Home > Ibadah > Menimbang Hadits “Massul-Mushhaf”

Menimbang Hadits “Massul-Mushhaf”

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ رَحِمَهُ اللَّهُ: أَنَّ فِي الْكِتَابِ الَّذِي كَتَبَهُ رَسُولُ اللهِ  لِعَمْرِو بْنِ حَزْمٍ: أَنْ لَا يَمَسَّ الْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرٌ. رَوَاهُ مَالِكٌ مُرْسَلاً وَوَصَلَهُ النَّسَائِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ وَهُوَ مَعْلُولٌ

Dari ‘Abdullah ibn Abi Bakar—semoga Allah merahmatinya: Sesungguhnya dalam surat yang Rasulullah saw tulis untuk ‘Amr ibn Hazm tertulis: “Tidak boleh menyentuh al-Qur`an kecuali orang yang suci.” Malik meriwayatkannya secara mursal. An-Nasa`i dan Ibn Hibban meriwayatkannya dengan maushul, tetapi itu (penilaian maushul) ma’lul (ada ‘illat [cacat]-nya).

(Bulughul-Maram no. 83)

 

Takhrij Hadits

Hadits mursal adalah hadits yang terputus sanadnya pada shahabat, yakni seorang tabi’in menyatakan menerima dari Nabi saw, tapi tidak menyebutkan shahabat yang menyampaikannya. Imam Malik meriwayatkan hadits di atas dalam Muwaththa` Malik bab al-amr bil-wudlu li man massal-qur`an no. 419 secara mursal (terputus di akhir sanadnya), karena Malik menerima dari ‘Abdullah ibn Abi Bakar dan menceritakan tentang surat Nabi saw untuk ‘Amr ibn Hazm. Padahal ‘Abdullah ibn Abi Bakar (tabi’in, lahir 65 H, wafat 135 H) tidak pernah menerima langsung surat ini dari ‘Amr ibn Hazm (shahabat, wafat tahun 50 H).

Hadits maushul artinya hadits yang sanadnya bersambung, kebalikan dari mursal. Hadits di atas diriwayatkan secara maushul oleh an-Nasa`i dan Ibn Hibban. Di kedua kitab itu disebutkan bahwa ‘Abdullah ibn Abi Bakar mengetahui surat tersebut dari tangan ayahnya; Abu Bakar. Abu Bakar sendiri menerima dari ayahnya; Muhammad, dari kakeknya; ‘Amr ibn Hazm. Sanad yang maushul ini dituliskan oleh an-Nasa`i dalam Sunan al-Mujtaba pada bab khusus “dzikru hadits ‘Amr ibn Hazm fil-‘uqul wa-ikhtilafin-naqilin lahu” (cuplikan hadits ‘Amr ibn Hazm tentang aturan tebusan/ganti rugi, dan ikhtilaf seputar orang-orang yang meriwayatkan ini dari ‘Amr ibn Hazm) no. 4853-4859. Sementara Ibn Hibban menuliskannya dalam kitab at-tarikh bab kutubin-Nabi saw no. 6559.

Sementara hadits ma’lul menurut Ibn Hajar adalah hadits yang tampaknya shahih tetapi sebenarnya ada cacat. Maka hadits yang dinilai dla’if dari sejak awal tidak masuk kategori ma’lul. Yang ma’lul itu yang asalnya dinilai shahih/tsiqat tetapi ternyata munqathi’, majhul, atau dla’if (an-Nukat ‘ala Ibnis-Shalah 2 : 710). Maka dari itu, pernyataan Ibn Hajar bahwa penilaian hadits ini ma’lul, itu ditujukan pada hadits maushul yang diriwayatkan an-Nasa`i dan Ibn Hibban. Bukan kepada hadits mursal riwayat Malik, sebab hadits mursal tidak akan disebut ma’lul. Penilaian ma’lul tersebut disebabkan terdapat kekeliruan dalam sanadnya. Disebutkan salah seorang rawinya Sulaiman ibn Dawud, tetapi sebenarnya berdasarkan data-data lain yang lebih akurat, yang benar adalah Sulaiman ibn Arqam. Kekeliruan terjadi pada al-Hakam ibn Musa yang menyatakan menerima dari Yahya ibn Hamzah, dari Sulaiman ibn Dawud, dari az-Zuhri, dari Abu Bakar, dari ayahnya; Muhammad, dari kakeknya; ‘Amr ibn Hazm. Padahal Yahya ibn Hamzah hanya menerima riwayat surat Rasulullah saw ini dari Sulaiman ibn Arqam, bukan dari Sulaiman ibn Dawud. Sulaiman ibn Arqam itu sendiri, menurut Ibn Hajar, seorang rawi yang dla’if.

Ulama hadits lainnya, seperti Ibn Hazm dan Ibn ‘Addi, menilai bahwa sanad yang benar dari hadits di atas memang melalui Sulaiman ibn Dawud. Meski demikian, kedua imam itu menilai bahwa Sulaiman ibn Dawud juga muttafaq ‘ala tarkihi (disepakati harus ditinggalkan). Ada juga ulama hadits lainnya yang menyatakan bahwa Sulaiman ibn Dawud dalam hadits di atas bukan Sulaiman ibn Dawud al-Yamami yang dla’if, melainkan Sulaiman ibn Dawud al-Khaulani yang tsiqah (terpercaya). Pendapat ini di antaranya dikemukakan oleh Ibn Hibban, al-Hakim, dan al-Baihaqi. Akan tetapi al-Hafizh Ibn Hajar menyatakan bahwa data yang paling akurat menunjukkan bahwa rawi di sanad ini memang Sulaiman ibn Arqam seorang rawi yang dla’if, bukan Sulaiman ibn Dawud.

Sulaiman ibn Arqam ini, sebagaimana diuraikan penilaian jarh dan ta’dilnya oleh Ibn Hajar dalam Tahdzibut-Tahdzib, ada ulama yang menilainya dla’if parah dan ada juga yang menilainya dla’if tidak parah. Akan tetapi Ibn Hajar sendiri menyimpulkan dalam Taqribut-Tahdzib bahwa Sulaiman ibn Arqam ini statusnya “dla’if”. Status dla’if dari Ibn Hajar masuk pada martabat istisyhad; bisa dijadikan syahid/penguat, dan bisa dijadikan hujjah ketika ada sanad lain yang mendukungnya.

Di samping itu, al-Hafizh Ibn Hajar juga menyebutkan adanya syahid (riwayat lain sebagai penguat dari shahabat yang berbeda) untuk hadits ini, yakni dari shahabat Ibn ‘Umar yang diriwayatkan oleh ad-Daraquthni dan at-Thabrani. Sanadnya la ba`sa bihi (tidak ada masalah). Al-Atsram juga menyebutkan bahwa Imam Ahmad menjadikannya sebagai hujjah (at-Talkhishul-Habir bab al-ahdats hadits no. 175). Setelah penulis telusuri, dalam sanadnya terdapat rawi bernama Ibn Juraij, seorang mudallis; rawi yang sering melakukan tadlis (menyatakan menerima dari seorang syaikh tetapi sebenarnya ia tidak menerima langsung dari dia). Rawi mudallis jika meriwayatkan dengan shighah ‘an maka riwayatnya dipastikan tadlis dan otomatis dla’if. Ibn Juraij sendiri dalam sanad ini menerima dari Sulaiman ibn Musa dengan shighah ‘an. Maka dari itu dla’if. Penilaian la ba`sa bihi dari Ibn Hajar sendiri dijelaskan maksudnya dalam Fathul-Bari kitab al-iman bab ‘alamatil-munafiq:

وَإِسْنَاده لَا بَأْس بِهِ لَيْسَ فِيهِمْ مَنْ أُجْمِعَ عَلَى تَرْكه

Sanadnya ‘la ba`sa bihi’; tidak ada di dalamnya rawi yang disepakati harus ditinggalkan sama sekali (sebagai hujjah atau syahid).

