Home > Aqidah > Kesucian La Ilaha Illal-‘Llah

Kesucian La Ilaha Illal-‘Llah

Kesucian La Ilaha Illal-‘Llah

Ikrar la ilaha illal-‘Llah merupakan ikrar yang sangat suci. Terlepas dari bagaimana kadar keyakinan la ilaha illal-‘Llah-nya, ikrar tersebut tetap suci dan harus dinilai sebagai sesuatu yang sangat suci. Maka haram hukumnya menistakan ikrar la ilaha illal-‘Llah yang keluar dari mulut seseorang dengan memvonisnya atau memperlakukannya sebagai orang kafir, musyrik, atau munafiq, apalagi dengan menghalalkan darah mereka.

Seorang muslim hanya bisa mengetahui seseorang yakin la ilaha illal-‘Llah (tiada tuhan selain Allah) dari ikrar lisan atau amal ibadah yang mencerminkan la ilaha illal-‘Llah. Tidak mungkin seorang muslim mengetahui dan membedah apa yang ada dalam hati orang lain. Maka dari itu Islam memberikan tuntunan agar siapapun orangnya yang berikrar la ilaha illal-‘Llah atau tampak dalam amalnya cerminan ia yakin la ilaha illal-‘Llah, maka ia harus dinilai sebagai muslim. Masalah apakah ia memendam kekafiran dalam hatinya, itu urusan Allah swt.

Maka dari itu Nabi saw mengingatkan umatnya yang berjihad di jalan Allah swt memerangi orang-orang kafir, harus menghentikan perang atau haram membunuh seorang kafir yang kemudian mengikrarkan la ilaha illal-‘Llah. Terlepas dari apakah ia benar atau palsu dalam ikrarnya tersebut.

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَالِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ اْلإِسْلاَمِ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad rasul Allah, menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat. Jika mereka melakukannya, maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka, kecuali karena haq (kewajiban) Islam (yang dilanggar lalu diberlakukan hukuman mati), dan kelak hisab mereka (benar atau tidaknya) diserahkan kepada Allah (Shahih al-Bukhari kitab al-iman bab fa in tabu wa aqamus-shalat wa atauz-zakat fa khallu sabilahum no. 25).

Usamah ibn Zaid tercatat dalam riwayat pernah membunuh seorang musuh yang berikrar la ilaha illal-‘Llah. Usamah sangat yakin musuh berikrar la ilaha illal-‘Llah itu karena takut mati saja, sehingga ia pun membunuhnya. Tetapi ternyata, Nabi saw memarahinya dengan sangat marah:

قال أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ رضي الله عنهما بَعَثَنَا رَسُولُ اللهِ إِلَى الْحُرَقَةِ، فَصَبَّحْنَا الْقَوْمَ فَهَزَمْنَاهُمْ وَلَحِقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ رَجُلاً مِنْهُمْ، فَلَمَّا غَشِينَاهُ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. فَكَفَّ الأَنْصَارِىُّ فَطَعَنْتُهُ بِرُمْحِى حَتَّى قَتَلْتُهُ. فَلَمَّا قَدِمْنَا بَلَغَ النَّبِىَّ r فَقَالَ: يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. قُلْتُ كَانَ مُتَعَوِّذًا . فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ

Usamah ibn Zaid berkata: Rasulullah saw pernah mengutus kami ke Huraqah. Maka kami menyerang mereka di waktu pagi. Aku dan seorang pria Anshar bertemu dengan seorang laki-laki dari pihak musuh. Ketika kami mengepungnya ia berkata ‘La ilaha Illal-‘Llah’. Pria Anshar itu lalu menahan diri, tapi aku menikamnya dengan tombakku sampai membunuhnya. Tatkala kami datang dan sampai berita itu kepada Nabi saw, beliau menegurku: “Hai Usamah, kau berani membunuhnya sesudah ia mengucapkan ‘La ilaha Illal-‘Llah’?” Aku menjawab: “Ia hanya berdalih untuk berlindung diri.” Tapi Nabi terus-terusan mengulangi pertanyaan tersebut sampai aku berangan-angan seandainya saja aku belum masuk Islam sebelum hari itu (saking takutnya dengan kemarahan Rasulullah saw). (Shahih al-Bukhari kitab al-maghazi bab ba’tsin-Nabi Usamah ibn Zaid ilal-Huraqat min Juhainah no. 4269, 6872).

Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Nabi saw menegurnya dengan keras:

أَقَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَقَتَلْتَهُ. قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلاَحِ. قَالَ أَفَلاَ شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لاَ

“Mengapa ketika musuh itu mengucapkan la ilaha Illal-‘Llah kamu membunuhnya!?” Aku (Usamah) menjawab: “Wahai Rasul, ia mengucapkannya karena takut dari pedang semata.” Beliau menimpali: “Mengapa kamu tidak membelah hatinya sehingga kamu tahu bahwa ia benar mengucapkannya atau tidak!?” (Shahih Muslim kitab al-iman bab tahrim qatlil-kafir ba’da an qala la ilaha illal-‘Llah no. 287)

فَقَالَ لِمَ قَتَلْتَهُ. قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهَ أَوْجَعَ فِى الْمُسْلِمِينَ وَقَتَلَ فُلاَنًا وَفُلاَنًا وَسَمَّى لَهُ نَفَرًا وَإِنِّى حَمَلْتُ عَلَيْهِ فَلَمَّا رَأَى السَّيْفَ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ أَقَتَلْتَهُ. قَالَ نَعَمْ. قَالَ: فَكَيْفَ تَصْنَعُ بِلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ إِذَا جَاءَتْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اسْتَغْفِرْ لِى. قَالَ: وَكَيْفَ تَصْنَعُ بِلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ إِذَا جَاءَتْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ قَالَ فَجَعَلَ لاَ يَزِيدُهُ عَلَى أَنْ يَقُولَ: كَيْفَ تَصْنَعُ بِلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ إِذَا جَاءَتْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟

