Home > Konsultasi Islam > Aqidah > Mempertanyakan Rujukan Bulletin At-Taubah

Mempertanyakan Rujukan Bulletin At-Taubah

Mempertanyakan Rujukan Bulletin At-Taubah

Saya tinggal di Kurdi, Bandung. Saya membaca dua edisi Bulletin At-Taubah yang mengoreksi konsep kufur dan syirik dari madzhab Salafi. Saya banyak lihat kejanggalan dan isi bulletin cenderung menyelisihi aqidah dan manhajnya para ulama. Bisa kasih tahu saya kitab apa yang jadi rujukannya. Saya tidak melihat kutipan-kutipan kitab, bahkan ayat dan hadits ketika antum berargumen untuk membantah madzhab salafi. 0821-1096-xxxx

Bulletin At-Taubah tentu tidak akan berani menulis tentang agama tanpa dasar ilmu atau rujukan al-Qur`an, hadits, dan pendapat para ulama. Pada edisi “Koreksi Konsep Syirik Akbar” kami sudah mengutip rujukan dalilnya yang dikutip dari Shahih al-Bukhari:

Imam al-Bukhari menuliskan dalam kitab Shahihnya ketika membahas sekelompok aliran yang serampangan mengkafirkan kaum muslimin:

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَرَاهُمْ شِرَارَ خَلْقِ اللَّهِ وَقَالَ إِنَّهُمْ انْطَلَقُوا إِلَى آيَاتٍ نَزَلَتْ فِي الْكُفَّارِ فَجَعَلُوهَا عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Ibn ‘Umar menilai mereka sebagai makhluk Allah yang jahat. Ia berkata: “Sesungguhnya mereka menggunakan ayat-ayat yang ditujukan untuk orang kafir dengan memberlakukannya kepada orang-orang beriman.” (Shahih al-Bukhari kitab istitabatil-murtaddin wal-mu’anidin wa qitalihim).

Satu kutipan di atas hemat kami sudah cukup untuk mengoreksi kekeliruan konsep aqidah madzhab Salafi yang sering berdalih di balik alasan bolehnya takfir muthlaq (mengkafirkan secara umum) tetapi tidak boleh takfir ta’yin (mengkafirkan individu tertentu). Padahal kedua-duanya mesti dihindari, sebab takfir muthlaq pun pada hakikatnya ta’yin juga sebab sifat-sifat yang disebutkan dengan muthlaq jelas mengarah ke orang-orang tertentu. Koreksi dari Ibn ‘Umar ra di atas itulah yang diabaikan oleh madzhab Salafi, yakni menempatkan ayat-ayat yang ditujukan untuk orang kafir kepada orang-orang Islam. Jadinya orang-orang Islam disamakan dengan orang-orang kafir atau takfir.

Mengingat sifat tulisan Bulletin harus ringkas maka tentu kami tidak bisa menyajikan dalil-dalil secara rinci. Tulisan yang cukup detailnya sudah dimuat dalam www.tafaqquh.net pada tulisan “Kritik untuk Madzhab Salafi”. Tulisan yang lebih detailnya lagi ada di buku “Islam Tanpa Sesat” pada bab “Gerakan Takfiri”.

Dalam semua tulisan tersebut rujukan utamanya adalah kitab Fathul-Bari Syarah Shahih al-Bukhari kitab al-iman. Ditambah rujukan lainnya seperti Syarah Shahih Muslim an-Nawawi dan Tafsir Ibn Katsir. Dalam Fathul-Bari muqaddimah kitab al-iman pada tema bahasan al-iman yazid wa yanqush, al-Hafizh Ibn Hajar menguraikan panjang lebar pendapat para ulama salaf tentang iman dan kafir. al-Hafizh menyimpulkan bahwa siapa saja yang berikrar iman maka ia di dunia harus diperlakukan sebagai mukmin dan tidak boleh dihukumi kafir. Terkecuali jika seseorang terang-terangan beramal kafir seperti menyembah berhala. Adapun jika sebatas amal-amal fasiq, maka jika ia disebut iman, itu karena berdasar pada pengakuannya. Jika ia disebut tidak beriman, maka maksudnya tidak sempurna imannya, bukan hilang imannya atau kafir. Jika ia disebut kafir, maka maksudnya beramal seperti amal orang kafir. Dan jika ia disebut tidak kafir, itu didasarkan pada hakikatnya ia memang tidak kafir.

Apa yang dijelaskan para ulama salaf di atas jelas berbeda dengan madzhab Salafi yang mudah saja memvonis kufur/syirik akbar kepada orang Islam dan menghukuminya sebagai keluar dari Islam, tidak akan diampuni dosanya, dan kekal di neraka.

Sebagai pembanding, dalam hal tidak menetapkan hukum Allah yang divonis syirik tha’ah dan akbar oleh Salafi, para shahabat dan tabi’in sendiri tidak menilai demikian. Ibn ‘Abbas menjelaskan bahwa ayat yang takfir itu ditujukan kepada orang-orang Yahudi dan Kristen. Meski juga berlaku bagi orang Islam, tetapi kufurnya tidak sebagaimana kufur yang keluar dari Islam: Hiya bihi kufrun; sebatas ada sifat kafir. Laisa bil-kufril-ladzi yadzhabuna ialihi; bukan kafir sebagaimana yang umum dipahami. Ditegaskan oleh Ibn Thawus: Laisa ka man kafara bil-‘Llah wa mala`ikatihi wa kutubihi wa rusulihi; tidak sama dengan orang yang kafir kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya. Sementara ‘Atha` menegaskan: Kufrun duna kufrin; kafir dalam ayat itu di bawah kafir yang sebenarnya (Tafsir Ibn Katsir QS. al-Ma`idah [5] : 45). Tegasnya syirik/kufurnya bukan akbar. Wal-‘Llahu a’lam