Tauhid

Kunci Pertolongan Allah ﷺ

Kunci Pertolongan Allah ﷺ

Tidak ada seorang pun yang tidak butuh pertolongan Allah swt. Orang kaya ataupun orang miskin, pejabat ataupun rakyat, ulama ataupun masyarakat, semuanya butuh pertolongan Allah swt, karena semua orang akan pernah merasakan kesusahan dan kesedihan. Akan tetapi tidak mustahil pertolongan yang diharapkan tidak kunjung datang. Jika itu terjadi berarti ada kunci-kunci pertolongan Allah swt yang tidak pernah dimiliki, sebab ketika kuncinya dimiliki pertolongan Allah swt akan mudah terbuka dan datang menghampiri.

Kepada shahabat Ibn ‘Abbas ra, Nabi saw mengajarkan kunci-kunci pertolongan Allah swt melalui sabdanya:

اِحْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ اِحْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ تَعَرَّفْ إِلَيْهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ قَدْ جَفَّ الْقَلَمُ بِمَا هُوَ كَائِنٌ فَلَوْ أَنَّ الْخَلْقَ كُلَّهُمْ جَمِيعًا أَرَادُوا أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَكْتُبْهُ اللَّهُ عَلَيْكَ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِ وَإِنْ أَرَادُوا أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَكْتُبْهُ اللَّهُ عَلَيْكَ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِ وَاعْلَمْ أَنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيرًا وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu. Ingatlah Dia di waktu lapang niscaya Dia akan ingat kepadamu di waktu sempit. Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan maka mohonlah kepada Allah. Telah kering pena dengan apa yang telah terjadi. Seandainya seluruh makhluk hendak memberi manfaat kepadamu dengan sesuatu yang Allah tidak menetapkan padamu, niscaya mereka tidak akan mampu. Dan seandainya mereka hendak mencelakakan dirimu dengan sesuatu yang Allah tidak menetapkan padamu, niscaya mereka tidak akan mampu. Dan ketahuilah bahwa di dalam kesabaran terhadap hal yang engkau benci terdapat banyak kebaikan, bahwa pertolongan itu datang setelah kesabaran, kelapangan itu datang setelah kesempitan, dan kemudahan itu datang setelah kesulitan (Musnad Ahmad bab hadits Ibn ‘Abbas no. 2804).

Hadits di atas mengajarkan beberapa pelajaran penting terkait kunci pertolongan Allah swt, yaitu:

Pertama, kunci utamanya ada di sabar. Meski sedang susah berat dan sulit melilit tidak boleh ada keluh kesah sedikit pun, melainkan selalu optimis kepada Allah: inna lil-‘Llah wa inna ilahi raji’un; kami semua milik Allah dan akan kembali semuanya kepada Allah swt. Semua yang terjadi sudah ada dalam rencana Allah dan apa yang diupayakan pun dalam rangka bisa kembali kepada Allah swt. Mau bagaimanapun Allah swt memperlakukan kami, kami semua adalah milik Allah swt, jadi terserah Allah swt, dan tidak akan bisa lari ke mana-mana, melainkan akan kembali kepada Allah swt. Kesabaran itu akan meyakinkan setiap orang bahwa pertolongan Allah swt akan tiba, sebab pertolongan-Nya akan tiba di kala sulit dan susah. Jadi kalau ingin ditolong Allah swt memang harus mengalami sulit dan susah terlebih dahulu, maka itu semuanya pun dijalani dengan ringan dan opitimis penuh. Allah swt berfirman:

أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ 

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat (QS. al-Baqarah [2] : 214).

Sikap sabar itu menuntun setiap orang untuk tetap teguh di jalan syari’at-Nya, dan bukan malah semakin menjauh dari-Nya. Orang yang sabar akan selalu dibuka jalannya di muka bumi yang ternyata luas. Di akhirat kelak pun akan dibalas dengan lebih sempurna:

قُلۡ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمۡۚ لِلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٞۗ وَأَرۡضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ 

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (QS. az-Zumar [39] : 10).

