Home > Infak dan Sedekah > Menabung di Akhirat, Bukan di Dunia

Menabung di Akhirat, Bukan di Dunia

Menabung di Akhirat, Bukan di Dunia

Manusia pada umumnya mewajibkan dirinya menabung untuk menyongsong hari esoknya di dunia. Sementara untuk “hari esok” di akhiratnya seringkali tidak diprioritaskan. Ini adalah salah satu dampak jelek pendidikan sekuler yang selalu mendidik menabung dari sejak usia dini. Dampaknya tertanam kesadaran untuk selalu menabung tetapi hanya dalam kehidupan dunianya. Sementara menabung untuk kehidupan akhirat terabaikan.

Nabi saw mengingatkan bahwa orang yang paling banyak tabungannya di dunia, kelak di akhirat akan menjadi orang yang paling sengsara, sebab memang ia di dunia pun sebenarnya sudah menjadi orang yang sengsara. Pilihannya yang mementingkan menabung di dunia menunjukkan kesengsaraan hatinya. Orang yang hatinya kaya akan mementingkan berderma daripada menabungkan kekayaannya di dunia.

مَا يَسُرُّنِي أَنَّ عِنْدِي مِثْلَ أُحُدٍ هَذَا ذَهَبًا تَمْضِي عَلَيَّ ثَالِثَةٌ وَعِنْدِي مِنْهُ دِينَارٌ إِلَّا شَيْئًا أَرْصُدُهُ لِدَيْنٍ إِلَّا أَنْ أَقُولَ بِهِ فِي عِبَادِ اللَّهِ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ وَمِنْ خَلْفِهِ ثُمَّ مَشَى فَقَالَ إِنَّ الْأَكْثَرِينَ هُمْ الْأَقَلُّونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا مَنْ قَالَ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ وَمِنْ خَلْفِهِ وَقَلِيلٌ مَا هُمْ

“Aku tidak bahagia seandainya aku punya emas banyak sebesar gunung Uhud ini lalu masih tersimpan di rumahku sampai tiga hari meski itu tinggal hanya satu keping dinar, kecuali yang aku sisakan untuk membayar utang, melainkan aku akan bagikan kepada hamba-hamba Allah seperti ini, ini, dan ini—sambil berisyarat ke arah kanan, kiri dan belakang.” Kemudian beliau berjalan lagi dan bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling banyak hartanya (di dunia) adalah orang yang paling sedikit hartanya pada hari kiamat, kecuali mereka yang membagikannya seperti ini, ini, dan ini— sambil berisyarat ke arah kanan, kiri dan belakang. Tetapi sungguh sedikit mereka yang seperti itu.” (Shahih al-Bukhari bab qaulin-Nabi saw ma uhibbu anna li mitsla Uhud dzahaban no. 6444)

Jelas sekali Nabi saw menyebutkan dalam hadits di atas bahwa orang yang paling banyak tabungannya di dunia kelak menjadi orang yang paling sengsara di akhirat. Dengan memperbanyak tabungan di dunia berarti banyak amanah harta yang tidak tersalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Dosa gaya hidup seperti ini menjadi penyebab sengsara di akhirat kelak.

Hadits di atas menyiratkan bahwa menabung untuk kebutuhan sehari-hari itu cukup untuk ukuran tiga hari saja. Setelah itu mencari rizki lagi dan terus berusaha mencari rizki guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kalaupun ada kebutuhan yang mendesak, maka halal untuk meminjam terlebih dahulu, seperti terbaca dalam sabda Nabi saw di atas yang mengaku akan membuat anggaran khusus untuk membayar utang.

Dikecualikan tentunya bagi orang-orang yang masih harus memenuhi kebutuhan primernya seperti rumah dan perlengkapannya. Nabi saw sebagai orang yang paling dermawan sekalipun tetap memberi rumah kepada sembilan istrinya, meski itu rumah yang sangat sederhana (al-hujurat). Nabi saw selalu memberikan nafkah yang cukup kepada istri-istrinya meski dalam kadar kecukupan minimal. Nabi saw selalu berqurban setiap tahun untuk keluarganya minimal dua kambing. Nabi saw mempunyai pedang dan baju besi untuk keperluan jihad. Nabi saw juga mempunyai unta dan kuda sebagai kendaraan pribadi. Itu semua menunjukkan bahwa kebutuhan primer seperti rumah, alat-alat yang penting untuk menunjang profesi, dan kendaraan halal untuk dimiliki dimana salah satu caranya dengan menabung. Akan tetapi tentunya sebatas kebutuhan primer saja atau dalam kadar sederhana, bukan untuk mencapai taraf kemewahan. Menabung untuk mencapai taraf mewah termasuk yang Nabi saw ancam di atas akan menjadi orang yang paling sengsara di akhirat.