 

Di samping itu masih ada juga syahid-syahid lain yang dla’if dari: (1) ‘Utsman ibn Abil-‘Ash riwayat at-Thabrani dan Ibn Abi Dawud; (2) Tsauban riwayat ‘Ali ib ‘Abdil-‘Aziz dalam Musnadnya; (3) Saudara perempuan ‘Umar ibn al-Khaththab ketika ‘Umar masuk Islam riwayat ad-Daraquthni, dan (4) Salman secara mauquf riwayat al-Hakim dan ad-Daraquthni (at-Talkhishul-Habir bab al-ahdats hadits no. 175).

Sementara al-Albani menyebutkan tujuh sanad dari hadits di atas:

Pertama, hadits Abu Bakar ibn Muhammad ibn ‘Amr ibn Hazm yang statusnya mursal dan diriwayatkan Imam Malik. Menurut al-Albani, hadits ini yang paling tepat bukan dari ‘Abdullah ibn Abu Bakar, melainkan dari ayahnya; Abu Bakar ibn Muhammad.

موطأ مالك ت عبد الباقي (1/ 199

 حَدَّثَنِي يَحْيَى، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ حَزْمٍ، أَنَّ فِي الْكِتَابِ الَّذِي كَتَبَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَمْرِو بْنِ حَزْمٍ: «أَنْ لَا يَمَسَّ الْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرٌ» قَالَ مَالِكٌ: «وَلَا يَحْمِلُ أَحَدٌ الْمُصْحَفَ بِعِلَاقَتِهِ وَلَا عَلَى وِسَادَةٍ إِلَّا وَهُوَ طَاهِرٌ، وَلَوْ جَازَ ذَلِكَ لَحُمِلَ فِي خَبِيئَتِهِ وَلَمْ يُكْرَهْ ذَلِكَ، لِأَنْ يَكُونَ فِي يَدَيِ الَّذِي يَحْمِلُهُ شَيْءٌ يُدَنِّسُ بِهِ الْمُصْحَفَ. وَلَكِنْ إِنَّمَا كُرِهَ ذَلِكَ لِمَنْ يَحْمِلُهُ وَهُوَ غَيْرُ طَاهِرٍ، إِكْرَامًا لِلْقُرْآنِ وَتَعْظِيمًا لَهُ» قَالَ مَالِكٌ: ” أَحْسَنُ مَا سَمِعْتُ فِي هَذِهِ الْآيَةِ {لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ} [الواقعة: 79] إِنَّمَا هِيَ بِمَنْزِلَةِ هَذِهِ الْآيَةِ، الَّتِي فِي {عَبَسَ وَتَوَلَّى} [عبس: 1]، قَوْلُ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: {كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ. فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ. فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ. مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ. بِأَيْدِي سَفَرَةٍ. كِرَامٍ بَرَرَةٍ} [عبس: 12

Kedua, hadits ‘Amr ibn Hazm yang dla’if jiddan disebabkan rawi Sulaiman ibn Arqam. Untuk hadits ‘Amr ibn Hazm ini ada juga yang diriwayatkan melalui Sulaiman ibn Dawud dan ditemukan dalam Fawa`id Abi Syu’aib, statusnya shahih.

سنن النسائي (8/ 57

ذِكْرُ حَدِيثِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ فِي الْعُقُولِ، وَاخْتِلَافُ النَّاقِلِينَ لَهُ

4853 – أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ مَنْصُورٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ مُوسَى، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَمْزَةَ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ دَاوُدَ، قَالَ: حَدَّثَنِي الزُّهْرِيُّ، عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ: ” أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَبَ إِلَى أَهْلِ الْيَمَنِ كِتَابًا فِيهِ الْفَرَائِضُ وَالسُّنَنُ وَالدِّيَاتُ، وَبَعَثَ بِهِ مَعَ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ، فَقُرِأتْ عَلَى أَهْلِ الْيَمَنِ هَذِهِ نُسْخَتُهَا: «مِنْ مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى شُرَحْبِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ، وَنُعَيْمِ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ، وَالْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ قَيْلِ ذِيِ رُعَيْنٍ وَمَعَافِرَ وَهَمْدَانَ أَمَّا بَعْدُ»، وَكَانَ فِي كِتَابِهِ «أَنَّ مَنْ اعْتَبَطَ مُؤْمِنًا قَتْلًا عَنْ بَيِّنَةٍ، فَإِنَّهُ قَوَدٌ إِلَّا أَنْ يَرْضَى أَوْلِيَاءُ الْمَقْتُولِ، وَأَنَّ فِي النَّفْسِ الدِّيَةَ مِائَةً مِنَ الْإِبِلِ، وَفِي الْأَنْفِ إِذَا أُوعِبَ جَدْعُهُ الدِّيَةُ وَفِي اللِّسَانِ الدِّيَةُ، وَفِي الشَّفَتَيْنِ الدِّيَةُ وَفِي الْبَيْضَتَيْنِ الدِّيَةُ، وَفِي الذَّكَرِ الدِّيَةُ وَفِي الصُّلْبِ الدِّيَةُ، وَفِي الْعَيْنَيْنِ الدِّيَةُ وَفِي الرِّجْلِ الْوَاحِدَةِ نِصْفُ الدِّيَةِ، وَفِي الْمَأْمُومَةِ ثُلُثُ الدِّيَةِ، وَفِي الْجَائِفَةِ ثُلُثُ الدِّيَةِ، وَفِي الْمُنَقِّلَةِ خَمْسَ عَشْرَةَ مِنَ الْإِبِلِ، وَفِي كُلِّ أُصْبُعٍ مِنْ أَصَابِعِ الْيَدِ وَالرِّجْلِ عَشْرٌ مِنَ الْإِبِلِ، وَفِي السِّنِّ خَمْسٌ مِنَ الْإِبِلِ، وَفِي الْمُوضِحَةِ خَمْسٌ مِنَ الْإِبِلِ، وَأَنَّ الرَّجُلَ يُقْتَلُ بِالْمَرْأَةِ وَعَلَى أَهْلِ الذَّهَبِ أَلْفُ دِينَارٍ»، «خَالَفَهُ مُحَمَّدُ بْنُ بَكَّارِ بْنِ بِلَالٍ

4854 – أَخْبَرَنَا الْهَيْثَمُ بْنُ مَرْوَانَ بْنِ الْهَيْثَمِ بْنِ عِمْرَانَ الْعَنْسِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكَّارِ بْنِ بِلَالٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى، قَالَ: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ أَرْقَمَ، قَالَ: حَدَّثَنِي الزُّهْرِيُّ، عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَبَ إِلَى أَهْلِ الْيَمَنِ بِكِتَابٍ فِيهِ الْفَرَائِضُ وَالسُّنَنُ وَالدِّيَاتُ، وَبَعَثَ بِهِ مَعَ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ، فَقُرِئَ عَلَى أَهْلِ الْيَمَنِ هَذِهِ نُسْخَتُهُ – فَذَكَرَ مِثْلَهُ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ: «وَفِي الْعَيْنِ الْوَاحِدَةِ نِصْفُ الدِّيَةِ، وَفِي الْيَدِ الْوَاحِدَةِ نِصْفُ الدِّيَةِ وَفِي الرِّجْلِ الْوَاحِدَةِ نِصْفُ الدِّيَةِ» قَالَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ: «وَهَذَا أَشْبَهُ بِالصَّوَابِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ» وَسُلَيْمَانُ بْنُ أَرْقَمَ مَتْرُوكُ الْحَدِيثِ، وَقَدْ رَوَى هَذَا الْحَدِيثَ يُونُسُ، عَنِ الزُّهْرِيِّ مُرْسَلًا “

صحيح ابن حبان – مخرجا (14/ 501

6559 – أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، وَأَبُو يَعْلَى، وَحَامِدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ شُعَيْبٍ فِي آخَرِينَ، قَالُوا: حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَمْزَةَ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ دَاوُدَ، حَدَّثَنِي الزُّهْرِيُّ، عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَبَ إِلَى أَهْلِ الْيَمَنِ بِكِتَابٍ فِيهِ الْفَرَائِضُ وَالسُّنَنُ وَالدِّيَاتُ، وَبَعَثَ بِهِ مَعَ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ، فَقُرِئَتْ عَلَى أَهْلِ الْيَمَنِ، وَهَذِهِ نُسْخَتُهَا:

«[بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم] 

