Meraih Cinta Ilahi

Menyingkap I’tikaf Nabi saw

Menyingkap I’tikaf Nabi saw

Bagaimana i’tikaf Nabi saw? Apa saja yang Nabi saw amalkan selama i’tikaf? Pertanyaan-pertanyaan itu masih saja sering dikemukakan oleh masyarakat yang penasaran dengan i’tikaf Nabi saw, terutama mereka yang tidak pernah i’tikaf.  

Nabi saw selalu i’tikaf di 10 hari terakhir Ramadlan. Menghitungnya tentu saja dari tanggal 21 Ramadlan, baik satu bulan Ramadlannya 29 atau 30 hari. Sebab di masa Nabi saw, beliau tidak mungkin tahu kepastian satu bulan 29 atau 30 hari selain pada tanggal 29. Maka patokan yang diambil dari 10 hari terakhir itu pasti tanggal 21. Di samping itu, menghitung 10 hari terakhir tentu sesudah 10 hari pertama dan kedua, dan jatuhnya pasti dari tanggal 21. ‘Aisyah menjelaskan:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Nabi saw beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadlan sampai Allah mewafatkannya. Kemudian setelah itu istri-istri beliau beri’tikaf. (Shahih al-Bukhari kitab al-i’tikaf bab ali’tikaf fil-‘asyril-awakhir no. 1922).

Nabi saw mulai i’tikaf dari malam tanggal 21 Ramadlan. Ini didasarkan pada keterangan dari Abu Sa’id al-Khudri:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ  كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُجَاوِرُ فِي رَمَضَانَ الْعَشْرَ الَّتِي فِي وَسَطِ الشَّهْرِ فَإِذَا كَانَ حِينَ يُمْسِي مِنْ عِشْرِينَ لَيْلَةً تَمْضِي وَيَسْتَقْبِلُ إِحْدَى وَعِشْرِينَ رَجَعَ إِلَى مَسْكَنِهِ … ثُمَّ قَالَ كُنْتُ أُجَاوِرُ هَذِهِ الْعَشْرَ ثُمَّ قَدْ بَدَا لِي أَنْ أُجَاوِرَ هَذِهِ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ فَمَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَثْبُتْ فِي مُعْتَكَفِهِ … وَقَدْ رَأَيْتُنِي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ فَاسْتَهَلَّتْ السَّمَاءُ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ فَأَمْطَرَتْ فَوَكَفَ الْمَسْجِدُ فِي مُصَلَّى النَّبِيِّ ﷺ لَيْلَةَ إِحْدَى وَعِشْرِينَ فَبَصُرَتْ عَيْنِي رَسُولَ اللَّهِ ﷺ وَنَظَرْتُ إِلَيْهِ انْصَرَفَ مِنْ الصُّبْحِ وَوَجْهُهُ مُمْتَلِئٌ طِينًا وَمَاءً

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra: Rasulullah saw i’tikaf pada bulan Ramadlan dari sejak 10 hari pertengahan (ketika beliau belum diberitahu bahwa lailatul-qadar pada 10 hari terakhir). Pada sore hari ke-20 menjelang malam ke-21 beliau kembali ke tempat i’tikafnya… beliau bersabda: “Saya i’tikaf pada 10 hari pertengahan ini. Kemudian tampak jelas bagiku (aku diberi wahyu) untuk i’tikaf pada 10 hari terakhir. Siapa yang ingin i’tikaf bersamaku, tetaplah di tempat i’tikafnya… Saya diberi wahyu bahwa saya akan sujud di atas air dan tanah.” Maka pada malam itu langit bergemuruh dan turunlah hujan. Masjid bocor pada tempat shalat Nabi saw di malam ke-21. Mataku memandang Rasulullah saw dan melihatnya selesai dari shalat shubuh dalam keadaan wajah yang penuh dengan air dan tanah (Shahih al-Bukhari bab taharri lailatil-qadr no. 2018).

Mengenai keterangan ‘Aisyah bahwa Nabi saw kalau i’tikaf shalat shubuh dahulu baru masuk ke tempat i’tikafnya, maka itu tidak berarti bahwa Nabi saw memulai i’tikaf dari shubuh:

كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ صَلَّى الْفَجْرَ ثُمَّ دَخَلَ مُعْتَكَفَهُ

Rasulullah saw apabila hendak i’tikaf, shalat shubuh, kemudian beliau masuk ke tempat khusus i’tikafnya (Shahih Muslim bab mata yadkhulu man aradal-i’tikaf no. 2842).

