Home > Pendidikan > Masjid sebagai Pusat Pendidikan

Masjid sebagai Pusat Pendidikan

Sepanjang sejarahnya dari sejak zaman Nabi saw pendidikan masyarakat Islam selalu berbasis di masjid. Islam pernah menjadi peradaban yang maju ketika masjid-masjid berfungsi maksimal sebagai pusat pendidikan. Masjid menjadi pusat pendidikan juga karena masyarakat Islamnya aktif melibatkan diri dalam kegiatan pendidikan di masjid. Sepanjang masjid hanya difungsikan sebatas tempat shalat dan pengajian alakadarnya, berarti umat Islam sedang membiarkan kehancuran masjid dan Islam itu sendiri.

Terlampau banyak hadits yang meriwayatkan fungsi masjid pada zaman Nabi saw sebagai pusat pendidikan. Bahkan semua hadits yang menceritakan kegiatan pendidikan pada zaman Nabi saw bisa dipastikan itu diselenggarakan di masjid, karena memang pada zaman itu belum ada lembaga pendidikan khusus di luar masjid. Meski demikian, walaupun pada perjalanan sejarah berikutnya umat Islam banyak mendirikan lembaga pendidikan di luar masjid, fungsi masjid sebagai pusat pendidikan tidak kemudian hilang dan tidak boleh dihilangkan. Dengannya kemudian masyarakat Islam menjadi masyarakat yang maju dan berpendidikan, meski di masa-masa awal tidak ada lembaga pendidikan formal apalagi sampai perguruan tinggi. Maka sudah menjadi tugas bersama umat Islam hari ini untuk menjadikan dan melestarikan fungsi masjid sebagai pusat pendidikan seperti di masa-masa awalnya.

Hadits Nabi saw berikut memberikan gambaran fungsi masjid di masa Nabi saw sebagai pusat pendidikan. Bahkan kegiatan pendidikan itu sudah ada dari sejak pagi hari.

أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيقِ فَيَأْتِىَ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِى غَيْرِ إِثْمٍ وَلاَ قَطْعِ رَحِمٍ. فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ نُحِبُّ ذَلِكَ. قَالَ أَفَلاَ يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمَ أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الإِبِلِ

Rasulullah saw bertanya: “Siapakah di antara kalian yang mau pergi ke Buth-han atau al-‘Aqiq (pasar) setiap hari, kemudian pulang dengan membawa dua ekor unta yang bagus-bagus, tanpa harus melakukan dosa atau memutuskan silaturahmi?” Para shahabat pun menjawab: “Kami semuanya ingin mendapatkan itu wahai Rasulullah.” Beliau bersabda lagi: “Mengapa tidak kalian pergi di pagi hari ke masjid untuk belajar al-Qur`an atau membaca dua ayat dari kitab Allah awj, karena itu lebih baik dari dua ekor unta. Dan tiga ayat lebih baik dari tiga ekor unta. Dan empat ayat lebih baik dari empat ekor unta, dan demikian selanjutnya.” (Shahih Muslim kitab shalat al-musafirin bab fadlli qira`ah al-Qur`an fis-shalat wa ta’allumihi no. 1909).

Penyebutan materi pendidikan al-Qur`an sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas menunjukkan bahwa kegiatan pendidikan di masjid fokus pada wahyu. Materinya memang al-Qur`an, tetapi tentu tidak al-Qur`an saja, sebab al-Qur`an itu kemudian dijelaskan oleh Nabi saw yang kemudian hari ini berwujud hadits/sunnah. Jadi intinya kegiatan pendidikan di masjid fokus pada pendalaman al-Qur`an dan sunnah. Al-Qur`an yang dimaksud adalah al-Qur`an 30 juz, dan hadits yang dimaksud adalah hadits-hadits seputar materi-materi yang ada dalam al-Qur`an 30 juz tersebut, mencakup aqidah, ibadah, mu’amalah, munakahah, jihad/qital, peradilan, dan akhlaq.

Dalam pengertian seperti itulah ayat atau hadits yang menekankan keutamaan belajar dan mengajar al-Qur`an harus difahami, seperti dua dalil berikut ini:

كُونُواْ رَبَّٰنِيِّ‍ۧنَ بِمَا كُنتُمۡ تُعَلِّمُونَ ٱلۡكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمۡ تَدۡرُسُونَ 

Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajari dan menghafalnya (QS. Ali ‘Imran [3] : 79).