مِنْ مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى شُرَحْبِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ، وَالْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ، وَنُعَيْمِ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ، قِيلَ ذِي رُعَيْنٍ وَمَعَافِرَ وَهَمْدَانَ: أَمَّا بَعْدُ، فَقَدْ رَجَعَ رَسُولُكُمْ، وَأُعْطِيتُمْ مِنَ الْغَنَائِمِ خُمُسَ اللَّهِ، وَمَا كَتَبَ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ مِنَ الْعُشْرِ فِي الْعَقَارِ، وَمَا سَقَتِ السَّمَاءُ أَوْ كَانَ سَيْحًا أَوْ بَعْلًا، فَفِيهِ الْعُشْرُ إِذَا بَلَغَ خَمْسَةَ [ص:502] أَوْسُقٍ، وَمَا سُقِيَ بِالرَّشَاءِ، وَالدَّالِيَةِ، فَفِيهِ نِصْفُ الْعُشْرِ إِذَا بَلَغَ خَمْسَةَ أَوْسُقٍ، وَفِي كُلِّ خَمْسٍ مِنَ الْإِبِلِ سَائِمَةً شَاةٌ إِلَى أَنْ تَبْلُغَ أَرْبَعًا وَعِشْرِينَ، فَإِذَا زَادَتْ وَاحِدَةٌ عَلَى أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ فَفِيهَا ابْنَةُ مَخَاضٍ، فَإِنْ لَمْ تُوجَدْ بِنْتُ مَخَاضٍ، فَابْنُ لَبُونٍ، ذَكَرٍ إِلَى أَنْ تَبْلُغَ خَمْسًا وَثَلَاثِينَ، فَإِذَا زَادَتْ عَلَى خَمْسٍ وَثَلَاثِينَ، فَفِيهَا ابْنَةُ لَبُونٍ إِلَى أَنْ تَبْلُغَ خَمْسًا وَأَرْبَعِينَ، فَإِذَا زَادَتْ عَلَى خَمْسٍ وَأَرْبَعِينَ، فَفِيهَا حِقَّةٌ طَرُوقَةٌ إِلَى أَنْ تَبْلُغَ سِتِّينَ، فَإِنْ زَادَتْ عَلَى سِتِّينَ وَاحِدَةً، فَفِيهَا جَذَعَةٌ إِلَى أَنْ تَبْلُغَ خَمْسَةً وَسَبْعِينَ، فَإِنْ زَادَتْ عَلَى خَمْسٍ وَسَبْعِينَ وَاحِدَةً، فَفِيهَا ابْنَتَا لَبُونٍ إِلَى أَنْ تَبْلُغَ تِسْعِينَ، فَإِنْ زَادَتْ عَلَى تِسْعِينَ وَاحِدَةً، فَفِيهَا حِقَّتَانِ طَرُوقَتَا الْجَمَلِ، إِلَى أَنْ تَبْلُغَ عِشْرِينَ وَمِائَةً، فَمَا زَادَ، فَفِي كُلِّ أَرْبَعِينَ ابْنَةُ [ص:503] لَبُونٍ، وَفِي كُلِّ خَمْسِينَ حِقَّةً طَرُوقَةُ الْجَمَلِ، وَفِي كُلِّ ثَلَاثِينَ بَاقُورَةُ بَقَرَةٍ، وَفِي كُلِّ أَرْبَعِينَ شَاةً سَائِمَةً شَاةٌ إِلَى أَنْ تَبْلُغَ عِشْرِينَ وَمِائَةً، فَإِنْ زَادَتْ عَلَى عِشْرِينَ وَاحِدَةً، فَفِيهَا شَاتَانِ إِلَى أَنْ تَبْلُغَ مِئَتَانِ، فَإِنْ زَادَتْ وَاحِدَةً، فَثَلَاثَةُ شِيَاهٍ إِلَى أَنْ تَبْلُغَ ثَلَاثَ مِائَةٍ، فَمَا زَادَ فَفِي كُلِّ مِائَةِ شَاةٍ شَاةٌ، وَلَا تُؤْخَذُ فِي الصَّدَقَةِ هَرِمَةٌ وَلَا عَجْفَاءُ وَلَا ذَاتُ عَوَارٍ وَلَا تَيْسُ الْغَنَمِ، وَلَا يُجْمَعُ بَيْنَ مُتَفَرِّقٍ، وَلَا يُفَرَّقُ بَيْنَ مُجْتَمِعٍ خِيفَةَ الصَّدَقَةَ، وَمَا أُخِذَ مِنَ الْخَلِيطَيْنِ، فَإِنَّهُمَا يَتَرَاجَعَانِ بَيْنَهُمَا بِالسَّوِيَّةِ، وَفِي كُلِّ خَمْسِ أَوَاقٍ مِنَ الْوَرِقِ خَمْسَةُ دَرَاهِمٍ، فَمَا زَادَ فَفِي كُلِّ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا دِرْهَمٌ، وَلَيْسَ فِيهَا دُونَ خَمْسِ أَوَاقٍ شَيْءٌ، وَفِي كُلِّ أَرْبَعِينَ دِينَارًا دِينَارٌ، وَإِنَّ الصَّدَقَةَ لَا تَحِلُّ لِمُحَمَّدٍ وَلَا لِأَهْلِ بَيْتِهِ، وَإِنَّمَا هِيَ الزَّكَاةُ تُزَكَّى بِهَا أَنْفُسُهُمْ فِي فُقَرَاءِ الْمُؤْمِنِينَ، أَوْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، [ص:504] وَلَيْسَ فِي رَقِيقٍ وَلَا مَزْرَعَةٍ وَلَا عُمَّالِهَا شَيْءٌ، إِذَا كَانَتْ تُؤَدَّى صَدَقُتُهَا مِنَ الْعُشْرِ، وَلَيْسَ فِي عَبْدِ الْمُسْلِمِ وَلَا فَرَسِهِ شَيْءٌ، وَإِنَّ أَكْبَرَ الْكَبَائِرِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الْمُؤْمِنَةِ بِغَيْرِ الْحَقِّ، وَالْفِرَارُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَوْمَ الزَّحْفِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ، وَرَمْيُ الْمُحْصَنَةِ، وَتَعَلُّمُ السَّحَرِ، وَأَكَلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ، وَإِنَّ الْعُمْرَةَ الْحَجُّ الْأَصْغَرِ، وَلَا يَمَسُّ الْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرٌ، وَلَا طَلَاقَ قَبْلَ إِمْلَاكٍ، وَلَا عِتْقَ حَتَّى يُبْتَاعَ، وَلَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدُكُمْ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ لَيْسَ عَلَى مَنْكِبِهِ مِنْهُ شَيْءٌ، وَلَا يَحْتَبِيَنَّ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّمَاءِ شَيْءٌ، وَلَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدُكُمْ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ وَشِقُّهُ بَادٍ، وَلَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدُكُمْ عَاقِصًا شَعْرَهُ، وَإِنَّ مَنِ اعْتَبَطَ مُؤْمِنًا قَتْلًا عَنْ بَيِّنَةٍ، فَهُوَ قَوَدٌ إِلَّا أَنْ يَرْضَى أَوْلِيَاءُ الْمَقْتُولِ، وَإِنَّ فِي النَّفْسِ الدِّيَةَ مِائَةٌ مِنَ الْإِبِلِ، وَفِي الْأَنْفِ إِذَا أُوعِبَ جَدْعُهُ الدِّيَةُ، وَفِي اللِّسَانِ الدِّيَةُ، وَفِي الشَّفَتَيْنِ الدِّيَةُ، وَفِي الْبَيْضَتَيْنِ الدِّيَةُ، وَفِي الذَّكَرِ الدِّيَةُ، وَفِي الصُّلْبِ الدِّيَةُ، وَفِي [ص:508] الْعَيْنَيْنِ الدِّيَةُ، وَفِي الرِّجْلِ الْوَاحِدَةِ نِصْفُ الدِّيَةِ، وَفِي الْمَأْمُومَةِ ثُلُثُ الدِّيَةِ، وَفِي الْجَائِفَةِ ثُلُثُ الدِّيَةِ، وَفِي الْمُنَقِّلَةِ خَمْسَ عَشْرَةَ مِنَ الْإِبِلِ، وَفِي كُلِّ أُصْبُعٍ مِنَ الْأَصَابِعِ مِنَ الْيَدِ وَالرِّجْلِ عَشْرٌ مِنَ الْإِبِلِ، وَفِي السِّنِّ خَمْسٌ مِنَ الْإِبِلِ، وَفِي الْمُوضِحَةِ خَمْسٌ مِنَ الْإِبِلِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ يُقْتَلُ [ص:510] بِالْمَرْأَةِ، وَعَلَى أَهْلِ الذَّهَبِ أَلْفُ دِينَارٍ

رقم طبعة با وزير =  (6525

لَفْظُ الْخَبَرِ لِحَامِدِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ شُعَيْبٍ.

