Home > Akhlaq > Kunci Surga Bilal ibn Rabah

Kunci Surga Bilal ibn Rabah

Kunci Surga Bilal ibn Rabah

Ia hanya seorang maula (mantan hamba sahaya) berkulit hitam dari Ethiopia yang dimerdekakan Abu Bakar—radliyal-‘Llahu ‘anhuma. Tetapi ketika dakwah Islam sampai kepadanya, tanpa perlu menunda, ia langsung mengucapkan syahadat. Meski harus mengalami siksaan dari orang-orang Quraisy, ia teguh mengucapkan “Ahad, Ahad”. Rasul—shallal-‘Llahu ‘alaihi wa sallam—sempat dibuat takjub olehnya ketika mengetahui bahwa suara langkah kakinya terdengar di surga. Beliau pun konfirmasi kepadanya, mengapa ia sampai mendapatkan “kunci surga” tanpa sepengetahuannya?

Bilal ibn Rabah adalah shahabat yang termasuk as-sabiqunal-awwalun (generasi paling dahulu dan awal masuk Islam) dari kalangan hamba sahaya dan dari bangsa Afrika. Sebagaimana diceritakan ‘Abdullah ibn Mas’ud, pemeluk Islam pertama sesudah Nabi saw, keluarganya (Khadijah, ‘Ali), dan Abu Bakar, adalah ‘Ammar ibn Yasir dan ibunya, Sumayyah, Bilal, Shuhaib dari bangsa Romawi, dan al-Miqdad. Jika kepada Nabi saw dan Abu Bakar, orang kafir Quraisy merasa segan untuk mengganggu mereka, maka kepada lima orang terakhir di atas, para penjahat kafir Quraisy berani menyiksa mereka.

Suaranya yang merdu menjadikan Bilal diangkat sebagai muadzdzin pertama oleh Rasulullah saw. Menurut beberapa riwayat, ketika Rasulullah saw wafat, Bilal beradzan untuk yang terakhir kalinya. Sesudah itu ia tidak pernah lagi adzan karena tidak kuat menahan sedih teringat kepada Nabi saw, sampai kewafatannya di Syam pada tahun 20 H, dalam usia 60 tahun (adz-Dzahabi, Siyar A’lamin-Nubala`).

Riwayat tentang Nabi saw memastikan Bilal akan menjadi penghuni surga disampaikan oleh Buraidah sebagai berikut:

عن بُرَيْدَةَ قَالَ: أَصْبَحَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فَدَعَا بِلاَلاً فَقَالَ: يَا بِلَالُ بِمَ سَبَقْتَنِي إِلَى الجَنَّةِ؟ مَا دَخَلْتُ الجَنَّةَ قَطُّ إِلَّا سَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِي، دَخَلْتُ البَارِحَةَ الجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِي، فَأَتَيْتُ عَلَى قَصْرٍ مُرَبَّعٍ مُشْرِفٍ مِنْ ذَهَبٍ، فَقُلْتُ: لِمَنْ هَذَا القَصْرُ؟ فَقَالُوا: لِرَجُلٍ مِنَ العَرَبِ، فَقُلْتُ: أَنَا عَرَبِيٌّ، لِمَنْ هَذَا القَصْرُ؟ قَالُوا لِرَجُلٍ مِنْ قُرَيْشٍ، فَقُلْتُ: أَنَا قُرَشِيٌّ، لِمَنْ هَذَا القَصْرُ؟ قَالُوا: لِرَجُلٍ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ﷺ فَقُلْتُ: أَنَا مُحَمَّدٌ لِمَنْ هَذَا القَصْرُ؟ قَالُوا: لِعُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ. فَقَالَ بِلَالٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَذَّنْتُ قَطُّ إِلَّا صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَمَا أَصَابَنِي حَدَثٌ قَطُّ إِلَّا تَوَضَّأْتُ عِنْدَهَا وَرَأَيْتُ أَنَّ لِلَّهِ عَلَيَّ رَكْعَتَيْنِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: بِهِمَا

