Home > Ibadah > Mendudukkan Hadits Shaum 9 Hari Dzulhijjah

Mendudukkan Hadits Shaum 9 Hari Dzulhijjah

Mendudukkan Hadits Shaum 9 Hari Dzulhijjah

Kedudukan hadits-hadits tentang shaum sembilan hari pertama Dzulhijjah bisa dikatakan cukup rumit. Ada yang menyatakan Nabi saw mengamalkannya; ada yang menyatakan tidak pernah diamalkan Nabi saw; ada juga yang sebatas memotivasi untuk memperbanyak amal shalih, dan shaum tentu termasuk salah satunya. Bagaimana para ulama mendudukkan hadits-hadits tersebut?

Imam Abu Dawud dalam kitab Sunannya membuat dua tarjamah yang berbeda dan tampak bertentangan seputar shaum sembilan hari pertama Dzulhijjah yang disebut al-‘asyr ini. Beliau menulis bab fi shaumil-‘asyr; bab shaum pada 10 hari pertama Dzulhijjah, dan pada bab berikutnya beliau menulis bab fi fithril-‘asyr; bab tidak shaum pada 10 hari pertama Dzulhijjah (fithr artinya buka atau tidak shaum). Istilah al-‘asyr tertuju pada 10 hari pertama Dzulhijjah, tetapi untuk shaumnya tentu dikecualikan tanggal 10 Dzulhijjah, sehingga jadinya sembilan hari pertama Dzulhijjah. Kajian lebih lengkapnya akan disajikan di bawah.

Pada bab tentang adanya shaum pada 10 hari pertama Dzulhijjah, Imam Abu Dawud menuliskan dua hadits dari salah seorang istri Nabi saw dan Ibn ‘Abbas. Hadits dari salah seorang istri Nabi saw sifatnya itsbat (menyatakan ada) atas shaum 9 hari Dzulhijjah, sedang hadits Ibn ‘Abbas sifatnya muthlaq (tidak menyebutkan ada atau tidaknya shaum) dan hanya menganjurkan amal shalih secara umum:

عَنْ هُنَيْدَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنِ امْرَأَتِهِ عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ ﷺ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.

Dari Hunaidah ibn Khalid, dari istrinya, dari salah seorang istri Nabi saw, ia berkata: “Rasulullah saw shaum pada sembilan hari pertama Dzulhijjah, hari ‘Asyura (10 Muharram), tiga hari dari setiap bulan (tanggal 13, 14, 15), Senin pertama dari setiap bulan, dan hari Kamis (Sunan Abi Dawud kitab as-shaum bab fi shaumil-‘asyr no. 2439)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ.

Dari Ibn ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada hari dimana amal shalih padanya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini,” yakni 10 hari pertama Dzulhijjah.” Para shahabat bertanya: “Tidak juga dari jihad fi sabilillah?” Beliau menjawab: “Jihad fi sabilillah juga tidak, kecuali seseorang yang keluar dengan diri dan hartanya lalu ia tidak kembali dengan satu pun dari keduanya.” (Sunan Abi Dawud kitab as-shaum bab fi shaumil-‘asyr no. 2440).

Sementara pada bab selanjutnya tentang tidak adanya shaum pada 10 hari pertama Dzulhijjah, Imam Abu Dawud menuliskan satu hadits dari ‘Aisyah yang sifatnya nafi (menyatakan tidak ada) atas shaum sembilan hari pertama Dzulhijjah:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ صَائِمًا الْعَشْرَ قَطُّ

Dari ‘Aisyah, ia berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw shaum sekalipun pada 10 hari pertama Dzulhijjah.” (Sunan Abi Dawud kitab as-shaum bab fi fithril-‘asyr no. 2441).

 

Status Keshahihan Hadits

Hadits itsbat atas shaum sembilan hari pertama Dzulhijjah yang diriwayatkan Abu Dawud dari salah seorang istri Nabi saw di atas, diriwayatkan juga oleh Ahmad, an-Nasa`i dan al-Baihaqi. Imam Ahmad menuliskannya dalam Musnad Ahmad bab hadits ba’dli azwajin-Nabi saw no. 22334, 27376 dan bab hadits Hafshah ummil-mu`minin no. 26468. Imam an-Nasa`i menuliskannya dalam Sunan an-Nasa`i kitab as-shiyam bab shaumin-Nabi saw no. 2372 dan bab kaifa yashumu tsalatsah ayyam min kulli syahr no. 2417. Sementara Imam al-Baihaqi menuliskannya dalam as-Sunanul-Kubra kitab as-shiyam bab al-‘amalus-shalih fil-‘asyr min Dzilhijjah no. 8393.