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur`an dan mengajarkannya (Shahih al-Bukhari kitab fadla`il al-Qur`an bab khairukum man ta’allamal-Qur`an wa ‘allamahu no. 5027).

Al-Hafizh Ibn Hajar menyatakan bahwa hadits di atas tidak boleh hanya difahami untuk ahli qira`ah (baca al-Qur`an) saja, sebab kandungan pelajaran al-Qur`an tidak sebatas menuntun untuk membacanya saja, melainkan juga mempelajari semua ilmu yang dikandungnya. Demikian juga tidak bisa dipaksakan untuk ahli fiqih saja yang tidak menguasai qira`ah, sebab tuntunan mempelajari al-Qur`an tentu berawal dari qira`ah-nya. Jadinya harus dipahami dua-duanya; harus mempelajari dan sampai mampu mengajarkan qira`ah dan fiqh yang dikandung al-Qur`an (Fathul-Bari bab khairukum man ta’allamal-Qur`an wa ‘allamahu).

Maka dari itu kegiatan pendidikan di masjid pada zaman Nabi saw bukan sebatas majelis ta’lim (kegiatan pengajaran ilmu-ilmu secara umum) semata, melainkan juga ada majelis khusus tadarus untuk setoran bacaan dan hafalan al-Qur`an kepada orang yang lebih ahli ilmunya, sebagaimana disabdakan Nabi saw sendiri:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ اِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهِ فِيْمَنْ عِنْدَهُ

Dan tidaklah suatu kaum berkumpul dalam rumah-rumah Allah (masjid) untuk membaca dan bertadarus al-Qur’an, kecuali ketenangan pasti akan turun kepada mereka, rahmat Allah melingkupi mereka, malaikat-malaikat mengelilingi mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan makhluk yang ada di dekat-Nya/para malaikat (Shahih Muslim kitab adz-dzikr wad-du’a wat-taubah bab fadllil-ijtima’ ‘ala tilawatil-qur`an no. 7028; Sunan Abi Dawud kitab al-witr bab fi tsawab qira`atil-Qur`an no. 1457; Sunan at-Tirmidzi abwab al-qira`at no. 2945).

Terkait hadits di atas Imam an-Nawawi menjelaskan:

وَفِي هَذَا دَلِيل لِفَضْلِ الِاجْتِمَاع عَلَى تِلَاوَة الْقُرْآن فِي الْمَسْجِد، وَهُوَ مَذْهَبنَا وَمَذْهَب الْجُمْهُور

Ini menjadi dalil yang jelas atas keutamaan berjama’ah dalam membaca al-Qur`an di masjid. Ini adalah madzhab kami (Syafi’i) dan madzhab jumhur/mayoritas (Syarah an-Nawawi Shahih Muslim bab fadllil-ijtima’ ‘ala tilawatil-qur`an).

Kegiatan pendidikan di masjid juga diberlakukan jadwal khusus, sebagaimana disampaikan Ibn Mas’ud ra dalam riwayat berikut ini:

عَنْ أَبِيْ وَائِلٍ قَالَ كَانَ عَبْدُ اللهِ يُذَكِّرُ النَّاسَ فِي كُلِّ خَمِيْسٍ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ لَوَدِدْتُ أَنَّكَ ذَكَّرْتَنَا كُلَّ يَوْمٍ قَالَ أَمَّا إِنَّهُ يَمْنَعُنِيْ مِنْ ذَلِكَ أَنِّي أَكْرَهُ أَنْ أُمِلَّكُمْ وَإِنِّي أَتَخَوَّلُكُمْ بِالْمَوْعِظَةِ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَتَخَوَّلُنَا بِهَا مَخَافَةَ السَّآمَّةِ عَلَيْنَا

Dari Abu Wa`il, ia berkata: ‘Abdullah (ibn Mas’ud) mengajar orang-orang setiap hari Kamis. Lalu ada seseorang yang usul: “Wahai Abu ‘Abdirrahman, sungguh aku ingin seandainya anda mengajar kami setiap hari.” Ia menjawab: “Sungguh tidak ada yang menghalangiku dari hal tersebut selain aku takut membuat kalian jenuh. Saya menentukan jadwal dalam mengajar sebagaimana Nabi saw dahulu menentukan jadwal kepada kami karena takut jenuh menimpa kami.” (Shahih al-Bukhari kitab al-‘ilm bab man ja’ala li ahlil-‘ilm ayyam ma’lumah no. 70).

