Home > Akhlaq > Para Kekasih Nabi saw Bagian ke-2

Para Kekasih Nabi saw Bagian ke-2

Para Kekasih Nabi saw Bagian ke-2

Abu Hurairah, Abu Dzar dan Abud-Darda` sama-sama diberi wasiat oleh Nabi saw untuk merutinkan shaum sunat minimal tiga hari setiap bulan, dua raka’at shalat Dluha, dan shalat witir sebelum tidur. Para kekasih Nabi saw tersebut diberi wasiat yang sama untuk diamalkan secara rutin. Para kekasih Nabi saw di zaman ini sudah tentu harus berusaha maksimal untuk turut pula merutinkannya.

Shalat Dluha adalah shalat sunat yang diselenggarakan di waktu dluha. Waktu dluha itu sendiri mulai dari terbit matahari sampai menjelang zhuhur. Tetapi waktu yang paling utama untuk pelaksanaan shalat Dluha adalah ketika matahari mulai terasa panas sinarnya atau menyongsong waktu zhuhur. Jika diukurkan pada jam hari ini sekitar jam 10.00-11.30. Ini didasarkan pada hadits-hadits Nabi saw berikut ini:

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ خَرَجَ عَلَى قَوْمٍ وَهُمْ يُصَلُّونَ الضُّحَى فِي مَسْجِدِ قُبَاءَ حِينَ أَشْرَقَتِ الشَّمْسُ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ إِذَا رَمِضَتِ الْفِصَالُ

Dari Zaid ibn Arqam: Sesungguhnya Rasulullah saw keluar menuju satu kaum yang sedang shalat di masjid Quba selepas terbit matahari, maka Rasulullah saw bersabda: “Shalat orang-orang yang ahli taubat itu adalah ketika anak-anak unta kepanasan.” (Shahih Ibn Khuzaimah bab istihbab ta`khir shalatid-dluha [dianjurkan mengakhirkan shalat dluha] no. 1227)

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ أَنَّهُ رَأَى نَاسًا جُلُوسًا إِلَى قَاصٍّ فَلَمَّا طَلَعَتِ الشَّمْسُ ابْتَدَرُوا السَّوَارِيَ يُصَلُّونَ فَقَالَ زَيْدُ بْنُ أَرْقَمَ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ إِذَا رَمِضَتِ الْفِصَالُ

Dari Zaid ibn Arqam, bahwasanya ia melihat orang-orang sedang duduk menyimak seseorang yang sedang berbicara. Ketika terbit matahari, mereka segera menuju tiang-tiang masjid melaksanakan shalat. Zaid ibn Arqam berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Shalat orang-orang yang ahli taubat itu adalah ketika anak-anak unta kepanasan.” (as-Sunanul-Kubra al-Baihaqi bab man istahabba ta`khiraha hatta tarmidlul-fishal [yang menganjurkan shalat dluha diakhirkan sampai anak-anak unta kepanasan] no. 4909).

عن زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ أَنَّهُ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلاَةَ فِى غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ. إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

Dari Zaid ibn Arqam, bahwasanya ia melihat beberapa orang shalat Dluha, lalu ia berkata: “Tidakkah mereka tahu bahwa shalat di selain waktu ini lebih utama!? Sebab sungguh Rasulullah saw bersabda: “Shalat orang-orang yang ahli taubat itu ketika anak-anak unta kepanasan oleh batu kerikil yang panas akibat terik matahari.” (Shahih Muslim bab shalatil-awwabin hina tarmidul-fishal no. 1780).

Ketiga riwayat di atas yang bersumber dari seorang shahabat; Zaid ibn Arqam, menginformasikan dua kejadian yang mirip. Terkait orang-orang Quba yang shalat Dluha di awal waktu ketika matahari baru terbit, dan itu dialami oleh Rasulullah saw dan Zaid ibn Arqam di dua waktu yang berbeda. Ketika melihat kejadian tersebut Rasulullah saw menganjurkan agar shalat Dluha dilaksanakan lebih siang, demikian halnya Zaid ibn Arqam mengingatkan kembali sabda Rasul saw terkait shalat Dluha agar dilaksanakan lebih siang. Meski itu tidak berarti bahwa shalat Dluha di awal waktu terlarang, sebab Nabi saw dan Zaid ibn Arqam juga tidak melarangnya. Dalam hal ini Imam an-Nawawi menjelaskan:

وَالرَّمْضَاء: الرَّمَل الَّذِي اِشْتَدَّتْ حَرَارَته بِالشَّمْسِ أَيْ حِين يَحْتَرِق أَخْفَاف الْفِصَال وَهِيَ الصِّغَار مِنْ أَوْلَاد الْإِبِل جَمْع فَصِيل مِنْ شِدَّة حَرّ الرَّمَل. وَالْأَوَّاب: الْمُطِيع، وَقِيلَ: الرَّاجِع إِلَى الطَّاعَة. وَفِيهِ: فَضِيلَة الصَّلَاة هَذَا الْوَقْت. قَالَ أَصْحَابنَا: هُوَ أَفْضَل وَقْت صَلَاة الضُّحَى وَإِنْ كَانَتْ تَجُوز مِنْ طُلُوع الشَّمْس إِلَى الزَّوَال

Ramdla itu batu kerikil yang panas karena tersinari matahari, atau ketika kaki anak-anak unta merasa terbakar karena sangat panasnya batu kerikil. Sedangkan awwab artinya orang yang taat atau kembali pada ketaatan. Ini jadi dalil keutamaan shalat Dluha pada waktu ini. Para ulama madzhab kami (Syafi’i) berkata: Itu adalah waktu terbaik shalat Dluha, meski boleh dari sejak terbit matahari sampai tergelincir [zhuhur] (Syarah an-Nawawi Shahih Muslim bab shalatil-awwabin hina tarmidul-fishal).