Kedua, meyakini sepenuhnya bahwa kelapangan dan kesempitan itu pada hakikatnya berdasarkan taqdir Allah swt, bukan disebabkan orang-orang. Meskipun banyak orang yang bersepakat akan memberikan kebaikan, jika Allah swt tidak menghendaki, maka tidak akan pernah terjadi. Demikian halnya ketika banyak orang hendak menimpakan keburukan, jika Allah swt tidak menghendaki, maka tidak akan ada keburukan apapun yang datang. Keyakinan ini akan semakin meningkatkan kualitas sabar dan ketawakkalan hanya kepada Allah swt. Maka yang diharap ketika susah hanya Allah swt, dan yang dimohon ketika butuh hanya Allah swt. Tidak kepada selain-Nya.

وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan maka mohonlah kepada Allah

Ketiga, pertolongan Allah swt di kala susah sangat bergantung pada sejauh mana pengenalan seseorang kepada Allah swt di kala senang. Itu berarti setiap orang yang sedang senang, sehat, bahagia, dan sejahtera harus senantiasa dalam keadaan syukur kepada Allah swt. Pertolongan Allah swt di kala susah berbanding lurus dengan kualitas syukur seseorang di kala senangnya. Jika ketika senang sering tidak ingat kepada Allah swt, maka Allah swt pun akan membalas dengan tidak mengingatnya, apalagi sampai mengabulkan permohonannya.

Keempat, kunci lain dari datangnya pertolongan Allah swt adalah dengan “menjaga Allah swt”. Maksudnya menjaga undang-undang-Nya dan semua yang telah disyari’atkan oleh-Nya. Dalam surat at-Taubah, Allah swt menyebutkan:

ٱلتَّٰٓئِبُونَ ٱلۡعَٰبِدُونَ ٱلۡحَٰمِدُونَ ٱلسَّٰٓئِحُونَ ٱلرَّٰكِعُونَ ٱلسَّٰجِدُونَ ٱلۡأٓمِرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱلنَّاهُونَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡحَٰفِظُونَ لِحُدُودِ ٱللَّهِۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 

Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang menjaga hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu (QS. at-Taubah [9] : 112).

Penyebutan “menjaga hukum-hukum Allah” di bagian akhir bisa dikategorikan jama’; penyimpulan dari hal-hal yang disebutkan sebelumnya. Jadi maksud “menjaga hukum-hukum Allah” itu adalah yang disebutkan sebelumnya: taubat, ibadah, tahmid, melawat/shaum, ruku’, sujud, dan amar ma’ruf nahyi munkar.

Menjaga Allah swt juga bisa bermakna menjaga shalat sebagaimana diperintahkan Allah swt:

حَٰفِظُواْ عَلَى ٱلصَّلَوَٰتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلۡوُسۡطَىٰ وَقُومُواْ لِلَّهِ قَٰنِتِينَ 

Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’ (QS. al-Baqarah [2] : 238).

Menjaga Allah swt salah satu wujudnya juga menjadi Rabbani yang selalu sigap menjaga kitab Allah swt:

وَٱلرَّبَّٰنِيُّونَ وَٱلۡأَحۡبَارُ بِمَا ٱسۡتُحۡفِظُواْ مِن كِتَٰبِ ٱللَّهِ وَكَانُواْ عَلَيۡهِ شُهَدَآءَۚ

orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya (QS. al-Ma`idah [5] : 44).

Inti dari semuanya, permohonan pertolongan dari Allah swt tidak akan mungkin sampai jika amal shalih untuk mengangkatnya kurang berbobot. Amal shalih yang bisa mengangkat permohonan dan menurunkan pertolongan Allah swt itu adalah “menjaga Allah”.

إِلَيۡهِ يَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّٰلِحُ يَرۡفَعُهُۥۚ

Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih mengangkatnya (QS. Fathir [35] : 10).

Wal-‘Llahul-Musta’an