ص:515] قَالَ أَبُو حَاتِمٍ: «سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ هَذَا هُوَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْخَوْلَانِيُّ مِنْ أَهْلِ دِمَشْقَ ثِقَةٌ مَأْمُونٌ، وَسُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْيَمَامِيُّ لَا شَيْءَ، وَجَمِيعًا يَرْوِيَانِ عَنِ الزُّهْرِيِّ»

إرواء الغليل في تخريج أحاديث منار السبيل (1/ 161

وبعد كتابة ما تقدم بزمن بعيد (1) وجدت حديث عمرو بن حزم فى كتاب ” فوائد أبى شعيب ” من رواية أبى الحسن محمد بن أحمد الزعفرانى , وهو من رواية سليمان ابن داود الذى سبق ذكره , ثم روى عن البغوى أنه قال: ” سمعت أحمد بن حنبل وسئل عن هذا الحديث , فقال: أرجو أن يكون صحيحا

Ketiga, hadits Hakim ibn Hizam yang dalam sanadnya ada Mathar al-Warraq seorang yang shaduq (jujur) tapi katsirul-khatha` (sering keliru) dan Suwaid Abu Hatim yang dla’if.

سنن الدارقطني (1/ 221

440 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا جَعْفَرُ بْنُ أَبِي عُثْمَانَ الطَّيَالِسِيُّ , حَدَّثَنِي إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْمِنْقَرِيُّ , قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي , نا سُوَيْدٌ أَبُو حَاتِمٍ , نا مَطَرٌ الْوَرَّاقُ , عَنْ حَسَّانَ بْنِ بِلَالٍ , عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ , أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ:  «لَا تَمَسَّ الْقُرْآنَ إِلَّا وَأَنْتَ عَلَى طُهْرٍ». قَالَ لَنَا ابْنُ مَخْلَدٍ: سَمِعْتُ جَعْفَرًا , يَقُولُ: سَمِعَ حَسَّانُ بْنُ بِلَالٍ مِنْ عَائِشَةَ وَعَمَّارٍ , قِيلَ لَهُ: سَمِعَ مَطَرٌ مِنْ حَسَّانَ؟ , فَقَالَ: نَعَمْ

Keempat, hadits Ibn ‘Umar yang dalam sanadnya ada Ibn Juraij, seorang rawi mudallis.

سنن الدارقطني (1/ 219

437 – حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ ثَوَابٍ , ثنا أَبُو عَاصِمٍ , ثنا ابْنُ جُرَيْجٍ , عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ مُوسَى , قَالَ: سَمِعْتُ سَالِمًا , يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ , قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  «لَا يَمَسَّ الْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرًا

Kelima, hadits ‘Utsman ibn Abil-‘Ash yang dalam sanadnya ada Isma’il ibn Rafi’ seorang rawi dla’iful-hifzh (lemah hafalan).

المعجم الكبير للطبراني (7/ 427، بترقيم الشاملة آليا

8257 – حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بن عَمْرٍو الْخَلالُ الْمَكِّيُّ، حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بن حُمَيْدٍ، حَدَّثَنَا هِشَامُ بن سُلَيْمَانَ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بن رَافِعٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بن سَعِيدِ بن عَبْدِ الْمَلِكِ، عَنِ الْمُغِيرَةِ بن شُعْبَةَ، قَالَ: قَالَ عُثْمَانُ بن أَبِي الْعَاصِ وَكَانَ شَابًّا: وَفَدْنَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَنِي أَفْضَلَهُمْ أَخْذًا لِلْقُرْآنِ، وَقَدْ فَضَلْتُهُمْ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”قَدْ أَمَّرْتُكَ عَلَى أَصْحَابِكَ، وَأَنْتَ أَصْغَرُهُمْ، فَإِذَا أَمَمْتَ قَوْمًا فَأُمَّهُمْ بِأَضْعَفِهِمْ، فَإِنْ وَرَاءَكَ الْكَبِيرَ وَالصَّغِيرَ وَالضَّعِيفَ وَذَا الْحَاجَةِ، وَإِذَا كُنْتَ مُصَدِّقًا فَلا تَأْخُذِ الشَّافِعَ وَهِي الْمَاخِضُ وَلا الرُّبَّى وَلا فَحْلَ الْغَنَمِ، وَحَزْرَةُ الرَّجُلِ هُوَ أَحَقُّ بِهَا مِنْكَ، وَلا تَمَسَّ الْقُرْآَنَ إِلا وَأَنْتَ طَاهِرٌ، واعْلَمْ أَنَّ الْعُمْرَةَ هِي الْحَجُّ الأَصْغَرُ، وَأَنَّ عُمْرَةً خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، وَحَجَّةٌ خَيْرٌ مِنْ عُمْرَةٍ

المصاحف لابن أبي داود (ص: 426

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحُبَابِ الْحِمْيَرِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو صَالِحٍ الْحَكَمُ بْنُ الْمُبَارَكِ الْخَاشِتِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَاشِدٍ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ الْمَكِّيِّ، عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ أَبِي بَزَّةَ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ قَالَ: ” كَانَ فِيمَا عَهِدَ إِلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَمَسَّ الْمُصْحَفَ وَأَنْتَ غَيْرُ طَاهِرٍ

Keenam, hadits Tsauban yang dalam sanadnya ada Khashib ibn Jahdar, seorang rawi kadzdzab; pendusta, sehingga hadits ini tidak bisa dijadikan syahid.

نصب الراية (1/ 199

وَأَمَّا حَدِيثُ ثَوْبَانَ فَلَمْ أَجِدْهُ مَوْصُولًا، وَلَكِنْ قَالَ ابْنُ الْقَطَّانِ فِي كِتَابِهِ الْوَهْمُ وَالْإِيهَامُ: وَرَوَى عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ فِي مُنْتَخَبِهِ حَدَّثَنَا إسْحَاقُ بْنُ إسْمَاعِيلَ ثَنَا مَسْعَدَةُ البصري عن خضيب بْنِ جَحْدَرٍ عَنْ النَّضْرِ بْنِ شُفَيٍّ عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ الرَّحَبِيِّ عَنْ ثَوْبَانَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَا يَمَسَّ الْقُرْآنَ إلَّا طَاهِرٌ، وَالْعُمْرَةُ هِيَ الْحَجُّ الْأَصْغَرُ”، انْتَهَى. قَالَ ابْنُ الْقَطَّانِ: وَإِسْنَادُهُ فِي غَايَةِ الضَّعْفِ، أَمَّا النَّضْرُ بْنُ شَفِيَ، فَلَمْ أَجِدْ لَهُ ذِكْرًا فِي شَيْءٍ مِنْ مَظَانِّهِ، فَهُوَ مَجْهُولٌ جِدًّا، وأما الخضيب بْنُ جَحْدَرٍ، فَقَدْ رَمَاهُ ابْنُ مَعِينٍ بِالْكَذِبِ، وَأَمَّا مَسْعَدَةُ الْبَصْرِيُّ، فَهُوَ ابْنُ الْيَسَعَ تَرَكَهُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، وَخَرَقَ حَدِيثَهُ، وَوَصَفَهُ أَبُو حَاتِمٍ بِالْكَذِبِ، وَأَمَّا إسْحَاقُ بْنُ إسْمَاعِيلَ فَهُوَ ابْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى يَرْوِي عَنْ ابْنِ عُيَيْنَةَ. وَجَرِيرٍ. وَغَيْرِهِمَا، وَهُوَ شَيْخٌ لِأَبِي دَاوُد، وَأَبُو دَاوُد إنَّمَا يَرْوِي عَنْ ثِقَةٍ عِنْدَهُ، انْتَهَى كَلَامُهُ

Ketujuh, hadits Sa’ad ibn Abi Waqqash yang statusnya shahih mauquf.