Syaikh al-Albani menjelaskan bahwa status hadits ini shahih karena semua rawi-rawinya tsiqat/terpercaya. Hunaidah ibn Khalid disebutkan oleh al-Hafizh dalam Taqribut-Tahdzib sebagai madzkur fis-shahabah wa qila minats-tsaniyah (disebutkan dalam kalangan shahabat, ada juga yang menyatakan dari thabaqah kedua/kibar tabi’in/tabi’in senior). Penilaian ini didasarkan pada penelitian Ibn Hibban yang menyebutkannya pada dua tempat; shahabat dan tsiqatut-tabi’in; tabi’in yang tsiqat/terpercaya. Sementara istrinya disebutkan oleh al-Hafizh sebagai shahabiyyah (seorang shahabat perempuan). Tidak disebutkannya siapa nama istri Nabi saw yang menjadi sumber hadits tidak menjadi masalah, sebab semua istri Nabi saw tsiqat. Sepanjang sanad di bawahnya rawi-rawi tsiqat, berarti status hadits ini shahih (Shahih Abi Dawud bab fi shaumil-‘asyr). Dalam sanad lainnya, meski tidak disebutkan langsung ‘shaum sembilan hari Dzulhijjah’, memang disebutkan bahwa Hunaidah ini menerima dari Hafshah. Tetapi yang menyebutkan ‘shaum sembilan hari Dzulhijjah’ yang ditemukan hanya menyebutkan ‘dari salah seorang istri Nabi saw’, tidak disebutkan Hafshah. Mungkin ini yang melatarbelakangi Imam Ahmad mencantumkan hadits di atas dalam bab hadits Hafshah ummul-mu`minin—meski disebutkan oleh Imam Ahmad dalam sanadnya ‘dari salah seorang istri Nabi saw’. Demikian halnya Syaikh al-Albani yang kemudian menyimpulkan bahwa hadits ini dari Hafshah ummul-mu`minin (Shahih Abi Dawud bab fi shaumil-‘asyr).

Hadits kedua yang menginformasikan secara muthlaq; tidak menyebutkan ada tidak adanya shaum pada sembilan hari pertama Dzulhijjah, melainkan menyebutkan secara umum anjuran beramal shalih, diriwayatkan juga oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari kitab abwab al-‘idain bab fadllil-‘amal fi ayyamit-tasyriq no. 969. Menurut al-Hafizh dalam Fathul-Bari, imam hadits lain yang juga meriwayatkan hadits ini adalah Imam Ahmad, at-Thayalisi, at-Tirmidzi, Ibn Majah, al-Qasim ibn Ayyub, Ibn Hibban dan Abu ‘Awanah (Fathul-Bari bab fadlli ayyamit-tasyriq). Dengan diriwayatkannya hadits ini oleh Imam al-Bukhari berarti status hadits ini shahih.

Hadits ketiga yang menyatakan nafi; tidak ada shaum sembilan hari pertama Dzulhijjah diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad, Muslim, at-Tirmidzi, Ibn Majah, al-Baihaqi. Imam Ahmad menuliskannya dalam Musnad Ahmad musnad as-Shiddiqah ‘Aisyah bintis-Shiddiq no. 24147, 24926. Imam Muslim dalam Shahih Muslim kitab al-i’tikaf bab shaum ‘asyri Dzilhijjah no. 2846, 2847. Imam at-Tirmidzi dalam Sunan at-Tirmidzi kitab as-shaum bab shiyamil-‘asyr no. 756. Imam Ibn Majah dalam Sunan Ibn Majah kitab as-shiyam bab shiyamil-‘asyr no. 1729. Dan Imam al-Baihaqi dalam as-Sunanul-Kubra kitab as-shiyam bab al-‘amalus-shalih fil-‘asyr min Dzilhijjah no. 8394. Dengan diriwayatkannya hadits ini oleh Imam Muslim menunjukkan bahwa status hadits ini shahih.

Di samping ketiga hadits di atas, ada juga hadits itsbat dengan taukid (penekanan untuk tidak ditinggalkan) dalam hal shaum sembilan hari pertama Dzulhijjah ini. Akan tetapi statusnya menurut Syaikh al-Albani dla’if. Hadits yang dimaksud, matannya:

أَرْبَعٌ لَمْ يَكُنْ يَدَعُهُنَّ النَّبِيُّ ﷺ صِيَامَ عَاشُورَاءَ وَالْعَشْرَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ

“Ada empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi saw: Shaum ‘Asyura (10 Muharram), 10 hari pertama Dzulhijjah, tiga hari di setiap bulan, dan dua raka’at sebelum shubuh” (Sunan an-Nasa`i kitab as-shiyam bab kaifa yashumu tsalatsah ayyam min kulli syahr no. 2416; Musnad Ahmad bab hadits Hafshah ummil-mu`minin no. 26469).

