Home > Konsultasi Islam > Keluarga > Memisah Tamu Undangan Lelaki dan Perempuan

Memisah Tamu Undangan Lelaki dan Perempuan

Bismillah. Ustadz saya ingin bertanya bagaimana hukumnya melakukan resepsi yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Apakah di zaman Rasul saw prosesi resepsi itu memang dipisah? Terima kasih 08770878xxxx

Kami belum tahu ada dalil sharih (tegas) yang mengharuskan tamu undangan resepsi pernikahan dipisah antara laki-laki dan perempuan. Akan tetapi jika dirujukkan pada dalil-dalil yang umum, memang lelaki dan perempuan itu umumnya dipisah, seperti dalam jama’ah shalat dan pengajian. Meski belum ditemukan dalilnya apakah hal tersebut berlaku juga dalam interaksi umum seperti resepsi pernikahan, pasar, jalan raya, dan jama’ah haji. Hanya jika merujuk pada pelaksanaan ibadah haji yang sudah mentradisi di setiap tahunnya, tampaknya aturan bahwa lelaki dan perempuan harus dipisah secara ketat itu tidak ada. Akan tetapi tetap masing-masing dari jama’ah lelaki dan perempuan wajib untuk saling menjaga dirinya agar tidak terjadi ikhtilath (percampurbauran) yang haram, seperti bercengkerama dengan mesra, saling berpelukan, cipika-cipiki, bergandengan tangan, atau saling bersentuhan dengan lawan jenis yang non-muhrim.

Maka dari itu jika penyelenggara walimah nikah berijtihad untuk memisah tamu undangan lelaki dan perempuan, hemat kami itu tidak termasuk bid’ah karena pasti niatnya jelas untuk meminimalisir potensi ikhtilath. Kalaupun penyelenggara walimah berijtihad untuk tidak memisah tamu undangan, tentu itu tidak berarti ditinggalkannya amar ma’ruf nahyi munkar atas ikhtilath yang haram di tempat walimah. Pihak tamu pun harus sepenuhnya insyaf bahwa dirinya tetap terikat aturan tidak boleh ikhtilath dengan lawan jenis, meski tempat pernikahannya tidak memisahkan tamu undangan lelaki dan perempuan.

Adapun jika sampai dikatakan harus ada hijab/tirai sehingga antara lawan jenis tidak bisa saling melihat, atau tidak dibolehkannya perempuan melayani tamu undangan lelaki, hemat kami ini tidak benar dan terlalu dilebih-lebihkan. Sepengetahuan kami dua hadits berikut menunjukkan sebaliknya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ تَزَوَّجَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فَدَخَلَ بِأَهْلِهِ… وَجَلَسَ طَوَائِفُ مِنْهُمْ يَتَحَدَّثُونَ فِى بَيْتِ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَرَسُولُ اللهِ ﷺ جَالِسٌ وَزَوْجَتُهُ مُوَلِّيَةٌ وَجْهَهَا إِلَى الْحَائِطِ

Dari Anas ibn Malik, ia berkata: “Rasulullah saw menikah dan beliau masuk rumah menemui istrinya … dan beberapa orang dari mereka duduk berbincang-bincang di rumah Rasulullah saw. Beliau saw duduk dan istrinya menghadapkan wajahnya ke dinding…” (Shahih Muslim bab zawaj Zainab binti Jahsy [pernikahan dengan Zainab binti Jahsy] no. 3580).

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ دَعَا أَبُو أُسَيْدٍ السَّاعِدِىُّ رَسُولَ اللهِ ﷺ فِى عُرْسِهِ فَكَانَتِ امْرَأَتُهُ يَوْمَئِذٍ خَادِمَهُمْ وَهِىَ الْعَرُوسُ

Dari Sahl ibn Sa’ad, ia berkata: “Abu Usaid as-Sa’idi mengundang Rasulullah saw pada pernikahannya. Maka istri Abu Usaid pada hari itu melayani para tamu padahal ia pengantin.” (Shahih Muslim bab ibahatin-nabidz no. 5351)
Dua hadits di atas menunjukkan bahwa pengantin perempuan terlihat oleh tamu. Bahkan istri Abu Usaid yang menjadi pengantin turut melayani para tamu lelaki. Adanya larangan Nabi saw kepada jama’ah shalat perempuan agar tidak dulu mengangkat kepala dari sujud sebelum jama’ah laki-laki yang bajunya minim sempurna duduk agar aurat laki-laki tersebut tidak terlihat, menunjukkan bahwa di zaman Nabi saw, di masjid sekalipun, tidak ada hijab/tirai yang memisahkan jama’ah lelaki dan perempuan. Meski tidak berarti bahwa membuat tirai itu tidak boleh. Jika niatnya untuk melindungi pandangan dan agar menihilkan potensi ikthtilath maka itu diperbolehkan. Tetapi hukumnya tidak wajib. Wal-‘Llahu a’lam