موطأ مالك ت عبد الباقي (1/ 42

59 – وَحَدَّثَنِي عَنْ مَالِكٍ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، أَنَّهُ قَالَ كُنْتُ أُمْسِكُ الْمُصْحَفَ عَلَى سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ فَاحْتَكَكْتُ فَقَالَ سَعْدٌ: «لَعَلَّكَ مَسِسْتَ ذَكَرَكَ؟» قَالَ: فَقُلْتُ نَعَمْ. فَقَالَ: «قُمْ، فَتَوَضَّأْ». فَقُمْتُ فَتَوَضَّأْتُ، ثُمَّ رَجَعْتُ

Jika digabungkan dengan sanad yang ditemukan oleh Ibn Hajar, berarti jumlah keseluruhannya ada sembilan, yakni ditambah dengan hadits saudara perempuan ‘Umar ibn al-Khaththab dan Salman.

سنن الدارقطني (1/ 221

441 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ غَيْلَانَ , نا الْحَسَنُ بْنُ الْجُنَيْدِ , وَحَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ الْآدَمَيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ الْمُنَادِي , قَالَا: نا إِسْحَاقُ الْأَزْرَقُ , نا الْقَاسِمُ بْنُ عُثْمَانَ الْبَصْرِيُّ , [ص:222] عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ , قَالَ: خَرَجَ عُمَرُ مُتَقَلِّدًا السَّيْفَ , فَقِيلَ لَهُ: إِنَّ خَتْنَكَ وَأُخْتَكَ قَدْ صَبَوْا , فَأَتَاهُمَا عُمَرُ وَعِنْدَهُمَا رَجُلٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ يُقَالُ لَهُ: خَبَّابٌ , وَكَانُوا يَقْرَؤُونَ طه , فَقَالَ: أَعْطُونِي الْكِتَابَ الَّذِي عِنْدَكُمْ أَقْرَأَهُ وَكَانَ عُمَرُ يَقْرَأُ الْكِتَابَ , فَقَالَتْ لَهُ أُخْتُهُ: إِنَّكَ رِجْسٌ، وَلَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ , فَقُمْ فَاغْتَسِلْ أَوْ تَوَضَّأْ، فَقَامَ عُمَرُ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ أَخَذَ الْكِتَابَ فَقَرَأَ طه “. الْقَاسِمُ بْنُ عُثْمَانَ لَيْسَ بِالْقَوِيٍّ

سنن الدارقطني (1/ 222

442 – حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُبَشِّرٍ , وَمُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , قَالَا: نا الْعَبَّاسُ الدُّورِيُّ , نا الْحَسَنُ بْنُ الرَّبِيعِ , ثنا أَبُو الْأَحْوَصِ , عَنِ الْأَعْمَشِ , عَنْ إِبْرَاهِيمَ , عَنْ عَلْقَمَةَ , قَالَ: كُنَّا مَعَ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ فِي سَفَرٍ فَقَضَى حَاجَتَهُ , فَقُلْنَا لَهُ: تَوَضَّأْ حَتَّى نَسْأَلَكَ عَنْ آيَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ , فَقَالَ:  «سَلُونِي فَإِنِّي لَسْتُ أَمَسُّهُ فَقَرَأَ عَلَيْنَا مَا أَرَدْنَا وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُ مَاءٌ». كُلُّهُمْ ثِقَاتٌ خَالَفَهُ جَمَاعَةٌ

Dari kesembilan sanad ini yang tidak bisa dijadikan syahid hanya hadits Tsauban karena ada rawi yang kadzdzab. Hadits ‘Amr ibn Hazm sendiri bisa dijadikan syahid meski ada yang menilainya matruk disebabkan Sulaiman ibn Arqam. Akan tetapi sebagaimana disebutkan al-Albani, ada jalur lain dari Sulaiman ibn Dawud yang statusnya shahih.

Dalam hal ini al-Albani menjelaskan, didasarkan pada data bahwa hadits-hadits dla’if ini sanadnya banyak, dan kedla’ifannya tidak sampai pada derajat tidak bisa dijadikan syahid karena hanya terkait hafalan dan terputus sanad, maka kedudukannya saling menguatkan.

وَجُمْلَةُ الْقَوْلِ: أَنَّ الْحَدِيْثَ طُرُقُهُ كُلُّهَا لاَ تَخْلُوْ مِنْ ضَعْفٍ وَلَكِنَّهُ ضَعْفٌ يَسِيْرٌ إِذْ لَيْسَ فِي شَيْءٍ مِنْهَا مَنَ اتُّهِمَ بِكَذِبٍ وَإِنَّمَا الْعِلَّةُ الْإِرْسَالُ أَوْ سُوْءُ الْحِفْظِ. وَمِنَ الْمُقَرَّرِ فِي عِلْمِ الْمُصْطَلَحِ أَنَّ الطُّرُقَ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضًا إِذَا لَمْ يَكُنْ فِيْهَا مُتَّهَمٌ كَمَا قَرَّرَهُ النَّوَوِيُّ فِي تَقْرِيْبِهِ ثُمَّ السُّيُوْطِيُّ فِي شَرْحِهِ وَعَلَيْهِ فَالنَّفْسُ تَطْمَئِنُّ لِصِحَّةِ هَذَا الْحَدِيْثِ لاَ سِيَّمَا وَقَدِ احْتَجَّ بِهِ إِمَامُ السُّنَّةِ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ كَمَا سَبَقَ وَصَحَّحَهُ أَيْضًا صَاحِبُهُ الْإِمَامُ إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْه

Kesimpulannya: Hadits di atas semua sanadnya tidak ada yang luput dari kelemahan. Akan tetapi kelemahannya ringan, sebab tidak ada satu pun rawi yang diduga kuat sebagai pendusta. Cacatnya hanya ada pada mursal atau jelek hafalan. Dan berdasarkan kaidah yang sudah sama-sama diakui dalam ilmu Mushthalah, sanad yang banyak pasti saling menguatkan jika tidak ada yang diduga kuat berdusta. Hal ini sebagaimana dinyatakan Imam an-Nawawi dalam kitab at-Taqrib dan Imam as-Suyuthi dalam Syarh at-Taqrib (Tadribur-Rawi). Dengan ini maka hati pun merasa tenteram untuk menerima keshahihan hadits ini. Terlebih lagi hadits ini dijadikah hujjah oleh Imam Sunnah, Ahmad ibn Hanbal, sebagaimana telah disebutkan di atas. Demikian juga telah dinyatakan shahih oleh sahabatnya, Imam Ishaq ibn Rahawaih (Irwa`ul-Ghalil hadits no. 122)

 

Kesimpulan al-Albani ini sesuai dengan thuruqul-istinbath Dewan Hisbah, sebagai berikut:

اَلْأَحَادِيْثُ الضَّعِيْفَةُ يُقَوِّيْ بَعْضُهَا بَعْضًا

     Artinya: Hadits-hadits dla’if satu sama lain saling menguatkan

Dengan catatan apabila dla’if tersebut dari segi dlabth (hafalan) dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an atau hadits lain yang shahih. Adapun jika dla’ifnya itu dari segi ‘adalah seperti kadzdzab (pendusta), yadla’ul-hadits (memalsukan hadits), fisqur-rawi atau “tertuduh dusta” maka kaidah tersebut tidak dipakai (Thuruq al-Istinbath Dewan Hisbah bagian Beristidlal dengan Hadits no. 2).