Hadits ini menunjukkan bahwa kegiatan pendidikan di masjid tidak harus setiap hari sebagaimana disebutkan hadits di atas agar tidak ada kejenuhan dalam belajar.

Khusus untuk kaum ibu-ibu, dari sejak zaman Nabi saw juga sudah ada pemberlakuan khusus jadwal kegiatan pendidikan ibu-ibu di masjid. Ini juga tidak boleh diabaikan untuk diselenggarakan di masjid-masjid, sebagaimana diinformasikan dalam riwayat berikut ini:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَتْ النِّسَاءُ لِلنَّبِيِّ ﷺ غَلَبَنَا عَلَيْكَ الرِّجَالُ فَاجْعَلْ لَنَا يَوْمًا مِنْ نَفْسِكَ فَوَعَدَهُنَّ يَوْمًا لَقِيَهُنَّ فِيهِ فَوَعَظَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ فَكَانَ فِيمَا قَالَ لَهُنَّ مَا مِنْكُنَّ امْرَأَةٌ تُقَدِّمُ ثَلَاثَةً مِنْ وَلَدِهَا إِلَّا كَانَ لَهَا حِجَابًا مِنْ النَّارِ فَقَالَتْ امْرَأَةٌ وَاثْنَتَيْنِ فَقَالَ وَاثْنَتَيْنِ

Dari Abu Sa’id al-Khudri: Kaum ibu-ibu mengadu kepada Nabi saw: “Kaum bapak-bapak telah menghabiskan waktu anda dari kami. Tentukanlah satu hari khusus dari agenda anda untuk kami.” Maka Nabi saw menjanjikan satu hari kepada ibu-ibu untuk mengajari mereka dan menjelaskan perintah kepada mereka. Di antara yang beliau ajarkan: “Tidak ada seorang perempuan pun dari kalian yang ditinggal mati oleh tiga orang anaknya kecuali akan menjadi hijabnya dari neraka.” Seorang ibu bertanya: “Kalau dua orang?” Beliau menjawab: “Sama dua orang juga.” (Shahih al-Bukhari kitab al-‘ilm bab hal yuj’alu lin-nisa yaum ‘ala hiddah fil-‘ilm no. 101).

Di samping ada kegiatan pendidikan khusus untuk ibu-ibu, masjid juga harus menyediakan program pendidikan khusus untuk pembelajar-pembelajar yang datang dari jauh. Pada zaman Nabi saw para pembelajar yang datang dari jauh itu ada yang hanya bisa belajar dalam beberapa hari saja, ada juga yang bisa sampai menetap dahulu dalam waktu yang lama. Masing-masing dari mereka ditampung di shuffah (pelataran masjid yang beratap) dan diberi pembelajaran sesuai porsi waktu kesanggupan mereka. Di sini semakin terlihat lagi harusnya masjid berfungsi sebagai pusat pendidikan dimana para pembelajar yang datang dari jauh pun berdatatangan ke masjid untuk mengikuti kegiatan pendidikan. Peran masjid yang berkolaborasi dengan para ahli ilmu pun menjadi sebuah keniscayaan. Malik ibn al-Huwairits ra misalnya menceritakan:

أَتَيْنَا النَّبِيَّ ﷺ وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ لَيْلَةً وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ رَفِيقًا فَلَمَّا ظَنَّ أَنَّا قَدِ اشْتَهَيْنَا أَهْلَنَا أَوْ قَدْ اشْتَقْنَا سَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا بَعْدَنَا فَأَخْبَرْنَاهُ قَالَ ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَأَقِيمُوا فِيهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ وَذَكَرَ أَشْيَاءَ أَحْفَظُهَا أَوْ لَا أَحْفَظُهَا وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

Malik bin Al Huwairits berkata, kami mendatangi Nabi saw yang ketika itu kami masih muda sejajar umurnya, kemudian kami bermukim di sisi beliau selama dua puluh malam. Rasulullah saw adalah seorang pribadi yang lembut. Maka ketika beliau memperkirakan bahwa kami sudah rindu terhadap isteri-isteri kami, beliau bersabda: “Kembalilah kalian untuk menemui isteri-isteri kalian, berdiamlah bersama mereka, ajari dan bimbing mereka,” dan beliau menyebut beberapa perkara yang sebagian kami ingat dan sebagiannya tidak, “dan shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat. Jika shalat telah tiba, hendaklah salah seorang di antara kalian melakukan adzan dan yang paling dewasa dari kalian menjadi imam.” (Shahih al-Bukhari kitab akhbaril-ahad bab ma ja`a fi ijazah khabaril-wahid as-shaduq no. 7246).