Dalam sanad hadits ini ada rawi bernama Abu Ishaq al-Asyja’i. Al-Hafizh menyebutnya maqbul (lemah hafalan, sedikit meriwayatkan, tetapi belum disepakati harus ditinggalkan). Al-Albani menyimpulkannya majhul (tidak dikenal). Az-Zaila’i dalam Nashbur-Rayah menyebut hadits ini dla’if (Irwa`ul-Ghalil no. 954).

 

Mendudukkan Hadits Itsbat dan Nafi

Dalam ‘Aunul-Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud, Imam al-‘Azhim Abadi menjelaskan maksud fi shaumil-‘asyri sebagai berikut:

أَيْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ

Yakni 10 hari pertama Dzulhijjah.

Shaum yang dimaksud tentu bukan 10 hari, tetapi hanya sembilan hari, mengingat tanggal 10 Dzulhijjah yang notabene hari ‘Idul-Adlha sudah ijma’ haram shaum. Penyebutan ‘10 hari’ di sini hanya sebagai sebutan nama/identitas, sebagaimana ‘10 hari terakhir’ untuk i’tikaf yang adakalanya hanya sembilan hari jika faktanya bulan Ramadlan 29 hari. Istilah al-‘asyr untuk 10 hari pertama Dzulhijjah memang digunakan dalam hadits, sebagaimana tampak pada hadits ‘Aisyah dan Ibn ‘Abbas di atas, juga dalam atsar-atsar shahabat dan ulama sebagaimana akan diuraikan lebih lanjut di bawah.

Shaum hanya berlaku untuk sembilan hari pertama Dzulhijjah tampak jelas pada hadits itsbat di atas yang menyebutkan ‘sembilan’ untuk shaum, tidak ‘sepuluh’. Dalam riwayat an-Nasa`i no. 2417 disebutkan lebih jelas lagi menggunakan lafazh min; dari. Artinya bukan hanya tanggal 9 Dzulhijjah, melainkan dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَصُومُ تِسْعًا مِنْ ذِي الْحِجَّةِ

Rasulullah saw shaum pada sembilan hari pertama dari Dzulhijjah.

Mengenai bagaimana cara mendudukkan dua hadits yang tampak bertentangan; yang satu menyatakan ada, dan yang satunya lagi menyatakan tidak ada, Imam al-Baihaqi menjelaskan:

وَالْمُثْبِتُ أَوْلَى مِنَ النَّافِي مَعَ مَا مَضَى مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ

Hadits itsbat (yang menyatakan ada) lebih tepat dijadikan hujjah daripada hadits nafi (yang menyatakan tidak ada), di samping apa yang sudah jelas dari hadits Ibn ‘Abbas (as-Sunanul-Kubra kitab as-shiyam bab al-‘amalus-shalih fil-‘asyr min Dzilhijjah).

Pertimbangan dari Imam al-Baihaqi ini didasarkan pada kaidah tarjih (cara memilih yang paling kuat/rajih) yang sudah disepakati di kalangan para ulama bahwa khabar mutsbit lebih kuat dan lebih meyakinkan daripada khabar yang nafi. Pernyataan ‘tidak ada’ tidak pasti berarti tidak ada, sebab bisa jadi ‘tidak ada’ tersebut karena tidak diketahui atau tidak terlihat, meski sebenarnya ada.

Sementara hadits Ibn ‘Abbas yang disebutkan Imam al-Baihaqi adalah hadits muthlaq yang menerangkan keutamaan beramal shalih apa saja pada 10 hari pertama Dzulhijjah yang dinilai shahih oleh Imam al-Bukhari. Maksudnya, pernyataan salah seorang istri Nabi saw bahwa Nabi saw shaum pada sembilan hari pertama Dzulhijjah sesuai dengan hadits Ibn ‘Abbas yang menganjurkan memperbanyak amal shalih pada 10 hari pertama Dzulhijjah.

Senada dengan penjelasan Imam al-Baihaqi di atas, Imam an-Nawawi menjelaskan maksud hadits ‘Aisyah bahwa Nabi saw tidak terlihat shaum pada 10 hari pertama Dzulhijjah sebagai berikut:

