Home > Ibadah > Meraih Fadlilah Surat dan Ayat al-Qur`an

Meraih Fadlilah Surat dan Ayat al-Qur`an

Di samping utama secara umum, al-Qur`an juga memiliki keutamaan dalam surat-surat dan ayat-ayat tertentu. Setiap muslim dianjurkan untuk meraih keutamaan-keutamaan khusus tersebut sebagai bagian dari sunnah Nabi Muhammad shallal-‘Llah ‘alaihi wa sallam.

Sebagian ulama ada yang menolak keutamaan surat-surat dan ayat-ayat tertentu dalam al-Qur`an karena menilai bahwa al-Qur`an semuanya sama utama dan istimewa, tidak ada kelebihan pada surat-surat atau ayat-ayat tertentunya. Akan tetapi pendapat tersebut kurang tepat karena faktanya al-Qur`an sendiri menyatakan ada ayat yang lebih baik daripada ayat lainnya. Di samping itu, Nabi saw sendiri yang mengajarkan adanya keistimewaan khusus pada surat-surat tertentu.

Ayat berikut ini dengan jelas menyebutkan adanya satu ayat yang lebih istimewa daripada ayat lainnya:

۞مَا نَنسَخۡ مِنۡ ءَايَةٍ أَوۡ نُنسِهَا نَأۡتِ بِخَيۡرٖ مِّنۡهَآ أَوۡ مِثۡلِهَآۗ أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ 

Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu? (QS. al-Baqarah [2] : 106).

Di samping itu Nabi saw sendiri banyak menjelaskan dalam hadits keutamaan surat-surat atau ayat-ayat tertentu. Di antaranya Nabi saw menyebutkan surat yang teragung dalam al-Qur`an adalah al-Fatihah, meski al-Qur`an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw seluruhnya agung:

عَنْ أَبِي سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ أَلَا أُعَلِّمُكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ الْمَسْجِدِ فَأَخَذَ بِيَدِي فَلَمَّا أَرَدْنَا أَنْ نَخْرُجَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ قُلْتَ لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ مِنْ الْقُرْآنِ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُه

Dari Abu Sa’id ibn al-Mu’alla, ia berkata: Nabi saw bersabda: “Ingat-ingat, aku akan beritahu kamu surat yang paling agung dalam al-Qur`an sebelum kamu keluar masjid.” Beliau sambil memegang tanganku. Ketika kami akan keluar, aku bertanya: “Wahai Rasulullah, sungguh anda tadi bersabda aku akan beritahu kamu surat yang paling agung dalam al-Qur`an.” Beliau menjawab: “al-Hamdu lil-‘Llah Rabbil-‘alamin, itulah tujuh ayat yang diulang-ulang dan al-Qur`an al-‘azhim yang diberikan kepadaku.” (Shahih al-Bukhari bab fadlli fatihatil-kitab no. 5006)

 

Hadits ini merupakan tafsir dari firman Allah swt:

وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَٰكَ سَبۡعٗا مِّنَ ٱلۡمَثَانِي وَٱلۡقُرۡءَانَ ٱلۡعَظِيمَ 

Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung (QS. al-Hijr [15] : 87).

Maksud “dan Al-Qur’an yang agung” dalam ayat di atas adalah bahwa al-Qur`an yang agung secara keseluruhan adalah sederajat dengan al-Fatihah. Ini menjadi jawaban yang menjelaskan mengapa juz pertama dihitungnya dari al-Baqarah, bukan dari al-Fatihah. Jadi 30 juz itu al-Fatihah tidak termasuk di dalamnya karena al-Fatihah senilai dengan 30 juz tersebut. Menurut al-Hafizh Ibn Hajar, pada lafazh “dan Al-Qur’an yang agung” ada khabar yang dibuang, perkiraannya adalah: “sesudah al-fatihah”. Jadi maknanya: “Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang (dalam shalat) dan Al-Qur’an yang agung sesudah al-fatihah.” (Fathul-Bari kitab tafsir al-Qur`an bab wa summiyat ummul-kitab)

Salah satu keistimewaan surat al-Fatihah adalah ia bisa dijadikan bacaan ruqyah (jampi syar’i). Sebagaimana diceritakan oleh Abu Sa’id al-Khudri ra, ketika para shahabat istirahat di satu perkampungan, tiba-tiba ada penduduk kampung itu yang meminta agar pemimpin mereka yang tersengat ular diruqyah.  Seorang shahabat kemudian menyanggupinya dan ia meruqyah dengan al-Fatihah. Dengan kehendak Allah swt ternyata sembuh, dan ia kemudian diberi 30 ekor kambing. Sesampainya di Madinah dan dilaporkan kepada Nabi saw, beliau malah bersabda:

وَمَا كَانَ يُدْرِيهِ أَنَّهَا رُقْيَةٌ اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ

“Darimana ia tahu bahwa al-Fatihah itu ruqyah. Silahkan bagikan (kambing-kambing itu), dan beri aku satu bagian.” (Shahih al-Bukhari bab fadlli fatihatil-kitab no. 5007).