Terkait keterangan ‘Aisyah di atas Imam an-Nawawi menjelaskan:

وَقَالَ مَالِك وَأَبُو حَنِيفَة وَالشَّافِعِيّ وَأَحْمَد: يَدْخُل فِيهِ قَبْل غُرُوب الشَّمْس إِذَا أَرَادَ اِعْتِكَاف شَهْر أَوْ اِعْتِكَاف عَشْر، وَأَوَّلُوا الْحَدِيث عَلَى أَنَّهُ دَخَلَ الْمُعْتَكَف وَانْقَطَعَ فِيهِ، وَتَخَلَّى بِنَفْسِهِ بَعْد صَلَاته الصُّبْح، لَا أَنَّ ذَلِكَ وَقْت اِبْتِدَاء الِاعْتِكَاف، بَلْ كَانَ مِنْ قَبْل الْمَغْرِب مُعْتَكِفًا لَابِثًا فِي جُمْلَة الْمَسْجِد فَلَمَّا صَلَّى الصُّبْح اِنْفَرَدَ

Imam Malik, Abu Hanifah, as-Syafi’i dan Ahmad menjelaskan: Masuk ke masjid itu sebelum terbenam matahari (maghrib) apabila ia hendak i’tikaf satu bulan atau 10 hari (terakhir). Para ulama tersebut menakwilkan hadits di atas bahwasanya yang dimaksud adalah beliau masuk ke tempat khusus i’tikafnya, beristirahat di sana, dan menyendiri sesudah shalat shubuh. Bukan berarti bahwa itu adalah waktu dimulainya i’tikaf. Dari sejak sebelum maghrib beliau i’tikaf dan menetap di masjid secara keseluruhan. Setelah selesai shalat shubuh baru beliau menyendiri (Syarah an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim).

Artinya beliau i’tikaf siang dan malam. Di malam hari beraktifitas ibadah semalaman, lalu sesudah shalat shubuh beliau baru beristirahat. Maka jika 10 hari terakhir beliau beri’tikaf, maka berarti beliau selesai i’tikaf di sore hari ke-29/30 (disesuaikan dengan jumlah hari Ramadlannya) atau maghrib tanggal 1 Syawwal. Ada yang berpendapat bahwa akhir i’tikaf itu ba’da shubuh hari ke-29/30 berdasarkan keterangan berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ  قَالَ اعْتَكَفْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ الْعَشْرَ الْأَوْسَطَ فَلَمَّا كَانَ صَبِيحَةَ عِشْرِينَ نَقَلْنَا مَتَاعَنَا

Dari Abu Sa’id ra, ia berkata: “Kami i’tikaf bersama Rasulullah saw di sepuluh malam pertengahan. Maka pada shubuh hari ke-20 kami memindahkan barang-barang keperluan kami.” (Shahih al-Bukhari bab man kharaja min i’tikafihi ba’das-shubhi no. 2040)

Al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan bahwa i’tikaf pada tahap awalnya dilaksanakan pada 10 hari pertama, lalu 10 hari kedua, dan pada akhirnya ditetapkan 10 hari terakhir setelah Nabi saw mendapatkan kepastian dari wahyu bahwa lailatul-qadar adanya pada 10 hari terakhir. Potongan hadits di atas menjelaskan di masa i’tikaf pada 10 hari kedua, para shahabat memindahkan barang-barang keperluannya ba’da shubuh hari terakhir dari 10 hari kedua tersebut. Oleh sebagian ulama ini dijadikan dalil bahwa i’tikaf itu berakhir ba’da shubuh. Menurut Ibn Hajar, pendapat tersebut sangat lemah, sebab i’tikaf itu siang-malam, jadi kalau 10 hari maka mencakup 10 malam dan 10 siang. Maksud dari hadits di atas: (1) para shahabat yang i’tikaf di waktu malam saja, ba’da shubuh terakhir langsung berkemas, atau (2) para shahabat hanya berkemas, tetapi tidak keluar atau mengakhiri i’tikaf sebelum maghrib (Fathul-Bari).

Mengenai i’tikaf yang malam saja, para ulama jumhur membenarkannya. Tetapi pada hakikatnya itu hanya bagian dari amal ihya`ul-lail (menghidupkan malam) semata yang memang Nabi saw syari’atkan juga di samping atau bersamaan dengan i’tikaf. Dalilnya:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Dari ‘Aisyah, ia berkata: “Nabi saw apabila telah masuk 10 hari terakhir Ramadlan, mempererat sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (Shahih al-Bukhari kitab fadlli lailatil-qadri bab al-‘amal fi al-‘asyr al-awakhir min ramadlan no. 2024).

