Akhlaq

Miskin Harta karena Miskin Hati

Miskin hati adalah penyebab miskin harta. Bahkan orang yang kaya harta pun jika hatinya miskin akan tetap menjadi orang miskin, apalagi yang sudah nyata miskin hartanya. Miskin hati itu selalu berharap diberi dan dikasihani; selalu kecewa jika tidak memperoleh bagian atau tidak terberi; tidak punya gairah dan semangat untuk memberi; dan hidupnya selalu menyerah dan menyerah seraya berdalih ini semua sudah taqdir ilahi. Padahal Allah swt sudah menaqdirkan orang yang hartanya miskin, jika hatinya tidak miskin, suatu saat pasti akan menjadi orang kaya. Semangatnya untuk bisa bershadaqah dan berbagi secara otomatis akan membukakan jalan rizki dari Allah swt.

 

Miskin harta dan miskin hati memang dua hal yang berbeda, tetapi seringkali menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Ada orang yang miskin harta tetapi hatinya tidak miskin. Semangatnya untuk bisa memberi akan mendorongnya menjadi pekerja keras dan Allah swt pun membukakan jalan rizkinya sehingga ia bisa memberi. Di mata orang lain mungkin saja ia terlihat miskin secara harta, tetapi sebenarnya ia orang kaya karena selalu bisa memberi dan berbagi. Masyarakat umum akan susah memahami mereka, karena dalam penampakan harta bendawinya miskin, tetapi selalu saja bisa berbagi dan memberi. Rizki selalu datang kepada mereka tanpa bisa dimengerti. Tentang mereka, Allah swt berfirman:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ 

Siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya (QS. at-Thalaq [65] : 2-3).

أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ١٣٣ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ 

…(surga seluas langit dan bumi) disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, …(QS. Ali ‘Imran [3] : 133-134).

Demikian halnya ada orang yang kaya hartanya tetapi sebenarnya ia miskin karena hatinya miskin. Ia selalu merasa berat untuk memberi, sebagaimana halnya orang miskin. Kalaupun memberi tidak pernah sepenuh hati, persis sama dengan orang miskin. Hidupnya akan selalu dalam ketakutan harta berkurang atau habis dan tidak akan pernah merasa bahagia sama sekali. Padahal Allah swt sudah mengingatkan:

وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ  ٩

Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. al-Hasyr [59] : 9).

Akan tetapi ada banyak juga orang-orang yang sudah miskin harta juga miskin hatinya. Bahkan hidupnya yang miskin harta penyebab utamanya adalah karena miskin hati. Selama hati seseorang miskin maka ia selamanya akan miskin harta. Kalaupun dalam satu waktu ia dianugerahi harta yang banyak, jika hatinya miskin, tetap saja mental miskin harta akan mendarahdaging dalam tubuhnya. Memberi dan shadaqah akan selalu dirasa berat karena memang hatinya miskin.

Nabi saw sudah sering mengingatkan:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Bukanlah kaya itu yang banyak harta, tetapi kaya itu adalah yang kaya hatinya (Shahih al-Bukhari kitab ar-riqaq bab al-ghina ghinan-nafs no. 6446; Shahih Muslim bab laisal-ghina ‘an katsratil-‘aradl no. 2467).

Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa “kaya hati” itu qillah hirshiha; tidak rakus harta, sebab orang yang rakus akan selalu merasa kurang sehingga akan selalu miskin dan tidak pernah merasa kaya (bab laisal-ghina ‘an katsratil-‘aradl). Dalam ungkapan lain Imam an-Nawawi menjelaskan: al-istighna ‘anin-nas wa ‘amma fi aidihim; tidak butuh pemberian orang lain dan tidak tergiur dengan harta yang dimiliki orang lain (bab at-ta’awwudz min syarri ma ‘amila).

Orang yang kaya hartanya tetapi selalu merasa kurang dengan yang dimiliki pada hakikatnya ia orang miskin. Orang yang kaya hartanya tetapi selalu ingin mendapatkan pemberian dan tergiur dengan orang yang lebih kaya harta darinya pada hakikatnya juga ia orang miskin. Apalagi orang-orang yang sudah jelas miskin hartanya dan mereka juga selalu merasa kurang dengan yang dimiliki, selalu berharap pemberian orang lain, dan selalu tergiur dengan kekayaan orang-orang kaya. Orang-orang ini lebih nyata lagi miskinnya.