Selanjutnya surat al-Baqarah secara umum jika dibaca di rumah, akan mampu mengusir setan dari rumah. Di samping itu ayat kursi secara khusus (a. 255) yang dibaca sebelum tidur akan menyelamatkan diri dari setan. Demikian juga dua ayat terakhir al-Baqarah yang dibaca di malam hari.

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِى تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

Jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan. Sungguh setan akan lari dari rumah yang dibacakan padanya surat al-Baqarah (Shahih Muslim bab istihbab shalatin-nafilah fi baitihi no. 1860).

إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ لَنْ يَزَالَ مَعَكَ مِنْ اللَّهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِح

Apabila kamu naik tempat tidurmu, bacalah ayat kursi. Selamanya kamu akan disertai penjaga dari Allah dan setan tidak akan mendekat kepadamu (Shahih al-Bukhari kitab fadla`ilil-qur`an bab fadlli surah al-Baqarah no. 5010).

مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

Siapa yang membaca dua ayat terakhir surat al-Baqarah pada satu malam, maka keduanya itu cukup baginya (Shahih al-Bukhari bab fadlli suratil-baqarah no. 5009).

Maksud “cukup” dalam hadits di atas, menurut Imam an-Nawawi, bisa bermakna cukup dari qiyamul-lail, gangguan setan, dan dari semua bahaya (Syarah an-Nawawi Shahih Muslim no. 1340). Cukup dari qiyamul-lail tentunya bagi yang tidak mampu mengamalkannya. Bukan berarti tidak perlu qiyamul-lail dan cukup diganti dengan membaca dua ayat terakhir al-Baqarah. Meninggalkan qiyamul-lail secara sengaja apalagi rutin sangat dibenci oleh Nabi saw. Membaca dua ayat tersebut juga bisa dalam shalat maghrib, isya, shalat sunat, atau di luar shalat, sebab Nabi saw tidak menyebutkan secara spesifik harus di mana dibacanya.

Surat al-Baqarah dan Ali ‘Imran secara keseluruhannya juga mempunyai fadlilah tersendiri. Bagi shahib (sahabat, yang selalu dekat, selalu rutin membacanya, atau hafal) kedua surat tersebut akan diselamatkan oleh keduanya pada hari kiamat.

يَأْتِي القُرْآنُ وَأَهْلُهُ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ بِهِ فِي الدُّنْيَا تَقْدُمُهُ سُورَةُ البَقَرَةِ وَآلُ عِمْرَانَ … تَأْتِيَانِ كَأَنَّهُمَا غَيَابَتَانِ وَبَيْنَهُمَا شَرْقٌ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ سَوْدَاوَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا ظُلَّةٌ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُجَادِلَانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا

Al-Qur`an dan orang-orang yang mengamalkannya di dunia akan datang dengan dikawal di depan oleh surat al-Baqarah dan Ali ‘Imran… Keduanya datang seperti dua naungan yang di antaranya ada sinar, atau dua awan teduh, atau bayangan dari burung-burung yang terbang berbaris. Kedua surat tersebut akan membela “shahib” mereka (Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a fi surat Ali ‘Imran no. 2883).

Selanjutnya ada juga surat al-Fath dan al-Mulk. Nabi saw menjelaskan sebagai berikut:

لَقَدْ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ اللَّيْلَةَ سُورَةٌ لَهِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ ثُمَّ قَرَأَ إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا

“Sungguh pada malam ini telah diturunkan kepadaku satu surat yang dia itu lebih saya sukai daripada apa yang disinari oleh matahari yang terbit.” (Kata ‘Umar:) “Beliau kemudian membaca Inna fatahna laka fathan mubinan.” (Shahih al-Bukhari bab fadlli suratil-kahfi no. 5012).