 

Dengan kata lain, meski al-Hafizh Ibn Hajar menilai hadits ini ma’lul, tetapi ma’lul-nya tidak sampai merusak hadits. Sebab sebagaimana dijelaskan Ibnus-Shalah, tidak semua hadits ma’lul pasti tertolak atau pasti diterima. Tergantung jenis ‘illat-nya. Jika ‘illat-nya syadz atau munkar, maka pasti tertolak. Sebab bertentangan dengan riwayat-riwayat yang lebih shahih padahal jalur periwayatannya sama. Sementara jika ‘illat-nya tidak qadihah (tidak merusak) maka bisa dijadikan hujjah (Muqaddimah Ibnis-Shalah, tema 18: ma’rifah al-hadits al-mu’allal). Sebagaimana sudah dijelaskan di atas, ma’lul-nya hadits maushul riwayat ‘Amr ibn Hazm ini tidak sampai merusak hadits sebab terkuatkan oleh syahid-syahid lain.

Kalaupun tidak dikuatkan dengan sanad-sanad hadits di atas, hadits mursal riwayat Malik di atas tetap tidak berarti tidak bisa dijadikan hujjah. Sebagaimana dinyatakan oleh Ibn Hajar sendiri, tidak semua hadits mursal tertolak (mardud). Jika ia terbukti selalu meriwayatkan dari tsiqat, atau ada indikator lain bahwa itu diriwayatkan dari yang tsiqat, maka mursal-nya bisa diterima (an-Nukat ‘ala Ibnis-Shalah 2 : 547-555).

Dalam Thuruqul-Istinbath Dewan Hisbah juga disebutkan:

“Hadits mursal tabi’i dijadikan hujjah apabila hadits tersebut disertai qarinah yang menunjukkan ittishal-nya.”

 

Hadits riwayat Malik dari ‘Abdullah ibn Abi Bakar ini termasuk mursal yang maqbul (diterima), sebab ‘Abdullah ibn Abi Bakar yang me-mursal-kan hadits tersebut seorang tsiqat. Ia me-mursal-kan hadits juga dari kakek buyutnya yang seorang shahabat, dan materinya berupa surat yang shahabat dan tabi’in ijma’ akan kebenarannya. Terlebih lagi dikuatkan oleh sanad-sanad lain yang dla’if dari aspek ke-dlabith-annya saja. Sehingga ke-mursal-an hadits ini tidak bisa menjadikannya berstatus mardud (ditolak).

Al-Hafizh Ibn Hajar dalam hal ini mengutip pernyataan beberapa ulama besar yang mengakui keberadaan surat ‘Amr ibn Hazm ini, sebagai berikut:

Imam as-Syafi’i dalam ar-Risalah menyatakan: Para ulama (yang menerima hadits ini) pada awalnya tidak menerima hadits ini sampai jelas bagi mereka bahwa ini benar-benar surat dari Rasulullah saw.

Ibn ‘Abdil-Barr berkata: Ini adalah surat yang masyhur di kalangan ahli sejarah. Dikenal oleh para ulama dalam kadar kemasyhuran yang tidak memerlukan rincian sanad. Sebab surat ini menyerupai mutawatir dalam periwayatannya, disebabkan orang-orang sama-sama menerimanya dan mengetahuinya. Salah satu indikator kemasyhurannya adalah yang diriwayatkan oleh Ibn Wahb, dari Malik, dari al-Laits ibn Sa’ad, dari Yahya ibn Sa’id, dari Sa’id ibn al-Musayyib, ia berkata: “Ditemukan sebuah surat di keluarga Hazm (‘Amr ibn Hazm dan keturunannya; Muhammad, Abu Bakar, sampai ‘Abdullah). Mereka menyebutkan bahwa itu surat Rasulullah saw.”

Al-‘Uqaili berkata: Ini adalah hadits yang tsabit (tetap/kuat/tidak meragukan) dan mahfuzh (terjaga/tidak janggal), kecuali memang kami memandang bahwa surat itu tidak sima’ (diriwayatkan dengan langsung) dari rawi di atas az-Zuhri.

Ya’qub ibn Sufyan berkata: Saya tidak tahu, di antara surat-surat Rasul saw yang diriwayatkan, ada surat yang lebih shahih daripada surat untuk ‘Amr ibn Hazm ini. Sebab para shahabat Rasulullah saw dan para tabi’in merujuk kepadanya dan meninggalkan pendapat pribadi mereka.

Al-Hakim berkata: ‘Umar ibn ‘Abdil-‘Aziz dan Imam hadits di masanya, yakni az-Zuhri, telah bersaksi bahwa surat ini shahih. Kemudian mereka pun menyebutkan sanadnya: az-Zuhri dari Abu Bakar, dari ayahnya; Muhammad, dari kakeknya; ‘Amr ibn Hazm (at-Talkhishul-Habir bab al-ahdats hadits no. 175 dan bab ma yajibu bihil-qishash no. 1879).

 

Istinbath Hadits

Konsekuensi penagamalan dari hadits yang dinyatakan sebagai hujjah oleh para ulama hadits di atas adalah al-Qur`an tidak boleh disentuh oleh orang yang tidak suci. Orang yang tidak suci itu mencakup orang kafir (najis ma’nawi), orang yang sedang junub, dan orang yang tidak punya wudlu. Al-Qur`an yang dimaksud itu berlaku untuk tulisannya, yakni mushhaf al-Qur`an, sebab kata “menyentuh” merujuk pada suatu benda. Al-Qur`an yang dimaksud ini juga al-Qur`an dalam pengertian yang utuh sebagai mushhaf al-Qur`an. Maka tidak termasuk di dalamnya al-Qur`an yang berupa tulisan pada selebaran, buku, kitab, majalah, atau lainnya. Untuk program al-Qur`an dalam laptop, tablet, atau smartphone, maka selama itu mushhaf al-Qur`an yang utuh dan disentuh, berarti termasuk yang dilarang jika orangnya tidak thahir. Adapun laptop, tablet dan smartphonenya itu sendiri ibarat lemari dengan mushhaf al-Qur`annya. Maksudnya, menyentuh lemarinya tidak dilarang, yang dilarang itu menyentuh mushhaf al-Qur`annya. Demikian juga, menyentuh laptop, tablet, atau smartphone sebagai tempat menyimpannya tidak dilarang, yang dilarang hanya layar yang sedang membuka program al-Qur`annya saja. Untuk membaca al-Qur`an, tidak termasuk yang dilarang jika itu sebatas membaca saja, kecuali jika membacanya sambil menyentuh al-Qur`an, maka itu yang dilarang.

 

Mendudukkan Ikhtilaf

Akan tetapi bagi yang tidak sependapat menilai hadits di atas bisa dijadikan hujjah, maka kesimpulannya tidak seperti yang diuraikan di atas. Di antara yang tidak sependapat tersebut adalah A. Hassan dalam kitabnya, Tarjamah Bulughul Maram. Menurut A. Hassan, hadits di atas tidak shahih:

  1. Hadits ke 83 ini tidak shah. Selain dari itu, Rasulullah saw ada berkirim surat kepada beberapa raja-raja dan ketua-ketua kafir dengan menggunakan padanya ayat atau ayat-ayat Qur`an, dan surat-surat itu dibawa oleh orang-orang yang ta’ bisa jadi sepanjang-panjang jalan di dalam keadaan berwudlu.
  2. Penulis-penulis wahyu Rasulullah saw apabila datang sahaja wahyu, dengan lekas mereka tulis wahyu itu, dan berat sekali buat dianggap bahwa semua mereka selamanya di dalam keadaan berwudlu.
  3. Adapun ayat 79 dari al-Waqi’ah yang berbunyi: “La yamassuhu illal-muthahharun”: “Tidak menyentuh dia melainkan (makhluq) yang dibersihkan” itu, maqshudnya bukan Qur`an tetapi al-Lauhil-Mahfzuh, dan sentuh itu di sini bukan berarti memegang tetapi mengetahui isinya; dan kalimah “muthah-harun”; “yang dibersihkan” itu bukan berarti orang yang berwudlu tetapi Malaikat, karena mereka adalah makhluq yang dibersihkan daripada dosa-dosa, dan di dalam bahasa Arab atau ish-thilah Islam, tidak dipakai kalimah “muthah-harun” buat orang yang berwudlu.
  4. Nasa`i ada riwayatkan sabda Rasul: Aku tidak diperintah berwudlu melainkan apabila hendak shalat.
  5. Ringkasnya, tidak ada alasan yang dapat diterima tentang wajib wudlu` untuk memegang atau menyentuh Qur`an (Tarjamah Bulughul-Maram hadits no. 83)

 

Hemat penulis, pendapat A. Hassan di atas sangat lemah, dengan pertimbangan sebagai berikut:

Pertama, penilaian hadits di atas tidak sah, tidak diuraikan secara ilmiah. Uraian ilmiah yang sudah disajikan di atas, membantah pendapat A. Hassan ini.