Keterkaitan antara shalat Dluha dengan orang yang awwab sebagaimana Nabi saw sabdakan di atas, dijelaskan dalam hadits lain:

لَا يُحَافِظُ عَلَى صَلَاةِ الضُّحَى إِلَّا أَوَّابٌ

Tidak ada yang bisa merutinkan shalat Dluha selain orang yang awwab [ahli taubat, selalu kembali kepada Allah, selalu taat] (Shahih Ibn Khuzaimah bab fi fadlli shalatid-dluha no. 1224. Syaikh al-Albani menilai sanadnya hasan dalam as-Silsilah as-Shahihah no. 1994).

Dalam sabdanya yang lain yang disampaikan Abu Dzar, Nabi saw juga menganjurkan agar shalat Dluha dirutinkan:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

Setiap pagi, semua tulang/persendian kalian harus bershadaqah. Dan setiap tasbih itu adalah shadaqah. Setiap tahmid, tahlil, dan takbir juga shadaqah. Amar ma’ruf nahyi munkar juga shadaqah. Dan cukup untuk mewakili semua amal itu dua raka’at yang dikerjakan pada waktu dluha (Shahih Muslim kitab shalat al-musafirin bab istihbab shalatid-dluha no. 1704).

Terkait hadits di atas, Imam an-Nawawi memberikan syarh sebagai berikut:

وَفِيهِ دَلِيل عَلَى عِظَم فَضْل الضُّحَى وَكَبِير مَوْقِعهَا وَأَنَّهَا تَصِحُّ رَكْعَتَيْنِ

Hadits ini jadi dalil agungnya keutamaan shalat Dluha dan pentingnya kedudukannya. Dan bahwasanya shalat dluha itu sah dengan dua raka’at (Syarah an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim).

‘Aisyah ra menjelaskan, umat Islam tidak perlu ragu dengan amaliah Nabi saw tidak merutinkan shalat Dluha. Beliau menegaskan:

إِنْ كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ لَيَدَعُ الْعَمَلَ وَهُوَ يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ خَشْيَةَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ النَّاسُ فَيُفْرَضَ عَلَيْهِمْ وَمَا سَبَّحَ رَسُولُ اللهِ ﷺ سُبْحَةَ الضُّحَى قَطُّ وَإِنِّي لَأُسَبِّحُهَا

Sungguh Rasulullah saw meninggalkan satu amal yang beliau ingin mengamalkannya itu karena takut diamalkan oleh orang-orang banyak lalu diwajibkan kepada mereka. Rasulullah saw tidak pernah merutinkan shalat Dluha sekalipun, tetapi aku sendiri merutinkannya (Shahih al-Bukhari kitab at-tahajjud bab tahridlin-Nabiy saw ‘ala qiyamil-lail no. 1128).

Dalam hal ini pula, jumhur ulama—sebagaimana dikemukakan al-Hafizh Ibn Hajar—lebih menganjurkan shalat Tarawih berjama’ah di masjid pada satu imam—sebagaimana halnya ijtihad ‘Umar ibn al-Khaththab—meski Nabi saw tidak merutinkan berjama’ah di masjid setiap malam. Nabi saw tidak merutinkannya sebab takut kalau berjama’ah itu dijadikan syarat wajib shalat malam. Karena ketakutan ‘diwajibkan’ itu sudah tidak mungkin ada lagi, maka jumhur ulama menyatakan shalat berjama’ah Tarawih lebih baik daripada munfarid (Fathul-Bari bab fadlli man qama Ramadlan).

Dua raka’at shalat dluha yang disebutkan dalam hadits Abu Dzar di atas, tidak berarti terbatas pada dua raka’at saja. ‘Aisyah ra menjelaskan:

كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُصَلِّى الضُّحَى أَرْبَعًا وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ

Rasulullah saw shalat Dluha empat raka’at dan beliau menambahnya lagi sekehendak Allah (Shahih Muslim bab istihbab shalatid-Dluha no. 1698).

Al-Hafizh Ibn Hajar dalam at-Talkhishul-Habir, Syaikh Ibn Baz dan al-‘Utsaimin dalam Majmu’ Fatawa-­nya, sama-sama menyatakan bahwa hadits di atas menjadi dalil bahwa raka’at shalat Dluha tidak ada batasannya. Menurut as-Shan’ani dalam Subulus-Salam, hadits ‘Aisyah menunjukkan bahwa yang biasa Nabi saw rutinkan 4 raka’at, meski Nabi saw membolehkan minimal 2 raka’at. Untuk yang 4 raka’at ke atas, cara pelaksanaannya bisa dengan satu kali salam atau salam di setiap dua raka’at (Syarah an-Nawawi Shahih Muslim bab shalatil-lail matsna-matsna), berdasarkan hadits:

صَلاَةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى

Shalat (sunat) malam dan siang itu dua raka’at-dua raka’at [salam pada setiap dua raka’at] (Hadits ini terdapat dalam Bulughul-Maram no. 391. Riwayat Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa`i, Ibn Majah dan Ibn Hibban. Al-Hafizh Ibn Hajar menilainya shahih dalam at-Talkhishul-Habir).

Wal-‘Llahu a’lam.