Rasul saw menegurnya: “Mengapa kamu membunuhnya?” Usamah menjawab: “Wahai Rasul, ia sudah melukai pasukan muslim, ia juga sudah membunuh shahabat ini dan itu—ia menyebutkan beberapa shahabat yang mati syahid. Lalu aku berhasil menjatuhkannya. Ketika ia melihat pedang ia berkata la ilaha illal-‘Llah.” Rasul saw menegurnya: “Benar kamu membunuhnya?” Usamah menjawab: “Iya benar.” Rasul saw menegurnya lagi: “Apa yang akan kamu perbuat dengan la ilaha illal-‘Llah jika ia datang kelak pada hari kiamat!?” Usamah berkata: “Wahai Rasulullah, mohonkanlah ampun untukku.” Beliau menegurnya lagi: “Apa yang akan kamu perbuat dengan la ilaha illal-‘Llah jika ia datang kelak pada hari kiamat!?” Beliau tidak menambah perkataan lagi selain mengatakan: “Apa yang akan kamu perbuat dengan la ilaha illal-‘Llah jika ia datang kelak pada hari kiamat!?” (Shahih Muslim kitab al-iman bab tahrim qatlil-kafir ba’da an qala la ilaha illal-‘Llah no. 289).

Meski Usamah yakin bahwa ikrar la ilaha illal-‘Llah musuh itu hanya palsu belaka, tetapi Usamah tidak mungkin memastikannya 100% karena ia mustahil mengetahui isi hati seseorang. Dan bagaimana kalau ternyata salah? Itulah sebabnya Nabi saw menegurnya dengan keras. Bahwa seseorang yang mengikrarkan la ilaha illal-‘Llah harus dilihat dari zhahirnya saja, jangan mencoba menebak-nebak isi hatinya. Urusan isi hatinya hanya wewenang Allah swt. Sebab kelak pada hari kiamat, sekecil apapun kadar keyakinan la ilaha illal-‘Llah seseorang, Allah swt akan sangat mensucikannya dengan mengharamkan neraka untuk orang tersebut selama-lamanya. Melalui syafa’at Nabi saw, orang yang berikrar la ilaha illal-‘Llah akan dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, meski di tahap yang paling akhir.

فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَقُلْ يُسْمَعْ وَسَلْ تُعْطَهْ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ فَأَقُولُ يَا رَبِّ ائْذَنْ لِي فِيمَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَيَقُولُ وَعِزَّتِي وَجَلَالِي وَكِبْرِيَائِي وَعَظَمَتِي لَأُخْرِجَنَّ مِنْهَا مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Allah berfirman: “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu (dari sujud), berkatalah niscaya kau akan didengar, mintalah niscaya kau diberi, mintalah izin syafa’at niscaya kau diberi izin.” Nabi berkata: “Wahai Rabb, berilah aku izin (untuk mengeluarkan) orang yang mengucapkan la ilaha illal-‘Llah.” Allah berfirman: “Demi kegagahan-Ku, kemuliaan-Ku, kebesaran-Ku, dan keagungan-Ku, Aku akan keluarkan dari neraka orang yang mengucapkan la ilaha illal-‘Llah.” (Shahih al-Bukhari kitab at-tauhid bab kalamir-Rabb yaumal-qiyamah no. 7510).

Sesudah menjelaskan hadits syafa’at ini, Nabi saw bersabda:

يَخْرُجُ مِنْ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَكَانَ فِي قَلْبِهِ مِنْ الْخَيْرِ مَا يَزِنُ شَعِيرَةً ثُمَّ يَخْرُجُ مِنْ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَكَانَ فِي قَلْبِهِ مِنْ الْخَيْرِ مَا يَزِنُ بُرَّةً ثُمَّ يَخْرُجُ مِنْ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَكَانَ فِي قَلْبِهِ مَا يَزِنُ مِنْ الْخَيْرِ ذَرَّةً

Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan la ilaha illal-‘Llah dan dalam hatinya ada kebaikan seberat biji sya’ir. Kemudian akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan la ilaha illal-‘Llah dan dalam hatinya ada kebaikan seberat biji gandum. Kemudian akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan la ilaha illal-‘Llah dan dalam hatinya ada kebaikan seberat biji dzarrah/biji terkecil (Shahih al-Bukhari kitab at-tauhid bab qaulil-‘Llah li ma khalaqtu bi yadayya no. 7410)

Tentu penjelasan Nabi saw ini tidak mengecilkan bahaya dosa-dosa di luar keyakinan la ilaha illal-‘Llah, sebab faktanya mereka yang diberi syafa’at adalah orang-orang yang disiksa di neraka. Panas api neraka itu sendiri 70 kali lipat daripada panas api di dunia. Hanya ikrar la ilaha illal-‘Llah terlalu suci untuk dikekalkan di neraka sebagaimana halnya orang-orang kafir. Jika Allah swt sangat menghargai kesucian ikrar la ilaha illal-‘Llah, maka sungguh aneh jika manusia banyak yang berani “sok tahu” kepada Allah swt dengan bersikukuh memvonis kafir, musyrik, atau munafiq secara mutlak kepada orang yang masih berikrar la ilaha illal-‘Llah. Wal-‘Llahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.