Untuk pembelajar yang menetap cukup lama di antaranya adalah Abu Hurairah ra. Ia menceritakan:

إِنَّ النَّاسَ يَقُولُونَ أَكْثَرَ أَبُو هُرَيْرَةَ وَلَوْلَا آيَتَانِ فِي كِتَابِ اللَّهِ مَا حَدَّثْتُ حَدِيثًا ثُمَّ يَتْلُو{إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنْ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى إِلَى قَوْلِهِ الرَّحِيمُ} إِنَّ إِخْوَانَنَا مِنْ الْمُهَاجِرِينَ كَانَ يَشْغَلُهُمْ الصَّفْقُ بِالْأَسْوَاقِ وَإِنَّ إِخْوَانَنَا مِنْ الْأَنْصَارِ كَانَ يَشْغَلُهُمْ الْعَمَلُ فِي أَمْوَالِهِمْ وَإِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ كَانَ يَلْزَمُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ بِشِبَعِ بَطْنِهِ وَيَحْضُرُ مَا لَا يَحْضُرُونَ وَيَحْفَظُ مَا لَا يَحْفَظُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mengatakan, ‘Abu Hurairah adalah yang paling banyak menghafal hadits. Kalau bukan karena dua ayat dalam Kitabullah aku tidak akan menyampaikannya.” Lalu dia membaca ayat: ‘(Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa penjelasan dan petunjuk) ‘ ……hingga akhir ayat.. ‘(Allah Maha Penyayang [QS. Al Baqarah: 159-160])’. Sesungguhnya saudara-saudara kita dari kalangan Muhajirin, mereka disibukkan dengan perdagangan di pasar-pasar, dan saudara-saudara kita dari kalangan Anshar, mereka disibukkan dengan pekerjaan mereka dalam mengurus harta mereka. sementara Abu Hurairah selalu menyertai Rasulullah saw dalam keadaan lapar, ia selalu hadir saat orang-orang tidak bisa hadir, dan ia dapat menghafal saat orang-orang tidak bisa menghafal.” (Shahih al-Bukhari kitab al-‘ilm bab hifzhil-‘ilm no. 118).

Penuturan Abu Hurairah di atas tentang Muhajirin dan Anshar, tidak berarti bahwa mayoritas mereka abai dari kegiatan pendidikan. Abu Hurairah sebatas menyatakan bahwa ia fokusnya hanya pada pendidikan, sementara yang lain berbagi dengan kesibukan berdagang, bertani, dan berkebun. Meski demikian para shahabat Muhajirin Anshar tetap mementingkan pendidikan di masjid tersebut. Bahkan meski jauh dan sangat sibuk mereka tetap menyisihkan waktu untuk datang ke masjid mengikuti kegiatan pendidikan. ‘Umar ibn al-Khaththab ra adalah salah satunya:

كُنْتُ أَنَا وَجَارٌ لِي مِنْ الْأَنْصَارِ فِي بَنِي أُمَيَّةَ بْنِ زَيْدٍ وَهِيَ مِنْ عَوَالِي الْمَدِينَةِ وَكُنَّا نَتَنَاوَبُ النُّزُولَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يَنْزِلُ يَوْمًا وَأَنْزِلُ يَوْمًا فَإِذَا نَزَلْتُ جِئْتُهُ بِخَبَرِ ذَلِكَ الْيَوْمِ مِنْ الْوَحْيِ وَغَيْرِهِ وَإِذَا نَزَلَ فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ

Aku dan tetanggaku dari Anshar tinggal di desa Bani Umayyah bin Zaid di pinggiran kota Madinah. Kami saling bergantian datang kepada Rasul saw. Hari ini ia yang datang, dan di hari lainnya aku yang datang. Jika giliranku yang datang kepada Nabi saw, aku akan menemui langsung tetanggaku pada hari itu juga untuk menyampaikan wahyu atau ilmu lainnya. Jika giliran ia yang datang kepada Nabi saw, ia pun akan berbuat yang sama kepadaku (Shahih al-Bukhari kitab al-‘ilm bab at-tanawub fil-‘ilm no. 89).

Wal-‘Llahul-Muwaffiq