Maksud sabda pernyataan ‘Aisyah “menghidupkan malamnya” adalah:

قَوْله وأحيا ليله أَي سَهِرَهُ فَأَحْيَاهُ بِالطَّاعَةِ وأحيا نَفْسَهُ بِسَهَرِهِ فِيهِ لِأَنَّ النَّوْمَ أَخُو الْمَوْتِ

Maksud ahya lailahu adalah terjaga (tidak tidur) di waktu malam, lalu menghidupkannya dengan ketaatan dan menghidupkan dirinya dengan terjaga di waktu malam, karena tidur itu dekat pada makna mati (Fathul-Bari).

Dan maksud dari “membangunkan keluarganya” adalah:

قَوْلُهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ أَيْ لِلصَّلَاةِ وَرَوَى التِّرْمِذِيُّ وَمُحَمَّدُ بْنُ نَصْرٍ مِنْ حَدِيثِ زَيْنَبَ بِنْتِ أُمِّ سَلَمَةَ: لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا بَقِيَ مِنْ رَمَضَانَ عَشْرَةُ أَيَّامٍ يَدَعُ أَحَدًا مِنْ أَهْلِهِ يُطِيقُ الْقِيَامَ إِلَّا أَقَامَهُ… وَعَلَى تَقْدِيرِ أَنَّهُ لَمْ يَعْتَكِفْ أَحَدٌ مِنْهُنَّ فَيُحْتَمَلُ أَنْ يُوقِظَهُنَّ مِنْ مَوْضِعِهِ وَأَن يوقظهن عِنْد مَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ لِحَاجَتِهِ

Maksud aiqazha ahlahu yaitu membangunkan keluarga untuk shalat. At-Tirmidzi dan Muhammad ibn Nashr meriwayatkan dari hadits Zainab putri Ummu Salamah: “Nabi saw tidak pernah apabila tersisa sepuluh hari dari Ramadlan membiarkan seorang pun dari keluarganya yang mampu bangun untuk shalat kecuali beliau akan membangunkannya… berdasar pada pertimbangan bahwa tidak ada seorang istrinya pun yang i’tikaf, maka mungkin Nabi saw membangunkan keluarganya dari tempat i’tikafnya, atau membangunkan mereka ketika masuk ke rumahnya untuk satu keperluan (Fathul-Bari).

Hadits di atas menunjukkan bahwa bagi yang i’tikaf seperti Nabi saw atau yang tidak i’tikaf seperti istri-istri Nabi saw, tetap dianjurkan untuk ihya`ul-lail (menghidupkan malam). Maksudnya sebagaimana dijelaskan al-Hafizh di atas adalah sengaja tidak tidur semalaman. Berdasarkan keterangan Zainab binti Ummu Salamah di atas, jelas bahwa yang dilakukan pada “menghidupkan malam” itu adalah shalat malam atau tarawih hampir semalaman. Disebut ‘hampir semalaman’ karena memang Rasul saw juga ada mengisinya dengan tadarus, sehingga tidak semalaman shalat malam. Terlebih hadits Abu Dzar berikut juga menunjukkan bahwa Rasul saw memang tidak semalaman suntuk shalat malam:

عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ رَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنَ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِىَ سَبْعٌ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَتِ السَّادِسَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتِ الْخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا قِيَامَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ. قَالَ فَقَالَ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ. قَالَ فَلَمَّا كَانَتِ الرَّابِعَةُ لَمْ يَقُمْ فَلَمَّا كَانَتِ الثَّالِثَةُ جَمَعَ أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ وَالنَّاسَ فَقَامَ بِنَا حَتَّى خَشِينَا أَنْ يَفُوتَنَا الْفَلاَحُ. قَالَ قُلْتُ مَا الْفَلاَحُ قَالَ السُّحُورُ ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا بَقِيَّةَ الشَّهْرِ

Dari Abu Dzar, ia berkata: Kami shaum Ramadlan bersama Rasulullah saw. Beliau tidak shalat malam bersama kami pada satu malam pun sehingga tersisa tujuh hari lagi (malam ke-23), lalu beliau shalat malam bersama kami sampai lewat sepertiga malam. Lalu pada malam keenam (dari yang tersisa, yakni malam ke-24), beliau tidak shalat malam bersama kami. Pada malam kelima (dari yang tersisa, yakni malam ke-25) beliau shalat malam bersama kami sampai lewat tengah malam. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, seandainya saja anda sunatkan untuk kami shalat pada malam ini semalaman (tidak hanya setengah malam).” Beliau menjawab: “Sungguh seseorang itu jika shalat (‘isya, shubuh, atau shalat malam) bersama imam sampai selesai, itu sudah dihitung shalat malam semalaman.” Kemudian pada malam keempat (dari yang tersisa, yakni malam ke-26) beliau tidak shalat malam (bersama jama’ah). Kemudian pada malam ketiga (dari yang tersisa, yakni malam ke-27) beliau mengumpulkan keluarga, istri-istrinya, dan semua orang yang ada. Beliau shalat malam bersama kami sampai kami takut ketinggalan falah. Aku (Jubair ibn Nufair) bertanya: “Apa falah itu?” Abu Dzar menjawab: “Sahur.” Kemudian beliau tidak shalat malam lagi di sisa bulan Ramadlan tersebut (Sunan Abi Dawud bab fi qiyam syahri Ramadlan no. 1377; Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a fi qiyam syahri Ramadlan no. 806. al-Albani: Hadits shahih).

