Home > Kontemporer > Muhasabah Tahunan versi al-Qur`an dan Hadits

Muhasabah Tahunan versi al-Qur`an dan Hadits

Muhasabah Tahunan versi al-Qur`an dan Hadits

Setiap tahun memang ada anjuran dari al-Qur`an agar dilakukan muhasabah atas fitnah yang sudah diturunkan Allah swt. Tetapi tentunya muhasabah tersebut tidak harus di awal atau akhir tahun semata, atau harus dilaksanakan dalam sebuah acara seremonial. Muhasabah itu intinya dzikir dan taubat. Dianjurkan untuk selalu diamalkan di setiap detik dan menitnya.

Perintah muhasabah dalam jangka waktu tahunan ditujukan oleh Allah swt kepada orang-orang munafiq. Tetapi makna ayatnya tentu mencakup juga orang-orang beriman. Allah swt berfirman:

أَوَلَا يَرَوۡنَ أَنَّهُمۡ يُفۡتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٖ مَّرَّةً أَوۡ مَرَّتَيۡنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمۡ يَذَّكَّرُونَ 

Dan tidakkah mereka (orang-orang munafiq) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran? (QS. at-Taubah [9] : 126)

Imam at-Thabari dalam kitab Tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini ditujukan kepada orang-orang munafiq sebagai sindiran keras. Di setiap tahunnya mereka ditimpa fitnah satu kali dan adakalanya dua kali, tetapi mereka tetap saja enggan bertaubat dan mengambil pelajaran. Fitnah (ujian/siksa) yang dimaksud, menurut Imam at-Thabari berdasarkan penelusuran atas penjelasan ulama-ulama salaf, bisa berupa krisis ekonomi atau musibah besar; kemenangan kaum muslimin atas orang-orang kafir yang tentunya semakin menyudutkan orang-orang munafiq; atau terbongkarnya rahasia kemunafiqan mereka melalui info yang bocor dari orang-orang kafir. Semestinya fitnah-fitnah yang datang tersebut menjadikan mereka bertaubat dan mampu memetik pelajaran sehingga berhenti dari kemunafiqannya lalu berislam dengan sebenar-benarnya.

Meski ditujukan kepada orang-orang munafiq tentu khithab ayat ini berlaku juga untuk setiap orang yang semuanya sama akan mengalami fitnah (ujian/siksa). Semua fitnah itu tujuan utamanya adalah menjadikan manusia semakin merunduk di hadapan Allah swt. Jika tidak menambah sikap merunduk di hadapan Allah swt, maka ancaman musibah besar yang mematikan dipastikan sedang mengintai dan tinggal menghitung waktu. Dalam ayat lain Allah swt mengingatkan:

وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَىٰٓ أُمَمٖ مِّن قَبۡلِكَ فَأَخَذۡنَٰهُم بِٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمۡ يَتَضَرَّعُونَ  ٤٢

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.

فَلَوۡلَآ إِذۡ جَآءَهُم بَأۡسُنَا تَضَرَّعُواْ وَلَٰكِن قَسَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ  ٤٣

Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.

فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِۦ فَتَحۡنَا عَلَيۡهِمۡ أَبۡوَٰبَ كُلِّ شَيۡءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُواْ بِمَآ أُوتُوٓاْ أَخَذۡنَٰهُم بَغۡتَةٗ فَإِذَا هُم مُّبۡلِسُونَ  ٤٤

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa (QS. al-An’am [6] : 42-44).

Ayat ini—ayat semakna terdapat dalam QS. al-A’raf [7] : 94-95—jelas menyebut bahwa siksa atau ujian tersebut diberikan kepada semua umat para Rasul. Jika dihubungkan dengan ayat at-Taubah di atas, maka setidaknya siksa atau ujian tersebut dalam setiap tahunnya ada satu atau dua kali. Semestinya ini semua jadi bahan muhasabah untuk memantapkan taubat, menambah dzikir, dan semakin merunduk di hadapan Allah swt. Jika itu semua tidak kunjung dilakukan, berarti sedang menghitung detik untuk datangnya siksa yang lebih besar dan mematikan, yang ketika itu datang tidak akan ada manfaatnya sama sekali jeritan penyesalan sekeras apapun—ayat semakna terdapat juga dalam QS. al-An’am [6] : 158.

