Home > Ekonomi > Melawan Rentenir dan Bank Keliling

Melawan Rentenir dan Bank Keliling

Banyaknya rentenir dan bank keliling yang menjalankan praktik riba di lingkungan warga semakin menambah suram wajah umat Islam dalam ibadah harta. Setelah jelas banyak umat Islam kalangan menengah-atas yang terjerat bank konvensional, masyarakat bawah dan jelata pun ternyata banyak yang terjerat rentenir tidak berdasi. Masjid dan majelis ta’lim yang banyak tersebar di pelosok tampak tidak mampu mengambil peran pemberdayaan umat di bidang ekonomi. Ibadah zakat, infaq, dan shadaqah belum diamalkan maksimal untuk melawan lintah-lintah darat.

Maraknya rentenir dan bank keliling di tengah-tengah masyarakat akar rumput menunjukkan kelemahan iman dan amal umat Islam kalangan bawah dan kalangan menengah-atas sekaligus. Yang dimaksud kalangan bawah adalah mereka yang hidup sebagai faqir miskin atau orang-orang yang berpenghasilan rendah dalam kisaran upah minimum regional (UMR). Sementara kalangan menengah-atas adalah mereka yang hidup berkecukupan atau bahkan lebih dari cukup. Mereka biasa disebut orang-orang kaya.

Banyaknya masyarakat kalangan bawah yang terjerat rentenir merupakan indikasi dari banyaknya masyarakat yang belum bisa menerapkan pola hidup qana’ah; bersabar hidup dengan apa yang ada dan sesuai kemampuan. Nafsu untuk memperkaya diri meski kemampuan sangat terbatas masih terlalu besar bersemayam dalam hati. Akibatnya jalan pintas melalui rentenir dan bank keliling yang berkeliaran di gang-gang permukiman warga selalu menjadi pilihan. Awalnya mungkin tidak berminat atau enggan. Tetapi ketika nafsu mengatakan pinjaman itu pasti bisa terbayar dengan diangsur, dan apa yang diinginkan jadi bisa dimiliki, maka dengan malu-malu memberanikan diri bertanya bagaimana prosesnya, caranya, dan teknisnya. Bagi yang hawa nafsunya sudah sangat besar, para rentenir itu bahkan dicari olehnya, didatangi langsung, dan setengah memaksa mengajukan pinjaman. Bukan hanya satu rentenir saja, melainkan beberapa rentenir sekaligus diminta pinjaman uangnya.

Siapa pun yang merasa hidupnya ada dalam keterbatasan harus kembali mengingat tuntunan hidup sabar dalam kemiskinan. Bahwa sabar itu bukan hanya ketika musibah datang, tetapi juga ketika hidup serba terbatas kemampuan finansialnya. Dalam kondisi serba terbatas itu setiap orang harus mampu menahan diri dari nafsu memperkaya diri melalui jalan-jalan yang haram. Bersabar juga dari meminta dan harapan tinggi ingin diberi. Jika nafsu ingin kaya melalui jalan yang haram selalu dipelihara, keinginan untuk meminta dan diberi orang lain juga selalu ditanamkan, maka hidupnya selamanya akan terjebak dalam kemiskinan yang tak berujung. Sudah miskin harta, miskin pula jiwanya. Sengsaralah ia di dunia dan akhirat tanpa pernah bertepi.

Ketika beberapa shahabat yang miskin meminta kepada Nabi saw, lalu Nabi saw pun ternyata sudah tidak mampu lagi memberi karena sudah habis diberikan kepada peminta sebelumnya, beliau memberikan nasihat kepada para shahabat yang miskin tersebut sebagai berikut:

وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ

Siapa yang menahan diri, pasti Allah menjadikannya mampu bertahan. Siapa yang merasa cukup, pasti Allah memberinya kecukupan. Dan siapa yang bersabar, pasti Allah akan memberinya kesabaran. Dan tidak ada pemberian yang lebih baik dan lebih besar daripada kesabaran (Shahih al-Bukhari kitab az-zakat bab al-isti’faf ‘anil-mas`alah no. 1469; Shahih Muslim kitab az-zakat bab fadllit-ta’affuf was-shabr no. 2471).

Imam al-Qurthubi menjelaskan hadits di atas sebagai berikut:

Maksud sabda beliau Siapa yang menahan diriyakni menahan diri dari meminta. Sabdanya “Allah menjadikannya mampu bertahan” yakni Allah akan membalas sikap menahan dirinya dengan menjaga wajahnya dan menghilangkan kesusahannya.

Maksud sabdanya: “Siapa yang merasa cukup” yakni dengan Allah tidak kepada yang selain-Nya. Sabdanya “memberinya kecukupan” yaitu sungguh Dia akan memberinya apa yang mencukupinya sehingga tidak perlu meminta dan menciptakan dalam hatinya kekayaan, sebab kaya itu adalah kaya hati.