Inilah yang menjadi sebab para shahabat yang kaya merasa sedih dengan kekayaan mereka dan malah iri kepada para shahabat yang hidup dalam keadaan miskin, karena khawatir kelak kehidupannya di akhirat berkurang kesenangannya. Ini di antaranya yang dirasakan oleh ‘Abdurrahman ibn ‘Auf dan Khabbab ibn al-Arat ketika mereka hidup kaya di usia senja mereka (Shahih al-Bukhari bab idza lam yujad illa tsaub wahid no. 1275; Shahih al-Bukhari bab tamannil-maridl al-maut no. 5672).

Nabi saw cukup sering menggugah para shahabat untuk merenungkan apa sebenarnya harta yang dimiliki itu. Pada suatu waktu Nabi saw mengingatkan bahwa harta seorang manusia itu adalah apa yang sudah dishadaqahkan, bukan apa yang belum dishadaqahkan.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهُمْ ذَبَحُوا شَاةً فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ : مَا بَقِيَ مِنْهَا؟ قَالَتْ: مَا بَقِيَ مِنْهَا إِلَّا كَتِفُهَا قَالَ: بَقِيَ كُلُّهَا غَيْرَ كَتِفِهَا

Dari ‘Aisyah, bahwasanya mereka menyembelih kambing (dan menshadaqahkannya). Nabi saw bertanya: “Apa yang tersisa?” ‘Aisyah menjawab: “Tidak ada yang tersisa kecuali bahunya.” Beliau menimpali: “Semuanya tersisa kecuali bahunya.” (Sunan at-Tirmidzi abwab shifatil-qiyamah war-raqa`iq wal-wara’ no. 2470)

Dalam kesempatan lain Nabi saw menjelaskan bahwa apa yang dipakai dan dimakan semuanya akan habis dan tidak menjadi harta, hanya shadaqah saja yang akan menjadi harta seseorang.

يَقُولُ الْعَبْدُ مَالِى مَالِى إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلاَثٌ مَا أَكَلَ فَأَفْنَى أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ

Seorang hamba berkata: “Ini adalah hartaku, hartaku.” Padahal harta yang ia miliki itu hanya tiga saja: Apa yang dimakan lalu habis, apa yang dipakai lalu rusak, atau apa yang didermakan lalu menjadi bekal yang cukup. Selebihnya dari itu akan habis dan ditinggalkan untuk orang lain (Shahih Muslim kitab az-zuhd war-raqa`iq no. 7611 [hadits Abu Hurairah]. Dalam hadits ‘Abdullah ibnus-Syikhkhir yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam bab yang sama no. 7609 disebutkan bahwa Nabi saw bersabda di atas ketika menjelaskan surat at-Takatsur).

Dalam waktu yang lainnya Nabi saw mengingatkan bahwa harta yang disimpan-simpan di dunia tidak akan menjadi keuntungan bagi penyimpannya karena ujung-ujungnya akan diwariskan, hanya harta yang dishadaqahkan saja yang benar-benar akan dimiliki oleh pemiliknya sampai hari akhir kelak.

أَيُّكُمْ مَالُ وَارِثِهِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا مِنَّا أَحَدٌ إِلَّا مَالُهُ أَحَبُّ إِلَيْهِ قَالَ فَإِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ وَمَالُ وَارِثِهِ مَا أَخَّرَ

“Siapa di antara kalian yang harta ahli warisnya lebih ia cintai daripada hartanya sendiri?” Para shahabat menjawab: “Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun dari kami kecuali hartanya yang lebih ia cintai.” Nabi saw bersabda: “Sungguh hartanya adalah apa yang ia persembahkan (dalam kebaikan), sementara harta ahli warisnya adalah apa yang ia simpan-simpan.” (Shahih al-Bukhari kitab ar-riqaq bab ma qaddama min malihi fa huwa lahu no. 6442)

Dampak buruk lainnya dari kegemaran menabung di dunia adalah rizki yang akan selalu disempitkan, dan itu kemudian berdampak pada hati yang selalu merasa sempit dari rizki Allah swt. Sementara jika seseorang rajin menabungkannya di akhirat maka rizki di dunia akan tetap mengalir lancar dan tidak akan ada lagi ketakutan akan hidup miskin. Setiap kali mengeluarkan harta ia akan merasa yakin bahwa Allah swt akan segera menggantinya.

لَا تُوكِي فَيُوكَى عَلَيْكِ لَا تُحْصِي فَيُحْصِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ

Janganlah kamu mengikat (hartamu), nanti hartamu akan diikat (disempitkan). Janganlah kamu hitungan, nanti Allah akan hitungan kepadamu (Shahih al-Bukhari kitab az-zakat bab at-tahridl ‘alas-shadaqah no. 1433).

لَا تُوعِي فَيُوعِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ ارْضَخِي مَا اسْتَطَعْتِ

Janganlah kamu mewadahi (hartamu), nanti Allah akan mewadahi (menghentikan) kepadamu. Tuangkanlah semampumu (Shahih al-Bukhari kitab az-zakat bab as-shadaqah fi ma-istatha’a no. 1434).