Buraidah berkata: Pada suatu pagi Rasulullah saw memanggil Bilal dan bertanya: “Hai Bilal, mengapa kamu mendahuluiku ke surga? Tidaklah aku masuk surga kecuali aku dengar suara langkah kakimu (yang perlahan karena hormat) di depanku. Aku tadi malam masuk surga dan aku dengar suara langkah kakimu. Aku juga mendatangi sebuah istana besar yang tinggi terbuat dari emas. Aku bertanya: “Istana milik siapa ini?” Mereka menjawab: “Milik seorang Arab.” Aku berkata: “Aku juga seorang Arab. Istana milik siapa ini?” Mereka menjawab: “Milik seorang Quraisy.” Aku berkata: “Aku juga seorang Quraisy. Istana milik siapa ini?” Mereka menjawab: “Milik seseorang dari umat Muhammad saw.” Aku berkata: “Aku adalah Muhammad. Istana milik siapa ini?”  Mereka menjawab: “Milik ‘Umar ibnul-Khaththab.” Bilal menjawab: “Wahai Rasulullah, tidaklah aku adzan sekalipun kecuali aku shalat dua raka’at (sesudah adzan), dan tidaklah kena hadats padaku sekalipun kecuali aku langsung berwudlu dan aku menilai bahwa Allah punya hak dua raka’at yang harus aku tunaikan.” Rasulullah saw menjawab: “Berarti karena dua amal tersebut.” (Sunan at-Tirmidzi abwab al-manaqib bab manaqib ‘Umar ibn al-Khaththab no. 3689).

Sesudah menuliskan hadits ini, Imam at-Tirmidzi menjelaskan:

وَمَعْنَى هَذَا الحَدِيثِ: «أَنِّي دَخَلْتُ البَارِحَةَ الجَنَّةَ» يَعْنِي: رَأَيْتُ فِي المَنَامِ كَأَنِّي دَخَلْتُ الجَنَّةَ، هَكَذَا رُوِيَ فِي بَعْضِ الحَدِيثِ وَيُرْوَى عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ قَالَ: رُؤْيَا الأَنْبِيَاءِ وَحْيٌ

Makna hadits ini: “Aku tadi malam masuk surga” yakni aku bermimpi dalam tidur seolah-olah aku masuk surga. Demikian diriwayatkan dalam sebagian sanad hadits ini (di antaranya  hadits Abu Hurairah yang jelas menyebutkan: Baina ana na`im; ketika saya tidur… [Fathul-Bari]). Sementara itu diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas, bahwasanya ia berkata: “Mimpi para Nabi itu wahyu.”

Dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, redaksi hadits tentang kunci surga Bilal tersebut adalah sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ لِبِلَالٍ عِنْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ يَا بِلَالُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Nabi saw bertanya kepada Bilal selepas shalat shubuh: “Wahai Bilal, beritahukan kepadaku amal yang paling diharapkan masuk surga yang sering kamu amalkan dalam Islam, sebab sungguh aku mendengar suara alas kakimu di hadapanku di surga.” Bilal menjawab: “Aku tidak pernah mengamalkan amal yang paling diharapkan masuk surga olehku selain sungguh aku tidak pernah bersuci sekali pun pada waktu malam atau siang melainkan aku shalat dengan bersuci tersebut selama ditaqdirkan untukku (aku mampu) untuk shalat.” (Shahih al-Bukhari kitab at-tahajjud bab fadllit-thuhur bil-lail wan-nahar no. 1149; Shahih Muslim kitab fadla`ilis-shahabat bab min fadla`il Bilal no. 6478).

Hadits Abu Hurairah ini tentu tidak bertentangan dengan hadits Buraidah riwayat at-Tirmidzi di atas. Sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul-Bari, keterangan yang ada dalam hadits Buraidah menjadi keterangan tambahan atas hadits Abu Hurairah di atas sebagaimana akan diuraikan berikut ini.

Pernyataan Nabi saw bahwa Bilal mendahuluinya di surga tidak berarti ia mendahului beliau masuk surga. Sebagaimana dijelaskan al-Hafizh Ibn Hajar, itu sesuai dengan kebiasaannya di dunia yang selalu menjadi pengawal Nabi saw dan berjalan di hadapan beliau. Pernyataan Nabi saw bahwa setiap kali masuk surga selalu mendapati Bilal mendahuluinya, menurut al-Hafizh, sama dengan kebiasaannya di dunia yang selalu mengawal beliau dan mendahuluinya. Ini juga sekaligus penegasan kepastian Bilal pasti masuk surga, karena selalu hadir di dekat Nabi saw di surga (Fathul-Bari bab fadllit-thuhur bil-lail wan-nahar).