بَاب صَوْمِ عَشْرِ ذِي الْحِجَّة) فِيهِ قَوْلُ عَائِشَةُ: (مَا رَأَيْتُ رَسُول الله ﷺ صَائِمًا فِي الْعَشْر قَطُّ) وَفِي رِوَايَة: (لَمْ يَصُمْ الْعَشْر) قَالَ الْعُلَمَاء: هَذَا الْحَدِيث مِمَّا يُوهِم كَرَاهَة صَوْم الْعَشَرَة، وَالْمُرَاد بِالْعَشْرِ هُنَا: الْأَيَّام التِّسْعَة مِنْ أَوَّل ذِي الْحِجَّة. قَالُوا: وَهَذَا مِمَّا يُتَأَوَّل فَلَيْسَ فِي صَوْم هَذِهِ التِّسْعَة كَرَاهَة، بَلْ هِيَ مُسْتَحَبَّة اِسْتِحْبَابًا شَدِيدًا لَا سِيَّمَا التَّاسِع مِنْهَا، وَهُوَ يَوْم عَرَفَة، وَقَدْ سَبَقَتْ الْأَحَادِيث فِي فَضْله. وَثَبَتَ فِي صَحِيح الْبُخَارِيّ أَنَّ رَسُول اللَّه ﷺ قَالَ: “مَا مِنْ أَيَّام الْعَمَل الصَّالِح فِيهَا أَفْضَل مِنْهُ فِي هَذِهِ” يَعْنِي: الْعَشْر الْأَوَائِل مِنْ ذِي الْحِجَّة. فَيَتَأَوَّل قَوْلهَا: لَمْ يَصُمْ الْعَشْر، أَنَّهُ لَمْ يَصُمْهُ لِعَارِضِ مَرَضٍ أَوْ سَفَرٍ أَوْ غَيْرهمَا، أَوْ أَنَّهَا لَمْ تَرَهُ صَائِمًا فِيهِ، وَلَا يَلْزَم عَنْ ذَلِكَ عَدَم صِيَامه فِي نَفْس الْأَمْر. وَيَدُلّ عَلَى هَذَا التَّأْوِيل حَدِيث هُنَيْدَة بْن خَالِد عَنْ اِمْرَأَته عَنْ بَعْض أَزْوَاج النَّبِيّ ﷺ قَالَتْ: كَانَ رَسُول اللَّه ﷺ يَصُوم تِسْع ذِي الْحِجَّة، وَيَوْم عَاشُورَاء، وَثَلَاثَة أَيَّام مِنْ كُلّ شَهْر: الِاثْنَيْنِ مِنْ الشَّهْر وَالْخَمِيس وَرَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَهَذَا لَفْظه وَأَحْمَد وَالنَّسَائِيُّ وَفِي رِوَايَتهمَا وَخَمِيسَيْنِ. وَاَللَّه أَعْلَم

(Bab shaum 10 hari Dzulhijjah) Di dalamnya ada pernyataan ‘Aisyah: (Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw shaum sekalipun pada 10 hari pertama Dzulhijjah). Dalam riwayat lain: (Beliau tidak shaum pada 10 hari pertama Dzulhijjah). Para ulama berkata: Hadits ini di antara yang mengindikasikan bahwa shaum 10 hari pertama Dzulhijjah hukumnya makruh. Yang dimaksud ‘al-‘asyr’ di sini tentu adalah sembilan hari pertama Dzulhijjah.

Para ulama menjelaskan: Hadits ini termasuk hadits yang harus dita`wilkan, sebab tidak ada makruh dalam shaum sembilan hari ini. Justru kedudukannya mustahab (dianjurkan) sekali. Terlebih shaum pada hari ke-9 yakni hari ‘Arafah. Hadits-hadits yang menjelaskan keutamaannya sudah dibahas.

Faktanya ada riwayat dalam Shahih al-Bukhari bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada hari dimana amal shalih padanya lebih baik daripada amal shalih pada hari-hari ini.” Yakni: 10 hari pertama Dzulhijjah.

Maka pernyataan ‘Aisyah bahwa Nabi saw tidak shaum pada 10 hari pertama Dzulhijjah harus dita`wil bahwa itu disebabkan ada halangan sakit, safar, atau lainnya. Atau bahwa ‘Aisyah sebatas tidak melihat beliau shaum, dan bukan berarti beliau tidak shaum pada saat itu.

Di antara dalil yang menguatkan ta`wil seperti ini adalah hadits Hunaidah ibn Khalid, dari istrinya, dari salah seorang istri Nabi saw, ia berkata: “Rasulullah saw shaum pada sembilan hari pertama Dzulhijjah, hari ‘Asyura (10 Muharram), tiga hari dari setiap bulan (tanggal 13, 14, 15), Senin pertama dari setiap bulan, dan hari Kamis.” Riwayat Abu Dawud dan seperti ini redaksinya. Sementara dalam riwayat Ahmad dan an-Nasa`i redaksi bagian akhirnya: “Dua kamis (kamis pertama dan kedua [didasarkan pada matan riwayat lain dalam Sunan an-Nasa`i]—pen).” Wal-‘Llahu a’lam.

Imam al-‘Azhim Abadi dalam ‘Aunul-Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud dan Imam al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul-Ahwadzi Syarah Sunan at-Tirmidzi kemudian mengutip pendapat Imam an-Nawawi di atas dalam kitab mereka.