Shahabat Abu Kabsyah Al-Annamari menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah memberikan taushiyah:

ثَلَاثَةٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ قَالَ: مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ، وَلَا ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلِمَةً فَصَبَرَ عَلَيْهَا إِلَّا زَادَهُ اللَّهُ عِزًّا، وَلَا فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ إِلَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا

“Ada tiga hal yang aku bersumpah untuk ketiganya dan aku sampaikan satu hadits lain, maka ingatlah.” Beliau bersabda: “Tidak akan berkurang harta seorang hamba karena shadaqah, tidaklah seorang hamba dizhalimi satu kezhaliman lalu ia bersabar atasnya melainkan Allah akan menambah kemuliaannya, dan tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta (kepada orang lain) melainkan Allah akan membukakan untuknya pintu kefakiran—atau kalimat semisalnya.”

Nabi saw kemudian melanjutkan:

وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ قَالَ: إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ، عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا، فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَخْبَثِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

“Dan aku sampaikan satu hadits lain, maka ingatlah.” Beliau bersabda: “Dunia itu milik empat orang: (1) Hamba yang Allah beri rizki harta dan ilmu, maka ia bertaqwa kepada Rabbnya dengan hartanya, menyambungkan kebaikan kepada kerabat dengannya, dan mengetahui hak Allah dalam harta tersebut. Maka ini kedudukan yang paling mulia. (2) Hamba yang Allah beri rizki ilmu tetapi tidak diberi rizki harta, maka ia berniat dengan benar berkata: ‘Seandainya aku memiliki harta pasti akan beramal seperti amal orang itu.’ Maka ia dengan niatnya mendapatkan pahala yang sama. (3) Hamba yang Allah beri rizki harta tetapi tidak diberi rizki ilmu. Maka ia mengelola hartanya tanpa ilmu; tidak bertaqwa kepada Rabbnya dengan hartanya, tidak menyambungkan kebaikan kepada kerabat dengannya, dan tidak mengetahui hak Allah dalam harta tersebut. Maka ini kedudukan yang paling hina. (4) Hamba yang Allah beri rizki harta tetapi tidak diberi rizki ilmu, maka ia berniat dengan benar berkata: ‘Seandainya aku memiliki harta pasti akan beramal seperti amal orang itu.’ Maka ia dengan niatnya mendapatkan dosa yang sama.” (Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a matsalud-dunya matsal arba’ah nafar no. 2325. Imam at-Tirmidzi berkata: “Ini adalah hadits hasan shahih.”)

Taushiyah Nabi saw di atas ditujukan kepada orang kaya dan miskin sekaligus. Orang kaya jangan merasa berat untuk shadaqah karena shadaqah tidak akan mengurangi harta. Orang kaya juga jangan bermental pengemis, karena itu selamanya akan menyebabkannya hidup dihantui kemiskinan, tidak pernah merasa cukup dengan kekayaannya.

Orang miskin juga jangan enggan bershadaqah, tentunya sesuai kadar kemampuannya, karena miskin tidak akan bertambah miskin dengan shadaqah. Orang miskin jangan pernah ada keinginan untuk meminta karena itulah yang justru akan menambah kemiskinannya.

Orang kaya harus berilmu cukup agar kekayaannya meningkatkan taqwanya, semakin luas berbaginya, dan mampu menunaikan kewajiban harta yang Allah syari’atkan. Jika tuna ilmu maka yang terjadi sebaliknya. Bagi orang miskin, meskipun saat ini miskin harta, hatinya jangan miskin, harus terobsesi untuk menjadi orang kaya tetapi kaya yang berilmu, bukan kaya tuna ilmu. Meskipun belum mampu beramal seperti orang kaya berilmu, pahalanya akan memperoleh sebanding—meski tidak sama persis—dengan orang-orang kaya yang banyak berbaginya. Meskipun saat ini miskin harta, jika obsesi ingin menjadi “tangan di atas” tertanam dalam hati, maka Allah swt akan menganugerahinya keberkahan.

Shahabat Hakim ibn Hizam adalah salah satu bukti nyatanya, di samping ribuan shahabat lainnya. Ketika ia selalu ingin diberi dan berani meminta, hidupnya tidak bisa lepas dari kemiskinan. Tetapi ketika ia dinasihati Nabi saw untuk terobsesi menjadi orang yang “tangan di atas” ia pun mengubah mentalnya dan kemudian tercatat sebagai salah seorang shahabat yang kaya hartanya.

يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى

“Hai Hakim, sesungguhnya harta ini hijau dan manis. Siapa yang mengambilnya dengan kedermawanan hati (tidak ada nafsu harta), ia akan diberi barakah padanya. Dan siapa yang mengambilnya dengan memperlihatkan keinginan diri (untuk diberi atan bernafsu harta), ia tidak akan diberi barakah. Seperti orang yang makan dan tidak kunjung kenyang. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (Shahih al-Bukhari kitab az-zakat bab al-isti’faf ‘anil-mas`alah no. 1472)

Sebuah teguran halus dari Nabi saw kepada segenap orang-orang miskin: “Mau sampai kapan hidup dalam kemiskinan?” Wal-‘Llahu a’lam