إِنَّ سُورَةً مِنَ القُرْآنِ ثَلَاثُونَ آيَةً شَفَعَتْ لِرَجُلٍ حَتَّى غُفِرَ لَهُ، وَهِيَ سُورَةُ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ المُلْكُ

Sungguh ada satu surat dalam al-Qur`an berjumlah 30 ayat yang akan memberi syafa’at kepada seseorang sampai ia diampuni, yaitu surat Tabarakal-’Lladzi bi yadihil-mulk (Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a fi fadlli surat al-Mulk no. 2891; Sunan Abi Dawud bab fi ‘adadil-ay no. 1400. Imam at-Tirmidzi, al-Albani, al-Arnauth: Hadits hasan).

Ada juga tiga surat yang utama dan disebut al-mu’awwidzat, artinya surat-surat yang memperlindungkan diri, yakni al-Ikhlash, al-Falaq dan an-Nas. Terkadang disebut juga al-mu’awwidzatain untuk surat al-Falaq dan an-Nas. Ini didasarkan pada hadits-hadits Nabi saw berikut:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيِّ، قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : قُلْ قُلْتُ: وَمَا أَقُولُ؟ قَالَ: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ فَقَرَأَهُنَّ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ، ثُمَّ قَالَ: لَمْ يَتَعَوَّذِ النَّاسُ بِمِثْلِهِنَّ أَوْ لَا يَتَعَوَّذُ النَّاسُ بِمِثْلِهِنَّ

Dari ‘Uqbah ibn ‘Amir al-Juhani, ia berkata: Rasulullah saw bersabda kepadaku: “Bacalah!” Aku bertanya: “Apa yang harus aku baca?” Beliau menjawab: “Qul huwal-‘Llahu ahad, Qul a’udzu bi Rabbil-falaq dan Qul a’udzu bi Rabbin-nas.” Beliau membaca semuanya, kemudian bersabda: “Orang-orang tidak berlindung dengan yang seistimewa permohonan perlindungan (mu’awwidzat) ini.” (Sunan an-Nasa`i kitab al-isti’adzah no. 5431. Ibn Hajar menilai shahih dalam Fathul-Bari bab al-mu’awwidzat dan Al-Albani dalam ta’liq Sunan an-Nasa`i).

Mu’awwidzat ini Nabi saw anjurkan untuk dibaca di setiap dzikir/wirid ba’da shalat masing-masing 1x, di setiap dzikir pagi dan petang masing-masing 3x-3x, dan di setiap sebelum tidur dengan cara yang khas masing-masing 3x.

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ أَقْرَأَ الْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ

Dari ‘Uqbah ibn ‘Amir, ia berkata: “Rasulullah saw memerintahku membaca al-mu’awwidzat (qul huwal-‘Llahu ahad, qul a’udzu bi Rabbil-falaq dan qul a’udzu bi Rabbin-nas) di akhir setiap shalat.” (Sunan an-Nasa`i bab al-amr bi qira`atil-mu’awwidzat ba’dat-taslim minas-shalat no. 1336. Ibn Hajar menilai shahih dalam Fathul-Bari bab al-mu’awwidzat dan Al-Albani dalam ta’liq Sunan an-Nasa`i).

قُلْ: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَالمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِي وَتُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ

Bacalah: (surat) Qul huwal-‘Llahu ahad dan dua surat yang memperlindungkan diri (al-Falaq dan an-Nas) setiap masuk waktu sore dan pagi, tiga kali. Itu cukup bagimu dari semua hal (Sunan at-Tirmidzi abwab ad-da’awat no. 3575. Al-Albani: Hadits hasan).

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

Dari ‘Aisyah: “Sungguh Nabi saw apabila hendak tidur di setiap malam, menyandingkan kedua telapak tangannya lalu meniupnya, kemudian membaca pada kedua telapak tangannya itu (surat) Qul huwal-‘Llahu ahad, Qul a’udzu bi Rabbil-falaq dan Qul a’udzu bi Rabbin-nas. Lantas mengusapkan kedua telapak tangannya itu pada badan yang terjangkau oleh tangannya, mulai dari kepala, wajah, lalu badan. Beliau melakukan seperti itu tiga kali.” (Shahih al-Bukhari bab fadllil-mu’awwidzat no. 5017).

Keterangan tentang fadlilah surat atau ayat tertentu sebagaimana diuraikan di atas juga menuntun prioritas bagi umat Islam dalam menghafal ayat/surat al-Qur`an.

Wal-‘Llahul-Muwaffiq

 

Catatan: Fadlilah surat al-Kahfi sebab sudah dibahas secara khusus. Bisa dirujuk pada www.attaubah-institute.com dengan judul “Meraih Fadlilah Surat al-Kahfi”.