Sementara itu, al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul-Bari memberikan penjelasan tambahan:

وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى فَضْلِ صِيَامِ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ لِانْدِرَاجِ الصَّوْمِ فِي الْعَمَلِ وَاسْتَشْكَلَ بِتَحْرِيمِ الصَّوْمِ يَوْمَ الْعِيدِ وَأُجِيبَ بِأَنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى الْغَالِبِ. وَلَا يَرُدُّ عَلَى ذَلِكَ مَا رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَغَيْرُهُ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ صَائِمًا الْعَشْرَ قَطُّ لِاحْتِمَالِ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ لِكَوْنِهِ كَانَ يَتْرُكُ الْعَمَلَ وَهُوَ يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَهُ خَشْيَةَ أَنْ يُفْرَضَ عَلَى أُمَّتِهِ كَمَا رَوَاهُ الصَّحِيحَانِ مِنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ أَيْضًا

Dan ini (hadits Ibn ‘Abbas di atas—pen) dijadikan dalil keutamaan shaum pada 10 hari pertama Dzulhijjah, karena shaum termasuk kategori amal. Ada yang menganggap rancu dengan haramnya shaum pada hari ‘Id, tetapi jawabannya hadits ini harus dipahami dalam makna yang sudah umum (maksudnya sudah umum dipahami bahwa shaum pada hari ‘Id haram, dan sudah umum dipahami bahwa maksud ’10 hari pertama Dzulhijjah’ dalam konteks shaum adalah sembilan hari pertama Dzulhijjah—pen). Amal shaum tersebut tidak terbantahkan dengan hadits riwayat Abu Dawud dan lainnya dari ‘Aisyah, dimana ia berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw shaum sekalipun pada 10 hari tersebut.” Sebab mungkin itu didasarkan pada kebiasaannya meninggalkan satu amal yang beliau sendiri ingin mengamalkannya hanya karena takut diwajibkan kepada umatnya, sebagaimana diriwayatkan oleh dua kitab Shahih dari hadits ‘Aisyah juga (Fathul-Bari bab fadllil-‘amal fi ayyamit-tasyriq).

Hadits ‘Aisyah yang dimaksud al-Hafizh Ibn Hajar dalam kutipan di atas adalah yang menyatakan bahwa jika Nabi saw meninggalkan satu amal padahal beliau menganjurkannya itu karena khawatir amal tersebut menjadi wajib. Hadits yang dimaksud terkait shalat Dluha yang tidak Nabi saw rutinkan, lalu sengaja dirutinkan oleh ‘Aisyah, karena kekhawatiran Nabi saw sudah tidak ada lagi:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ إِنْ كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ لَيَدَعُ الْعَمَلَ وَهُوَ يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ خَشْيَةَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ النَّاسُ فَيُفْرَضَ عَلَيْهِمْ وَمَا سَبَّحَ رَسُولُ اللهِ ﷺ سُبْحَةَ الضُّحَى قَطُّ وَإِنِّي لَأُسَبِّحُهَا

Dari ‘Aisyah ra, ia berkata: “Sungguh Rasulullah saw meninggalkan satu amal yang beliau ingin mengamalkannya itu karena takut diamalkan oleh orang-orang banyak lalu diwajibkan kepada mereka. Rasulullah saw tidak pernah merutinkan shalat Dluha sekalipun, tetapi aku sendiri merutinkannya.” (Shahih al-Bukhari kitab at-tahajjud bab tahridlin-Nabiy saw ‘ala qiyamil-lail no. 1128).

Dalam hal ini pula, jumhur ulama—sebagaimana dikemukakan al-Hafizh Ibn Hajar—lebih menganjurkan shalat Tarawih berjama’ah di masjid pada satu imam—sebagaimana halnya ijtihad ‘Umar ibn al-Khaththab—meski Nabi saw tidak merutinkan berjama’ah di masjid setiap malam. Nabi saw tidak merutinkannya sebab takut kalau berjama’ah itu dijadikan syarat wajib shalat malam. Karena ketakutan ‘diwajibkan’ itu sudah tidak mungkin ada lagi, maka jumhur ulama menyatakan shalat berjama’ah Tarawih lebih baik daripada munfarid (Fathul-Bari bab fadlli man qama Ramadlan).

Maka dalam konteks shaum sembilan hari pertama Dzulhijjah—sebagaimana dijelaskan al-Hafizh Ibn Hajar di atas—keterangan bahwa Nabi saw tidak mengamalkan shaum tersebut tidak seyogianya dijadikan pegangan.

