melarang witir dua kali dalam satu malam. Shahabat Thalq ibn ‘Ali menjelaskannya dengan praktik konkrit:

عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقٍ قَالَ زَارَنَا طَلْقُ بْنُ عَلِىٍّ فِى يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ وَأَمْسَى عِنْدَنَا وَأَفْطَرَ ثُمَّ قَامَ بِنَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ وَأَوْتَرَ بِنَا ثُمَّ انْحَدَرَ إِلَى مَسْجِدِهِ فَصَلَّى بِأَصْحَابِهِ حَتَّى إِذَا بَقِىَ الْوِتْرُ قَدَّمَ رَجُلاً فَقَالَ أَوْتِرْ بِأَصْحَابِكَ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ لاَ وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ

Dari Qais ibn Thalq, ia berkata: Thalq ibn ‘Ali berkunjung ke rumah kami pada satu hari di bulan Ramadlan. Beliau ada di tempat kami sampai sore hari dan berbuka. Kemudian beliau shalat malam (tarawih) mengimami kami pada malam tersebut dan shalat witir. Kemudian beliau pulang ke masjidnya, dan shalat malam (tarawih) lagi bersama jama’ahnya. Sampai ketika tinggal tersisa witirnya, beliau menyuruh seseorang untuk maju menjadi imam dan berkata: “Witirlah kamu bersama sahabat-sahabat kamu, karena sungguh aku mendengar Rasulullah saw bersabda: ‘Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam’.” (Sunan Abi Dawud bab fi naqdlil-witr no. 1441. Al-Albani: Shahih).

Maksudnya, jika naqdlul-witir itu diamalkan, jadinya witir tiga kali; di awal malam, di awal bangun malam, dan di akhir shalat malam. Dua saja tidak boleh, apalagi tiga. Maka dari itu, bagi yang witirnya di awal malam dan belum shalat malam yang genapnya, nanti di akhir malam jika ada waktu untuk shalat malam cukup melaksanakan yang genapnya dan tidak boleh mengulang lagi witirnya.

Wal-‘Llahu a’lam.