Hadits terkait amalan Nabi saw, tentu jangan dipahami bahwa selamanya Nabi saw mengamalkan demikian, jika faktanya ada hadits lain yang menginformasikan berbeda. Maksud hadits amalan Nabi saw seperti di atas adalah Nabi saw pernah mengamalkan shalat malam/tarawih pada bulan Ramadlan seperti di atas.

Dari keterangan Abu Dzar di atas diketahui bahwasanya Nabi saw shalat tarawih berjama’ah hanya pada malam ke-23, 25 dan 27. Pada malam ke-23 Nabi saw shalat sampai lewat sepertiga malam (sekitar 3 jam). Pada malam ke-25 Nabi saw shalat sampai lewat tengah malam (sekitar 4,5 jam). Dan pada malam ke-27 dengan mengajak semua keluarga dan istri-istrinya beliau shalat sampai akhir malam/sahur (sekitar 8 jam). Tidak berarti bahwa di malam-malam sisanya Nabi saw tidak shalat malam, sebab bagi Nabi saw shalat malam wajib. Jadi yang tepat, di malam-malam sisanya Nabi saw tidak shalat tarawih berjama’ah, hanya sendirian. Jama’ah i’tikaf pun demikian, shalat masing-masing. Jika digabungkan dengan keterangan di atas tentang ihya`ul-lail terkait shalat malam, berarti hampir semua shahabat, termasuk keluarganya yang tidak i’tikaf menghidupkan malam dengan shalat malam.

Perihal shalat tarawih di masa sekarang ini yang mayoritas di awal malam dan sebentar, lalu beberapa orang yang i’tikaf ingin shalat di tengah atau akhir malam, ini tentu kembali pada fiqh apakah shalat malam terbatas pada 11 raka’at atau tidak. Jumhur ulama—termasuk A. Hassan dalam kitab Pengajaran Shalat—tidak membatasi harus 11 dan tidak boleh lebih, sehingga menurut mereka boleh menambah shalat malam lagi asal witirnya tidak diulangi lagi. Ini pernah diamalkan oleh shahabat Thalq ibn ‘Ali.

عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقٍ قَالَ زَارَنَا طَلْقُ بْنُ عَلِىٍّ فِى يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ وَأَمْسَى عِنْدَنَا وَأَفْطَرَ ثُمَّ قَامَ بِنَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ وَأَوْتَرَ بِنَا ثُمَّ انْحَدَرَ إِلَى مَسْجِدِهِ فَصَلَّى بِأَصْحَابِهِ حَتَّى إِذَا بَقِىَ الْوِتْرُ قَدَّمَ رَجُلاً فَقَالَ أَوْتِرْ بِأَصْحَابِكَ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ لاَ وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ

Dari Qais ibn Thalq, ia berkata: Thalq ibn ‘Ali berkunjung ke rumah kami pada satu hari di bulan Ramadlan. Beliau ada di tempat kami sampai sore hari dan berbuka. Kemudian beliau shalat malam (tarawih) mengimami kami pada malam tersebut dan shalat witir. Kemudian beliau pulang ke masjidnya, dan shalat malam (tarawih) lagi bersama jama’ahnya. Sampai ketika tinggal tersisa witirnya, beliau menyuruh seseorang untuk maju menjadi imam dan berkata: “Witirlah kamu bersama sahabat-sahabat kamu, karena sungguh aku mendengar Rasulullah saw bersabda: ‘Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam’ (Sunan Abi Dawud bab fi naqdlil-witr no. 1441. Al-Albani: Shahih).

Bagi yang membatasi shalat malam tidak boleh lebih dari 11 raka’at, maka shalat pada waktu malam sesudahnya dikategorikan shalat muthlaq biasa yang tidak ditentukan nama dan batasannya. Dan berdasarkan sabda Nabi saw yang umum bahwa “shalat malam dan siang dua raka’at-dua raka’at” berarti pengamalannya dua raka’at-dua raka’at. Wal-‘Llahu a’lam.