Imam as-Syaukani dalam Nailul-Authar menegaskan hal yang sama tentang harusnya hadits itsbat yang dijadikan rujukan utama dalam amal:

وَقَدْ تَقَدَّمَ فِي كِتَابِ الْعِيدَيْنِ أَحَادِيثُ تَدُلُّ عَلَى فَضِيلَةِ الْعَمَلِ فِي عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ عَلَى الْعُمُومِ، وَالصَّوْمُ مُنْدَرِجٌ تَحْتِهَا. وَأَمَّا مَا أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ صَائِمًا فِي الْعَشْرِ قَطُّ, وَفِي رِوَايَةٍ: لَمْ يَصُمْ الْعَشْرَ قَطُّ, فَقَالَ الْعُلَمَاءُ: الْمُرَادُ أَنَّهُ لَمْ يَصُمْهَا لِعَارِضِ مَرَضٍ أَوْ سَفَرٍ أَوْ غَيْرِهِمَا، أَوْ أَنَّ عَدَمَ رُؤْيَتِهَا لَهُ صَائِمًا لَا يَسْتَلْزِمُ الْعَدَمَ، عَلَى أَنَّهُ قَدْ ثَبَتَ مِنْ قَوْلِهِ مَا يَدُلُّ عَلَى مَشْرُوعِيَّةِ صَوْمِهَا كَمَا فِي حَدِيثِ الْبَابِ فَلَا يَقْدَحُ فِي ذَلِكَ عَدَمُ الْفِعْلُ.

Sungguh telah dibahas dalam kitab al-‘idain hadits-hadits yang menunjukkan keutamaan amal pada 10 hari pertama Dzulhijjah secara umum, dan shaum termasuk salah satunya. Adapun yang diriwayatkan Imam Muslim dari ‘Aisyah bahwasanya ia berkata: Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw shaum sekalipun pada 10 hari pertama Dzulhijjah,” dan dalam riwayat lain: “Beliau tidak shaum pada 10 hari pertama Dzulhijjah sekalipun,” para ulama berkata: Yang dimaksud adalah beliau tidak shaum karena ada halangan sakit, safar, atau lainnya. Atau ‘Aisyah tidak melihat beliau shaum tidak berarti bahwa beliau tidak shaum, sebab sungguh kuat dari sabdanya sendiri yang menunjukkan bahwa shaum tersebut disyari’atkan, sebagaimana pada hadits bab ini (hadits itsbat dari salah seorang istri Nabi saw—pen). Sehingga tidak otomatis dipahami dalam hal itu beliau tidak mengerjakannya (Naiul-Authar bab shaum ‘asyri Dzilhijjah wa ta`kid yaum ‘Arafah li ghairil-hajj).

Penjelasan dari para ulama pensyarah hadits di atas menginformasikan adanya ijma’ (kebulatan pendapat) bahwa hadits itsbat harus dijadikan pegangan, bukan hadits nafi. Pernyataan ‘Aisyah tidak melihat Nabi saw shaum atau yang agak meyakinkan bahwa menurutnya Nabi saw tidak pernah shaum, tidak berarti bahwa Nabi saw tidak pernah shaum. Hanya sebatas sepengetahuan ‘Aisyah saja, Nabi saw tidak shaum pada hari-hari itu. Tetapi sepengetahuan istri-istrinya yang lain Nabi saw justru biasa shaum pada sembilan hari pertama Dzulhijjah. Terlebih Nabi saw sendiri menganjurkan untuk memperbanyak amal shalih pada 10 hari pertama Dzulhijjah. Atau mungkin Nabi saw sengaja tidak mengamalkannya meski beliau menganjurkannya karena takut dijadikan wajib bagi umatnya. Ketika ketakutan ‘diwajibkan’ itu sudah tidak mungkin ada lagi maka berarti shaum sembilan hari pertama Dzulhijjah dianjurkan untuk diamalkan.

 

Kedudukan al-‘Asyr

Istilah al-‘asyr yang ditujukan pada ’10 hari pertama Dzulhijjah’ didasarkan pada firman Allah swt:

وَلَيَالٍ عَشۡرٖ  ٢

Dan (demi) malam yang sepuluh (QS. al-Fajr [89] : 2).

Al-Hafizh Imam Ibn Katsir menuliskan beberapa riwayat seputar penafsiran ayat di atas dalam kitab Tafsirnya. Beliau menegaskan bahwa yang shahih adalah “10 hari pertama Dzulhijjah”. Ini didasarkan pada pendapat para ulama salaf dan khalaf, juga hadits riwayat al-Bukhari dari Ibn ‘Abbas (Tafsir Ibn Katsir). Hadits yang dimaksud ditulis oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahihnya pada bab fadllil-‘amal fi ayyamit-tasyriq (keutamaan beramal pada hari Tasyriq), sebagai berikut:

مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ قَالُوا وَلَا الْجِهَادُ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ

“Tidak ada amal pada beberapa hari yang lebih baik daripada amal pada hari-hari ini (10 hari pertama Dzulhijjah).” Para shahabat bertanya: “Tidak juga dari jihad?” Beliau menjawab: “Jihad juga tidak, kecuali seseorang yang keluar hendak mengalahkan (musuh) dengan diri dan hartanya lalu ia tidak kembali dengan satu pun dari keduanya.” (Shahih al-Bukhari kitab abwab al-‘idain bab fadllil-‘amal fi ayyamit-tasyriq no. 969).