Pernyataan Bilal “tidaklah aku adzan sekalipun kecuali aku shalat dua raka’at”, Imam al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul-Ahwadzi syarah Sunan at-Tirmidzi menjelaskan:

وَالْأَظْهَرُ مَا أَذَّنْت إِلَّا صَلَّيْت قَبْلَ الْإِقَامَةِ رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ قَابِلٌ لِاسْتِثْنَاءِ الْمَغْرِبِ إِذْ مَا مِنْ عَامٍ إِلَّا وَخُصَّ قَالَهُ الْقَارِي. قُلْت: قَوْلُ الْقَارِي هُوَ قَابِلٌ لِاسْتِثْنَاءِ الْمَغْرِبِ لَيْسَ بِصَحِيحٍ فَإِنَّهُ قَدْ وَرَدَ فِي مَشْرُوعِيَّةِ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ إِقَامَةِ الْمَغْرِبِ أَحَادِيثُ صَحِيحَةٌ صَرِيحَةٌ

Jelasnya, aku tidak pernah adzan melainkan aku shalat sebelum iqamah dua raka’at. Tetapi ini dikecualikan shalat maghrib karena tidak ada satu pun dalil umum kecuali harus dikecualikan (jika ada pengecualian), demikian dikemukakan al-Qari. Menurutku (al-Mubarakfuri): Pendapat al-Qari bahwa ini dikecualikan untuk maghrib tidak benar, sebab sungguh ada banyak hadits shahih dan sharih tentang disyari’atkannya dua raka’at sebelum iqamah maghrib (Tuhfatul-Ahwadzi bab fi manaqib ‘Umar ibn al-Khaththab).

Terkait shalat qabla maghrib yang menurut al-Qari di atas tidak boleh dilakukan dan kemudian dibantah oleh Imam al-Mubarakfuri, memang diikhtilafkan di kalangan para ulama. Imam an-Nawawi ketika menjelaskan ikhtilaf tersebut dalam kitab Syarah Shahih Muslim memberikan catatan:

وَالْمُخْتَار اِسْتِحْبَابهَا لِهَذِهِ الْأَحَادِيث الصَّحِيحَة الصَّرِيحَة، وَفِي صَحِيح الْبُخَارِيّ عَنْ رَسُول اللَّه ﷺ: صَلُّوا قَبْل الْمَغْرِب، صَلُّوا قَبْل الْمَغْرِب، صَلُّوا قَبْل الْمَغْرِب، قَالَ فِي الثَّالِثَة: لِمَنْ شَاءَ) وَأَمَّا قَوْلهمْ : يُؤَدِّي إِلَى تَأْخِير الْمَغْرِب فَهَذَا خَيَال مُنَابِذ لِلسُّنَّةِ فَلَا يُلْتَفَت إِلَيْهِ، وَمَعَ هَذَا فَهُوَ زَمَن يَسِير لَا تَتَأَخَّر بِهِ الصَّلَاة عَنْ أَوَّل وَقْتهَا

Yang paling tepat dianjurkan shalat qabla maghrib berdasarkan hadits-hadits shahih dan sharih ini. Dalam Shahih al-Bukhari dari Rasulullah saw: “Shalatlah kalian qabla maghrib, shalatlah kalian qabla maghrib, shalatlah kalian qabla maghrib, bagi yang mau.” Adapun pendapat bahwa shalat qabla maghrib akan menyebabkan mengakhirkan maghrib, maka ini adalah khayalan yang membuang sunnah, tidak boleh dilirik. Padahal nyatanya itu hanya sebentar saja sehingga tidak mungkin menyebabkan shalat diakhirkan dari awal waktunya (Syarah Shahih Muslim bab istihbab rak’atain qabla shalatil-maghrib).

Al-Hafizh Ibn Hajar yang sepakat dengan pendapat Imam an-Nawawi di atas kemudian menyatakan:

وَمَجْمُوعُ الْأَدِلَّةِ يُرْشِدُ إِلَى اسْتِحْبَابِ تَخْفِيفِهِمَا كَمَا فِي رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ قِيلَ وَالْحِكْمَةُ فِي النَّدْبِ إِلَيْهِمَا رَجَاءُ إِجَابَةِ الدُّعَاءِ لِأَنَّ الدُّعَاءَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ لَا يُرَدُّ

Kesemua dalil-dalil yang ada menunjukkan dianjurkan mempercepat dua raka’at qabla maghrib sebagaimana dua raka’at qabla shubuh. Ada yang menjelaskan bahwa hikmah disunnahkan kedua raka’at tersebut adalah karena harapan diijabahnya do’a, sebab do’a antara adzan dan iqamah itu tidak akan ditolak (Fathul-Bari bab kam bainal-adzan wal-iqamah wa man yantazhirul-iqamah).

