Akhlaq

Mendambakan Generasi Isma’il as

Mendambakan Generasi Isma’il as

Seorang anak remaja yang sudah siap mengorbankan nyawanya dengan ikhlas. Ia juga sudah sanggup mengorbankan waktu, pikiran, dan tenaganya untuk membangun masjid sekaligus merawat kebersihannya. Di saat anak-anak seusianya senang bermain dan menghabiskan waktu untuk berleha-leha. Tidak pernah terlintas dalam benak mereka untuk aktif membersihkan masjid, aktif dalam pembangunan masjid, mengorbankan pikiran, tenaga, dan waktu untuk fi sabilillah, apalagi mengorbankan nyawa untuk Allah swt. Itulah Isma`il as yang keshalihannya bahkan melebihi generasi yang lebih tua darinya

Keberanian untuk mengorbankan nyawa adalah salah satu ujian dari Allah swt untuk ayah sekaligus putranya; Ibrahim dan Isma’il ‘alahimas-salam, apakah siap mengorbankan nyawa dan cinta keluarga demi Allah swt. Sebuah ujian yang kemudian digantikan dengan syari’at qurban; mengorbankan sebagian harta di jalan Allah swt untuk berbagi kepada mereka yang tidak mampu. Pengabadian syari’at qurban tersebut pada hakikatnya adalah sebuah pengingat, terkhusus untuk generasi muda, agar meneladani pemuda yang bernama Isma’il as yang sudah siap mengorbankan nyawa di jalan Allah swt di usia yang masih sangat muda.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ 

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. as-Shaffat [37] : 102).

Ibn ‘Abbas dan mufassir salaf lainnya menjelaskan maksud “sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim” sebagai berikut:

شَبَّ وَارْتَحَلَ وَأَطَاقَ مَا يَفْعَلُهُ أَبُوهُ مِنَ السَّعْيِ وَالْعَمَلِ

Menjadi seorang anak muda, bisa berkendaraan, dan mampu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan ayahnya (Tafsir Ibn Katsir).

Di antara pekerjaan yang bisa dikerjakan Isma’il beserta ayahnya saat itu adalah membangun dan merawat kebersihan masjid:

وَإِذۡ يَرۡفَعُ إِبۡرَٰهِيمُ ٱلۡقَوَاعِدَ مِنَ ٱلۡبَيۡتِ وَإِسۡمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ 

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui“. (QS. al-Baqarah [2] : 127)

وَإِذۡ جَعَلۡنَا ٱلۡبَيۡتَ مَثَابَةٗ لِّلنَّاسِ وَأَمۡنٗا وَٱتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ مُصَلّٗىۖ وَعَهِدۡنَآ إِلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيۡتِيَ لِلطَّآئِفِينَ وَٱلۡعَٰكِفِينَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ 

Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud“. (QS. al-Baqarah [2] : 125. Ayat semakna ada dalam QS. al-Hajj [22] : 26)

Keshalihan Isma’il as berawal dari tekad Nabi Ibrahim as sendiri yang sangat menginginkan anak shalih:

رَبِّ هَبۡ لِي مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ 

“Wahai Rabb, berilah aku anak-anak yang shalih.” (QS. as-Shaffat [37] : 100).

Do’a tersebut menggambarkan tekad yang sangat kuat. Bukan sebatas penghias bibir dalam wirid harian semata tanpa disertai tekad kuat. Keinginan memiliki anak shalih tersebut kemudian diwujudkan dengan langkah kedua, yakni memilih lingkungan yang tepat untuk pertumbuhan anak dan itu adalah dekat dengan masjid. Hal ini dipilih Ibrahim as agar sukses menjalankan langkah ketiga dalam mendidik anak yakni mendidikkan shalat dengan benar sampai menjadi muqim (ahli mendirikan shalat dengan sempurna).

رَّبَّنَآ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ عِندَ بَيۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجۡعَلۡ اَفْـِٕدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِيٓ إِلَيۡهِمۡ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡكُرُونَ 

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur (QS. Ibrahim [14] : 37).

Memilih lingkungan yang baik juga sangat penting untuk menjauhkan anak-anak dari bahaya syirik dan kufur:

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ءَامِنٗا وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ

“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. (QS. Ibrahim [14] : 35).

Pendidikan tauhid dan shalat yang berkualitas dengan sendirinya akan menjadikan anak kuat aqidahnya dan bagus akhlaqnya. Ia akan menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, jujur, dan berintegritas. Semua persyaratan untuk mendapatkan rizki yang mudah sudah otomatis dimilikinya, maka dari itu rizki Allah swt juga sudah pasti akan diperolehnya sebagaimana difirmankan dalam ayat di atas: “…dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim [14] : 37).

Keempat, tekad yang kuat untuk memiliki anak shalih tersebut diiringi juga dengan teladan yang kuat dari sesosok ayah; Ibrahim as. Mengorbankan nyawa sudah diteladankan Ibrahim as sejak usia muda jauh sebelum Isma’il as lahir, yakni ketika ia harus dibakar hidup-hidup yang kemudian diselamatkan Allah swt (QS. al-Anbiya` [21] 68-69 dan as-Shaffat [37] : 97-98).

Berkorban waktu, pikiran, tenaga, dan harta untuk masjid juga diteladankan Ibrahim as sebagaimana terbaca dalam ayat-ayat di atas. Ibrahim as bukan hanya menyuruh apalagi sebatas berharap memiliki anak shalih ahli masjid sementara dirinya sendiri sebagai ayah sangat minim sekali baktinya ke masjid.

Dalam hal memilih lingkungan yang baik dan mendidikkan shalat juga Ibrahim as tidak sebatas menyuruh tanpa teladan. Sebelum menyuruh anaknya shalat, ia sendiri memberikan teladan bagaimana shalat yang berkualitas itu:

رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku (QS. Ibrahim [14] : 40).

Konsistensi dalam tekad dan mendidikkan shalat ini kemudian diajarkan juga oleh Isma’il as kepada seluruh keluarganya, sebagaimana dulu diteladankan oleh ayahnya, Ibrahim as.

وَٱذۡكُرۡ فِي ٱلۡكِتَٰبِ إِسۡمَٰعِيلَۚ إِنَّهُۥ كَانَ صَادِقَ ٱلۡوَعۡدِ وَكَانَ رَسُولٗا نَّبِيّٗا  ٥٤ وَكَانَ يَأۡمُرُ أَهۡلَهُۥ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِۦ مَرۡضِيّٗا 

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh ahli (keluarga dan pengikut)-nya untuk bershalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridai di sisi Tuhannya (QS. Maryam [19] : 54-55).

Fakta bahwa keshalihan anak sangat tergantung juga taqdir sudah semestinya dikesampingkan dahulu, sebab manusia tidak akan dihisab berdasarkan taqdir, melainkan berdasarkan iman dan amal shalihnya. Maka yang harus selalu dihisabkan pada diri sudah sejauh mana usaha untuk melahirkan generasi Isma’il, terlepas dari apakah usaha itu bersesuaian dengan taqdir Allah swt ataupun tidak. Usaha itulah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat, bukan taqdirnya.

Wal-‘Llahu a’lam.