Dalam Fathul-Bari, al-Hafizh Ibn Hajar menyajikan perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang maksud sabda Nabi saw: ayyam (hari-hari) dalam hadits di atas. Sebagian ulama menyebutkan hari yang dimaksud adalah hari Tasyriq, sebab Imam al-Bukhari memasukkannya pada pembahasan tentang hari Tasyriq. Akan tetapi, menurut al-Hafizh, jika ditelusuri sanad yang serupa dari hadits di atas yang sama-sama bersumber dari Ibn ‘Abbas akan diketahui bahwa yang dimaksud adalah 10 hari pertama Dzulhijjah. Berikut rincian matan dari sanad-sanad yang dimaksud:

مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذَا الْعَشْرِ

Tidak ada amal pada beberapa hari yang lebih baik daripada amal pada 10 hari ini (Ahmad).

مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهُ فِي عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ

Tidak ada amal pada beberapa hari yang lebih baik daripada amal pada 10 hari Dzulhijjah (at-Thayalisi).

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ

Tidak ada hari dimana amal shalih padanya lebih dicintai oleh Allah daripada 10 hari ini (at-Tirmidzi dan Ibn Majah).

مَا مِنْ عَمَلٍ أَزْكَى عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَعْظَمَ أَجْرًا مِنْ خَيْرٍ يَعْمَلُهُ فِي عَشْرِ الْأَضْحَى

Tidak ada satu amal pun yang lebih baik menurut Allah dan tidak juga lebih besar pahalanya daripada kebaikan yang dikerjakan pada10 hari Adlha (al-Qasim ibn Abi Ayyub).

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَفْضَلَ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ أَيَّامِ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ

Tidak ada hari-hari yang lebih utama di sisi Allah daripada 10 hari Dzulhijjah (Abu ‘Awanah dan Ibn Hibban).

Matan-matan di atas jelas menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah 10 hari Dzulhijjah. Jika tidak disebutkan awal, tengah atau akhirnya, maka berarti maksudnya 10 hari pertama dari tanggal 1-10 Dzulhijjah. Imam an-Nawawi sendiri dalam Syarah Shahih Muslim sebagaimana dikutip di atas menegaskan demikian. Apalagi dalam riwayat al-Qasim di atas disebutkan Adlha-nya, itu menunjukkan bahwa 10 hari yang dimaksud adalah 10 hari menjelang dan berakhir pada saat ‘Idul-Adlha. Sehingga jelas tidak mungkin yang dimaksud adalah hari Tasyriq yang hanya tiga hari, sebab yang disebutkannya juga sepuluh hari. Maka dari itu, al-Hafizh Ibn Hajar kemudian menyatakan:

فَظَهَرَ أَنَّ الْمُرَادَ بِالْأَيَّامِ فِي حَدِيثِ الْبَابِ أَيَّامُ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ

Jelaslah bahwa maksud dari ‘ayyam’ pada hadits bab ini (hadits riwayat al-Bukhari di atas) adalah 10 hari pertama Dzulhijjah (Fathul-Bari bab fadlli ayyamit-tasyriq).

Terkait kejanggalan Imam al-Bukhari yang memasukkan hadits di atas dalam bab tentang hari Tasyriq, menurut Ibn Hajar tidak janggal, sebab justru Imam al-Bukhari hendak menunjukkan kepada umat Islam agar perhatian tentang hari Tasyriq dimulai dari yang mengiringinya yakni dari yang 10 hari ini. Maka dari itu Imam al-Bukhari sendiri mengutip atsar yang menunjukkan keutamaan 10 hari pertama Dzulhijjah ini, yakni sebagai berikut:

بَاب فَضْلِ الْعَمَلِ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ. وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ أَيَّامُ الْعَشْرِ وَالْأَيَّامُ الْمَعْدُودَاتُ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا وَكَبَّرَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ خَلْفَ النَّافِلَةِ

Bab keutamaan beramal pada hari-hari Tasyriq. Ibn ‘Abbas berkata: Maksud dari perintah berdzikir kepada Allah pada ayyam ma’lumat itu adalah ‘hari-hari yang 10’, sementara ayyam ma’dudat adalah ‘ayyam tasyriq’. Ibn ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar menuju pasar pada 10 hari Dzulhijjah sambil bertakbir, orang-orang pun ikut bertakbir mengikuti mereka berdua. Muhammad ibn ‘Ali (ibn al-Husain ibn ‘Ali ibn Thalib) juga bertakbir sesudah shalat sunat (tidak hanya sesudah shalat wajib).

