Home > Aqidah > Mengatasi Serangan Sihir

Mengatasi Serangan Sihir

Ustadz saya ingin bertanya; ada si fulan dan si fulanah yang in sya`al-‘Llah hendak melangsungkan pernikahan. Namun datang kendala, si fulanah mendadak benci dan tidak mau melanjutkan pernikahan. Sikap fulanah pun berubah tidak seperti yang dikenal. Singkat ceritanya ada  yang mengatakan bahwa si fulanah itu kena sihir (guna-guna) oleh fulan yang lain yang tidak rela fulanah tersebut menikah dengan selain dirinya. Dan sekarang fulanah tersebut pun sejak tadi malam hilang dan belum ditemukan. Mohon pencerahannya. Hamba Allah.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengklarifikasi sampai jelas betul (tabayyun) apa penyebab si fulanah jadi enggan menikah dengan si fulan. Tidak mustahil ada hal yang dipaksakan dari sejak awal dan baru bisa “dilawan” pada saat-saat menjelang pernikahan seperti dalam kasus yang anda tanyakan.

Jika kemudian terbukti benar hal itu disebabkan sihir (guna-guna/santet) maka satu hal yang harus ditekankan, haram berusaha menghilangkannya dengan praktik sihir atau perdukunan. Yang seperti ini namanya nusyrah (melawan sihir dengan sihir/perdukunan), dan nusyrah diharamkan oleh Nabi saw berdasarkan hadits Jabir ra, ketika beliau ditanya tentang nusyrah, beliau menjawab: “Min ‘amalis-syaithan; termasuk perbuatan setan.” (Musnad Ahmad bab musnad Jabir ibn ‘Abdillah no. 14135).

Jika benar si fulanah terkena sihir maka harus dicari barang/tempat yang menjadi sumber sihirnya, lalu kemudian dikubur, sebagaimana pernah dialami Rasulullah saw dan beliau melakukan demikian.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سُحِرَ النَّبِيُّ ﷺ حَتَّى إِنَّهُ لَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَمَا فَعَلَهُ حَتَّى إِذَا كَان ذَاتَ يَوْمٍ وَهُوَ عِنْدِي دَعَا اللَّهَ وَدَعَاهُ ثُمَّ قَالَ أَشَعَرْتِ يَا عَائِشَةُ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَفْتَانِي فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ قُلْتُ وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ جَاءَنِي رَجُلَانِ فَجَلَسَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي وَالْآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ ثُمَّ قَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ مَا وَجَعُ الرَّجُلِ قَالَ مَطْبُوبٌ قَالَ وَمَنْ طَبَّهُ قَالَ لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ الْيَهُودِيُّ مِنْ بَنِي زُرَيْقٍ قَالَ فِيمَا ذَا قَالَ فِي مُشْطٍ وَمُشَاطَةٍ وَجُفِّ طَلْعَةٍ ذَكَرٍ قَالَ فَأَيْنَ هُوَ قَالَ فِي بِئْرِ ذِي أَرْوَانَ قَالَ فَذَهَبَ النَّبِيُّ ﷺ فِي أُنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ إِلَى الْبِئْرِ فَنَظَرَ إِلَيْهَا وَعَلَيْهَا نَخْلٌ ثُمَّ رَجَعَ إِلَى عَائِشَةَ فَقَالَ وَاللَّهِ لَكَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الْحِنَّاءِ وَلَكَأَنَّ نَخْلَهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَأَخْرَجْتَهُ قَالَ لَا أَمَّا أَنَا فَقَدْ عَافَانِيَ اللَّهُ وَشَفَانِي وَخَشِيتُ أَنْ أُثَوِّرَ عَلَى النَّاسِ مِنْهُ شَرًّا وَأَمَرَ بِهَا فَدُفِنَتْ

Dari ‘Aisyah, ia berkata: Nabi saw pernah terkena sihir, sampai beliau selalu berkhayal sudah melakukan sesuatu padahal belum (menurut Ibn Katsir ini adalah dampak sihir yang paling parah—Tafsir Ibn Katsir s. Al-Falaq). Sampai pada suatu hari ketika beliau berada di sampingku, beliau berdo’a kepada Allah dan Allah pun menjawabnya. Beliau lalu bersabda: “Tahukah kamu ‘Aisyah bahwa Allah telah menjawabku dalam hal yang aku tanyakan?” ‘Aisyah bertanya: “Apa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjelaskan: “Telah datang kepadaku dua orang lelaki. Yang satu duduk dekat kepalaku dan yang satunya lagi duduk dekat kakiku. Salah seorangnya bertanya kepada temannya: ‘Apa penyakit orang ini?’ Dijawab: ‘Ia terkena sihir’. Ditanyakan: ‘Siapa yang menyihirnya?’ Dijawab: ‘Labid ibn al-A’sham seorang Yahudi dari Bani Zuraiq.’ Ditanyakan: ‘Pada benda apa itu?’ Dijawab: ‘Pada sisir, rambut-rambut yang terbawa sisir, dan bungkus pelepah kurma jenis lelaki.’ Ditanyakan lagi: ‘Di mana itu?’ Dijawab: ‘Di sumur Dzi Arwan’.” Lalu Nabi saw berangkat bersama beberapa orang shahabat menuju sumur tersebut. Beliau melihatnya dan di sana ada pohon kurma. Kemudian pulang ke ‘Aisyah dan berkata: “Demi Allah, seakan-akan airnya campuran hinna (agak kemerah-merahan) dan pohon kurmanya kepala setan.” ‘Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah, mengapa anda tidak mengeluarkannya—dalam riwayat lain: dengan nusyrah?” Beliau menjawab: “Tidak. Aku sudah diberi kesehatan oleh Allah dan disembuhkan. Aku takut menimpakan kejelekan kepada orang lain.” Nabi saw lalu memerintahkan agar sumur dan semua barang itu dikubur (Shahih al-Bukhari bab as-sihr no. 5766).

Jika tidak ditemukan atau tidak ada, cukup dengan berdo’a kepada Allah swt seperti dicontohkan Nabi saw, dan merutinkan membaca al-mu’awwidzat; surat al-Ikhlash, al-Falaq, dan an-Nas, di setiap wirid shalat wajib @ 1 kali, di waktu pagi dan petang @ 3 kali, dan sebelum tidur @ 3 kali. Wal-‘Llahu a’lam