Sabdanya “siapa yang bersabar” yakni mengobati dirinya dengan tidak meminta dan bersabar sampai mendapatkan rizki. Sabdanya Allah akan memberinya kesabaranyaitu sungguh Dia akan menjadikannya kuat dan mantap jiwanya sehingga terbiasa menanggung beban berat. Dalam kondisi seperti itu maka Allah akan bersama dengannya dan menjadikannya sukses dengan yang ia harap (Fathul-Bari kitab ar-riqaq bab as-shabr ‘an maharimil-‘Llah).

 

Siapapun orangnya, terlebih orang-orang yang terlalu banyak kebutuhannya, harus selalu ingat bahwa rizki itu hanya dari jalur halal. Jika jalur haram berani ditempuh meski secara kasat mata memperlancar usaha dan mendatangkan rizki, maka itu bukan rizki, melainkan laknat dan istidraj (anugerah Allah swt kepada orang zhalim untuk menipu mereka dan membiarkan mereka dalam kezhalimannya). Benar memang bahwa dengan meminjam dari jalur haram seseorang jadi tampak lancar usahanya dan bertambah kekayaannya. Tetapi itu semua bukan rizki dari Allah swt, melainkan laknat dari-Nya dan istidraj untuknya.

Maka pilihan orang yang takut kepada Allah swt hanya jalur yang halal. Apa yang dianugerahkan Allah swt dari jalur halal itulah rizki. Dan rizki Allah swt itu sudah ada garis taqdirnya. Jika taqdirnya kaya, maka seseorang pasti bisa kaya dengan jalur halal. Jika taqdirnya miskin, maka meski banyak jalan haram yang ia tempuh, tetap saja ia akan hidup miskin. Jadi pilihannya tetap hanya jalur halal, jangan pernah tergoda untuk mencoba jalur haram. Nabi saw sangat jelas sekali mengingatkan:

إِنَّهُ لَيْسَ شَيْءٌ يُقَرِّبُكُمْ إِلَى الْجَنَّةِ إِلاَّ قَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ وَ لَيْسَ شَيْءٌ يُقَرِّبُكُمْ إِلَى النَّارِ إِلاَّ قَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ، إِنَّ رُوْحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رُوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتُ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهِ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرَكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ

Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang dapat mendekatkan kalian ke surga kecuali aku telah memerintahkannya. Dan tidak ada sesuatu pun yang dapat mendekatkan kalian ke neraka kecuali aku telah melarangnya. Sungguh Ruh Qudus (Jibril) meniupkan ke dalam hatiku (memberi wahyu) bahwasanya seorang manusia tidak akan mati kecuali setelah disempurnakan rizkinya. Maka bertaqwalah kepada Allah, dan baguslah dalam mencarinya. Janganlah terlambatnya rizki mendorong kamu mencarinya dengan maksiat, sebab apa yang ada di sisi Allah tidak akan bisa diraih kecuali dengan ketaatan kepada-Nya (Hadits Ibn Mas’ud riwayat Ibn Marduwaih dan Ibn Abid-Dunya berstatus hasan li ghairihi [As-Silsilah as-Shahihah al-Albani no. 2866]. Al-Hafizh Ibn Hajar sependapat dengan penilaian shahih Imam al-Hakim atas hadits ini dalam Fathul-Bari bab kaifa kana bad`ul-wahyi).

Di samping itu, banyaknya rentenir yang berkeliaran di permukiman warga juga menunjukkan kelemahan amal shalih kalangan menengah-atas dalam hal ibadah harta. Al-Qur`an sudah menegaskan bahwa praktik riba hanya bisa dilawan dengan shadaqah (QS. al-Baqarah [2] : 276, Ali ‘Imran [3] : 130-134, ar-Rum [30] : 39). Artinya, jika rentenir merajalela di tengah-tengah masyarakat, berarti shadaqah dan zakat tidak diamalkan dengan benar oleh kalangan menengah-atasnya.

Shadaqah itu sendiri wujudnya tidak hanya berbentuk santunan tunai, melainkan juga bisa berbentuk pinjaman atau al-ma’un (sebagaimana diabadikan dalam salah satu surat al-Qur`an). Maka untuk mencegah kalangan bawah menjadi nasabah rentenir, orang-orang menengah-kaya mau tidak mau harus melawannya dengan shadaqah tunai atau shadaqah pinjaman. Jika masih enggan karena berasumsi pasti rugi meminjamkan kepada orang-orang miskin, itulah orang-orang yang yukadzdzibu bid-din; palsu agamanya karena tidak meyakini kebenaran ajaran agama.

Padahal silahkan cari mana celah kerugiannya? Memberikan pinjaman kepada faqir miskin adalah amal mulia yang pasti dibalas kebaikan di dunia dan akhirat. Kalau kemudian pinjaman itu akan sering macetnya dalam hal pelunasan atau bahkan tidak dilunasi sama sekali, itu berarti termasuk shadaqah tunai untuk mereka yang jelas-jelas membutuhkan.

وَإِن كَانَ ذُو عُسۡرَةٖ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيۡسَرَةٖۚ وَأَن تَصَدَّقُواْ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ 

Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui (QS. al-Baqarah [2] : 280).