Atsar dari Ibn ‘Abbas, Ibn ‘Umar, Abu Hurairah dan Muhammad ibn ‘Ali jelas ditujukan pada 10 hari pertama Dzulhijjah yang beriringan dengan hari Tasyriq. Kemudian hadits yang dicantumkan di bab ini, sebagaimana telah diulas di atas juga tentang 10 hari pertama Dzulhijjah. Maka jelaslah bahwa Imam al-Bukhari hendak menunjukkan kepada umat Islam agar memperhatikan keutamaan Dzulhijjah dari yang mengiringi hari Tasyriq, yakni dari sejak 10 hari pertama Dzulhijjah.

Sebagaimana disebutkan oleh Ibn ‘Abbas di atas, dalam al-Qur`an sendiri Allah swt memerintahkan dzikir dalam rangkaian haji-qurban ini pada dua tempat: Pertama, ayyam ma’lumat yang ada dalam surat al-Hajj [22] : 28 dan itu ditujukan pada rangkaian manasik sebelum menyembelih hadyu/qurban. Kedua, ayyam ma’dudat yang ada dalam surat al-Baqarah [2] : 203 yang ditujukan pada rangkaian manasik sesudah menyembelih hadyu/qurban. Maka yang dimaksud ayyam ma’lumat adalah 10 hari pertama Dzulhijjah, sedang ayyam ma’dudat adalah hari Tasyriq; 11-13 Dzulhijjah.

Cara berdzikir yang dimaksud sudah dicontohkan sendiri oleh para shahabat dalam atsar di atas, di antaranya dengan bertakbir baik itu selepas shalat atau bahkan di pasar. Demikian halnya dzikir pada ayyam ma’dudat yang dijelaskan oleh Imam al-Bukhari sebagai berikut:

بَاب التَّكْبِيرِ أَيَّامَ مِنًى وَإِذَا غَدَا إِلَى عَرَفَةَ. وَكَانَ عُمَرُ  يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ فَيُكَبِّرُونَ وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الْأَسْوَاقِ حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يُكَبِّرُ بِمِنًى تِلْكَ الْأَيَّامَ وَخَلْفَ الصَّلَوَاتِ وَعَلَى فِرَاشِهِ وَفِي فُسْطَاطِهِ وَمَجْلِسِهِ وَمَمْشَاهُ تِلْكَ الْأَيَّامَ جَمِيعًا وَكَانَتْ مَيْمُونَةُ تُكَبِّرُ يَوْمَ النَّحْرِ وَكُنَّ النِّسَاءُ يُكَبِّرْنَ خَلْفَ أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ وَعُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ لَيَالِيَ التَّشْرِيقِ مَعَ الرِّجَالِ فِي الْمَسْجِدِ

Bab: Takbir pada Ayyam Mina dan Apabila Berangkat Pagi Hari Menuju ‘Arafah. ‘Umar ra bertakbir di kubahnya di Mina. Jama’ah masjid mendengarnya, lalu mereka pun bertakbir. Demikian juga orang-orang yang ada di luar masjid bertakbir. Sehingga Mina terasa bergetar oleh suara takbir. Sementara Ibn ‘Umar bertakbir di Mina pada hari-hari itu (Tasyriq), di setiap penghujung shalat, di atas kasurnya, di tendanya, di tempat duduknya, di tempat berjalannya, pada hari-hari itu (Tasyriq) semuanya. Adapun Maimunah takbir pada hari Nahar (penyembelihan; 10 Dzulhijjah). Para wanita juga bertakbir di belakang Aban ibn ‘Utsman dan ‘Umar ibn ‘Abdil-‘Aziz pada malam-malam Tasyriq bersama kaum lelaki di masjid.

Terdapat ikhtilaf di kalangan pada ulama tentang awal-akhir takbiran yang ini, termasuk tempatnya apakah setelah shalat wajib saja, di masjid saja, laki-laki saja, berjama’ah ataukah sendirian? Akan tetapi Ibn Hajar menyatakan, dari tulisan Imam al-Bukhari dari sejak bab tentang hari Tasyriq menunjukkan bahwa beliau tidak membeda-bedakan ke-13 hari ini. Demikian halnya dengan tempatnya dan caranya, bisa dilaksanakan sefleksibel mungkin.

Satu hal yang harus lebih diperhatikan tentunya shaum ‘Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama di atas. Ini didasarkan pada hadits Nabi saw:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ

Shaum ‘Arafah yang diniatkan mengharap ridla Allah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan yang akan datang (Shahih Muslim kitab as-shiyam bab istihbab shiyam tslatsah ayyam min kulli syahr no. 2803).

Wal-‘Llahu a’lam