Kedua, tentang surat-surat Nabi saw untuk para penguasa kafir demikian juga para penulis wahyu yang tidak selalu sempat berwudlu, dijelaskan oleh al-Hafizh Ibn Hajar sebagai berikut:

ثُمَّ أَوْرَدَ الْمُصَنِّف طَرَفًا مِنْ حَدِيث أَبِي سُفْيَان فِي قِصَّة هِرَقْل وَهُوَ مَوْصُول عِنْده فِي بَدْء الْوَحْي وَغَيْره… وَتَوْجِيه الدَّلَالَة مِنْهُ إِنَّمَا هِيَ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ إِنَّمَا كَتَبَ إِلَيْهِمْ لِيَقْرَءُوهُ فَاسْتَلْزَمَ جَوَاز الْقِرَاءَة بِالنَّصِّ لَا بِالِاسْتِنْبَاطِ، وَقَدْ أَجَابَ مَنْ مَنَعَ ذَلِكَ وَهُمْ الْجُمْهُور بِأَنَّ الْكِتَاب اِشْتَمَلَ عَلَى أَشْيَاء غَيْر الْآيَتَيْنِ، فَأَشْبَهَ مَا لَوْ ذَكَرَ بَعْض الْقُرْآن فِي كِتَابٍ فِي الْفِقْه أَوْ فِي التَّفْسِير فَإِنَّهُ لَا يَمْنَع قِرَاءَته وَلَا مَسَّهُ عِنْد الْجُمْهُور

Kemudian penyusun (al-Bukhari) mencantumkan potongan hadits Abu Sufyan tentang kisah Heraklius yang sanadnya maushul dalam kitab bad’il-wahyi dan lainnya… Aspek dilalahnya adalah bahwasanya Nabi saw mengirim surat kepada mereka untuk dibaca. Maka jelaslah boleh membaca berdasarkan nash bukan istinbath (tanpa nash). Dan sungguh telah menjawab jumhur ulama selaku yang berpendapat terlarangnya hal tersebut (menyentuh mushhaf bagi yang tidak suci) bahwasanya kitab itu mencakup secara keseluruhannya, bukan satu dua ayat (sementara surat Heraklius hanya satu dua ayat). Serupa dengan hal ini kutipan-kutipan al-Qur`an dalam kitab fiqih atau tafsir, maka tidak terlarang membaca dan menyentuhnya, menurut jumhur ulama (Fathul-Bari kitab al-haidl bab taqdlil-ha`idl al-manasik kullaha).

 

Jelasnya, larangan menyentuh mushhaf ini berlaku pada mushhaf al-Qur`an itu sendiri. Jika hanya kutipan ayat-ayat al-Qur`an dalam surat, majalah, dan semacamnya, maka itu diperbolehkan, berdasarkan istidlal (pendalilan) Imam al-Bukhari atas hadits tentang surat Nabi saw kepada Heraklius, Kaisar Romawi Timur yang kafir. Jadi penolakan A. Hassan atas kuhujjahan hadits “tidak menyentuh al-Qur`an kecuali yang suci” dengan membenturkannya dengan hadits tentang adanya para shahabat yang membawa surat Nabi saw yang berisi kutipan ayat al-Qur`an, ataupun para shahabat penulis al-Qur`an yang semuanya tidak mungkin selalu dalam keadaan wudlu, terjawab dengan jelas. Jika hadits-hadits tersebut faktanya bisa dijadikan hujjah, maka bukan pola “saling bertentangan” (thariqatut-tarjih/naskh) yang digunakan sebagai metode pemahamannya, melainkan pola “saling mengisi” (thariqatul-jam’i). Sehingga kesimpulannya: Orang yang tidak punya wudlu terlarang menyentuh mushhaf al-Qur`an. Sementara jika hanya menyentuh tulisan atau benda yang di dalamnya ada kutipan al-Qur`an, atau menulis sebagian al-Qur`an, maka itu diperbolehkan.

Ketiga, ayat al-Qur`an jangan pernah dibenturkan dengan hadits yang bisa dijadikan hujjah, sebab dua-duanya harus diamalkan. Maka dari itu justru seharusnya pemahamannya disatuarahkan. Meski QS. al-Waqi’ah [56] : 79 ditujukan pada mushhaf di langit yang hanya bisa disentuh malaikat, tetap saja menjadi sebuah isyarat bahwa al-Qur`an selayaknya tidak disentuh kecuali oleh orang yang suci (Taudlihul-Ahkam 1 : 313-314).

Keempat, sabda Nabi saw yang menyatakan perintah wudlu hanya untuk shalat, tidak berarti sebagai batasan. Hanya menjelaskan intinya wudlu itu jika mau shalat:

إِنَّمَا أُمِرْتُ بِالْوُضُوءِ إِذَا قُمْتُ إِلَى الصَّلاَةِ

Hanyasanya aku diperintah berwudlu itu untuk shalat (Sunan Abi Dawud kitab al-ath’imah bab fi ghaslil-yadain ‘indat-tha’am no. 3762; Sunan at-Tirmidzi kitab al-ath’imah bab fi tarkil-wudlu` ‘indat-tha’am no. 1847)

Sebagai perbandingannya hadits innamal-a’mal bin-niyyat. Bukan berarti bahwa semua amal hanya tergantung pada niat semata. Melainkan tergantung pula pada faktor lainnya, yakni kesesuaiannya dengan sunnah, berdasarkan sabda Nabi saw: man ‘amila ‘amalan laisa ‘alaihi amruna fa huwa raddun. Maka dari itu, kalau faktanya hadits di atas bisa dijadikan hujjah, berarti di samping untuk shalat, wudlu juga harus dilakukan sebelum menyentuh al-Qur`an.

Perbandingan lainnya sabda Nabi saw berikut ini:

إِنَّ هَذِهِ الصَّلاَةَ لاَ يَصْلُحُ فِيهَا شَىْءٌ مِنْ كَلاَمِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ

“Sesungguhnya shalat ini, tidak pantas di dalamnya ada percakapan manusia, karena shalat itu hanyalah tasbih, takbir dan membaca al-Qur’an.” (Shahih Muslim kitab al-masajid bab tahrimil-kalam fis-shalat no. 1227)

Imam an-Nawawi menjelaskan:

وَأَمَّا قَوْله : إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيح وَالتَّكْبِير وَقِرَاءَة الْقُرْآن فَمَعْنَاهُ: هَذَا وَنَحْوه، فَإِنَّ التَّشَهُّد وَالدُّعَاء وَالتَّسْلِيم مِنَ الصَّلاَة وَغَيْر ذَلِكَ مِنْ الْأَذْكَار مَشْرُوع فِيهَا فَمَعْنَاهُ: لَا يَصْلُح فِيهَا شَيْء مِنْ كَلَام النَّاس وَمُخَاطَبَاتهمْ، وَإِنَّمَا هِيَ التَّسْبِيح وَمَا فِي مَعْنَاهُ مِنْ الذِّكْر وَالدُّعَاء وَأَشْبَاههمَا مِمَّا وَرَدَ بِهِ الشَّرْع

Adapun sabda beliau saw: “Shalat itu hanyalah tasbih, takbir dan membaca al-Qur’an,” maka maknanya: ini (tasbih, takbir, membaca al-Qur`an) dan sejenisnya. Sebab tasyahhud, do’a, salam dari shalat, dan dzikir-dzikir lainnya juga disyari’atkan dalam shalat. Maka maknanya: “Tidak pantas di dalamnya ada percakapan dan dialog manusia, hanyalah shalat itu tasbih, dzikir, do’a, dan yang semacamnya sebagaimana telah ada dalam syari’at.” (Syarah an-Nawawi)

 

Jelasnya, sabda Nabi saw yang menyatakan innama; hanyalah wudlu itu untuk shalat tidak berarti membatasi untuk shalat saja. Jika faktanya syari’at juga mengatur untuk menyentuh mushhaf, maka berarti berlaku juga kewajiban wudlu untuk menyentuh mushhaf.

