Kontemporer

Masih Meragukan Vaksin Covid-19?

Masih Meragukan Vaksin Covid-19

Ustadz maaf bertanya? Bagaimana hukum vaksin menurut Ustadz? Soalnya saya sampai sekarang masih ragu dan belum divaksin. 0896-7872-xxxx

Islam mengajarkan umatnya untuk memperhitungkan otoritas keilmuan, yakni mereka yang layak dirujuk dalam hal keilmuan dan kebenaran. Mereka yang memiliki otoritas keilmuan itu adalah para ulama dan ilmuwan mayoritas yang menyepakati satu hal. Ayat-ayat al-Qur`an dan hadits banyak yang mengingatkan keharusan otoritas keilmuan ini dihargai dan dijadikan rujukan, di antaranya:

قُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِي ٱلَّذِينَ يَعۡلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS. Az-Zumar [39] : 9).

حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Sehingga ketika tidak tersisa seorang ulama pun, orang-orang mengangkat tokoh-tokoh yang bodoh, mereka ditanya lalu memberi fatwa tanpa berdasar ilmu, akibatnya mereka sesat dan menyesatkan (Shahih al-Bukhari kitab al-‘ilm bab kaifa yuqbadlul-‘ilm no. 100).

إِنَّ اللَّهَ لَا يُجْمِعُ أُمَّتِي أَوْ قَالَ: أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ﷺ عَلَى ضَلَالَةٍ، وَيَدُ اللَّهِ مَعَ الجَمَاعَةِ

Sesungguhnya Allah tidak akan menyatukan umatku atau umat Muhammad saw dalam kesesatan, dan tangan (kekuasaan/kekuatan/kebenaran) Allah itu ada pada mayoritas yang bersepakat (Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a fi luzumil-jama’ah no. 2167).

Terkait maksud al-jama’ah di atas, Imam at-Tirmidzi mengutip penjelasan dari beberapa ulama:

وَتَفْسِيرُ الجَمَاعَةِ عِنْدَ أَهْلِ العِلْمِ هُمْ أَهْلُ الفِقْهِ وَالعِلْمِ وَالحَدِيثِ

Tafsir al-jama’ah menurut para ulama adalah ahli fiqih, ahli ilmu, dan ahli hadits.
Ayat pertama yang dikutip di atas menuntut umat untuk membedakan mana orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu. Atau dengan kata lain mana orang yang pakar dan mana yang tidak pakar dalam satu keilmuan. Hadits kedua yang dikutip di atas memberitahukan bahwa tidak setiap orang yang berpendapat otomatis bisa didengar sebagai orang berilmu, jika nyatanya menyalahi pendapat orang-orang berilmu khususnya ulama berarti mereka tokoh-tokoh yang bodoh. Hadits yang terakhir meniscayakan satu kepastian bahwa ketika para ulama dan ilmuwan bersepakat maka mustahil ada dalam kesesatan, pasti ada dalam kebenaran. Jadi yang dipertimbangkan tidak cukup hanya karena si A juga berilmu. Jika nyatanya si A berilmu tetapi menyalahi kesepakatan mayoritas orang-orang berilmu, berarti si A tidak kuat dan lebih cenderung pada kesesatan.

Kajian tentang vaksin bukan kajian kemarin sore, melainkan kajian puluhan bahkan ratusan tahun dari para ilmuwan dan para ulama seluruh dunia. Tidak ada satu lembaga otoritas ulama pun yang menolak vaksin dan menilainya sebagai membahayakan. Demikian halnya tidak ada satu pun Fakultas Kedokteran dari Perguruan Tinggi mana pun yang menyatakan vaksin akan menjadikan masyarakat lebih rentan sakit. Jika memang faktanya vaksin membahayakan dan tidak boleh dikonsumsi oleh masyarakat maka tentu para ilmuwan dan ulama akan bersuara menyatakan penolakan. Mereka mustahil bersepakat untuk sama-sama membahayakan masyarakat. Model kebenaran seperti ini dalam ilmu hadits disebut mutawatir, yakni kemustahilan para ulama dan ilmuwan di seluruh dunia bersepakat untuk menjerumuskan masyarakat dalam bahaya. Sesuatu kebenaran yang mutawatir pasti tidak salah.

Jika anda masih meragukan vaksin, maka kami tidak punya wewenang untuk memaksa anda untuk menerima vaksin. Hanya Pemerintah yang berwenang memaksa kepada rakyatnya. Wal-‘Llahu a’lam