Sementara terkait kebiasaan Bilal mendawamkan suci dengan berwudlu di setiap kali hadats, dan setelahnya shalat sunat syukrul-wudlu, al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan dalam Fathul-Bari:

فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ كَانَ يُعْقِب الْحَدَث بِالْوُضُوءِ وَالْوُضُوء بِالصَّلَاةِ فِي أَيّ وَقْت كَانَ

Itu menunjukkan bahwa ia di setiap hadats selalu langsung berwudlu, dan sesudah berwudlu langsung shalat, pada waktu kapan pun (Fathul-Bari bab fadllit-thuhur bil-lail wan-nahar).

وَفِي الْحَدِيث اِسْتِحْبَاب إِدَامَة الطَّهَارَة وَمُنَاسَبَة الْمُجَازَاة عَلَى ذَلِكَ بِدُخُولِ الْجَنَّة لِأَنَّ مَنْ لَازِم الدَّوَام عَلَى الطَّهَارَة أَنْ يَبِيت الْمَرْء طَاهِرًا وَمَنْ بَاتَ طَاهِرًا عَرَجَتْ رُوحه فَسَجَدَتْ تَحْت الْعَرْش كَمَا رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي الشُّعَب مِنْ حَدِيث عَبْد اللَّه بْن عَمْرو بْن الْعَاصِ، وَالْعَرْش سَقْف الْجَنَّة كَمَا سَيَأْتِي فِي هَذَا الْكِتَاب

Dalam hadits ini terkandung anjuran mendawamkan thaharah. Keterkaitannya dengan balasan masuk surga karena orang yang senantiasa ada dalam kesucian berarti akan bermalam dalam keadaan suci. Sementara itu orang yang bermalam dalam keadaan suci, ruhnya akan naik dan sujud di bawah ‘Arsy, sebagaimana diriwayatkan al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul-Iman dari hadits ‘Abdullah ibn ‘Amr ibn al-‘Ash. ‘Arsy itu sendiri adalah atap surga sebagaimana akan dibahas dalam kitab ini (Fathul-Bari bab fadllit-thuhur bil-lail wan-nahar).

Jawaban Nabi saw di akhir pernyataan Bilal: “Bi hima; berkat kedua amal tersebut” itu berarti sebagaimana dijelaskan Imam al-Mubarakfuri sebagai berikut:

الظَّاهِرُ أَنَّ ضَمِيرَ التَّثْنِيَةِ رَاجِعٌ إِلَى الْقَرِيبَيْنِ الْمَذْكُورَيْنِ وَهُمَا دَوَامُ الطَّهَارَةِ وَتَمَامُهَا بِأَدَاءِ شُكْرِ الْوُضُوءِ وَلَا يَبْعُدُ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الصَّلَاةِ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ وَالصَّلَاةِ بَعْدَ كُلِّ طَهَارَةٍ أَوْ إِلَى الصَّلَاةِ بَيْنَ الْأَذَانَيْنِ وَمَجْمُوعُ دَوَامِ الْوُضُوءِ وَشُكْرِهِ اِنْتَهَى

Zhahirnya dlamir “keduanya” kembali pada yang dekat, yakni dawam thaharah dan menyempurnakannya dengan shalat syukrul-wudlu. Tetapi tidak salah juga jika yang dimaksud adalah shalat di antara dua adzan dan shalat setiap kali selesai bersuci. Atau shalat di antara dua adzan dan paket mendawamkan wudlu beserta shalat syukurnya. Demikianlah (Tuhfatul-Ahwadzi bab fi manaqib ‘Umar ibn al-Khaththab).

Inilah dia kunci surga Bilal ibn Rabah. Bagi siapapun yang ingin memilikinya tentu harus meneladani Bilal yang merutinkan kedua amal ini; shalat sunat di setiap kali selesai adzan (sebelum iqamah), dan mendawamkan suci dengan berwudlu di setiap kali hadats lalu menyempurnakannya dengan shalat syukrul-wudlu. Semoga Allah swt menjadikan kita selalu mampu merutinkan kedua amal mulia ini.

Wal-‘Llahu a’lam.