Ringkasnya, tidak ada alasan yang bisa diterima untuk menolak kehujjahan hadits massul-mushhaf ini.

 

Tidak Termasuk Membaca al-Qur`an

Hadits di atas tidak mencakup untuk amaliah membaca al-Qur`an, sebab menyentuh al-Qur`an berbeda dengan membaca al-Qur`an. Fakta lainnya, di zaman Nabi saw umumnya para shahabat membaca al-Qur`an tidak dengan memegang mushhaf al-Qur`an. Membaca al-Qur`an itu sendiri termasuk dzikir yang di sepanjang waktu harus terus diamalkan, baik itu ketika thahir ataupun tidak thahir. Adapun dalil-dalilnya adalah sebagai berikut:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَعَلَّقَهُ الْبُخَارِيُّ.

Dari ‘Aisyah ra ia berkata: “Rasulullah saw senantiasa berdzikir kepada Allah dalam setiap waktunya.” Muslim meriwayatkannya dan al-Bukhari menuliskannya dengan mu’alllaq (tanpa sanad). (Bulughul-Maram no. 84; Shahih Muslim kitab al-haidl bab dzikril-‘Llah fi halil-janabah wa ghairihi no. 852; Shahih al-Bukhari kitab al-haidl bab taqdlil-ha`idl al-manasik kullaha)

Al-Hafizh Ibn Hajar dalam kitabnya, at-Talkhishul-Habir, menjelaskan bahwa dengan adanya hadits ini, meskipun orang yang tidak suci/tidak mempunyai wudlu tidak boleh menyentuh al-Qur`an, tetapi ia tetap boleh dan bahkan dianjurkan selalu berdzikir sebagaimana halnya uswah (teladan) Nabi saw dalam hadits di atas. Termasuk di dalamnya membaca al-Qur`an.

Hadits lain yang bisa dijadikan hujjah untuk pengecualian membaca al-Qur`an, menurut al-Hafizh Ibn Hajar, adalah:

قال عَلِيٌّ كَانَ رَسُول الله لَا يَحْجُبهُ عَنِ الْقُرْآنِ شَيْءٌ لَيْسَ الْجَنَابَة رَوَاهُ أَصْحَابُ السُّنَن وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْن حِبَّانَ وَضَعَّفَ بَعْضهمْ بَعْض رُوَاته، وَالْحَقُّ أَنَّهُ مِنْ قَبِيل الْحَسَن يَصْلُح لِلْحُجَّةِ

‘Ali berkata: Rasulullah saw itu tidak ada sesuatu pun yang menghalanginya dari al-Qur`an selain junub. Para ulama penulis kitab sunan meriwayatkannya. At-Tirmidzi dan Ibn Hibban menshahihkannya. Sebagian ulama mendla’ifkan sebagian rawinya. Yang benar, hadits ini hasan sehingga layak dijadikan hujjah (Fathul-Bari bab taqdlil-ha`idl al-manasik kullaha).

Dalam Bulughul-Maram, hadits ini dituliskan dalam bab mandi dan hukum junub no. 124 dengan matan:

  1. عَنْ عَلِيٍّ  قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ يُقْرِئُنَا الْقُرْآنَ مَا لَمْ يَكُنْ جُنُبًا. رَوَاهُ الْخَمْسَةُ وَهَذَا لَفْظُ التِّرْمِذِيِّ وَحَسَّنَةُ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

Dari ‘Ali—semoga Allah meridlainya—: “Rasulullah—shalawat dan salam untuknya—membacakan al-Qur`an kepada kami selama beliau tidak junub.” Lima Imam mengeluarkannya, dan ini lafazh riwayat at-Tirmidzi. Imam at-Tirmidzi menilainya hasan, sedangkan Ibn Hibban menilainya shahih.

Pernyataan ‘Ali di atas menginformasikan bahwa yang menghalangi Nabi saw dari membaca al-Qur`an hanya junub. Artinya jika sebatas tidak punya wudlu, tidak menjadi penghalang. Akan tetapi ini juga tidak berarti bahwa hukumnya haram membaca al-Qur`an bagi yang junub atau sebaliknya wajib harus menunggu suci dari junub dahulu untuk membaca al-Qur`an. Sebab haditsnya hanya berupa berita perbuatan saja (mujarradul-fi’l), bukan perintah/larangan. Hukum untuk dalil yang seperti ini hanya sebatas makruh atau sebaliknya istihbab/sunat membaca al-Qur`an dalam keadaan suci. Terlebih Nabi saw sendiri sudah bersabda:

عَنِ الْمُهَاجِرِ بْنِ قُنْفُذٍ أَنَّهُ أَتَى النَّبِىَّ وَهُوَ يَبُولُ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ حَتَّى تَوَضَّأَ ثُمَّ اعْتَذَرَ إِلَيْهِ فَقَالَ إِنِّى كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللَّهَ  إِلاَّ عَلَى طُهْرٍ أَوْ قَالَ عَلَى طَهَارَةٍ

Dari al-Muhajir ibn Qunfudz, bahwasanya ia mendatangi Nabi saw ketika beliau sedang kencing. Ia salam kepada beliau, tetapi tidak dijawab sampai beliau selesai berwudlu. Kemudian beliau menjelaskan alasannya: “Sungguh aku tidak suka berdzikir kepada Allah awj kecuali dalam keadaan suci.” (Sunan Abi Dawud kitab at-thaharah bab a yuraddus-salam wa huwa yabulu no. 17).

Imam al-Bukhari demikian halnya, menurut beliau berdzikir dan termasuk membaca al-Qur`an tidak wajib berwudlu terlebih dahulu berdasarkan dalil-dalil berikut ini:

Pertama, atsar/pendapat ulama salaf dari Ibrahim an-Nakha’i yang membolehkan membaca al-Qur`an bagi yang junub.

Kedua, atsar/pendapat shahabat Ibn ‘Abbas yang sama membolehkan membaca al-Qur`an bagi yang junub.

Ketiga, hadits Nabi saw yang menyatakan bahwa beliau senantiasa berdzikir kepada Allah dalam setiap waktunya. Maksudnya, baik itu ketika junub atau tidak junub.

Keempat, hadits yang memerintahkan perempuan haidl ikut bertakbir dan berdo’a pada waktu ‘Id. Takbir dan do’a itu sendiri termasuk dzikir. Artinya meski sedang haidl, tetap boleh berdzikir.

Kelima, hadits tentang surat Nabi saw kepada Heraklius, penguasa Romawi Timur dan penganut Kristen, yang di dalamnya ada basmalah dan kutipan ayat al-Qur`an surat Ali ‘Imran [3] : 64. Orang kafir itu sendiri statusnya junub. Tidak mungkin Nabi saw yang sudah tahu itu adalah orang kafir yang junub lalu sengaja mengiriminya surat yang ada basmalah dan ayat al-Qur`an melainkan sebagai petunjuk bahwa yang junub boleh berdzikir dan membaca kutipan ayat al-Qur`an. Di sini juga jadi dalil bahwa menyentuh kutipan tulisan al-Qur`an tidak termasuk larangan pada hadits “massul-mushhaf” yang berlaku untuk al-Qur`an secara keseluruhan.

Keenam, hadits yang disampaikan Jabir perihal haidlnya ‘Aisyah istri Nabi saw. Beliau tetap diperintahkan manasik haji selain thawaf di Baitullah dan shalat. Manasik haji itu sendiri penuh dengan dzikir. Artinya perempuan yang haidl tetap diperintahkan berdzikir.

Ketujuh, atsar/perbuatan ulama salaf dari al-Hakam, seorang faqih terkenal dari Kufah, Irak. Meskipun sedang junub, ia tetap menyembelih. Padahal dalam menyembelih itu pasti ada dzikir basmalah, sesuai perintah Allah swt dalam QS. al-An’am [6] : 121 (Shahih al-Bukhari kitab al-haidl bab taqdlil-ha`idl al-manasik kullaha).

Wal-‘Llahu a’lam.