Jangan berkaca mata kuda merasa lebih untung dan aman “meminjamkan uang” (menabung) kepada rentenir berdasi (bank) atau hanya kepada orang-orang kaya dalam bentuk investasi, sementara memberi pinjaman kepada orang-orang miskin dan di jalan Allah swt selalu merasa rugi karena tidak nyata untungnya. Itu sama saja dengan berasumsi bahwa shadaqah itu merugikan atau tidak ada untungnya, sementara bekerja sama dalam riba (menabung di bank) sangat menguntungkan dan minimalnya uang tersimpan aman karena dijamin oleh LPS (lembaga penjamin simpanan) Pemerintah. Orang ini lupa bahwa Allah-lah sebaik-baiknya penjamin (Ni’mal-Wakil), bukan bank dengan LPS-nya.

مَّن ذَا ٱلَّذِي يُقۡرِضُ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنٗا فَيُضَٰعِفَهُۥ لَهُۥٓ أَضۡعَافٗا كَثِيرَةٗۚ وَٱللَّهُ يَقۡبِضُ وَيَبۡصُۜطُ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ 

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menshadaqahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan (QS. al-Baqarah [2] : 245. Ayat semakna ada juga dalam QS. al-Hadid [57] : 11).

Harta yang diinvestasikan di jalan riba, meski tampaknya menguntungkan pada hakikatnya tidak ada keuntungannya sama sekali. Yang jelas-jelas menguntungkan itu adalah yang diinvestasikan dalam shadaqah. Terutama shadaqah kepada faqir miskin yang jelas-jelas lebih membutuhkannya daripada bankir. Baik dalam wujud shadaqah tunai atau shadaqah pinjaman.

وَمَآ ءَاتَيۡتُم مِّن رِّبٗا لِّيَرۡبُوَاْ فِيٓ أَمۡوَٰلِ ٱلنَّاسِ فَلَا يَرۡبُواْ عِندَ ٱللَّهِۖ وَمَآ ءَاتَيۡتُم مِّن زَكَوٰةٖ تُرِيدُونَ وَجۡهَ ٱللَّهِ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُضۡعِفُونَ 

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya) (QS. ar-Rum [30] : 39).

Seandainya ada perasaan uang yang dipinjamkan (baca: dishadaqahkan) kepada faqir miskin itu “hilang” karena tidak akan kembali, atau kalaupun dikembalikan sangat lama sehingga tidak bisa diharapkan untungnya, maka sesungguhnya itu tidak hilang dan rugi sama sekali, melainkan jadi investasi berharga untuk kehidupannya kelak, di dunia dan akhirat.

مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلَا يَقْبَلُ اللَّهُ إِلَّا الطَّيِّبَ وَإِنَّ اللَّهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ

Siapa yang bershadaqah sebesar satu biji kurma dari usaha yang baik, dan Allah tidak akan menerima kecuali yang baik, maka sungguh Allah akan menerimanya dengan tangan kanannya kemudian merawatnya untuk pemiliknya, sebagaimana salah seorang di antara kalian merawat anak kudanya, sampai banyak sepenuh gunung (Shahih al-Bukhari kitab az-zakat bab as-shadaqah min kasbin thayyib no. 1410).

Allah swt sendiri dalam al-Qur`an menantang siapapun yang kaya untuk berlomba-lomba dan bersaing dalam menginvestasikan shadaqah demi memerangi riba. Shadaqah dalam memerangi riba itu mendatangkan ampunan dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Sebuah keuntungan yang mustahil diperoleh dengan menabungkan uang di bank. Meski tentunya berinfaq dalam melawan riba itu akan terasa sulit, susah, banyak amarah yang harus dipendam akibat cicilan utang yang macet, hati harus sering-sering dilapangkan guna memaafkan orang-orang miskin yang seringkali tidak bertanggung jawab dengan utangnya, dan bahkan jadi harus sering memberi kebaikan dan bonus pelunasan utang. Kesiapan berlomba-lomba dalam shadaqah memerangi riba seperti ini hanya dimiliki oleh orang yang sudah mencapai derajat taqwa.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan (QS. Ali ‘Imran [3] : 130-134).

Ketaqwaan tidak hanya berwujud dalam dzikir yang intim dengan Allah swt atau shalat yang dinikmati sepuas hati, tetapi juga berwujud dalam kesiapan beribadah harta melalui zakat, infaq, shadaqah, dan al-ma’un untuk menolong kaum faqir miskin dari jurang utang kepada rentenir dan bank keliling.

Masjid dan majelis ta’lim seyogianya tidak hanya dijadikan tempat mengasuh jiwa kaum muslimin dengan ilmu dan iman, tetapi juga dijadikan “bank syari’ah” guna melawan rentenir dan bank keliling. Jika kesadaran pengurus dan jama’ah masjid atau majelis ta’lim masih saja tidak ada untuk perang melawan rentenir, maka sudah jangan pernah lagi mengaku taqwa, apalagi sangat percaya diri mengajarkan taqwa kepada masyarakat. Masyarakat sudah tidak butuh omongan belaka, masyarakat butuh bukti amal nyata. Sungguh besar murka Allah swt bagi orang yang hanya bisa berbicara tetapi tidak ada aksi nyata. Na’udzu bil-‘Llah min dzalik.