Tidak perlu dipersoalkan lagi apakah fitnah itu siksa atau ujian, sebab secara bahasa fitnah itu bisa bermakna dua sekaligus; siksa dan ujian. Sebagaimana dijelaskan ar-Raghib al-Ashfahani dalam Mu’jam Mufradat al-Qur`an, arti asal fitnah itu adalah tukang emas yang memasukkan bahan mentah emas ke dalam api untuk dipilih mana yang emas dan mana yang bukan. Maka setiap perbuatan membakar/menyiksa disebut fitnah. Demikian juga setiap ujian/seleksi untuk memilih sesuatu disebut fitnah.

Sementara secara ayat Qur`aniyyah Allah swt juga menegaskan bahwa fitnah itu adalah siksa sekaligus ujian. QS. an-Nisa` [4] : 123 sudah mengajarkan bahwa semua perbuatan dosa akan dibalas dengan kejelekan (siksa/musibah) sejak di dunia. Balasan-balasan tersebut adalah sebagai ujian apakah manusia memilih jalan taubat atau tidak. Jika taubat dipilih maka itu semakin meninggikan derajatnya. Jika tetap dalam perbuatan dosa karena memang merasa tidak berdosa, maka ia sedang menunggu datangnya siksa yang lebih besar—ayat semakna ada juga dalam QS. as-Sajdah [32] : 21.

Sementara itu, al-Hafizh Ibn Katsir dalam kitab Tafsirnya menambah penjelasan ayat dalam surat at-Taubah di awal dengan hadits dari Anas ibn Malik ra berikut:

لاَ يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلاَّ الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ، حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ ﷺ

Tidak datang kepadamu zaman kecuali yang datang sesudahnya lebih jelek dari sebelumnya, sampai kalian bertemu Rabb kalian. Aku mendengarnya langsung dari Nabi kalian saw (Shahih al-Bukhari kitab al-fitan bab la ya`ti zaman illal-ladzi badahu syarrun minhu no. 6541).

Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul-Bari mengutip penjelasan shahabat Ibn Mas’ud ra terkait maksud hadits Nabi saw di atas:

أَمْسِ خَيْرٌ مِنَ الْيَوْمَ وَالْيَوْمَ خَيْرٌ مِنْ غَدٍ وَكَذَلِكَ حَتَّى تَقُوْمَ السَّاعَةُ

Kemarin lebih baik dari hari ini, dan hari ini lebih baik dari hari esok. Demikianlah berlangsung sampai datangnya kiamat (al-Mu’jam al-Kabir [ath-Thabrani] 9 : 154 no. 8773).

Di lain kesempatan Ibn Mas’ud memberikan penjelasan:

لَسْتُ أَعْنِي رَخَاءً مِنَ الْعَيْشِ يُصِيْبُهُ وَ مَالاً يُفِيْدُهُ وَلَكِنْ لاَ يَأْتِي عَلَيْكُمْ يَوْمٌ إِلاَّ وَهُوَ أَقَلُّ عِلْمًا مِنَ الْيَوْمِ الَّذِي مَضَى قَبْلَهُ. فَإِذَا ذَهَبَ الْعُلَمَاءُ اسْتَوَى النَّاسُ فَلاَ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَلاَ يَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ فَعِنْدَ ذَلِكَ يَهْلِكُوْنَ

Yang aku maksudkan bukan kesenangan hidup yang diperoleh ataupun harta yang bermanfaat, akan tetapi tidak datang kepadamu satu hari kecuali hari itu lebih sedikit ilmunya dari hari yang telah berlalu sebelumnya. Maka tatkala para ulama meninggal, jadilah manusia menyendiri. Akibatnya mereka tidak amar maruf nahyi munkar, dan ketika itu binasalah mereka (Fathul-Bari 14 : 514).

Menurut al-Hafizh Ibn Hajar, hadits Nabi saw dan atsar Ibn Mas’ud di atas sangat sesuai dengan hadits ‘Imran ibn Hushain tentang generasi terbaik adalah generasi shahabat, lalu generasi tabi’in dan tabi’ tabi’in. Sesudah generasi salaf tersebut selalu datang generasi yang lebih jelek dan lebih jelek lagi. Berdasarkan penjelasan Ibn Mas’ud di atas itu disebabkan umat semain jauh meninggalkan ilmu yang diajarkan para ulama sebelumnya.

Al-Hafizh Ibn Katsir dengan demikian hendak menggugah umat Islam bahwa di setiap tahun tantangannya akan selalu lebih berat, sebab pasti keadaannya akan lebih jelek dari tahun sebelumnya. Jadi daripada mengumpulkan harapan, rencana, atau resolusi yang pasti berandai-andai, lebih baik disiapkan saja tenaga, kesabaran, dan ilmu untuk menyongsong tahun baru yang pasti lebih jelek daripada tahun sebelumnya. Wal-‘iyadzu bil-‘Llah.